Just A Bunch Of Life

Just A Bunch Of Life
Belajar Jatuh Cinta



Ketukan pintu beberapa kali, dan sorakan salam menghentikan kegiatan Aisha yang sedang mengetik tugasnya dalam kamar. Ia pun bergegas mencari kerudungnya, tetapi hanya atasan mukena yang ia pakai.


Setelahnya ia pun keluar dari kamar, seharusnya ada Arsal, namun lelaki itu tak terlihat di ruang tamu, maupun di kamarnya yang terbuka.


"Assalamualaikum!"


"Waalaikumsalam."


Aisha memundurkan badannya melihat ada tiga orang lelaki di depan rumah, terlebih mereka mengucapkan salam dengan mengejutkannya.


"Eh, loh," ketiga laki-laki tadi sontak meringis ketika yang membuka pintu bukan sahabat mereka, Arsal. Namun yang membuka adalah istri Arsal. Ya, mereka mengetahui hal tersebut, karena mereka diundang saat pernikahan tersebut.


"Maaf, ya, kalau ngagetin kamu. Kami ke sini mau ketemu Arsal, dia ada?"


"Kalian ngapain?"


Itu bukan sahutan Aisha, suara itu berasal dari belakang Aisha. Arsal pun menarik lembut tangan sampai perempuan itu berada di belakang punggungnya.


"Cuma mau nongkrong aja di rumah lo, kayak biasa, Bro," ucap salah satu dari mereka cengengesan, yang mana hal itu membuat Arsal mendecak. Teman-temannya memang sering menjadikan rumahnya tempat nongkrong, tapi itu dulu sebelum ia menikah, sekarang rasanya ia ingin menendang mereka satu-satu, ia taku membuat Aisha tak nyaman.


"Di Kedai Kopi aja, lah. Gue nggak mau rumah gue berisik, ntar bikin istri gue nggak nyaman."


Hati Aisha menghangat, sedari tadi perempuan itu masih di belakang Arsal. Dengan tangan yang masih dalam genggaman Arsal, jantungnya berdebar, terlebih mendengar kalimat lelaki itu.


"Aku nggak apa-apa, kok."


Keempat lelaki di sana menoleh pada suara Aisha.


"Beneran nggak apa-apa? Mereka berisik tau," ucap Arsal yang di sambut wajah melongo teman-temannya. Mereka memang berisik, sih, kalau ngumpul. Tetapi, melihat sisi Arsal ini membuat semakin terkejut, pasalnya Arsal jarang sekali menunjukkan adegan kasmaran dengan pasangannya sebelum-sebelumnya. Yang harus tanya ini-itu untuk sebuah hal.



"Sha, makasih udah bantuin. Mereka emang ngerepotin," ucap Arsal membantu Aisha mencuci piring setelah kepulangan teman-teman Arsal. Perempuan itu kembali muncul setelah kepergian teman-teman suaminya, karena tadi ia kembali ke kamar setelah memberikan makanan.


"Lain kali jangan gitu, mereka 'kan teman-teman kamu."


"Iya tau, tapi takut kamu nggak nyaman aja."


"Aku nggak apa-apa, kok. Malahan karena teman-teman kamu tadi, aku jadi ingat teman-teman aku jadinya. Dulu kami kumpul juga, aku jadi pengen ngumpul juga, deh. Udah lama nggak ketemu mereka."


"Undang ke rumah aja."


Aisha menatap Arsal, "boleh?"


"Teman-teman kamu yang dua orang itu 'kan, Qais sama Ajeng? Aku nggak apa-apa kalau mau ngundang mereka ke rumah."


"Makasih."


"Untuk apa?"


Aisha menggigit bibirnya, "aku ngerasa nyaman aja sama kamu. Maksudnya, kamu selalu tanya pendapat aku, itu bikin aku ngerasa diandalkan juga."


"Oh, kamu udah nyaman sama aku? Kalau gitu, kamu mau belajar jatuh cinta sama aku, nggak? Biar aku nggak belajar sendirian."


Aisha mengerjap beberapa kali, "eh, gimana maksudnya?"