
Sesudah kakaknya pergi begitu saja, Zia mengintip keluar dari jendela kamarnya. Melihat kakaknya berlari ke arah timur.
Dia mengunci pintu kamarnya dan masuk ke kapsul gear—log in ke dalam Ignisia Fantasy.
Tempat terakhir dia log out adalah di lobby Class Center, karenanya dia berada di sana sekarang. Meskipun Class Center hanyalah tempat untuk mengambil kelas, tapi tempat ini selalu dipenuhi oleh pemain yang sedang nganggur.
Keluar dari Class Center, dia menuju ke tempat latihan—Training Center. Disana, seorang NPC wanita berambut pirang keriting berdiri menghalangi gerbang di sebelah barat—gerbang yang dia datangi.
"Anu, permisi, aku mau berlatih...."
"Hmm? Oh!!"
Dia membuka matanya dan tiba-tiba bersemangat melihat Zyste berdiri di depannya. NPC itu memegang bahunya dengan kuat—seperti akan mempatahkan tulang.
"Hei, kamu gadis yang waktu itu berlatih disini selama 10 jam tanpa henti, kan? Syukurlah kamu masih hidup."
"Eh, ah. Terima kasih?"
"Hahaha, jangan seperti itu! Namaku Ollie, seorang Swordsman. Kamu?"
"Aku Zyste, seorang Pier—non-class."
NPC itu—Ollie melepaskan tangannya dari bahu Zia, lalu memukul pelan dadanya.
"Aku Ollie sang Swordsman, memintamu untuk berlatih tarung denganku!"
————
Quest: Berlatih bersama Ollie
Jenis Quest: Latih Tanding
Sejak awal melihatmu berlatih, Ollie tertarik denganmu. Setelah berbicara denganmu sekarang, dia termotivasi untuk latih tanding 3 ronde denganmu.
Tingkat: D
Menang: 0/3
Berhasil menyelesaikan quest: HP Potion I x10, Virtue +20, ???
Gagal menyelesaikan quest: ???
————
"Ya, ya, setelah aku selesai dengan latihanku."
Zyste melewatinya begitu saja, tapi Ollie menarik pakaiannya dengan kuat sehingga dia tidak bisa bergerak lebih maju lagi.
Akhirnya, Zyste menerima permintaan dari NPC Ollie dan mendapatkan 40 virtue serta 10 trust dari Ollie.
"『Quest diterima!』"
Mereka berdua berdiri di atas lapangan latihan sebelah kanan—tempat latihan bertarung dengan magic wooden doll—dengan menjaraki sekitar 10 meter.
Luas lapangan kanan adalah 25 x 30. Tempat ini cukup luas untuk berlatih tanding dua orang.
Dengan sebuah pedang kayu sebagai senjata mereka. Ollie terlihat lebih ahli memegang sebuah pedang, begitu juga dengan kuda-kuda miliknya. Berbeda dengan Zyste yang masih kaku dalam posisi kuda-kudanya dan caranya memegang sebuah pedang.
"Hei, apa kamu yakin bisa bertarung dengan caramu memegang pedang seperti itu?"
"Tidak apa-apa, aku ingin mengakhiri ini dengan cepat juga."
Merasa lawan bicaranya merendahkan seni pedang, pegangan Ollie menjadi lebih kuat pada pedang kayunya.
"Jangan menyesal, loh."
Ollie langsung berlari menuju Zyste yang belum siap untuk apapun, dia mengayun pedangnya secara horizontal dari kiri atas ke kanan bawah. Tapi, reaksi Zyste pun tidak kalah cepat, dia langsung menahan serangan tersebut dengan memegang kedua sisi pedang kayunya.
"Heh, sepertinya kamu tahu caranya untuk bertahan. Tapi, caramu memblokir seranganku itu sangatlah salah!"
"Grrhg."
Ollie menendang perut lawannya lalu melakukan serangan beruntun. Tebasan ke kanan, lalu berputar dan tebasan lainnya ke arah yang sama.
Zyste berhasil membaca serangannya yang monoton, dia memblokir serangan selanjutnya lalu melakukan serangan balik dengan sebuah tusukan ke depan.
Ollie menghindar ke kiri lalu menendang pergelangan tangan Zyste sehingga pedang kayunya terlepas dari genggamannya.
"Heh, ada apa? Ambil pedangmu. Aku menang ronde ini, haha."
Zyste mendecakkan lidahnya lalu mengambil senjatanya, mereka membuat jarak lagi untuk bersiap.
'Ternyata gadis ini memang benar orang yang dipilih oleh kakek tua.'
Melihat serangan tusukan yang digunakannya tadi ketika melakukan serangan balik. Ollie mengambil kesimpulan bahwa orang yang sedang berlatih dengannya memang orang yang dipilih oleh si 'kakek tua' ini.
'NPC ini seorang ahli pedang, aku tidak boleh meremehkannya. Juga, aku malah melepaskan serangan tusukan tadi....'
Ronde kedua dimulai, mereka bertarung secara intens di ronde ini. Zyste berhasil memojokkan Ollie dengan membalikkan serangan miliknya, tapi kemudian dia tiba-tiba mengubah pola serangannya menjadi serangan yang mengarah ke ubun-ubun.
Zyste kewalahan untuk menahan serangan tersebut yang mengarah ke kepalanya lalu dan membuatnya menyerah. Karena ini sebuah pertandingan 3 ronde dengan poin—dimana orang yang mendapatkan kemenangan sebanyak 2 kali berarti ialah pemenangnya.
"Fuuhh, tadi itu sangat menyenangkan! Sepertinya kamu masih perlu banyak berlatih, hahaha!"
