
"Dia adalah Jennet, seorang ksatria kerajaan yang akan melatihmu cara bertarung dengan Rapier."
Daniel memperkenalkan seorang perempuan dalam pakaian seorang noble dengan baju jubah merah yang ditanggalkan di bahunya. Tatapan gadis itu sangat tajam dan wajahnya terlihat sombong, rambut layer pirang serta poni lempar yang sedikit menutupi mata bagian kirinya. Terdapat sebuah tato merah kecil berbentuk pedang di pipi kanannya.
Setelah diperkenalkan, Jennet membungkukkan badannya sambil sedikit mengangkat bagian atas rok panjangnya. Sesudahnya, dia kembali berdiri tegak dan melihat ke seorang gadis berambut hitam yang tengah duduk melihatnya.
"Aku akan menjadi gurumu selama sebulan, tolong selalu hadiri kelasku dengan rajin, nona...?"
"Zyste, namaku Zyste. Mohon bimbingannya, guru!"
"Oke, Zyste. Sekarang mari kita langsung mulai saja berlatih, karena semakin banyak waktu yang kita buang semakin banyak juga nyawa yang akan hilang."
'Bukannya uang?'
Jennet berjalan menuju pintu keluar terlebih dulu. Daniel dan Ollie terlihat memasang senyum masam melihat kebiasaan ksatria wanita itu.
"Kalau begitu, aku pamit dulu. Tuan Daniel, Ollie."
Zyste membungkukkan badan dua kali, Daniel dan Ollie tersenyum sambil melambai tangan melihat gadis berambut hitam berjalan setelah ksatria wanita berambut pirang.
Kedua perempuan itu menaiki sebuah kereta kuda yang sudah menunggu di depan gerbang rumah Daniel. Di dalam kereta itu, mereka duduk saling berhadapan tanpa bercapak satu sama lain yang membuat suasana menjadi canggung.
Tidak tahan dengan suasananya, Zyste menaruh kedua tangannya di pangkuannya—mencoba berbicara dengan Jennet yang sedang melihat ke luar dari jendela kereta.
"A-anu...."
"Hmm?"
Jennet melirik padanya—tidak bergerak 1 inci pun.
"Ke-kemana kita akan pergi?"
"Entahlah, hutan Oboros mungkin?"
"Ehhh?!! Oboros?! Disana sanga—"
"Aku tahu. Meski sudah kubunuh berapa kalipun, mereka tetap saja muncul kembali seperti seekor monster. Hahh, aku tidak tahu bagaimana cara berpikir orang-orang itu, sudah diberkahi kemampuan Rebirth, tetapi mereka masih saja melakukan hal bodoh yang sama berkali-kali."
"Rebirth?"
"Sebuah kemampuan yang memungkinkan penggunanya untuk hidup kembali setelah beberapa waktu. Setiap kali mereka Rebirth, level mereka akan turun seperempat-nya, begitu juga dengan status mereka. Bukankah sudah jelas mereka yang mempunyai kemampuan tersebut sangatlah bodoh?"
'Aku tidak pernah tahu ada NPC sepertinya yang mengeluh kepada para Player. Dan juga, dia terlihat sangat membenci Player.'
Jennet menghela nafas dan berbalik melihat Zyste dengan tatapan dingin.
"Ada ap—"
Stab.
"Eh...."
Zyste melihat ke perutnya—terdapat sebuah pedang menancap di sana. Lalu, dia memuntahkan darah dari mulutnya—dia langsung menyumpalnya dengan tangan dan menatap kepada Jennet.
"Ke-kenapa...."
Jennet mendekatkan wajahnya ke gadis berambut hitam sambil memegang sebuah pisau.
"Biarkan aku mengetesmu."
"Ti-tidak, tunggu! Aku masih level 13!!"
"Heh?"
"Unn?"
Mereka berdua membuka matanya lebar bersama-sama. Jennet membuat ekspresi bodoh.
'HP-ku terus berkurang....'
HP Zyste terus berkurang sepanjang waktu, sekarang hanya tinggal tersisa sedikit lagi sebelum dia mati dan terkena penalty death.
HP: 23/290
Mana: 240/240
EP: 200/200
"Hahh...."
Jennet kembali duduk bersandar di kursinya dan menghembuskan nafas berat. Dia menaruh pisaunya kembali dan mengambil sebuah botol kecil berisi cairan merah.
"Cepatlah minum sebelum kamu mati dan kehilangan level dan status unyu-mu."
'U-unyu? Apa dia sedang membuat candaan?'
Zyste mengambil Potion HP I dan langsung meneguknya habis. HP-nya bertambah 100 poin, tetapi langsung berkurang lagi.
"Oh, aku lupa mencabut pedangnya. Tahan sebentar."
"Aww."
"Kamu kesakitan—?
Jennet mengangkat kepalanya dan melihat Zyste dengan wajah datarnya.
"Sepertinya tidak."
'Sipirtinyi tidik! HP-ku langsung turun ke angka 7, sial!'
Setelah itu, Jennet memberikannya satu botol Potion HP, kali ini ukurannya lebih besar dari yang pertama. Zyste meminumnya dan HP-nya langsung pulih sebanyak 250 poin.
