Just A Bunch Of Life

Just A Bunch Of Life
Keseharian Baru



Pagi hari yang cerah. Aisha terlihat bersemangat sambil menenteng tas selempang, kerudungnya berkibar seperti mengetahui kebahagiaan sang empunya.


Hari ini adalah hari libur bagi Aisha, jadi ia memutuskan untuk ke pasar membeli sembako. Terlebih lagi ada Arsal yang ikut, ia senang.


"Sha, cepetan."


Aisha tersentak, dengan bergegas ia pun menuju Arsal yang siap dengan sepeda motor maticnya. Dengan sedikit menyembunyikan kegugupan, ia pun duduk di belakang Arsal sambil menahan senyum.


Ia tak menyangka, lelaki yang ia kagumi sedari mereka kecil, ternyata menjadi suaminya.


Suami, ya?


Kata itu jujur saja membuat Aisha meringis malu, Qais dan Ajeng bahkan menerornya saat ia mengabarkan ingin menikah, lebih kaget lagi ketika mengetahui siapa yang ia nikahi.


"Pegangan, gue mau ngebut."


"Hah? Kenapa ngebut, biasa aja toh pasarnya baru buka pagi gini," sahut Aisha.


"Ntar macet, gue males."


"Eh?" Aisha tersentak ketika mereka berhenti di perempatan lampu lalu lintas yang menunjukkan warna merah. Di sekitar mereka banyak mobil dan sepeda motor yang berkerumun, padahal hari ini hari Minggu.


Namun, bukan itu yang membuatnya kaget, tapi tindakan Arsal yang menarik tangannya lalu dimasukkan ke kantong jaket lelaki itu. Jantungnya berdebar kencang hanya karena tindakan kecil Arsal tersebut.


Aisha menunduk bersemu, mereka memang sudah menikah. Namun, mereka sangat jarang melakukan skinship. Karena Aisha malu untuk memulai, ia canggung, dan juga Arsal yang selalu bersikap datar membuatnya sungkan.


"Mbak, tempe sama tahu segar, nih! Ayo, beli-beli, Mbak."


Riuh suara pasar menyambut keduanya, anak-anak bermain lari di tengan kerumunan pasar, suara kucing berkicauan lucu. Hal pertama yang mereka datangi adalah sayur, karena memang kulkas di rumah pada kosong.


"Tomatnya berapa sekilo?" tanya Aisha sambil melihat-lihat, sedangkan Arsal berdiri di belakangnya melongok menatap jejeran sayur.


"Dua pulu ribu, Mbak. Silakan dipilih aja, masih segar loh, soalnya baru dipetik."


Aisha mengangguk santai lalu memilih tomat, setelah cukup ia pun mengambil dompetnya untuk membayar, sedangkan sayur yang dipilihnya sedang dibungkus.


"Maaf, Bang. Nggak dapat lima belas ribuan aja gitu, saya biasanya beli nggak sampe dua puluhan, deh."


Aisha melotot, lalu berbalik menghadap Arsal yang baru saja berucap. Ia tak salah dengar kan, Arsal baru saja menawar sayur. Aisha tidak berani menawar, tapi suaminya itu blak-blakan.


"Oh, maaf. Tapi harganya memang segitu," ucap penjualnya meringis menatap pasangan di hadapannya. Biasanya yang ia temui, perempuan lebih banyak menawar, tapi naas, yang ditemuinya hari ini sangat langka, malah suami dari perempuan yang menawar harga padanya.


Aisha pun dengan cepat menimpali, "nggak apa-apa kok, Bang. Ini uangnya, ya, terima kasih!" Aisha pun menyikut pelan perut Arsal menyuruh untuk mengikutinya, "kamu ngapain, sih, ih!"


Dengan mendecak, Arsal pun mendahului Aisha pergi dari pasar. Memang benar, ya, kata pepatah. Lelaki selalu salah, padahal ia sudah bermurah hati untuk tawar-menawar sayur demi mendapatkan harga terjangkau untuk istrinya, kan jadinya uang mereka juga lebih irit.


"Memang apa salahnya menawar, toh emang bener kok harga tomat cuma belasan ribu, ya meskipun itu sudah 3 bulan yang lalu saat ia membeli sembako sendiri untuknya dan itu nggak sampai sekilo, sih," batin Arsal kesal dengan Aisha.