
Di tengah hiruk-pikuk kehidupan perkotaan yang sibuk, terdapat sebuah kampus yang tersembunyi di balik pepohonan lebat. Di sinilah tempat tinggal para mahasiswa yang haus akan pengetahuan dan petualangan. Namun, di antara mereka, ada satu mahasiswi yang berlari membelah kerumunan.
Nama mahasiswi itu adalah Aisha. Gadis dengan pakaian serba hitam di hari yang cerah. Kerudungnya berkibar seiring langkah kakinya.
"Ais!"
Aisha memelankan langkahnya ketika melihat seorang laki-laki yang meneriakinya dengan seorang perempuan di sebelahnya yang sibuk bercermin. Ia pun bergegas menghampiri temannya sedari SMA tersebut.
"Lo kenapa lama banget, Ais? Untung aja acara peresmian anggota belum mulai," seru teman perempuannya, Ajeng.
"Maaf, gue tadi makan siang dulu. Habisnya, kenapa peresmiannya siang, sih? Gue malas banget, gue mau tidur siang, mana panas juga lagi," gerutu Aisha.
"Ya udahlah, sabar aja," timpal Qais, lelaki itu bersandar di dinding aula sambil menatap mahasiswa lain yang juga turut menunggu acara dimulai.
Siang itu, gedung perkumpulan mahasiswa di kampus itu dipenuhi dengan kerumunan mahasiswa yang bersemangat. Hari itu adalah hari peresmian untuk anggota baru yang bergabung dengan Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM), salah satu organisasi paling bergengsi di kampus tersebut. Suasana penuh kegembiraan dan antusiasme terasa di udara, seolah-olah energi yang tak terduga memenuhi ruangan.
Aisha menunduk menatap sepatunya, berdiri di antara kerumunan mahasiswa. Ia merasa tegang, ia memang tidak ada niat ikut organisasi tetapi tetap saja melihat kerumunan tersebut membuatnya gugup.
Aisha menggigit bibirnya dengan gugup, "guys, ini beneran ikut organisasi?"
Qais dan Ajeng menatap Aisha serentak.
"Santai aja kali, Ais. Nggak usah gugup, yang penting kita udah keterima di organisasi ini," celetuk Ajeng.
Suara seorang panitia BEM kemudian terdengar memanggil mahasiswa-mahasiswa. Mereka pun bergabung dengan barisan dan berjalan menuju dalam aula. Seorang panitia dengan senyuman ramah menyambut mereka untuk duduk di bidang masing-masing sesuai pembagian.
Dan kebetulan mereka memilih satu bidang yang sama, panitia pun menyuruh mereka untuk memperkenalkan diri masing-masing
"Halo, namaku Aisha. Aku dari jurusan Psikologi. Salam kenal," ucap Aisha memperkenalkan diri setengah gugup.
"Baiklah, terima kasih semuanya karena sudah dapat menghadiri acara peresmian anggota," ucap panitia perempuan tersebut, "oh, iya. Hari ini kita kedatangan ketua organisasi yang dinanti-nanti, nih. Untuk memberikan pidato dan juga permintaan maaf karena tidak berhadir langsung di acara pendaftaran sebelumnya. Mohon tunggu sebentar, ya. Beliau masih menuju kemari."
"Bro, lo tau ketuanya nggak, sih? Nggak ada tanggung jawab banget dari pendaftaran ga muncul-muncul," bisik Ajeng.
"Sttt, namanya juga ketua BEM, pasti sibuk kali. Gue denger-denger, sih. Dia anak ilmu komunikasi, biasanya pada manggil Pak Ketua," sahut Qais pelan, pandangannya tertuju pada game di handphonenya. Aisha mendengus, jujur ia tidak peduli mau ada ketua organisasi atau tidak. Ia hanya ingin pulang.
"Eh, sorry, Guys. Beneran tadi itu macet banget, gue nggak terlalu lama, kan?"
Suara sama dari pojokan aula membuat Aisha menoleh, namun yang ia lihat hanya punggung seorang laki-laki dengan almamater kampus, terlihat membungkukkan badan, seperti kelelahan. Setelahnya, lelaki itu di suruh maju ke depan aula, Aisha pikir lelaki itu ketua organisasi.
Namun, bukan hal itu yang menjadi sorotannya. Tetapi wajah lelaki itu tidak asing olehnya. Aisha semakin menyipitkan matanya pada lelaki tersebut, sampai lelaki tersebut menghadap ke seluruh mahasiswa.
Tubuhnya menegak ketika mengetahui seseorang tersebut, apalagi ketika Aisha bertukar pandang dengan lelaki itu. Akan tetapi ...