Just A Bunch Of Life

Just A Bunch Of Life
Kembali Bertaut Dalam Hening



Arsal menatap lamat pintu rumah dengan lamat, setelahnya ia menghembuskan napasnya. Ia pun membuka pintu tersebut dengan kunci cadangan yang ia buat, dan satunya lagi dipegang Aisha.


Aisha.


Pikiran Arsal selalu tertuju pada perempuan itu. Sudah dari dua hari yang lalu, sang istri semakin menghindarinya setelah pembicaraan mereka terakhir.


Langkah kakinya terhenti pada kamar gadis itu, dengan perlahan ia membuka pintu yang tak terkunci. Lampu kamar belum dimatikan, namun Aisha sudah tertidur pulas dengan posisi telungkup seperti bayi.


Cuaca malam ini memang cukup dingin, terlebih sekarang menunjukkan jam sebelas malam, ia bahkan melapis hoodie dengan jaket lagi saat perjalanan dari kedai kopi ke rumah.


Lelaki itu pun dengan perlahan mendekat pada sang istri, cukup canggung, terlebih tak ada pembicaraan antara mereka beberapa hari ini, tangan kasarnya mengusap rambut Aisha.


"Sebenarnya apa yang kamu pikirkan? Apa yang kamu ketahui sampai menghindar dari aku?" ucap Arsal pelan.


Jujur saja, meski perjodohan, namun Arsal sangat serius menjalani pernikahan ini. Ia ingin mempertahankan pernikahan mereka, bukan seperti dijodohkan lalu coba-coba, dan berakhir cerai. Ia ingin pernikahan ini berdiri secara utuh, sebagaimana ketika ia menjabat tangan ayahnya Aisha saat akad.



Waktu sudah menunjukkan dini hari, tetapi Arsal merasa kelaparan. Akhirnya ia tak jadi untuk langsung tidur setelah dari kamar Aisha. Ia pun berniat untuk memasak mi instan.


"Ar?"


Arsal menoleh ke arah suara, lelaki itu menahan senyum. Sudah berapa hari ia tak mendengar panggilan itu, namun malam ini Aisha kembali memanggilnya dengan sebutan itu.


"Kamu kenapa kebangun? Aku berisik, ya?" tanya Arsal lembut.


"Nggak, aku mau minum aja, haus."


Dengan sigap Arsal menuangkan air putih ke dalam gelas, lalu ia pun mendekati Aisha, sambil menjulurkan gelas tersebut yang disambut Aisha.


"Terima kasih."


"Kamu mau mi instan juga? Biar aku masak lebih," tawar Arsal yang langsung ditanggapi gelengan.


"Ya, udah kalau nggak mau. Kamu langsung tidur, gih. Besok 'kan ada kelas pagi."


Namun, bukannya kembali ke kamar. Aisha memilih duduk di kursi makan.


"Ar, maaf."


"Kenapa minta maaf?"


"Aku udah tahu kamu menghindar. Tapi, bukan itu masalahnya, aku cuma mau tahu, apa alasan kamu menghindar?" tanya Arsal yang ikut duduk di samping Aisha. Tatapannya tak lepas dari perempuan yang sedang menunduk dalam itu.


"Hanin."


"Hanin?"


Aisha menoleh, "ya, anak-anak kampus bilang kamu pernah pacaran sama dia, atau mungkin masih?" Perempuan itu meringis getir, "katanya kamu bucin banget, ya, sama dia. Terus juga katanya selalu kamu jemput pakai mobil, bukain pintu, bawain barangnya. Tapi, nggak gitu, maksud aku, kamu masih sama dia? Aku cuma nggak mau dinilai perebut pacar orang atau apapun itu."


"Jadi, itu masalahnya kamu ngehindar dari aku?"


"Jawab dulu, kamu masih sama dia?"


Arsal menghela napas, ia tahu pasti hal ini akan terungkit, "aku udah putus, dari lima bulan lalu sama dia."


"Apa karena perjodohan ini?"


"Karena dia selingkuh," telak Arsal santai sambil mengendikkan bahunya.


Aisha mengerjap beberapa kali, "jadi, bukan karena perjodohan ini, kan?"


"Nggak, Sha. Kita juga putusnya baik-baik, dan aku nggak sebucin kayak yang kamu omongin. Aku biasa aja perasaan, anak-anak kampus aja yang berlebihan ceritanya. Dan untuk antar-jemput dia pakai mobil emang benar, dulu aku sempat pakai mobil, tapi sekarang beralih ke sepeda motor karena anti macet, sama nyaman aja, apalagi 'kan sama kamu."


Aisha membelalakkan matanya mendengar kalimat akhir, "hah? Maksudnya?"


"Nggak ada maksud, udah kamu tidur aja. Eh, tapi ini kita udah baikan, kan?" tanya Arsal mengalihkan pembicaraan mereka, karena ia juga tak menyangka berbicara seperti itu, membuatnya jantungnya berdetak kencang.


Aisha menggigit pipi dalamnya, perbincangan mereka malam ini membuatnya terkejut dan salah tingkah, sedikit.


"Ya."


"Janji dulu sama aku, kalau ada masalah diomongin, bukan menghindari aku."


Aisha menatap jari kelingking yang terulur di hadapannya, dengan perlahan ia pun menautkannya.


Ternyata benar, ya. Semua dapat diselesaikan dengan baik, komunikasi itu penting, dan saling memahami itu juga penting.


Aisha tak perlu penjelasan panjang Arsal mengenai hubungan masa lalu sang suami, dengan perbincangan tadi itu sudah cukup dijadikan alasan untuknya menguatkan pondasi pernikahan mereka.