
Aisha menatap panitia organisasi yang berlalu lalang memantau situasi acara pentas seni. Ya, hari ini mereka menggelar acara tersebut setelah dua bulan mengatur rencana dan latihan.
Di depan panggung sana, dari kejauhan ia melihat Arsal yang mengucapkan sambutan terhadap peserta dan dosen yang berhadir. Cukup banyak yang menghadiri acara.
"Sha!"
Ajeng datang tergopoh-gopoh, "ayo ke belakang panggung, setelah karate tampil, drama, kan? Gue tadi nunggu antri ganti baju, lama banget!" omel Ajeng.
Aisha memang terlebih dahulu mengganti baju, karena ia berangkat dengan Arsal yang otomatis harus berangkat pagi-pagi.
Jujur, Aisha merasa gugup tampil di depan panggung. Meskipun ia hanya berperan sebagai warga biasa, namun adegannya ke depan panggung cukup banyak, ia takut mengecewakan teman-temannya.
"Aisha."
Panggilan tersebut membuat Aisha dan teman-temannya menoleh. Setelah memanggil, Arsal pun berjalan menuju Aisha yang sedang duduk di kursi belakang panggung. Sekarang, masih acara pertama, ada waktu untuk Arsal menyemangati istrinya.
"Ar," panggil Aisha pelan. Ia tak tahu mengapa rasanya ia ingin menggenggam tangan lelaki itu, tanpa peduli dengan para mahasiswa dan sebagian panitia di sekitarnya, ia mengambil tangan lelaki itu, dan menggenggamnya erat.
Arsal awalnya terkejut, karena yang ia tahu Aisha terkesan tidak ingin mengumbar hubungan mereka. Namun, tanpa disadari perempuan itu ia melakukan tindakan yang membuat melongo para mahasiswa yang melihatnya.
"Nggak apa-apa, kamu pasti berhasil! Tenang aja, ya," ucap Arsal berusaha menenangkan perempuan itu yang terlihat gugup. Ia dengan senantiasa menggenggam tangan sang istri dan mengusapnya. Kebetulan, Aisha dan dirinya berada di pojok panggung, dan tentunya tak terlalu menonjol di antara mahasiswa di sana, namun tak banyak ada yang mencuri pandang terhadap mereka.
"Maaf, ada yang liat Kak Arsal, nggak?"
"Tuh, di sana, Kak Hanin."
Suara samar itu membuat satu ruangan termasuk Aisha dan Arsal menengok.
"Arsal gue — eh, lo di sini ternyata," ringis Hanin, ia menatap Aisha dari atas sampai bawah yang membuat Arsal langsung menegakkan tubuhnya, karena sedari tadi ia membungkuk menghadap Aisha.
"Ada apa?" tutur Arsal, ia tak ingin membuat Aisha salah paham, karena kedatangan mantan kekasihnya.
Aisha menghela napas berat, tatapannya beralih pada suaminya. Apakah ia boleh berharap, suaminya menolak? Bukan karena tak suka, tapi ia tak tahu rasanya sesak jika lelaki itu menerima, mungkin ini yang dinamakan cemburu.
"Iya, gue mau."
Aisha menggigit bibirnya. Harusnya ia memang tak perlu berharap pada manusia, pada Arsal.
"Beneran?!"
"Maksud gue, iya, gue mau acaranya lebih bagus dan lancar. Tapi, kalau lo sama gue duet itu bakal rusak rencana awal acara. Toh, nantinya juga mungkin ada yang nyumbang lagu, nggak harus gue sama lo," balas Arsal memperjelas ucapannya sebelumnya, ia tak mau ada kesalahpahaman dalam hubungannya dengan Aisha lagi. Sedangkan perempuan yang ia khawatirkan menatapnya dalam setelah mendengar ucapannya. Ia sudah berprasangka buruk pada Arsal.
"Bagian drama, siap-siap masuk panggung, ya! Ayo."
Aisha terkesiap, ia pun dengan cepat berdiri. Ia sebenarnya ingin langsung menyelonong dari situasi canggung di hadapannya, namun tangan Arsal kembali menggenggamnya, lalu bergabung ke teman-temannya bagian drama yang berbaris, meninggalkan Hanin yang masih terpaku di tempatnya.
"Kamu pasti berhasil! Semangat, jangan terlalu memperhatikan penonton. Kamu cukup tampil dengan baik, itu udah cukup," ucap Arsal sambil mengelus bahunya, Aisha mengangguk dan berlalu pergi ke depan panggung.
Arsal yang melihat itu menghela napas, tanpa menatap Hanin, ia pergi dari sana menuju tempat penonton. Lelaki itu tak peduli jika ia dicap sebagai ketua yang tak profesional, karena sudah mencampur urusan pribadi dan organisasi.
Untuk saat ini, biarkan ia bersikap tegas pada Hanin yang masih ingin kembali ke dalam kehidupannya. Arsal tak sudi, perselingkuhan adalah hal yang tak dapat ia toleransi. Dan lagipula, sekarang ia mempunyai Aisha yang harus ia jaga dan perhatikan.
—
Aisha langsung turun dari panggung setelah mengganti bajunya, dengan bergegas ia menuju ke bagian penonton, lalu duduk di bangku paling belakang. Ia cukup takut penilaian orang lain terhadapnya, apakah perannya bagus? Atau apakah ia tidak terlalu mendalami karakternya?
Perempuan itu mengusap wajahnya, ia menyandarkan punggungnya ke kursi. Sebenarnya, percakapan dan hubungan Arsal dan Hanin sedikit cukup mengganggu. Terlebih, ketika melihat tatapan perempuan itu terhadap suaminya, yang mana membuatnya cemburu.
Cemburu?
Wajar, 'kan kalau dirinya merasa cemburu. Sebagai seorang istri ia juga ingin dianggap, tetapi dari awal memang dirinya yang tak ingin mengumbar hubungan antara ia dan Arsal. Lalu, ia harus bagaimana? Apakah boleh jika ia mengatakan kepada siapapun yang bertanya apa hubungannya dengan Arsal, lalu ia jawab mereka sudah menikah?