
Arsal menukikkan alisnya. "Maksud kamu?"
"Aku ngerasa perjodohan ini nggak bakal berhasil. Aku bakal ngomong ke orang tua aku, kamu tenang aja aku nggak bakal bawa nama kamu sebagai alasan kita berakhir," lanjut Aisha menjelaskan, tetapi beda mulut lain di hati, hatinya masih berharap ingin bersama. Tetapi, bagaimana ia bersama dengan seseorang yang masuh belum selesai dengan masa lalunya.
"Kalau aku nggak mau gimana?"
Aisha menggeleng pelan. "Kamu harus bahagia bersama perempuan pilihan kamu sendiri, bukan karena perjodohan."
Arsal tersenyum pahit. "Kamu lupa? Malam di mana kita berbaikan pas kamu salah paham. Aku pernah bilang kita saling belajar mencintai, kamu nggak lupa, kan?"
"Ya, ingat. Tapi, belajar bukan berarti bakal cinta, kan? Nyatanya kamu masih cinta sama masa lalu kamu. Ar, kamu belum selesai dengan masa lalu kamu, dan aku nggak suka itu," tukas Aisha mengeluarkan unek-uneknya.
Arsal terhenyak. "Wah, aku baru tau kamu cenayang, ya? Kamu bahkan sampai tau kalau aku jatuh cinta sama siapa."
"Emang begitu, kan? Maksud ak—"
"Aku nggak serendah itu Aisha, kamu mandang rendah banget, ya, ke suami kamu sampai bilang belum selesai sama masa lalunya?" sela Arsal kecewa.
"Bukan gitu."
Aisha menggeleng kaku. Perempuan itu bingung, harus respon bagaimana. Ia tak ingin Arsal merasa direndahkan, karena ia tak berniat seperti itu. Aisha perlahan meletakkan tangannya di atas tangan Arsal, sebenarnya ia takut jika reaksi lelaki itu akan menyentaknya, tetapi ternyata kebalikannya lelaki itu menautkan jari tangan mereka.
"Aisha, dengar," Arsal menatap manik mata Aisha, "kamu bilang aku belum selesai dengan masa lalu? Siapa? Apa Hanin yang kamu maksud?"
"Ya, Hanin. Kamu mau kasih dia kesempatan sama dia, kan?"
Arsal menaikkan alisnya sebelah. " Kesempatan?"
"Aku dengar kalian ngomong di Gazebo kampus, berduaan, setelah pentas seni."
Oh?
Arsal tahu inti dari permasalahan mereka sekarang. Tidak adanya komunikasi membuat mereka salah paham satu sama lain.
"Aku kasih dia kesempatan minta maaf, bukan balikan."
Aisha menggeleng pelan. "Tapi, aku merasa kamu belum benar-benar melepaskan masa lalu kamu. Apalagi anak-anak kampus selalu jodoh-jodohin kamu, meski kalian udah selesai. Dan kamu nggak mengelak, aku ngerasa enggak pantes di samping kamu. Karena mereka benar. Hanin cantik, suka bersosialisasi, dan dia juga cinta pertama kamu, kan? Lelaki itu akan selalu dengan cinta pertamanya, selebihnya hanya melanjutkan hidup."
Arsal menatap Aisha sendu, ia juga tak tahu bahwa akan seperti ini, seharusnya ia lebih tegas pada perasaannya, dan lebih terbuka pada Aisha.
Keterbukaan. Mereka tak ada keterbukaan dari awal. Pernikahan mereka tak ada visi dan misi, meski Arsal memiliki tujuan ia hanya ingin pernikahan ini menjadi yang pertama dan terakhir baginya.
"Arsal, jujur aku enggak mau mengakhiri pernikahan aku dan kamu."
Arsal mendongak. "Aisha, kalaupun kamu mau mengakhiri, aku enggak akan setuju. Aku bakal cari inti permasalahan aku sama kamu, dan menyelesaikan. Aku ingin pernikahan sama kamu menjadi pertama dan terakhir. Kamu harus tau itu."
Aisha membuang wajahnya ketika merasa akan menitikkan air matanya. Dengan sesenggukan Aisha berusaha menyahuti Arsal.
"Aku perlu kamu yang ada di sini, bukan hanya fisik kamu, tapi hati kamu juga," lirihnya.
Arsal menunduk, ia tahu Aisha menahan tangisan, terdengar dari suara seraknya.
"Dengar, Sha," Arsal mendudukkan dirinya di bawah, tepat di hadapan Aisha, "tolong percaya sama aku. Masa lalu aku, udah aku lupakan. Aku juga sudah berusaha untuk aku dan kamu enggak hanya sebagai ikatan perjodohan, tapi juga belajar saling mencintai, kan? Aku salah, seharusnya dari awal aku enggak bersikap datar pada pernikahan, harusnya kita tau visi dan misi pernikahan, sudut pandang dari kedua belah pihak, bukan seperti sebelumnya."
Arsal mengambil napas dalam. "Aku menyadari bahwa aku sering menyimpan perasaan dan pikiran sendiri. Aku takut kamu enggak nyaman, jadi aku memilih untuk menyimpan semuanya."
Aisha merenung, ia juga merasa begitu. Mereka tak ada komunikasi tentang bagaimana kabar sehari-hari, atau apa ada masalah, dan percakapan untuk saling terbuka.
"Aku juga begitu, harusnya aku lebih terbuka," cicit Aisha.
"Bukan kamu aja, tapi kita."
Arsal mengusap air mata Aisha yang tak terasa mengalir. "Mungkin kita harus belajar saling terbuka lagi. Kita harus berani berbicara tentang perasaan kita dan mencari cara untuk mengatasi masalah bersama-sama, ya?"
Aisha mengangguk cepat.
"Aku berjanji akan berbicara lebih banyak tentang apa yang aku rasakan, meskipun agak canggung, sih. Karena aku jarang cerita-cerita," ungkap Arsal.
"Kamu 'kan banyak temen terus ada Hanin juga, masa enggak pernah cerita-cerita?"
Arsal mendecak pelan. "Bahas Hanin lagi, ya, kamu. Sebenarnya, aku enggak seperti orang-orang yang liat. Yang banyak temennya atau punya pacar, bukan berarti mereka dapat jadi pendengar yang baik. Mungkin lebih ke enggak mau aja cerita ke mereka, sama Papa dan Mama juga aku jarang curhat. Lagian, orang yang kamu liat dekat dengan aku belum tentu aku nyaman cerita."
Aisha terkejut mendengar hal tersebut, karena yang ia lihat Arsal banyak sekali teman, dan juga tipe tak pilih teman, makanya banyak teman, lelaki itu juga pandai bersosialisasi.
"Maaf, udah bikin kamu nangis. Harusnya aku lebih peka terhadap perasaan kamu. Aku bakal berusaha akan mencoba lebih baik."
"Aku juga minta maaf, Ar. Maaf kekanak-kanakan banget."
"Perasaan kamu valid, bukan kekanak-kanakan."