Ignisia Fantasy

Ignisia Fantasy
Kakak yang baik hati ternyata....



Zia menatap layar laptopnya, bukan sedang melihat apa yang ada di sana—melainkan sedang melamun.


Dia teringat kembali dengan pertarungannya melawan Red Slime yang levelnya lebih tinggi 6 level darinya—padahal yang dia lakukan saat itu hanyalah berlari dan kabur dari serangannya.


Tapi kenapa—dia dapat mengalahkan Red Slime tersebut hanya dalam satu kali serang. Jawabannya—dia baru saja mencari info tentang Red Slime di Forum Ignisia, di situ menjelaskan bahwa Red Slime hanya bisa dikalahkan oleh sihir—bukan berarti tidak bisa dengan serangan fisik, hanya lebih efektif dengan sihir—atau menghancurkan intinya. Tentunya dengan menghancurkan inti Red Slime akan langsung membunuhnya—Fatal Hit.


Fatal Hit berlaku kepada monster yang memiliki inti atau titik vital dari kehidupannya. Hal ini juga menjelaskan mengapa dia juga dapat membunuh dua kobold dalam sekali serang—dengan menusuk kepala atau otak mereka dan jantungnya—jika monster memiliki status Con tinggi, ada kemungkinan serangan seperti ini tidak akan berpengaruh, tapi hei, kita sedang membicarakan Kobold yang umumnya unggul dalam memasang perangkap.


"Artinya, tidak memiliki 'Constitution' tinggi akan memberi banyak peluang bagi lawan untuk melakukan Fatal Hit. Begitu...."


Con atau Constitution dalam dunia RPG hampir sama seperti Vit, yaitu untuk merperkokoh karakter. Perbedaannya, Vit cenderung fokus menaikkan HP tanpa memperdulikan ketahanan atau fondasi tubuh. Nah, disinilah Con yang akan bekerja menggantikan kekurangan yang tidak ada dalam Vit, yaitu menaikkan ketahanan fisik serta resistansi serangan sihir.


Jika Vit dan Con seimbang, maka tubuh karakter akan semakin kuat dan memperkecil peluang bagi lawan untuk melakukan Fatal Hit.


Sebenarnya, Fatal Hit juga memiliki beberapa syarat agar dapat dilakukan. Fatal Hit tidak dapat dilakukan kepada pemain lain—artinya dalam PK tidak dapat melakukan Fatal Hit. Sebagai gantinya, Fatal Hit bisa dilakukan kepada NPC dan mob—setinggi apapun Vit dan Con mereka, jika memiliki titik vital maka Fatal Hit dapat dilakukan namun damage yang diberikan akan berkurang.


"Karena karakterku adalah tipe kelas penyerang yang mengandalkan kecepatan, kurasa aku tidak perlu menaikkan Vit dan Con. Aku hanya perlu menghindari serangan yang datang, mengandalkan kecepatanku, kan? Hehe."


Zia meregangkan tubuhnya seakan dia baru saja terbangun dari tidur yang sangat panjang.


'Berbicara soal kelas... Aku teringat besok adalah hari pertamaku di universitas, ya. Hmm, kurasa otakku masih menyimpan beberapa materi sekolah.'


Zia berhasil masuk ke universitas terbaik—selain terkenal dengan sistem ajar dan materi yang diberikan di sana, universitas tersebut juga terkenal karena itu adalah tempat dimana si Z kembar menempuh ilmu di tingkat kuliah.


Yah, Zia yang mengetahui itu hanya bisa berharap supaya mereka bisa bersikap biasa kepadanya setelah pertemuannya tadi pagi. Tapi, mengingat kakaknya juga berada di universitas tersebut, Zia hanya bisa pasrah menghadapi takdir sebagai 'Orang beruntung'.


Zia selalu memandang rendah penampilannya sendiri meskipun orang lain selalu memberikannya pujian—dia melakukan itu karena baginya, seseorang seperti Angel lah yang patut mendapatkan perhatian dari semua orang. (She's already a fangirl, Pfft! :v)


"Sekarang ngapain, ya..."


Zia berguling-guling di lantai, tidak menyadari bahwa pintunya terbuka dan kakaknya yang kebetulan lewat, melihat tingkahnya.


Kaen masuk ke kamar adiknya, lalu mengetuk pintu yang sudah terbuka.


"O-!!!?"


Ketika Zia melihat ke arah pintu, sepasang kaki berada di depannya. Dia perlahan melihat ke atas, dan melihat wajah kakaknya yang terlihat kesusahan.


"Kakak, ada apa?"


"Harusnya aku yang bertanya."


"Tapi, wajahmu terlihat seperti orang susa—maksudku seperti berkata ada masalah."


Seperti orang susah—orang susah~


Wajahmu terlihat seperti~orang susah~


Hei kakak, maksudku~orang susah~


Pikiran Kaen dihantui oleh kata-kata adiknya dan ia malah tenggelam di dalamnya.


"...ka...."


Sebuah suara dari luar berusaha mencapai ke dalam pikirannya.


