
Derap langkah kaki mengiringi langkah Aisha menuju aula, hari ini mereka akan kembali latihan drama. Sebelumnya mereka sudah menetapkan peran masing-masing dalam drama.
Aisha pun meletakkan tasnya di pojokan ruangan, lalu bergabung dengan teman-teman yang akan menampilkan sebuah drama.
Hampir lima belas menit mereka mendiskusikan sekaligus menyiapkan alat untuk latihan. Tibalah awal drama yang menampilkan beberapa mahasiswa yang memasuki panggung dan berperan seperti peran mereka.
Setelahnya, Aisha pun juga turut menaiki panggung. Di sini Aisha hanya berperan sebagai pemain sampingan, yaitu sebagai warga biasa. Aisha bersyukur karena ia tak dapat peran utama, karena jika ia peran utama maka ia harus banyak menghapal banyak narasi dan adegan.
Awalnya Aisha menikmati drama itu dengannya yang masuk di beberapa adegan. Namun, ketika perannya sudah selesai, dari kejauhan, ia dapat melihat Arsal yang ditunjuk-tunjuk oleh panitia laki-laki, seperti dimarahi. Dengan perlahan ia pun mendekati mereka, namun masih dalam jangkauan aman tak terlihat.
"Nggak becus lo jadi ketua!"
Aisha mengerjap mendengar sentakan panitia laki-laki itu pada Arsal, Aisha melihat ke arah teman-temannya di panggung, untung saja dari mereka asik dengan latihan, dan tak mendengar suara ketusan tersebut. Setelahnya ia pun kembali di depan panggung saat melihat lelaki itu pergi dari Arsal yang menuju arah panggung.
"Wah, semangat latihannya, ya!"
"Terima kasih Kak Arsal!"
Aisha tersenyum getir melihat sorakan "terima kasih" dari teman-temannya karena sudah disemangati oleh Arsal, bahkan para perempuan pun sebagian tersipu malu. Tetapi, bukan itu yang membuatnya miris, tetapi karena tampang Arsal yang baik-baik saja setelah diteriaki tidak becus oleh panitia lain.
—
Aisha mengikat rambutnya, setelah itu ia mulai menyapu ruang tamu. Coco—kucing peliharaan Arsal— sedari tadi mengiringi gerak sapu tersebut. Aisha terkekeh geli melihat kucing itu, karena berusaha meraih bulu sapu tersebut.
Sedangkan di sisi lain, si pemilik kucing sedang menatap tajam laptop di hadapannya. Deratan tulisan ia baca dalam hati secara seksama. Kadang fokusnya buyar mengingat kejadian siang tadi, saat salah satu anggotanya mengkritiknya.
Ia pun beranjak dari kamarnya berniat untuk mengambil minum. Tetapi pemandangan di depannya membuatnya terpaku sejenak. Sang istri duduk bersila dengan kucingnya di pangkuan perempuan itu.
Rasanya ia juga ingin bergabung dengan mereka, biasanya ketika ada banyak keluh kesah ia akan menelepon ibunya, dan ibunya akan memberikan kata semangat.
Namun sekarang ia hanya ingin bergabung dengan Aisha dan Coco yang menarik perhatiannya. Haruskah ia pergi menghampiri?
Suara derap kaki membuat Aisha tersadar adanya Arsal ia pun dengan cepat ingin menutupi rambutnya —karena ia memang belum pernah lepas kerudung di hadapan Arsal setelah menikah—namun ia hanya dapat mengerjap saat Arsal duduk di hadapannya.
"Kenapa, Ar?" tanya Aisha gugup saat Arsal hanya menatapnya.
"Kamu perlu sesuatu?" Aisha tak tahu dari kapan panggilan aku-kamu selalu tersemat dari mereka.
Arsal pun hanya terdiam, ia meneguk air ludahnya berat, "ya."
"Perlu apa? Kamu mau ngomong apa? Atau makan?"
"Boleh peluk nggak?"
Aisha menaikkan kedua alisnya, lalu setelahnya ia pun mengangguk kaku. Terlebih ketika Arsal memeluknya, atau lebih seperti berbaring dengan kepala di pahanya, lelaki itu juga memeluk Coco menghadap perutnya.
Aisha tak tahu harus apa, namun ketika melihat raut mengantuk dari wajah Arsal ia pun mengusap pelan rambut lelaki itu dengan pelan.