"Hmm-hmm, sepertinya kamu juga memiliki berkah kemampuan Rebirth."
"Begitulah."
Dan suasana kembali menjadi sepi sampai mereka tiba di sebuah desa kecil yang sudah hancur.
"Kenapa bisa sampai seperti ini?"
"100 tahun yang lalu desa ini diserang oleh sekelompok monster. Tidak ada satupun jiwa yang selamat dari invasi waktu itu dan sekarang beginilah nasib desa ini. Lalu, beberapa tahun kemudian setelah invasi monster itu, kerajaan mendapatkan kabar tentang seseorang yang memusnahkan sekelompok monster yang menyerang desa ini. Sang raja segera memerintahkan prajuritnya untuk mencari keberadaan orang tersebut dan hasilnya nihil, mereka tidak menemukan orang tersebut bahkan tidak ada satu pun informasi mengenainya—"
'Tunggu, kenapa tiba-tiba menjadi seperti ini...?'
"—Akhirnya, setelah 10 tahun pencarian. Orang tersebut tiba-tiba muncul ketika sang pangeran menaiki tahta. Sang pangeran jatuh cinta kepada orang itu yang ternyata adalah seorang perempuan. Disaat upacara kenaikan tahtanya, sang pangeran juga langsung mengumumkan untuk segera menikahinya namun perempuan itu menolaknya yang membuat sang pangeran kesal dan memerintahkan prajuritnya untuk menangkapnya. Dan tragedi yang menyeramkan pun datang menimpa kerajaan, hari yang cerah tiba-tiba berubah menjadi gelap gulita, matahari berganti menjadi bulan purnama total...."
'Kurasa aku tahu apa yang akan terjadi setelah cerita ini selesai... Sebuah quest baru, ya, kan."
"Perempuan itu menari di bawah sinar rembulan yang cantik, dia melukis langit malam dengan darah dari para prajurit, dengan suara teriak histeris dari warga membuat malam menjadi meriah. Dan tanpa disadari, perempuan itu tiba-tiba menghilang dan meninggalkan sebuah lukisan darah yang menggambarkan seorang gadis kecil berambut pendek sedang menangis yang mengambang di atas langit permukaan bulan. Setelah perempuan itu menghilang dan langit menjadi cerah kembali, para revolusionis menyerang istana dan membunuh sang pangeran dan keluarga kerajaan lainnya. Mereka—revolusioner mengambil alih kerajaan tirani dan membangun sebuah negara baru di atas tanah itu, sebuah kerajaan yang sangat kuat karena persatuan mereka, Kalheim."
"...."
Jennet berhenti bercerita—sepertinya sudah selesai. Dia melihat Zyste yang berdiri di belakangnya dengan wajah yang bersemangat, pupilnya terlihat membentuk sebuah bintang dan bibirnya tersenyum tipis membentuk huruf V.
"Apa kamu tahu cerita itu?!"
"Ti-tidak...."
"Oh-ho. Itu adalah cerita yang dibawakan oleh seorang Bard 10 tahun yang lalu, ketika aku kecil aku sering memintanya untuk menceritakan cerita tersebut setiap hari!"
"Be-begitu, ya. Kedengarannya hebat."
"Benarkan?! Aku sangat ingin bertemu dengan orang tersebut yang bisa melukis di permukaan bulan dengan sangat indah! Aku selalu bermimpi seperti itu, ketika aku kecil bahkan sampai sekarang."
"Oh, semua orang pasti mempunyai mimpinya masing-masing. Seperti aku, suatu saat nanti aku ingin menjadi orang yang terkuat atau terkenal. Mungkin, aku bisa menjadi seorang idol, hahaha."
"Ay-dol? A-apa itu??"
"Bu-bukan apa-apa."
"Oh. Ngomong-ngomong, karena aku sudah memberitahukanmu cerita ini, bisakah aku minta tolong padamu?"
"Tentu."
"Bisakah kamu mengumpulkan beberapa tanaman obat seperti ini sebanyak 30 buah?"
Jennet memberikan sebuah gambaran mengenai bentuk tanaman yang dia butuhkan, bersamaan dengan itu sebuah panel transparan muncul.
————
Quest: Permintaan Jennet
Jenis quest: Pengumpulan
Jennet meminta untuk mengumpulkan beberapa tanaman obat untuknya seperti di gambar. Dia akan menggunakan tanaman itu untuk meracik beberapa potion.
Tingkat: D
Adolirn: 0/30
Reward menyelesaikan quest: Potion EP I x5, Hunter Knife, Virtue +50.
————
Tabel untuk quest terdapat jenisnya. Ada yang memiliki penalty karena gagal ataupun tidak, itu semua tergantung kepada questnya. Bahkan ada quest yang tidak mendapatkan reward sama sekali.
"Baiklah, tapi dimana aku dapat menemukan tanaman ini?"
"『Quest Diterima!』"
"Ah, di sebelah timur desa ini seharusnya ada."
"Oke, aku akan segera kembali!"
Mereka saling melambaikan tangan, Zyste pergi ke sebelah timur desa untuk mencari sebuah tanaman obat, sedangkan Jennet memeriksa dan berjalan-jalan di desa yang sudah hancur tersebut.