Just A Bunch Of Life

Just A Bunch Of Life
Tak Ada Kesejajaran Rasa



"Tugas kamu yang aku jilid ketinggalan."


Aisha menggigit pipi dalamnya, bagaimana ia lupa dengan tugas kampusnya. Untung saja Arsal membawa, lalu dengan gugup ia mengambil gumpalan kertas itu, "terima kasih."


"Sha."


Langkah kaki Aisha yang ingin kembali masuk kelas terhenti.


"Ya?"


"Kamu nggak apa-apa? Kenapa tadi berangkat duluan?"


"Enggak, aku cuma mau berangkat pagi aja," elak Aisha, ia sebenarnya sudah tak nyaman berinteraksi dengan Arsal, karena ia ingin menghindari lelaki itu, juga mereka sekarang menjadi objek pandangan mahasiswa di lorong kampus.


Aisha takut penilaian orang lain terhadapnya, saat para mahasiswa melihat mereka berdua. Terlebih setelah mendengar ucapan Risa tentang Hanin.


"Kak Arsal, aku masuk kelas dul—"


"Kenapa nggak bilang mau berangkat pagi? Kalau mau bareng kan gampang, bangunin aku aja."


Aisha seketika meremat lengan Arsal mendengar kalimat akhir lelaki itu. Untung saja orang-orang di sekitar mereka acuh tak acuh —atau lebih ke takut karena Arsal menatap dingin mereka yang ingin mendengar percakapan mereka—meski begitu, Aisha tetap khawatir mereka mendengarnya.


Ia takut, bagaimana jika ia disangka sebagai perebut kekasih orang, meski ia baru saja mengetahui suaminya memiliki kekasih yang hubungannya sudah berakhir, atau belum.


"Nanti pulang sama aku," putus Arsal tiba-tiba.


"Eh, nggak! Aku 'kan pakai sepeda."


"Terus kenapa kalau kamu pakai sepeda?"


Aisha menggigit bibirnya, kalau begini usaha untuk menghindari suaminya akan sia-sia, ia pun berusaha mencari beberapa alasan.


"Kamu sibuk BEM juga, kan? Jadi, aku pulang duluan aja, aku nggak mau nunggu."


Arsal menaikkan satu alisnya. Biasanya perempuan itu tak masalah dengan hal menunggu. Mereka juga saling sepakat jika ada kelas lama atau urusan kampus akan saling menunggu. Namun, ia hanya mengangguk santai.


"Kamu tenang aja, hari ini nggak ada urusan organisasi kok, nanti aku jemput depan kelas kamu. Awas ya, kalau duluan lagi," ucap Arsal lembut, ia melempar senyum tipis pada Aisha lalu ia pun mengusak kerudung Aisha yang berusaha mengelak. Setelahnya, lelaki itu pergi dari sana meninggalkan Aisha yang menunduk dalam sambil menatap tugas di tangannya.



Arsal mempercepat langkahnya menuju kelas Aisha. Ia merasa ada perubahan pada perubahan itu, dan ia tak dapat menebak apa yang terjadi pada perempuan itu. Sikap perempuan itu seperti ingin menghindari dirinya, menurutnya begitu.


Langkahnya tiba di depan kelas Aisha, namun pembelajaran masih berlangsung. Ia melihat ke arah jam tangannya.


"Bro!"


Arsal menoleh cepat ketika merasakan bahunya ditepuk kencang.


"Ngapain lo di sini?"


"Nunggu istri gue," ucap Arsal datar mendapati Faiz, sahabatnya.


"Widih! Iya, deh, yang udah punya istri."


Arsal pun memutar bola matanya malas, ia tahu meladeni lelaki itu akan berakhir ledekan, maka dari itu ia pun memilih duduk di kursi depan kelas, setelah menyikut Faiz untuk pergi darinya.


Tak lama dari ia duduk, dosen dan mahasiswa dari kelas Aisha keluar bergiliran, dengan sigap lelaki itu berdiri. Sampai akhirnya ada seorang perempuan dan laki-laki keluar. Yang Arsal tahu, dua orang tersebut adalah teman dari Aisha.


"Permisi."


"Eh, Kak Arsal. Ada apa, ya, Kak?" ucap Ajeng kaget. Sedangkan Qais di sampingnya membungkukkan badan, menyapa Arsal.


"Aishanya ada?"


"Eh? Aisha ada tuh, katanya lagi catat materi," tunjuk Ajeng ke dalam kelas, benar saja di dalam kelas tersisa Aisha yang fokus pada buku pelajarannya.


"Oh, yaudah. Terima kasih, ya."


"Iya, Kak. Kami duluan, ya."


Arsal mengangguk, lalu ia pun memasuki kelas pelan. Ketika sampai di meja sang istri ia duduk di depannya. Ia memegang pelan kepala sang istri, ia tak ingin mengagetkan, tetapi perempuan itu langsung mengangkat kepala.


"Pulang sekarang?"


Aisha menampik pelan tangan Arsal di kepalanya, lalu menggeleng dan kembali fokus menulis.


"Kamu pulang duluan aja."


"Aku ke sini nungguin kamu."


"Aku sibuk, kamu kalau mau pulang duluan nggak apa-apa."


"Kamu kenapa? Aku lihat-lihat kamu mau menghindari aku, ya?" Arsal mengamati gerakan Aisha yang langsung berhenti menulis, "jadi, benar kamu mau menghindari aku? Kenapa?"