
"Aisha Kaneishia?"
Aisha langsung memunggungi Arsal yang memanggilnya, ia berharap lelaki itu tidak mengenalnya, ia yakin Arsal tidak tahu dirinya, terlebih ia menggunakan cadar. Tetapi, perempuan itu salah. Ia selalu melewatkan sifat Arsal yang teliti dan kuat instingnya.
"Aisha, aku tau itu kamu, kan?"
Perempuan itu sekuat tenaga memejamkan matanya mendengar ucapan Arsal yang terdengar tajam.
"Arsal, lo salah orang kali. Dia pakai cadar, bini lo enggak, kan?"
Arsal tak memperdulikan omongan Faiz, ia mengenali tas perempuan itu dengan gantungan beruang coklat, dan juga meskipun tertutup cadar ia masih dapat mengenali Aisha dari mata perempuan itu yang khas dengan kantung mata, walaupun tidur cukup, ia mengenali mata istrinya saat bangun tidur, saat menonton televisi bersamanya, atau saat setiap menatap wajahnya.
"Aisha, kunci motornya ada, Alhamdulillah. Eh, ada Kak Arsal sama Kak Faiz?"
Aisha bingung sekarang bagaimana menyikapi situasi ini. Karena jika ia menghindari Arsal, Ajeng pasti akan bertanya-tanya, karena ia tak menceritakan tentang masalah rumah tangganya. Tetapi, jika ia menyapa Arsal dan Faiz, itu artinya Arsal sudah pasti akan mengintimidasi kenapa ia di sini, bukan di rumah orang tuanya?
"Hai, siapa, ya?" tanya Faiz penasaran karena salah satu perempuan itu mengenali mereka.
"Ajeng dari organisasi BEM, Kak. Kalau yang di samping aku pasti kenal lah, ya, Kak Arsal. Masa sama istri nggak kenal," ucap Ajeng cengengesan yang membuat Faiz langsung menoleh pada Aisha dan Arsal bergantian.
Aisha berdehem, "Ajeng, kita pulang sekarang?"
"Sama aku aja," ucap Arsal tegas.
Aisha menggigit bibirnya, lalu menggeleng. "Aku tadi berangkat sama Ajeng, nggak enak kalau dia pulang sendiri," balas Aisha cepat mendengar suara Arsal.
Rahang Arsal mengeras, terlihat lelaki itu sangat menahan amarahnya.
"Lo sama Kak Arsal aja, ingat kata Ustad tadi apa, harus nurut sama suami!"
"Kalau gitu duluan, ya. Assalamualaikum," sela Arsal, lalu menarik tangan Aisha yang hendak berusaha melepas, tetapi tenaga Arsal tak dapat ia lawan.
Dalam keheningan perjalanan pulang, yang sebelumnya duduk di belakang Arsal adalah hal yang menyenangkan bagi Aisha, kini berubah menjadi hal yang menegangkan. Ia khawatir lelaki itu marah padanya, karena berbohong tidak pulang ke orang tuanya.
"Assalamualaikum, Bang!"
Aisha mengedarkan pandangannya ke seluruh ruangan sekitarnya. Banyak pengunjung yang melakukan aktivitas masing-masing, dan Aisha bingung kenapa Arsal membawa dirinya ke Kedai Kopi —dengan tangan yang masih menggenggam erat dirinya— yang mungkin milik Arsal, ia tak tahu karena tidak pernah menyempatkan untuk pergi ke tempat usaha suaminya.
"Waalaikumsalam, gue pesen teh hijau dua buah, ya. Nanti tolong anter ke ruangan gue, boleh?"
"Santai, Bang. Gue kaget aja, tumben lo minta pesanan sama minta anter, biasanya bikin sendiri," celetuk seorang barista tersebut pada Arsal heran, ia melongok pada perempuan di belakang Arsal, "siapa tuh, Bang. Tumben bawa gandengan?"
"Istri gue," sela Arsal yang membuat beberapa karyawannya menoleh, "yaudah kalau gitu gue ke ruangan kerja dulu."
Aisha mengangguk singkat pada barista lelaki itu dan karyawan di sana sebagai bentuk sapaan.
"Aku nggak mau basa-basi. Kenapa kamu bohong tentang kamu pulang ke rumah ayah sama ibu?"
Aisha memejamkan mata, Arsal langsung menodong pertanyaan padanya. Meskipun mereka sekarang duduk di sofa, namun rasanya Aisha terhakimi, padahal Arsal tak membentak atau menaikkan suara padanya.
"Aisha, kamu nggak mau jawab? Kamu harus tau seberapa marahnya aku liat kamu di satu tempat sama aku, padahal aku kasih izin kamu pulang, tapi apa?"
"Aku nggak tahu harus jelasin giman—"
"Jelasin," sela Arsal tegas.
Aisha memberanikan diri menatap Arsal yang terlihat menahan amarahnya.
"Maaf, aku nggak pantes dapetin kamu. Aku kekanak-kanakan, ngehindar dari masalah. Maaf."
"Ngehindar dari apa maksud kamu? Dari aku? Kenapa?"
"Ar," panggil Aisha, perempuan itu mengambil napas, "kita akhiri aja, ya?"