Just A Bunch Of Life

Just A Bunch Of Life
Tak Harus Selaras



Aisha mendudukkan dirinya di atas kursi aula, hari ini mereka akan rapat untuk membahas tentang mengadakan pentas seni di kampus. Ia duduk di pojokan, dan dari sini ia dapat melihat Arsal berdiri di tengah kerumunan mahasiswa, melihat ke arah dokumen yang Aisha tahu itu sebuah proposal.


"Halo, Guys! Masih semangat nggak rapatnya, nih?" tanya Arsal gembira yang disambut riuh semangat dari para mahasiswa.


"Oke, di sini gue cuma mau menyampaikan urutan acara pentas seni yang akan kita adakan dua bulan lagi, dan gue berterima kasih atas keikutsertaan kalian dalam acara ini, terlebih yang sudah berlatih keras."


Arsal memandang ramah pada mereka, Aisha terpaku pada mata itu, rasanya lembut, Aisha ingin Arsal menatap begitu hanya pada dirinya.


"Kita percepat aja, ya. Jadi, yang pertama tampil adalah bagian karate, lalu ...,"


Aisha menatap lamat pada Arsal yang terlihat sisi lembutnya. Arsal memang sosok ramah dan lembut pada siapapun, karena itulah sangat wajar ia ditunjuk sebagai ketua organisasi yang sangat harum namanya di kampus.


"Beruntung banget pasti yang dapetin hati Arsal," batin Aisha. Tidak menampik, ia yakin Arsal pasti mempunyai cinta dengan seseorang, seperti halnya Aisha yang jatuh hati pada Arsal, yang mana suaminya sendiri.


Cari penyakit hati sendiri, seharusnya Aisha bersyukur dapat memiliki Arsal, meskipun tidak dengan hati.


"Aisha?"


Aisha tersentak mendengar suara panggilan Arsal, "ya?"


"Kamu bagian drama, kan?"


Aisha mengangguk cepat, "iya, Kak!"


Arsal mengangkat sebelah alisnya, "ya, kalau begitu silakan bergabung ke bagian drama!" tegas Arsal melihat Aisha sedari tadi hanya menunduk.


"Iya, Kak."



"Tadi kenapa ngelamun aja?" ucap Arsal telak pada Aisha, ia sangat tidak suka jika seseorang tidak memperhatikan omongan seseorang. Terlebih sekarang ia sudah menjadi suami perempuan itu, ia merasa bertanggung jawab untuk menegur.


"Siapa yang ngelamun, biasa aja."


"Lain kali jangan gitu." Nyatanya hanya empat kata itu yang dapat ia sampaikan pada sang istrinya.


"Iya, maaf."


Aisha pun duduk di belakang Arsal, kebetulan parkir lagi sepi, meskipun ada saja yang mencuri pandang terhadap mereka berdua. Mereka pun juga tak terlalu peduli, dan tak ada niat untuk berkoar jika mereka menikah. Jika para mahasiswa tahu, ya sudah.


"Kita langsung pulang aja?"


Aisha melongok dari balik bahu Arsal yang sedang membawa sepeda motor.


"Mau singgah di warung seblak," ucap Aisha pelan.


"Seblak? Yang bener aja makan pedas malam-malam," sembur Arsal tanpa jeda, ia tahu dari ibu perempuan itu —ibu mertuanya— kalau Aisha memiliki asam lambung yang mana tidak boleh makan sembarangan, "yang lain aja, nasi goreng gitu?"


"Terserah, deh."


Haduh, kata itu adalah kata telak bagi perempuan. Terserah, namun nyatanya ingin.


"Kayak orang ngidam aja, deh, kamu." sahut Arsal setelahnya pelan.


Namun Aisha mendengar, sontak saja ia memukul bahu Arsal berkali-kali dengan pelan.


"Nggak ngidam, ya! Lagian kita beda kamar. Ini memang pengen aja, kok!" sungut Aisha yang tiba-tiba kesal, namun juga malu.


"Ya, lagian masa seblak. Yang lain aja, kamu bukannya nggak boleh makan pedas juga, kan?"


"Tapi kepengen ...," lirih Aisha yang masih dapat didengar Arsal, menghela nafas ia pun mengiyakan permintaan Aisha.


"Tapi levelnya jangan pedas," syarat Arsal yang ditanggapi anggukan semangat Aisha.


"Janji nggak pedas!" Aisha menjulurkan jari kelingkingnya ke arah Arsal yang menatap lampu merah, sejenak lelaki itu tersentak kecil. Meski menurutnya sangat kekanak-kanakan, namun ia menautkan jari mereka. Selanjutnya ia pun fokus pada stang motor, sebelah tangannya menggaruk hidungnya yang tak gatal. Sungguh, kenapa hatinya merasa berdesir hanya dengan skinship kecil tadi.