
Di sebuah perumahan yang tenang dan asri. Ada suara-suara kecil di belakang perumahan, di sana ada seorang perempuan yang menatap lembut pada lelaki yang sedang menuju padanya sambil membawa sekop.
"Maaf, lama nunggunya, ya, Sayang?" tanya laki-laki itu lembut
"Enggak, kok. Ayo, berkebun, sebelum harinya panas."
"Siap, Sayang!"
Tiba-tiba dari dalam rumah ke luar seorang balita lelaki yang berlari dengan kecil mendekati mereka,.
"Zade, pelan-pelan jalannya, Dek!" pekik perempuan itu lembut, sedangkan anak itu hanya menyengir dan memeluk sang ibu, namun hal tersebut membuat pasangan di hadapannya terkekeh kecil melihat kelucuan anaknya.
"Maaf, Ibuuu," rengek anak itu pada sang ibu.
"Iya, tapi jangan diulangi, ya?"
"Iya!" tegas anak itu, lalu ia menutup mulutnya terkejut melihat banyaknya bibit bunga, ia juga merasa penasaran.
"Ibu, Ibu! Itu bibit bunga yang bakal tumbuh bunga-bunga cantik kan, Ibu?"
"Iya, Sayang."
"Hm, enggak, deh, masih cantikkan Ibu!" sela anak itu, "tapi, kalau tumbuh Zade mau kasih ke Ibuuu."
"Pinternya anak Ibu," ucap Aisha mengusap pipi sang anak.
"Anaknya Ayah Arsal juga, dong, Ibu Aisha!" ucap lelaki itu bangga, lalu mengusak kepala Zade.
Ayah? Ibu?
Aisha tersenyum lembut mendengar panggilan tersebut, ia melihat pemandangan di hadapannya. Ia tak percaya dapat melalui proses pernikahan mereka sampai lahirnya Zade, anak pertama mereka.
"Zade mau nanam bunga mawar banyak-banyak Ayah, biar nanti kalau udah tumbuh, Zade kasih ke Ibu banyaaak!"
"Boleh, kita tanam bersama-sama, ya. Terus kasih ke Ibu kalau sudah tumbuh, ya, Nak," ucap Arsal antusias, lelaki itu memandang wajah ambis Zade, putranya dan Aisha. Seketika lelaki itu langsung menoleh kepada istrinya yang juga menatap lembut padanya.
Arsal menarik lembut tangan Aisha mendekati mereka. "Ibu juga, ayo tanam sama-sama."
"Siap, Ayah!" jawab Aisha terkekeh.
Arsal menyekop tanah di hadapannya, sebenarnya sebelum memutuskan menjadi kebun, tempat yang mereka tanami hanya teras belakang biasa, tetapi ia ingin menghidupkan suasana dengan menanam bunga-bunga maupun sayur dengan keluarga kecilnya.
"Aku mau nanam bunganya, Ayah! Ayo!"
"Iya, Zade yang nanam, semangat!"
"Ibu, mana bibit bunganya?"
"Ini, Sayang. Ayo, coba tanam dekat Ayah."
"Seperti ini 'kan, Ibu?" tanya balita tersebut sambil menempatkan bibit bunganya dengan hati-hati.
"Iya, Sayang. Pinter banget, sih, kamu."
Aisha mengusap kepala Zade, anaknya sangat ekspresif dan ambis dengan seperti Arsal, anak itu juga sangat suka mengungkapkan perasaannya, bahkan wajahnya pun selalu mengingatkannya pada Arsal, sangat mirip. Untuk kemiripan pada Aisha, Zade sangat suka merengek dan manja kepada mereka seperti dirinya pada orang tuanya.
Pasangan suami istri yang semula dijodohkan akhirnya menemukan kebahagiaan dalam kegiatan sehari-hari yang sederhana namun bermakna. Mereka bersama-sama mengejar hobi baru, seperti memasak bersama, berkebun, atau bahkan menjalani rutinitas olahraga yang sehat, terlebih sekarang mereka memiliki seorang putra.
Arsal dan Aisha telah bersama selama bertahun-tahun setelah dijodohkan oleh keluarga mereka. Awalnya, pernikahan mereka memang diwarnai oleh ketidakpastian, tetapi seiring waktu, mereka belajar untuk saling mengerti dan menciptakan ikatan yang kuat.
Mereka menyadari bahwa kebahagiaan sejati dapat ditemukan dalam momen-momen sederhana bersama orang yang dicintai. Mereka telah membuktikan bahwa perjodohan bisa berkembang menjadi hubungan yang penuh kasih, dukungan, dan kebahagiaan dalam kehidupan sehari-hari.