"Nnn, aku belajar banyak dari pertandingan ini. Terima kasih, Ollie."
"Hahaha, aku juga harus berterima kasih padamu karena mau bertanding denganku. Sudah lama aku tidak melakukan hal semenyenangkan ini...."
"Nnn??"
Ollie memandang langit biru dengan senyuman masam di wajahnya.
'Apa dia mempunyai trauma jatuh dari langit??'
Ollie menghela nafasnya dan kembali melihat Zyste yang sedang menatapinya dengan intens.
Zyste menaruh jarinya membentuk centang di dagunya.
"Aku bertanya-tanya kenapa kamu menatap langit begitu... Apa kamu mempunyai trauma jatuh dari langit?"
"Pfft, puahahahaha!!"
Ollie tertawa lepas, di lubuk hati terdalamnya dia sangat berterima kasih kepada gadis yang membuatnya tertawa lepas dengan tulus seperti ini setelah sekian lama.
Zyste memiringkan kepalanya seakan bertanya apa ada yang salah dengan pertanyaannya, sampai membuatnya tertawa seperti itu.
Ollie mencoba berhenti tertawa dan menghapus air matanya.
"Hahahah... Terima kasih, Zyste."
"Untuk apa?"
Ollie memegang bahu Zyste.
"Aku mempunyai sesuatu yang mungkin akan membantumu berlatih!"
'Dia mengubah topiknya...?'
"Nah, ayo! Ikut aku!"
Ollie berjalan menuju gerbang sebelah barat—yang terdekat—yang diikuti oleh Zyste. Setelah keluar dari Training Center, mereka berjalan ke arah tenggara—jalan yang mengarah ke kastil kerajaan.
'A-apa dia akan membawaku ke sana. Yang benar saja, ini kan bukan cerita-cerita isekai yang selalu dihubungkan dengan raja dan putri kerajaan!'
Untung saja hal itu tidak terjadi, mereka berjalan ke arah tenggara bukan menuju ke kastil. Di tengah jalan, mereka berhenti di depan gerbang rumah bertingkat yang terlihat megah.
"Oii... Aku membawanya loo...."
'Maksudnya aku, kan?'
Ollie memukul pagar besi gerbang tersebut beberapa kali, lalu seorang perempuan berambut panjang dalam pakaian pelayan membuka pintu rumah.
"Oh, anda kan...."
Pelayan itu lalu berlari untuk membuka gerbang dan membiarkan mereka masuk ke rumah.
"Tolong tunggu sebentar, aku akan memanggil tuan terlebih dahulu."
Pelayan itu pergi ke lantai atas entah kemana membiarkan dua orang asing berdiri di dalam rumah majikannya.
"Jadi, mengapa kita ada disini?"
"Kamu akan tahu setelah orang itu datang."
"Sia—"
"Hah, akhirnya kamu datang juga, bocah."
Zyste menoleh ke arah suara datang dari lantai atas, dia menemukan seorang figur yang familiar sedang menuruni tangga yang di temani oleh pelayan tadi.
"A-ahh... Aku tidak akan terkejut lagi."
"Ho-ho, mengapa demikian?"
Ollie langsung membungkuk memberikan salam kepada pria itu seketika setelah melihatnya.
"Salam, tuan Daniel!"
"Tentu saja ini akan berakhir seperti ini."
Zyste memegang kepalanya, merasa sangat menyesal. Selanjutnya, Daniel mempersilahkan mereka untuk duduk, mereka berbincang-bincang yang tidak perlu sebelum ke inti pembahasan.
Setelah 10 menit, mereka masuk ke dalam inti pembahasan—alasan Zyste dibawa kemari dan untuk apa.
"Jadi bocah, kamu sudah mendapatkan sertifikatmu kan? Apa kamu sudah menggunakannya?"
"Aku belum menggunakannya."
"Baguslah, biar kulihat barangnya."
Zyste mengeluarkan kartu sertifikat kelasnya yang didapatkan dari Houg, memberikannya kepada Daniel.
"Mmm, bagus. Sekarang, gunakanlah kartu ini."
Daniel menyimpan kartu itu di atas meja dekat dengan Zyste. Namun, Zyste hanya menatapinya saja.
"Ada apa?"
"Mmm, aku tidak tahu cara menggunakannya...."
Bola matanya terlihat berubah seperti benang yang kusut, dan bentuk mulutnya juga berubah seperti mulut kucing.
Daniel dan Ollie menggelengkan kepala mereka mengetahui hal ini. Lalu, sebuah langkah kaki terdengar dari belakang Zyste.
Sebuah tangan kecil—sedikit lebih besar dari tangan milik Zyste—yang halus menarik lengan Zyste ke depan dan menggores permukaan telunjuknya dengan sebuah pisau.
"Ouch, a-apa...?!"
Lalu darah menetes dari luka tersebut dan jatuh di atas kartu sertifikatnya. Tangan kecil halus itu melepaskan tangan Zyste, beberapa saat kemudian kartu itu mulai menyala lalu mengapung ke udara dan menghilang.
"『Selamat! Anda telah menjadi Piercer!』"
"『Apa anda ingin mempublikasikan nama anda?』"
Zyste menekan pilihan 'No' segera setelah notifikasi itu muncul, dan tidak sempat membacanya.
Beberapa detik setelah notifikasi itu, sebuah pengumuman dari game juga ikut muncul dengan meriah di setiap pandangan para pemain.
"『Selamat kepada '???' Level 13. Telah menemukan Special-Class Piercer! Penjelasan lebih lanjut mengenai kelas ini, silakan cek forum kami!』"