Just A Bunch Of Life

Just A Bunch Of Life
Tutur Kata Dan Rasa



Satu persatu penonton pergi dari aula setelah acara mulai selesai. Setelah ini mereka tidak langsung pulang ke rumah, namun akan makan bersama di aula tersebut, sekaligus mengadakan evaluasi. Sekarang Aisha memang bersama teman-temannya, dan panitia organisasi duduk lesehan dengan melingkar di panggung yang sudah di bersihkan setelah acara.


Semuanya sudah mendapatkan makanannya masing-masing, dengan menu ayam geprek. Aisha dengan pelan memakan makanannya. Seseorang duduk di sampingnya, lebih tepatnya berada sedikit ke belakang punggungnya. Ia menolehkan kepalanya dan mendapati Arsal yang siap menyantap makanan.


Ia tak tahu kenapa lelaki itu memilih duduk di belakangnya, daripada duduk di tempat yang menonjol dari para anggota. Tetapi ia memilih diam meski banyak mata yang menatap mereka.


"Alhamdulillah, ya, hari ini acaranya lancar. Gue harap, dengan acara ini kita makin akrab. Dan dengan adanya evaluasi itu bukan untuk saling menyalahkan, tapi untuk introspeksi masing-masing," ucap Arsal setelah menyelesaikan makan, yang mana suara tersebut mendapat perhatian dari yang lain.


"Iya, Kak!"


"Ya, sudah kalau begitu kalian habiskan makannya, kalau ada yang mau beri masukan ke gue atau ada yang ditanyakan, silakan. Kita ngobrol santai aja."


"Kak, saya dari bagian bendahara mau lapor. Ada uang lebih dari acara, itu gimana, ya, Kak," tanya salah satu dari mereka.


"Kita makan-makan aja. Gimana, Bro?" tanya Dareen diangguki oleh Faiz dan Dafa, para sahabatnya yang datang ke rumah kemarin, yang membuat istrinya kaget.


"Yang lain gimana?" tanya Arsal menatap satu-satu orang di sana.


"Terserah aja, sih, Kak. Buat kita yang sebagian anak kos, mah, suka kalau makan-makan, nih!"


"Nah, karena pada mau makan-makan. Gue simpan dulu, ya, rencananya. Dan, untuk Bendahara, tolong pegang aja dulu uangnya, ya."


"Sip, Kak Arsal!"


"Sekali lagi terima kasih, ya. Setelah makan kalian boleh pulang, jangan lupa sampahnya dibuang, ya!" tegas Arsal, selanjutnya ia menoleh pada Aisha yang sudah selesai makan, lelaki itu memegang ujung kaos perempuan itu yang langsung menatapnya.


"Kita pulang sekarang?"


Aisha mengangguk cepat. Namun mereka sepertinya lupa dengan kehadiran orang-orang di sekitar mereka yang memperhatikan gerak-gerik mereka. Terlebih ketika mereka berdiri bersamaan dengan Aisha yang meremat lengan Arsal.


"Ada yang tau, nggak, Kak Arsal sama Aisha ada hubungan apa? Ada yang bilang keluarga, tapi apa iya?" Salah satu dari mereka mengucapkan kata itu setelah pasangan tadi pergi menjauh.


"Mereka udah nikah."


Tanggapan itu bukan dari sahabat-sahabat Arsal maupun Aisha, namun dari mantan lelaki yang dibicarakan, Hanin. Perempuan itu tak lepas pandangan dari pasangan tersebut meskipun sudah ke luar aula, matanya menatap sendu.


Dan, ucapannya tadi membuat orang-orang di sana terkejut. Terlebih mereka mendapatkan jawaban dari perempuan yang sering dijodoh-jodohkan dengan Arsal.


"Arsal Rashad."


Arsal menghentikan pergerakannya mengeluarkan sepeda motor dari parkiran. Matanya bersibobrok langsung dengan seseorang yang memanggilnya.


"Hanin?" batinnya. Lelaki itu cukup lega karena sang istri tadi kembali ke aula untuk mengambil ponselnya yang ia titipkan pada Ajeng.


"Ada apa?"


Jarak mereka terpangkas jauh, namun Arsal merasa khawatir dengan kedekatan mereka membuat kesalahpahaman.


"Boleh bicara sebentar?"


Arsal menatap keadaan sekitar sebentar, lalu mengangguk.


Sementara di sisi lain Aisha bergegas kembali ke parkiran menuju Arsal, ia tak mau membuat lelaki itu menunggu lama. Namun, langkahnya memelan ketika menemukan suaminya bersama seorang perempuan duduk di Gazebo berduaan.


"Maaf, Arsal. Tapi, nggak dipungkiri kamu sama aku, kita banyak kenangan. Dan, kamu harus tau kalau cinta itu masih ada."


"Ya, aku akui kalau memang selingkuh. Tapi, aku udah nggak ada hubungan sama Fahri, karena waktu itu aku ngerasa kamu terlalu sibuk sama kedai kopi. Fahri waktu itu datang dan kasih aku perhatian, cewek mana yang nggak baper? Tapi, setelahnya aku ngerasa dia nggak sebaik kamu, aku cuma mau Arsal Rashad yang aku kenal dua tahun terakhir, bukan yang lain. Tolong, kasih aku kesempatan buat dapat maaf kamu, ya, Arsal."


Aisha meneguk ludahnya berat. Ia menanti apa jawaban dari suaminya. Jika lelaki itu memberikan kesempatan pada Hanin, itu artinya Arsal masih mencintai perempuan itu. Tetapi, ia tak mau berburuk sangka lagi, ia menunggu kalimat apa yang akan diucapkan Arsal.


"Iya, aku kasih kamu kesempatan."


Aisha meremas ponselnya, ia tak mau mendengar kalimat selanjutnya dari lelaki itu. Dengan cepat, ia pun pergi dari sana tanpa di ketahui.


Dari kejauhan Ajeng melihat Aisha yang berlari kecil, ia pun mengikuti perempuan itu.


Sedangkan masih di Gazebo, situasi masih sama yaitu datar bagi Arsal, namun beda dengan Hanin yang sepertinya salah menangkap arti.


"Aku maafin kamu, tapi bukan berarti kita kembali seperti dulu. Aku udah punya istri, Aisha. Kamu tau itu, kan? Kami udah menikah, meskipun perjodohan bukan berarti aku main-main dengan pernikahan. Aku serius sama Aisha, dan aku udah nyaman sama Aisha, mungkin juga jatuh cinta. Aku tegasin, aku udah nggak ada perasaan lagi sama kamu, toh kalaunya ada juga aku nggak akan kembali ke kamu. Aku nggak pernah mentoleransi perselingkuhan. Jadi, berhenti berharap, mulai hidup kamu tanpa aku. Dan, jangan ganggu aku, apalagi membuat mahasiswa lain salah paham sama hubungan antara aku dan kamu yang sudah berakhir ini."


Arsal berdiri dari duduknya, "udah, ya, Hanin. Urusan kamu sama aku udah selesai," tegasnya, lalu meninggalkan perempuan itu sendirian.


Tanpa lelaki itu ketahui, ia kembali memberikan rasa sakit hati pada Aisha. Tanpa ia tahu, perempuan itu tak mendengarkan semua percakapannya dengan Hanin yang menimbulkan salah paham lagi.