Just A Bunch Of Life

Just A Bunch Of Life
Mulai Sama-sama



Di ruang tengah yang biasanya sepi dan tak berwarna, namun pagi ini berbeda. Ada sepasang suami istri yang sedang sarapan sambil menonton televisi.


Biasanya Arsal selalu menjaga kebersihan ruangan rumahnya, makan di ruang makan, tetapi ia ingin mencoba suasana baru. Ia dan Aisha makan bersama dengan duduk berdekatan. Lelaki itu baru sadar Aisha sudah tak terlalu canggung membuka kerudung di hadapannya, dan memakai kaos dan celana panjang, biasanya perempuan itu akan menggunakan gamis atau rok panjang.


"Sebentar, ya."


Aisha menoleh ke Arsal yang tiba-tiba berdiri. Lelaki dengan kaos oblong dan celana pendek itu mengode ingin ke kamar, perempuan itu pun mengangguk sebagai jawaban.


Arsal berlari kecil kembali ke ruang tengah sambil membawa laptopnya, lalu meletakkan di atas meja di hadapan mereka.


"Ayo, kita buat visi dan misi pernikahan. Terus bahas pendapat masing-masing mengenai prinsip, keluarga, kamu mau berkarir apa enggak, terus tentang ekonomi," terang Arsal sambil membuka powerpoint dan mengetikkan beberapa kata.


Aisha terenyuh sejenak, ia kembali mengingat kejadian kemarin setelah pulang dari Kedai Kopi. Saat itu pas sekali adzan Maghrib ketika mereka menapakkan kaki di dalam rumah.


Dan, untuk pertama kalinya mereka salat berdua dengan Arsal yang mengimami, karena biasanya Arsal hampir seharian tak di rumah selain ke Kampus lalu mengantarnya lalu pulang lagi ke Kedai Kopi, kebanyakan lelaki itu singgah di Mesjid dekat Kedai, sedangkan Aisha sendiri. Tak hanya itu, setelah diimami Arsal kemarin, Aisha bersalaman dengan Arsal untuk kedua kalinya setelah menikah. Dan, lelaki itu membuka percakapan saat itu.


"Sha, maaf, ya," lirih Arsal yang merebahkan diri di paha Aisha yang masih memakai mukena.


"Untuk apa?"


"Ibu kamu bilang, kamu itu enggak pernah pacaran karena kamu ingin menjadi yang pertama untuk seseorang. Beda sama aku yang pernah pacaran, aku jadi ngerasa bersalah sama kamu yang sebaik itu. Setelah semuanya, aku akan berusaha menjadi yang pertama dan terakhir buat kamu," Arsal menghela napas, "aku ngerasa berdosa juga karena pacaran, padahal aku sering ikut ke pengajian kalau ada waktu senggang, tapi ngerasa sia-sia, soalnya enggak pernah nerapin."


Aisha mengusap rambut Arsal lembut. "Sebenarnya aku juga enggak sebaik itu, Ar. Belakangan aku ngerasa jauh, enggak serajin kamu ikut pengajian, karena malas lah, apa lah, banyak alasan," terang Aisha pelan, "ketika aku berjauhan sama kamu, waktu itu aku ngerasa aku enggak usah terlalu berlarut-larut sedih atau kesal sama kamu, makanya aku ikut ke beberapa pengajian. Ketika ngeliat salah satu teman pengajian pakai cadar, aku teringat impian aku pakai juga, tapi ibu ngebolehin pas nikah, saat itu aku mikir untuk pakai, deh, karena aku cuma mau suami aku aja yang liat wajah aku."


"Kenapa enggak pernah bilang?"


"Takut kamu enggak izinin, makanya aku takut ketemu kamu pas di Mesjid, karena aku pakai cadar, kan? Mana waktu itu juga sempat bohong sama kamu."


"Siapa bilang enggak izinin? Aku bahkan bakal seneng kalau paras kamu cuma buat aku aja."


Aisha tersenyum tipis mengingat kejadian kemarin, juga melihat keantusiasan Arsal mengetik laptopnya di hadapannya sekarang, setelahnya mereka pun berdiskusi tentang masing-masing, mereka mulai sedikit demi sedikit terbuka satu sama lain. Mereka menggali persepsi satu-satu, apa yang disukai dan tidak, sampai ke poin-poin sepele sekali pun.



