Just A Bunch Of Life

Just A Bunch Of Life
Validasi Manusia



"Sha."


Arsal mengetuk pintu kamar sang istri beberapa kali, sesampainya di rumah Aisha langsung masuk kamar, dan tidak keluar hingga malam tiba.


Lelaki itu bingung, karena biasanya sang istri akan ke luar kamar untuk mengambil beberapa cemilan atau bermain dengan Coco. Pintu terbuka menampilkan Aisha yang yang memakai pakaian rapi seperti hendak pergi.


"Kamu mau ke mana? Kok rapi banget," tanya Arsal.


Aisha menggigit bibirnya, "Ar, aku boleh pulang ke rumah orang tua aku, nggak?"


"Kenapa? Orang tua kamu ada telpon? Atau ada masalah?" cecar Arsal cepat memotong ucapan Aisha.


"Bukan gitu," elak Aisha mencari alasan. Perempuan itu sebenarnya sedari tadi menggenggam ujung kerudungnya, ia bukan ingin menghindari suaminya, hanya saja untuk saat ini rasanya ia ingin menenangkan dirinya dengan pulang ke rumah orang tuanya.


"Terus kenapa? Kok tiba-tiba mau pulang? Kalau gitu kita pulang ke rumah orang tua kamu bareng-bareng, gimana?"


Aisha menggeleng cepat, sejenak ia mencari beberapa alasan untuk mengambil celah agar ia pulang sendiri saja. Ia ingat, mereka mempunyai beberapa hari liburan kampus, minggu tenang setelah ujian dan pentas seni tadi. Tapi, alasan tersebut pasti tidak akan didengar oleh Arsal.


Kedai kopi!


Aisha langsung mendongak pada Arsal, "kamu pasti sibuk di Kedai Kopi, dan kamu nggak mungkin bolak-balik rumah orang tua aku ke Kedai Kopi, ya, kan?"


"Iya, sih, apalagi aku kemarin juga minta temenku yang urus sebentar pas pentas seni."


Aisha mengangguk semangat, "bener, mereka pasti perlu kamu."


"Yaudah, kalau gitu aku yang anter, ya?"



Bunyi detak jarum jam terdengar di ruang tamu yang cukup luas ini. Di sana ada dua orang perempuan yang duduk bersisian di sofa, salah satunya menggunakan daster dan menggendong bayinya yang tertidur lelap. Sedangkan satu perempuan yang sedang terlihat beberapa kali mengusap wajahnya lelah dengan tas ransel di sampingnya.


"Ya, sudah. Kalau gitu kamu nginep aja di sini beberapa hari. Sekalian temenin aku, soalnya Mas Bagas lagi kerja di luar kota beberapa hari ini," ucap Devi, sepupu dari Aisha memberi saran. Ia cukup paham permasalahan Aisha setelah gadis tersebut berucap jika ia ingin tinggal di rumahnya sementara. Ia tahu, sepertinya rumah tangga sepupunya ada masalah, namun ia tak ingin terlalu ikut campur.


Aisha mengangguk lemah, "makasih, ya, Dev. Makasih banget udah izinin tinggal di rumah kamu," lalu ia masuk ke kamar tamu yang di tunjukkan oleh Devi. Ia tak dapat berbasa-basi lagi, ia cukup lelah. Juga merasa bersalah.


Ia berbohong pada suaminya.


Aisha menatap tas ranselnya yang berisi beberapa pakaian. Ia tak pernah ingin menjauh dari masalah, tetapi untuk sekarang ia ingin mengambil jeda untuk menenangkan diri sendiri.


Tetapi, cara yang ia lakukan salah.


Ia berbohong, ia tak ke rumah orang tuanya, Arsal memang mengantar sampai taksi dan menyebutkan alamat rumah orang tuanya, tetapi setelah ia pikir jika ia datang ke rumah orang tuanya maka pasti banyak pertanyaan dari mereka. Ia pun mengubah tujuannya ke rumah sepupunya yang masih satu kota dengan rumah Arsal.


Di sisi lain, Arsal menatap lekat pintu kamar Aisha. Ia merasa sepi ketika tak ada perempuan itu. Meskipun Aisha tipe yang tidak banyak bicara, namun keberadaan perempuan itu membuatnya nyaman.


Rasanya ia akan merindukan pemandangan Aisha yang memasak makanan, lalu duduk di hadapannya, dan makan bersama. Atau ketika perempuan itu bermain dengan Coco, lalu berakhir kelelahan dengan Coco yang sigap tidur di pangkuan atau di perut Aisha yang juga rebahan di sofa.


"Belum sehari, udah sepi banget pas kamu tiba-tiba pulang gini, Sha. Cepat pulang, ya, nanti siapa yang main sama Coco kalau kamu pulang gini, terus aku di Kedai Kopi. Nggak cuma Coco, tapi aku juga bakal kangen."


Tatapan Arsal menyendu, ia menghembuskan napas berat. Ya, ia merasa akan merindukan perempuan itu, Arsal akui sepertinya ia sudah jatuh hati dengan Aisha. Ia ingin mengungkapkan rasa itu, tetapi ada rasa malu di hatinya, bagaimana kalau Aisha tak ada rasa padanya?