
Brak. Zia membanting pintu dengan keras sesampainya dia di rumahnya.
"Sudah pulang?"
Seorang pria tinggi dengan wajah tampan menawan, keluar dari salah satu pintu yang berwarna biru. Dia tidak mengenakan apapun selain handuk yang menutupi bagian bawahnya, sehingga membuat otot perutnya dapat terlihat dengan jelas oleh Zia.
"K-Kakak?!!"
Zia menutup wajahnya dengan kedua tangan namun tidak merapatkannya, agar dia bisa mengintip sedikit dari jarak antar jari yang menutupi mukanya.
'Wa-waw ... Otot-otot perut kakak sangat indah ....'
"Kenapa kamu terkejut, Zia?"
Kakaknya mendekat sambil merapikan handuk di sekitar pinggulnya.
"Wawawa!! Jangan mendekat!!"
Zia mengangkat tangan kirinya lurus ke depan mengisyaratkan kakaknya untuk berhenti, sementara tangan kanannya masih menutup mukanya, kali ini dia tidak mengintip dari lubang jarak antar jari.
Kakaknya menghiraukannya, dan tetap berjalan ke dekatnya sambil mengulurkan tangannya ke depan untuk mengelus kepala adiknya.
"Kamu ini kena—"
Ketika tangan kakaknya itu akan mengenai kepalanya, Zia menghindar dan langsung berlari ke lantai atas lewat tangga di sebelah kanan, belakang kakaknya.
Membuka pintu kamarnya yang dekat dengan tangga, dia memasuki kamarnya dan membanting pintu dengan keras. Beberapa detik kemudian, pintunya terbuka lagi.
"Kakak bodoh!!"
Brak! Dia membanting pintunya lagi. Sungguh sangat kasian nasib pintu itu.
Kakaknya menatap ke lantai atas— tepatnya pintu kamar adiknya sambil menggaruk kepalanya.
"Dia itu kenapa sih ...."
Zia melempar tasnya ke lantai, lalu menjatuhkan badannya ke atas kasur dan mengubur wajahnya. Lalu, dia teringat lagi pemandangan lekukan otot kakaknya yang indah.
"Ugh?!"
Dia bangkit dari kasur— duduk di atas kasur membawa bantal.
"Bodoh, ****, idiot!!"
Dia memukuli bantalnya bagaikan memukul sebuah samsak tinju, lalu melemparnya ke lantai dan menginjak-injaknya. Dia melampiaskan semua kekesalannya pada bantal yang tak berdosa, selamat tinggal bantal.
Ini adalah sifat aslinya. Di sekokah dia memang pendiam dan dingin, sampai mendapat julukan putri es dan putri bisu. Tetapi, ketika di rumahnya, beginilah tingkahnya, seorang gadis yang berisik dan heboh.
Handphonenya berdering, ada panggilan masuk untuknya. Dia berhenti menyiksa bantalnya, lalu mengambil handphonenya di atas meja lampu di samping kasurnya.
Dia menggeser icon telepon berwarna hijau ke atas, disana tertera nama seseorang, Chris. lalu dia duduk di tepian kasurnya.
"Halo??"
Zia lupa tidak mengaktifkan speakernya, sehingga tidak dapat mendengar suaranya dengan jelas. Dia memindahkan handphonenya dari samping telinga ke hadapannya, dan menekan icon speaker.
"Halo! Halo!!!"
"Ukh!"
Tepat setelah dia menyalakan speakernya, sebuah suara keras langsung muncul dari handphonenya.
"Bagaimana kabarmu? Apa kamu sudah mencoba Ignisia Fantasy sekarang? Itu sangat berbeda jauh dibandingkan versi BETA yang kita mainkan loh! Yah, aku menyukai fitur menikah yang ditambahkan di versi sekarang. Sekarang ini terlihat seperti dunia nyata, atau kubilang dunia keduaku! Hahahaha!! Yah, pokoknya kabarin aku kalau kamu sudah bermain! Bye bye!!"