"Assalamualaikum."


Arsal mengalihkan pandangannya dari televisi, ia menoleh ke pintu lalu pada Aisha yang tertidur pulas di sofa, mereka tadi menonton film, namun di tengah film perempuan itu tertidur.


Hari sudah ingin memasuki jam sembilan malam. Biasanya tidak ada yang datang malam-malam seperti ini. Ia pun bergegas menuju pintu.


"Waalaikumsalam warahmatullahi wabarakatuh," Arsal terpaku pada dengan tamu di hadapannya, "Ayah, Ibu?" ucapnya terkejut melihat mertuanya datang dengan tas jinjing, setelahnya ia menyalami keduanya.


"Aduh, maaf, Nak. Kami datang malam-malam begini," jelas Lusi.


"Enggak, nggak apa-apa, kok. Silakan masuk, Yah, Bu."


Kamar di rumahnya hanya dua, dan keduanya ditempati olehnya di kamar utama dan Aisha di kamar ruang tamu. Dan, ia juga tak tahu harus bagaimana jika orang tua istrinya tahu kalau mereka tidak satu kamar.


"Oh, iya, boleh banget. Aisha pasti seneng kalau tau Ayah sama Ibu dateng terus nginep." Nyatanya kalimat tersebut yang terucap.


"Ayah, Ibu?"


Ketiga serentak memandang ke asal suara. Pada Aisha yang mengintip mereka dari ruang tamu. Wajah perempuan itu terlihat sekali masih mengantuk.


"Aisha, kamu kenapa enggak kabarin Ibu, nelpon juga enggak diangkat!" geram Lusi pada anaknya, ia gregetan karena tak menerima kabar putrinya itu.


"Udahlah, Bu. Kan, tujuan nginep bukan buat ngomelin Aisha, lagian Aisha ada Arsal yang jagain."


Aisha mengangguk cepat membenarkan ucapan ayahnya. Setelahnya mereka pun duduk di ruang tamu, sedangkan Aisha masih terpaku berdiri di samping Arsal yang duduk.


"Ehem, Ayah sama Ibu udah makan malam?" sanggah Arsal mengalihkan pembicaraan


"Udah, udah makan tadi," jawab ayah Aisha, "maaf, ya, kami datang tiba-tiba. Soalnya Ayah ada keperluan kerja sebentar di sini."


"Nggak apa-apa, Aisha juga pasti kangen kumpul-kumpul, ya 'kan, Sha?"


Aisha mengangguk kaku.


"Nak, kalau boleh, Ayah sama Ibu tunjukkan kamar tamu, boleh?"


"Eh, tapi—."


"Oh, tentu. Arsal tunjukkin kamar tamunya, ya, Yah."


"Enggak, sebentar," tahan Aisha sambil meremat tangan Arsal saat laki-laki itu berdiri, ia menatap Arsal dengan renggutan. Laki-laki itu tahu tidak, sih, barang-barangnya masih berada di kamar, dan hal itu pasti menarik kecurigaan orang tuanya.


"Kenapa, Sha?" tanya Arsal melihat wajah Aisha yang seperti merengek.


"Aku mau bersihin kamar tamu dulu."


"Tapi 'kan kamar tamu bersih aja, kamu juga sering bersihin barang-barang kam—." Ucapan Arsal terhenti seketika saat merasa Aisha mengguncang pelan tangannya dan ia juga menyadari perkataannya. Barang-barang Aisha masih ada di kamar tamu, otomatis itu akan menjadi masalah jika mertuanya tahu.


"Oh, iya. Baru inget, kamar itu banyak debu," ralat Arsal pada ketiganya.


"Aku sapu bentar, ya. Ayah sama Ibu di sini aja ngobrol sama Arsal dulu hehe."


Dengan cepat ia pun bergegas menuju kamarnya, mengambil skincare, alat tulis, buku yang ia masukkan ke kotak. Ia juga mengunci lemari bajunya. Ia berulang kali mengamati kamar, apakah masih menunjukkan kehidupannya di sana, setelah merasa sudah tak ada lagi, ia pun membawa kotak tersebut dan meletakkannya ke kamar Arsal.


Tanpa ia sadari, dengan hal tersebut ia akan tidur sekamar dengan empunya.