
"Sha."
Panggilan ibu membuat Aisha mendongak, matanya berkedip cepat, tersadar dari lamunannya. Sekejap kemudian, ia melemparkan senyum tipis pada ibunya.
Di ruang tengah minimalis ini, berkumpul enam orang dengan sepasang paruh baya, dan dua anak muda di tengah-tengah orang tua mereka.
Sedari tadi Aisha menunduk, tidak berani menatap keluarga kecil lain di hadapannya.
"Sha, ibu sama ayah nggak memaksa, tapi ini pilihan ayah sama ibu. Seperti yang kamu tahu, ibu sama ayah khawatir jika kamu merantau sendirian. Dengan adanya anak teman ibu, juga pernikahan kalian nanti, ibu sama ayah nggak khawatir sama kamu."
"Ibu benar, Nak," ucap ayahnya.
Telinga Aisha seketika berdenging, ia tahu keputusannya untuk merantau dan tinggal sendiri pasti ditentang, terlebih ia anak satu-satunya di keluarganya.
Tapi, kenapa harus dengan pernikahan?
Jujur, pertanyaan tersebut memang ada muncul, tapi yang lebih membuatnya kaget adalah orang yang akan dijodohkan dengannya.
Arsal.
Ya, teman masa kecilnya, juga ketua dari organisasi yang ia masuk di sana. Seseorang yang ia anggap bersifat dingin padanya setelah mereka tidak bertemu sepuluh tahun dari pertemuan mereka waktu kecil.
Lelaki yang ia pikirkan, berada di hadapannya, menatapnya dengan datar. Ia pun menunduk kembali.
"Nak Aisha, tante tahu ini mendadak. Tapi jujur, ini bukan sebuah kebetulan atau apa, ini memang sudah tante dan ibu inginkan saat dulu, kami ingin menjadi besan, dan inilah waktunya."
Aisha mengusap wajahnya, "Tante, tapi kan semua ini juga perlu keputusan ... Kak Arsal, nggak cuma Aisha. Apalagi ini dadakan menurut Aisha. Boleh nggak kalau Aisha sama Kak Arsal mikir dulu?" tutur Aisha pelan.
"Arsal sudah setuju, Nak."
"Eh?" Aisha menoleh pada ayahnya Arsal.
Kaget. Apa benar Arsal setuju begitu saja? Mereka memang akrab dulu, dulu sekali saat masa kanak-kanak. Tapi, tak semudah itu seharusnya Arsal menerima.
Aisha seharusnya senang, ia dapat menikahi cinta pertamanya, tapi kenapa rasa kaget lebih mendominasi.
"Assalamualaikum."
Aisha tergagap ketika mendapati Arsal di depan pintu rumah mereka pada jam sepuluh malam. Ya, rumah mereka. Keputusan mereka untuk menikah yang diadakan 1 Minggu lalu, yang hanya dihadiri keluarga.
Meski begitu, mereka tidak langsung untuk terbuka satu sama lain. Mereka memilih untuk tidur di tempat terpisah. Aisha tidak masalah, karena ia pun masih perlu adaptasi.
"Waalaikumsalam, Kak ... eh Ar," ya, mereka sepakat untuk memanggil dengan nama masing-masing, tanpa embel-embel sopan, kata Arsal, sih, biar kayak teman saja.
"Teman, tapi mereka kan sudah menikah," batin Aisha kecut.
"Gue ke kamar dulu, ya. Ngantuk, banyak pelanggan tadi," seru Arsal menuju kamarnya.
Oh, iya. Baru diketahui, ternyata Arsal memiliki bisnis coffee shop yang dikelola bersama temannya.
Aisha jadi cemburu, Arsal di usia mudah sudah mempunyai penghasilan sendiri, sedangkan ia hanya kaum rebahan, itu pun kalau tidak ikut organisasi ia pasti tidak ada pengalaman apa-apa.
Perlahan ia pun menuju kamarnya juga, menyibakkan selimutnya. Dengan kesal ia menutup wajahnya.
Pernikahan macam apa ini, seperti dengan teman kos. Sepertinya pun jika dengan teman kos lebih berwarna, tidak sekaku pernikahan mereka.
Malam berganti pagi yang cerah, Aisha bergegas menuju kamar mandi. Hari ini ia ada kelas jam delapan pagi. Setelahnya, ia pun menyiapkan sarapan untuknya juga Arsal tentunya. Meskipun pernikahan ini embel-embel seperti teman, tapi Aisha masih tahu kewajibannya terhadap suaminya.
Bunyi pintu berderet membuat Aisha menoleh, "Ar, hari ini gue masak telor ceplok aja, ya. Soalnya gue mau berangkat pagi."
"Ya." Arsal menduduki kursi, sambil menatap handphonenya.
"Dingin banget," gerutu Aisha pelan.
"Es kali, dingin," sahut Arsal yang membuat Aisha mengatupkan bibirnya.
Ya, begitulah percakapan mereka sehari-hari. Bagaimana kah kelanjutannya ceritanya? Tolong dibaca, ya