
Matahari tenggelam menimbulkan cahaya bulan di tengah kegelapan. Meskipun hari sudah malam, tidak membuat rasa semangat dua anak muda itu membelah kerumunan manusia di pasar malam tersebut.
Sedari tadi Aisha menunggu Arsal memarkirkan sepeda motor, ia sudah siap untuk memanjakan mata melihat apa saja yang ada di dalam pasar malam tersebut.
"Ayo."
Aisha mengangguk, lalu berjalan di sebelah Arsal, namun Arsal menghentikan langkahnya. Melihat itu, Aisha mengangkat kedua alisnya seperti bertanya, "kenapa?" pada Arsal yang menatap lalu lalang manusia di sekitar mereka, malam Minggu ini di pasar malam terasa banyak sekali pengunjung.
"Kamu jalan duluan, biar aku di belakang." Arsal memajukan tubuh Aisha di depannya, lalu mereka pun berjalan dengan tangan Arsal yang berada di kedua sisi bahu Aisha.
Aisha menggigit bibirnya menahan senyum. Ia tak mau terlalu percaya diri Arsal jatuh hati padanya, seperti ia pada lelaki itu. Namun sikap lelaki itu membuatnya merasa dilindungi. Untuk saat ini ia menganggap tindakan Arsal hanya sebuah bentuk kepedulian. Seperti halnya malam ini, mereka bertujuan untuk menikmati kebersamaan, bukan untuk kencan seperti sepasang kekasih.
Aisha tak masalah, selama Arsal bersamanya, itu saja. Ia tak peduli perasaan lelaki itu padanya, ia hanya ingin lelaki itu berada di sekitarnya, melindunginya, menjaganya, dan memberikan perhatian kecil yang bermakna.
"Mau naik wahana, nggak?" Arsal mencondongkan tubuhnya pada Aisha yang tak berani menoleh, ia gugup. Perempuan itu pun menggeleng sebagai bentuk jawabannya.
Wahana, menurutnya memang menyenangkan. Akan tetapi, ia takut ketinggian. Meskipun melihat orang-orang berbondong-bondong menaikinya dengan orang tersayang sangat menyenangkan.
"Mau mewarnai aja, boleh?"
Arsal, lelaki itu terhenyak sejenak. Dari sekian wahana, perempuan itu hanya ingin mewarnai gambar yang mana kebanyakan pengunjung anak-anak yang memilih mewarnai.
"Oke, kita ke sana," putus Arsal tanpa mengelak.
Arsal melihat senyum perempuan itu, matanya berbinar melihat papan gambar itu di hadapannya. Lelaki itu pun ikut duduk di samping sang istri yang mulai mewarnai gambar kartun.
Malam ini terasa panas menurut Arsal, ia bahkan berkeringat. Ia juga sempat mengambil kipas elektronik kecil dalam tas istrinya —setelah mendapat persetujuan— lalu mengibaskan di depan wajahnya, kadang ia juga menyugar rambutnya.
"Selesai!" seru Aisha sambil mengepalkan kedua tangannya, lalu ia pun mengambil ponsel dari tas selempangnya, lalu memotretnya. Namun, tanpa disadari kedua kalinya oleh Aisha, Arsal memotret Aisha yang sedang mengambil foto lukisannya.
—
"Ayo, kamu pasti dapat!" Aisha menepuk pundak Arsal yang sedang main lempar kaleng, jika roboh maka akan mendapatkan boneka.
Namun sudah dua kali pembelian koin, Arsal masih belum dapat, ia tak tahu kenapa, namun ia ingin mendapatkan boneka itu untuk istrinya.
Tetapi, tinggal dua lemparan saja lagi, sedangkan tadi ia sudah mengatakan tidak akan membeli lagi setelah ini.
"Ar, coba kamu tarik napas dulu, deh. Ayo, fokus, fokus!"
Ricauan kecil Aisha membuat rasa ambisinya meningkat, dengan menutup mata, ia pun melemparkan bola pada susunan kaleng tersebut, dan ... wow!
"Ar, kamu dapat! Yeay, dapat boneka!"
Sorak bahagia sang istri membuatnya membuka mata, dan benar saja kaleng tersebut berjatuhan, mereka pun disuruh untuk memilih boneka, dan Arsal pun menyenggol Aisha pelan, lalu mengode dengan anggukan dagu untuk sang istri memilih boneka. Sontak saja dengan gembira Aisha mengambil boneka beruang coklat kesukaannya.
Mereka pun kembali berjalan melewati toko makanan jualan, kadang mereka singgah untuk belanja makanan secukupnya.
Sampai akhirnya Aisha menyadari ada tetesan air yang berjatuhan di kepalanya, ia pun mendongak.
"Hujan," lirihnya pelan.
Arsal yang mendengar tersebut langsung menengadahkan tangannya, dan benar saja hujan mulai turun, ia pun berinisiatif melepaskan topinya dan memakaikan pada, Aisha yang tersentak kecil. Tanpa pembicaraan, Arsal pun menuntun Aisha untuk keluar dari pasar malam, dan memutuskan pulang.