Klik. Telepon terputus. Itu lebih seperti pesan suara dibandingkan telepon. Zia belum sempat bicara tetapi orang bernama Chris itu sudah menutupnya setelah dia bicara panjang lebar.
Zia menggenggam handphonenya erat dan menatapinya yang berada di hadapannya. Kemudian, jari-jarinya bergerak menekan-nekan layar handphonenya. Dia menghapus Chris dari kontaknya, dan sekarang dia tidak mempunyai siapapun di kontaknya, karena hanya nomor Chris satu-satunya yang dia punya.
Dia menyimpan handphonenya kembali di atas meja lampu, dan melanjutkan melampiaskan amarahnya kepada bantal.
"MATI KAMU KERIS!!!!"
Zia mengucapkan Chris menjadi ke-ris. Kegaduhan yang dibuatnya terdengar sampai bawah. Kakaknya yang sedang bersantai di ruang tamu di lantai bawah, merasa terganggu dan akhirnya pergi ke kamar adiknya.
'Kenapa sih dia itu, hari ini tingkahnya aneh sekali.'
Suara langkah kaki yang keras terdengar oleh Zia, suara itu semakin mendekat, dia melemparkan badannya ke kasur bersama dengan bantal di pelukannya. Lalu, pintu kamar terbuka dan kakaknya masuk ke kamar.
"Ka-kakak ... A-ada apa??"
Kakaknya menunjukkan layar handphonenya pada adiknya. Zia kebingungan, lalu kakaknya mengetuk-ngetuk layarnya.
"Dari ayah, bacalah."
Zia mendekatkan wajahnya dengan layar, dan membaca chat kakaknya dengan ayah.
"Katakan pada adikmu, kalau dia berhasil lulus dengan nilai sempurna. Ayah akan memberinya VR Gear Capsule. Pi-es, semangat belajar putri tercintaku."
Zia mengangap, mulutnya terbuka lebar namun tidak mengeluarkan suara. Matanya berkaca-kaca yang kemudian disusul oleh air matanya keluar, dia melihat wajah kakaknya yang tersenyum. Lalu tiba-tiba dia memeluk kakaknya dan mengubur wajahnya disana.
Kakaknya mengelus kepala adiknya tersayang sambil berkata, "Semangat ya, Zia."
"Umm ...."
Zia mengangguk dalam pelukan hangat kakaknya. Dan perlahan kesadarannya menghilang dan tertidur.
***
Setelah membaca chat kakak dan ayahnya, Zia mulai fokus dalam belajar demi nilai sempurna. Dia juga mulai berkomunikasi dengan teman sekelasnya.
Julukan putri es dan putri bisu sudah menghilang tenggelam dalam lautan. Dan terbitlah putri matahari, kehadirannya yang berbeda dalam kelas, membuat kelas semakin ramai dan hangat.
3 tahun terlewati sejak Zia menangis karena chat itu, dan dalam 3 tahun terakhir. Zia berhasil mendapat nilai sempurna di setiap ujian. Dan dia berhasil lulus dengan nilai tertinggi se-nasional, mendapatkan beasiswa dari universitas ternama.
Bukan universitas ternama yang dia inginkan karena pencapaiannya, tapi sebuah VR Gear Capsule yang dijanjikan ayahnya 3 tahun lalu.
"Selamat Zia!"
"Selamat!!!"
Sebulan setelah kelulusannya, Zia berkumpul dengan teman-teman kelasnya di sebuah cafe. Itu adalah acara terakhir mereka sebelum menempuh hidup yang baru, apakah itu untuk bekerja, melanjutkan pendidikan atau apapun itu.
Kebanyakan dari mereka ingin untuk langsung bekerja, bahkan sudah ada yang berhasil menjadi pegawai perusahaan Kooongo Inc. karena rekomendasi dari putri wakil perusahaan, Angel, si gadis berambut merah.
Tentu saja Angel tidak asal memilih orang untuk di rekomendasikan ke perusahaan besar, dia tentu sudah mengamati mereka dan hal-hal semacamnya. Dan sekarang ....
