Just A Bunch Of Life

Just A Bunch Of Life
Dadakan Buat Deg-degan



Arsal berdehem pelan. "Ehm, Sha, kamu nyaman nggak? Maksud aku, kamarnya nyaman, nggak?"


Aisha mendengung. Rasanya canggung. Aisha menghitung dalam diam, ini sudah satu jam mereka berada di satu kamar, dan satu kasur. Ya, satu kasur, karena tidak mungkin salah satu dari mereka tidur di lantai —karena kamar tidak ada sofa —, atau pilihan terakhir tidur di ruang tamu.


Dengan guling sebagai pembatas tak membantu menenangkan detak jantung keduanya, mereka tidur telentang dengan menatap atap kamar. Aisha sudah berusaha memejamkan mata, dan mencoba tak memperdulikan rasa canggung dan salah tingkah, terlebih ketika ia melihat isi kamar Arsal yang berubah, di mana sebelumnya ada pajangan foto di pojok jendela, sekarang sudah tak ada lagi, termasuk foto Hanin, hanya ada foto Arsal dan keluarganya. Arsal juga diam-diam meletakkan foto pernikahan mereka di nakas samping tempat tidurnya.


"Sha?"


"Hm?"


"Kenapa nggak dari awal aja, ya, tidur bareng?"


Aisha melirik Arsal dari ujung matanya.


"Yah, cuma pengen kita lebih dekat aja. Tapi, kamu canggung nggak, sih? Jantung aku berisik banget." Kalimat akhir tersebut membuat Aisha menahan senyum.


"Aku juga merasakannya. Ini agak aneh, ya? Padahal kita udah tinggal satu atap lama."


"Iya, bener. Tapi kita dapat mengatasinya, kan? Mungkin hanya perlu sedikit waktu."


Aisha mengangguk penuh pengertian, ia pun berbalik menghadap Arsal yang ternyata sedari tadi menghadapnya. Dengan menahan salah tingkahnya, Aisha mencoba berbicara dengan Arsal.


"Tentu, kita coba lebih sering bersama. Mungkin nanti rasa canggungnya akan menghilang."


Arsal tersenyum lembut di tengah kantuknya, ia pun menggenggam tangan Aisha dan mendekatkan ke wajahnya.


"Ya, kamu benar. Ayo, kita coba lebih dekat satu sama lain."


Aisha pun mengusap rambut Arsal yang mulai tertidur lelap.



Arsal mengerjapkan matanya terbangun. Dan, ia sedikit tersentak ketika merasakan dagunya bersentuhan dengan pucuk kepala Aisha yang memeluk kaosnya.


Diam-diam lelaki itu tersenyum lembut. Terlebih ketika Aisha memeluk badannya erat, guling yang menjadi pembatas tak ada lagi di tengah-tengah mereka.


Lelaki itu ingin berlama-lama dengan Aisha seperti ini, namun adzan subuh berkumandang membuatnya melepaskan kenyaman tersebut. Gerakan kecil itu membuat Aisha terbangun, dan sebelum Aisha sadar, Arsal pun bergegas turun dari tempat tidur.


"Aisha."


Aisha yang baru ke luar kamar menoleh, dan melihat pada ayahnya yang memanggilnya, di sisi laki-laki paruh baya itu ada Arsal yang sama-sama memakai baju koko.


"Ayah sama suami kamu mau ke Mushola, kamu sama Ibu, ya," ucap ayahnya sambil mengendikkan dagu ke kamar tamu.


"Suami kamu juga dong."


"Hem?"


"Salam sama suami, masa enggak gitu, enggak boleh."


Aisha meringis kecil, sebenarnya ia malu dengan Arsal. Malam tadi pertama kali mereka tidur satu kamar, dan lelaki itu yang bangun terlebih dahulu, ia tak tahu bagaimana wajahnya terlihat saat tidur atau pertama kali Arsal lihat saat bangun. Dengan cepat ia pun menyalami Arsal, lalu mundur beberapa langkah.


"Salamnya cepet banget," tegur ayahnya.


"Udah, kok," rengek Aisha.


Yusuf terkekeh geli melihat tingkah putrinya, ia pun menepuk bahu Arsal yang sedari tadi tersenyum melihat tingkah Aisha, dari menyalaminya dan merengek, Arsal baru melihat sisi itu dari istrinya. Mereka pun pamit ke Mushola terdekat untuk salat subuh, sedangkan Aisha bersama ibunya di rumah.


"Nak, sini. Ayah sama suami kamu udah dateng."


"Bentar, Bu." Aisha bergegas mengganti bajunya, setelah tadi menyelinap ke kamar tamu mengambil bajunya ketika ia dan ibunya membuat sarapan, dengan dalih izin ke kamarnya dan Arsal.


"Bu, Ayah tadi dapet pesan katanya adik Ayah sama istrinya ada di rumah Devi sama Bagas. Kita mampir ke rumah Devi, gimana, Bu? Sebelum balik ke rumah."


"Ayah sama Ibu mau pulang? Kok cepet banget," lirih Aisha yang duduk di samping ibunya.


"Masa lama-lama di rumah Arsal, enggak lah, Nak," jawab ayahnya sambil menyuap makanan.


"Enggak gituuu," elak Aisha manja, yang mana mendapat perhatian dari Arsal yang duduk di hadapannya.


Arsal menoleh ke samping, ke arah ayah mertuanya sebentar. Ia merasakan kehangatan keluarga di antara mereka. Meski sama-sama anak tunggal, ia sangat dituntut untuk mandiri, ketika lulus sekolah menengah atas, ia langsung memilih indekos. Ia merasa jengah, karena banyak tuntutan anak satu-satunya yang menjadi harapan orang tuanya, tetapi ia tetap melakukan hal tersebut dengan memberi bukti seperti ia menjadi ketua osis, olimpiade, dan sekarang juga menjadi ketua organisasi kampus dengan harapan semua itu membuat mereka bangga padanya.


"Ayah mau cucu, deh."


"Ayaaah, apa, sih!" pekik Aisha, perempuan itu wajahnya merah padam, ia malu.


"Lho, kenapa? Ayah bener, kok, Ibu juga pengen gendong cucu," bela ibunya.


"Ibu kenapa ikut-ikutan, jangan bela Ayah."


Arsal tersenyum tipis. "Untuk saat ini, baik Arsal maupun Aisha belum kepikiran. Kami berdua masih mau mencoba lebih dekat dulu, Yah, Bu."


Yusuf mengangguk mengerti. "Tenang aja, Nak Arsal. Kalian enggak harus terburu-buru, meskipun Ayah sama Ibu pengen, tapi semuanya hak kalian berdua."


Arsal menatap Aisha setelah menyetujui perkataan ayah mertuanya. Dan, ia melihat perempuan itu merah padam, menunduk memilin kaosnya menahan salah tingkah. Melihat itu, Arsal merasa yakin untuk lebih memperhatikan hubungan mereka, bukan hanya sekedar perjodohan, tapi pernikahan yang benar-benar seperti impiannya, pernikahan pertama dan terakhir untuknya.