Just A Bunch Of Life

Just A Bunch Of Life
Sudah Dikata, Jangan Berharap Pada Manusia



Sudah satu bulan pernikahan ini terjalan, baik Aisha maupun Arsal tak neko-neko tujuan bertahan untuk apa. Yang mereka sadari mereka sudah saling bergantung satu sama lain, meskipun belum ada kata "cinta" yang terucap di antaranya.


Malam hari sekitar jam sepuluh Aisha baru saja menyelesaikan tugas kampus, ia berniat untuk ke kamar Arsal untuk meminjam printer untuk mencetak tugasnya, kebetulan ia sudah izin lewat telepon, sementara sang pemilik sibuk di kedai kopi.


Dengan perlahan ia membuka kamar lelaki itu, wangi khas Arsal menguar terhirup hidungnya. Di samping meja belajar itu terdapat mesin printer, dengan membuka laptopnya sendiri ia pun mulai mencetak dokumennya. Selagi menunggu, ia pun mengedarkan pandangannya ke seluruh kamar Arsal.


"Minimalis," batinnya.


Namun, pandangannya seketika terjatuh pada foto yang di tempel di pojokan samping jendela, di sana memang ada beberapa foto. Ada Arsal bersama keluarga, teman-temannya, dan seorang perempuan.


"Siapa?" Aisha tak mau berburuk sangka, namun foto itu tak seperti yang lain ada bersama Arsal semua, sedangkan perempuan itu hanya sendirian, seperti sangat khusus hanya untuk Arsal.


Ia pun mendekati foto itu, ia menggigit bibirnya ketika membaca tulisan tangan di bawah foto itu, dan ia sangat tahu siapa penulisnya, tulisan Arsal. Suaminya.


Bunyi pintu utama terbuka membuatnya bergegas kembali ke tugasnya. Dengan cepat ia mengambil kertas-kertas tersebut, lalu pergi dari kamar itu. Saat ia membuka pintunya, ia termundur ketika Arsal juga membuka pintu kamar lelaki itu.


"Oh, udah selesai cetaknya? Tintanya nggak habis, kan?"


Aisha hanya mengangguk dan menggeleng kaku sebagai jawaban, lalu ia pun berniat keluar dari kamar, tetapi Arsal menahan tangannya.


"Bentar, kertasnya nggak sekalian dijilid? Sini, biar aku jilid."


Aisha menyembunyikan kertas tugasnya ke belakang punggungnya, "nggak usah."


"Yakin? Nggak apa-apa, kalau mau, biar aku aja yang kerjain, kamu langsung tidur aja," bujuk Arsal lembut, ia sama sekali tidak menyerah membujuk perempuan di depannya. Dengan pelan ia pun mengambil tangan perempuan itu, setelah itu mengambil kertas itu.


"Kamu tidur aja, nanti pagi aku kasih, ya," ucap Arsal sambil mengusap rambut Aisha yang bergegas ke kamarnya, tanpa Arsal sadari, ia sudah menyakiti perasaan perempuan itu.


Aisha, ia sudah berharap mereka akan berakhir saling jatuh cinta meskipun niat pernikahan ini hanyalah sebuah perjodohan.


Namun, ia lupa. Hati manusia mana ada yang tahu, mereka punya tempatnya masing-masing. Meskipun Aisha mempunyai raga Arsal, tapi hati lelaki itu tak dapat ia genggam, jika ada yang sudah menggenggam. Terlebih, setelah membaca tulisan tangan Arsal tadi membuatnya tak ingin lagi berharap pada sang suami.


“She's not perfect, but she's all I want.”



Aisha mengayuh sepedanya dengan pelan, ia memang sempat membawa —dari rumah orang tuanya— sepeda untuk ia gunakan ke kampus, karena rumah Arsal dekat dengan kampus.


Jika ditanya kenapa ia bersepeda, padahal ia dapat ikut dengan Arsal bersepeda motor. Namun itulah sebabnya, ia rasanya hanya ingin menghindari suaminya.


Maka dari itu pagi-pagi sekali tadi, ia berangkat tanpa menyiapkan sarapan. Ia bahkan mendahului Arsal berangkat ke kampus.


"Lah, Sha? Tumben lo datang pagi?"


Aisha meringis mendengar pertanyaan Risa, teman sekelasnya.


"Nggak, gue lagi pengen ngerasain berangkat pagi aja."


"Oh, ya? Biasanya lo berangkat sama Kak Arsal, kan?"


"Ya, nggak apa-apa, kan? Maksud gue, masa sama Kak Arsal terus," kekeh Aisha di akhir kalimat. Ia pun mengeluarkan roti yang sempat ia bawa dari rumah serta air putih.


Risa menatap lamat Aisha, "Sha, lo pacaran sama Kak Arsal?"


Aisha tersedak makanannya, dengan cepat ia pun minum, setelah itu menggeleng cepat pada Risa.


"Nggak pacaran kok," telak Aisha cepat.


"Oh, atau kalian keluarga, ya? Iya juga, sih, mana mungkin lo ada hubungan sama Kak Arsal kecuali keluarga kali, ya? Soalnya sepupu gue yang seangkatan dia pernah bilang kalau Arsal itu bucin banget sama pacarnya."


Mendengar itu, Aisha terdiam sejenak, "Kak Arsal punya pacar?"


"Iya, katanya, sih, satu kelas sama dia. Bucin banget loh, kata sepupu gue Kak Arsal bahkan selalu bawain tas itu cewek, katanya berat, padahal mah tasnya kecil," tutur Risa mendecak, lalu ia pun melanjutkan pembicaraannya, "terus juga selalu dijemput pakai mobil tuh cewek, dibukain pintu. Aduh, meleleh nggak, sih, kalau jadi ceweknya."


"Jadi, Arsal punya pacar? Kenapa nggak bilang?" batin Aisha.


"Tapi, gue dengar-dengar, nih, ya. Kak Arsal kayak jaga jarak gitu sama Kak Hanin dari enam bulan lalu. Nggak tahu, deh, kenapa. Putus kali, ya?"


"Kak Hanin?"


"Iya, Kak Hanin itu pacarnya. Cantik banget tahu, nggak? Bentar, gue kasih lihat fotonya pas acara peresmian anggota BEM, waktu itu dia jadi panitia juga."


Hanin bagian dari BEM juga.


Aisha tak tahu harus bereaksi apa, ia pun hanya menunduk, sedangkan Risa masih berceloteh tentang Arsal dan pacar lelaki itu. Bahkan ketika perempuan itu menampakkan paras Hanin. Cantik, Aisha akui. Perempuan dengan rambut panjang lurus, dan wajahnya yang tak bosan dipandang. Wajar kalau Arsal menyukai perempuan itu.


"Aisha, Kak Arsal di depan kelas cariin lo, tuh!"