"Zia, kudengar kamu sudah memiliki VR Gear Capsule. Jadi, bagaimana kalau kita duel di IF? Terdengar hebat, bukan?"
Angel terlihat sangat menawan, parasnya semakin cantik dari 3 tahun yang lalu. Tak hanya wajahnya saja, tubuhnya juga sangat menggoda, dengan lekukan pinggang yang indah, dia adalah karakter role model yang sempurna. Dengan penampilannya, dia memang sudah memutuskan untuk menjadi model, atau aktor.
"Eh, Zia bermain IF?"
Bukan hanya Angel saja yang berubah, teman-teman kelas yang lainnya juga. Terutama yang mencolok sekarang adalah Reynal atau akrab dipanggil Rey.
Rey masuk ke sekolah mereka di tahun kedua, awalnya dia memang tidak menarik perhatian, tapi setahun kemudian ketika study-tour. Dia membuat heboh seluruh murid kelas 3 dengan penampilannya yang eksentrik, dia memotong gaya rambut jamurnya menjadi potongan undercut berantakan, ya semua auranya terasa berbeda. Dan tubuh yang awalnya kecil dan ramping yang bisa saja terbang tertiup angin, berubah menjadi tubuh yang ideal.
"Haha, iya. Sudah lama aku ingin bermain IF, tapi aku baru saja mendapatkan Gear ku minggu lalu."
Dan Zia, hampir tidak ada perubahan fisik padanya selama 3 tahun ini. Tetap dengan gaya potongan rambut bob pendek dan poni berantakan, tubuh kecil ramping dan wajah polos yang membuat orang-orang ingin melindunginya.
"Hee, kudengar mereka akan merilis server baru minggu depan, bagaimana kalau kita membuat akun baru dan bermain bersama-sama?"
"Ah, maksudmu server Avelheim? Kalau tidak salah, server Avelheim dan Ignis mempunyai map dan cerita yang berbeda, seperti sebuah game baru."
"Tentu saja, server Avelheim adalah dunia virtual ketika masih versi BETA. Dan Ignis adalah dunia versi terbaru, tapi menurut para pemain versi beta yang sudah bermain di Ignis. Mereka bilang, dunia Avelheim lebih bagus dan menantang dibandingkan Ignis."
"Haha, apakah para player beta di Ignis akan pindah ke Aveilheim?"
Mendengar pembicaraan teman-teman kelas yang sedang membicarakan soal server Ignisia Fantasy, Angel ikut dalam pembicaraan itu setelah menghabiskan parfait-nya.
"Itu mustahil."
"Eh?"
Angel meletakkan gelas bekas parfaitnya di atas meja dan berdiri.
"Itu mustahil untuk membuat akun di Aveilheim jika kalian sudah bermain di Ignis."
"O-oh ...."
Mereka kecewa mendengarnya. Lalu, Angel menyeringai dan merogoh saku tas kecilnya.
"Tapi, jika kalian mempunyai ini, kalian dapat membuat akun di Aveilheim."
Angel memegang setumpuk kartu berwarna hitam dengan garis emas yang dia bawa di tas kecilnya.
"Apa itu?"
"Ini adalah kartu avatar. Kalian hanya perlu memasukkan kartu ini ketika kalian akan bermain ke lubang kotak yang kecil di samping kursi dalam kapsul dan kalian akan bisa membuat akun baru di Aveilheim!"
"Wo-woahhh!!!"
"Kartu ini dijual terbatas loh, perusahaan Kooongo Inc. hanya membuat 1000 kartu, dan aku memiliki 35 kartunya disini. Harga satuan kartu ini sekitar 17 juta rupiah, tapi aku akan menjual kepada kalian sebagai teman yang ingin pindah ke Aveilheim seharga 10 juta rupiah!"
"Woohhhh!!! Aku beli 1!"
"Aku juga! Aku juga!"
"Satu untukku."
Zia hanya duduk di kursi sambil menghabiskan jus apelnya, kemudian tersenyum melihat teman-temannya.
'Aku sudah tidak sabar menunggu minggu depan.'