Just A Bunch Of Life

Just A Bunch Of Life
Berjarak



"Pak Arsal, ini laporan keuangan kedai bulan ini."


Arsal mengangguk, "terima kasih."


"Saya permisi dulu, Pak."


Arsal membuka lembaran kertas di tangannya, namun ia tak fokus meski ia sendirian di dalam ruangan khusus. Lelaki itu mengusap wajahnya, lalu tatapannya tertuju pada ponselnya. Dengan gesit ia memencet salah satu nomor, nada terhubung terdengar.


"Assalamualaikum, Yah," ucap Arsal bernada ceria, "gimana kabar Ayah sama Ibu," lanjut Arsal pada mertuanya.


Ya, ia merasa merindukan perempuan yang selalu bersamanya, satu atap dengannya belakangan ini. Namun, nomor ponsel perempuan itu tak aktif sudah hampir dua hari. Arsal selalu menghubungi, tetapi penolakan yang ia dengar. Ia pikir mungkin Aisha meluangkan banyak waktu bersama orang tuanya, sampai lupa dengan ponselnya.


"Waalaikumsalam warahmatullahi wabarakatuh. Alhamdulillah, kami baik. Nak Arsal sendiri gimana?"


"Alhamdulillah, baik, Yah."


"Baguslah kalau begitu."


"Arsal boleh nanya sesuatu nggak, ya, Yah?" tanya Arsal yang mengetuk pulpen di tangannya ke meja.


"Oh, tentu. Tapi, Aisha gimana kabarnya, Nak? Beberapa hari ini dia nggak nelpon, kayaknya keasikan, ya, mentang-mentang udah ada kamu," celetuk ayahnya Aisha yang membuat Arsal mengerutkan keningnya.


"Aisha nggak ada nelpon Ayah? Maksud Arsal dia ada kabarin Ayah dua hari kebelakang ini, nggak?"


"Hm, nggak ada. Ibu Aisha aja ngomel ke Ayah gegara nggak ada telpon dari anak kesayangannya." Sahutan tersebut membuat Arsal mengusap wajahnya berkali-kali.


Itu artinya ... Aisha tak pulang ke rumah orang tuanya. Lalu, di mana perempuan itu. Kenapa? Apakah ingin menghindarinya? Tapi kenapa?


"Kamu tadi mau nanya apa?"


"Ya sudah, kalau begitu Ayah titip Aisha, ya, Nak. Aisha itu anaknya mendem kalau ada masalah, nanti kalau ada masalah bicarakan baik-baik, rangkul Aisha, ya. Aisha anaknya nggak mau bergantung sama siapapun, dia jarang terbuka, ke Ayah sama ibu aja perlu waktu buat cerita."


Arsal memejamkan matanya, "iya, Yah. Makasih udah ngingetin Arsal, Arsal bakal jaga Aisha baik-baik." Lelaki itu menelungkupkan kepalanya setelah telepon berakhir.


Ia harus tahu Aisha berada di mana sekarang. Ia tak tahu apa yang membuat perempuan itu berbohong padanya. Lelaki itu langsung berdiri, dan melangkah ke luar Kedai.



Ajeng memberikan dua jempol ketika melihat Aisha ke luar dari perumahan sepupunya dengan penampilan yang berbeda dari sebelumnya, yaitu perempuan itu menggunakan kain untuk menutup wajahnya, cadar.


"Ayo, berangkat!"


Sedangkan Aisha mengangguk, lalu duduk di belakang Ajeng. Beberapa hari ini, ia memang seperti menghilang dari kabar dan jarang menyentuh ponsel. Ia tak maksud untuk menghindari siapapun, ibunya memang kerap menelepon, namun ia tak mengangkat karena ia takut ditanya, ia hanya mengetik beberapa kata bahwa ia baik-baik saja.


Selama menjauh dari Arsal, ia tidak ingin bersedih hati, belakangan ini ia dan Ajeng lebih sering datang ke beberapa pengajian atau mendengarkan ceramah di mesjid dengan Ajeng yang selalu semangat menjemputnya.


Sekarang Aisha juga menggunakan cadar untuk acara pengajian saja, begitu pun dengan Ajeng. Mereka masih belajar. Keduanya banyak belajar dari pengajian, terutama tentang batasan pertemanan lawan jenis, bahkan permasalahan rumah tangga yang mana membuat Aisha merasa bersalah saat mendengar, terlebih ia menghindari suaminya sekarang.


"Eh, Ais! Itu Kak Faiz temennya Kak Arsal bukan, sih?" tanya Ajeng ketika mereka hendak pulang dari mesjid.


Aisha menoleh, "iya, ben—," ucapan perempuan itu terputus saat melihat ada seorang lelaki yang berlari kecil di belakang Faiz menuju parkiran yang saat ini tak jauh dari mereka.


Aisha harap, Arsal tak tahu ia berada di tempat yang sama juga. Ia pun dengan cepat menarik tangan Ajeng untuk menuju ke sepeda motor perempuan itu.


Namun, sepertinya ia salah mengambil langkah. Karena, setelahnya Ajeng tiba-tiba berceletuk cukup nyaring, yang mana mungkin terdengar pada Arsal dan Faiz yang tak jauh dari mereka.


"Aisha, tungguin bentar! Kunci motornya ketinggalan di dalam!"