"...loo...kak."


Suara itu semakin dekat dan terdengar jelas oleh Kaen yang tenggelam dalam pikirannya.


"Kakak!!"


"H-huh??"


Suara itu berhasil mencapainya dan akhirnya Kaen tersadar. Dia meletakkan tangannya di kepala adiknya.


"Tenang saja, Zia. Kakak akan berusaha untuk mencari uang untuk kebutuhanmu. Kalau begitu, sampai nanti."


"Eh?"


Setelah mengucapkan itu, dia berjalan keluar dari kamar adiknya. Lalu, terdengar suara langkah kaki dengan cepat menuruni tangga dan membanting pintu. Brak!


"Eh, kenapa, ada apa dengan kakakku?"


Kaen pergi bertemu dengan seseorang di sebuah kafe, mereka sedang membicarakan sesuatu.


"Jadi intinya kau butuh uang tambahan selain dari gaji bulananmu, begitu?"


Seorang pria yang terlihat berada di umur 50 tahunnya—mengenakan tuxedo hitam—sedang menikmati secangkir kopi dengan elegan menunggu jawaban lawan bicaranya.


Kaen—yang menjadi lawan bicara pria itu—menundukkan kepalanya, menatap secangkir kopi latte di depannya.


"Benar, aku membutuhkan uang tambahan untuk kebutuhan adikku yang imut. Semenjak 2 bulan kemarin, ayah kami tidak memberikan uang bulanan padanya. Jadi, sebagai seorang kakak yang baik, aku akan memberikan apapun yang dia mau."


Pria itu meletakkan cangkir kopinya yang sudah kosong, lalu mengambil sepuntung rokok dari sakunya. Ketika dia akan menyulut api, Kaen menghentikannya.


Kaen menunjuk ke sebuah papan yang bertuliskan 'Dilarang merokok'. Pria tersebut tidak jadi merokok dan menaruh rokoknya kembali, lalu meletakkan kedua tangannya di atas meja dan berbicara dengan elegan.


"Yah, penjelasan sedikit berlebihan tapi tak apa. Aku sangat paham arti di balik sikapmu ini...."


Dia mengedipkan matanya sambil tersenyum melihatkan gigi putihnya. Kaen yang tidak mengerti maksudnya, mengangkat alisnya.


"Maaf, pak. Tapi, aku tidak punya waktu untuk bercanda sekarang."


"Yah, yah, kaku seperti biasa ya?"


Pria itu menyandarkan tubuhnya, lalu memanggil pelayan yang lewat di meja mereka.


"Hei, apa aku boleh menyulut rokok?"


Pada awalnya pelayan itu terlihat akan marah, tapi setelah menyadari wajah pria tersebut, dia mempersilahkannya lalu pergi setelah membawakan asbak untuknya.


Dengan izin dari salah satu pelayan di kafe tersebut, dia menyulut rokoknya dengan elegan. Setelah menghisap sekali, dia menaruh rokoknya di sebuah asbak.


'Kenapa semua tindakannya selalu dilakukan dengan cara yang seperti itu.'


Pria itu mengambil sebuah kartu berwarna emas dengan corak singa berwarna hitam, lalu menawarkannya kepada Kaen.


"Bagaimana dengan memenangkan sebuah permainan?"


Mata Kaen terbuka lebar mendengar ucapan dari pria yang menjadi lawan bicaranya.


"Maksudmu yang itu?"


"Tentu, memangnya yang mana lagi?"


Pria dengan tuxedo hitam itu menaruh kartunya di atas meja lalu berdiri, bersiap untuk pergi dari kafe.


"Aku ada meeting yang harus kuhadiri. Pikirkan mengenai hal itu dengan baik, dah."


Dia berjalan ke pintu keluar, setelah membuka pintu, dia berhenti sebentar dan melihat ke arah pemuda yang bicara dengannya tadi.


"Oh iya, kalau kau tidak mau, tidak apa-apa. Dan untuk masalah uang tambahan selain permainan itu, bagaimana dengan menjadi streamer? Haha, ya, sampai jumpa di kantor–"


"Kamu mendengarnya? Seseorang menemukan keberadaan Special-Class baru!"


"Maksudmu Special-Class Piercer yang di umumkan di forum?"


"Ya, ya, ahh, enaknya. Special-Class itu hanya bisa didapatkan oleh satu orang saja...."


Dua orang perempuan yang membicarakan tentang Special-Class di Ignisa Fantasy lewat di mejanya—sehingga kalimat terakhir pria tadi tidak terdengar.


Kaen yang kebetulan mendengar pembicaraan dua orang itu, segera membuka telepon pintarnya dan membuka Forum Ignisia.


"{Sebuah Special-Class—Piercer—baru saja berhasil ditemukan oleh seorang pemain di Aveilheim, Level 13, ???}"


"Orang ini pintar, dia tidak mempublikasikan namanya karena dia sadar levelnya masih rendah. Jika dia mempublikasikan namanya, dia pasti akan terus dicari oleh Faction yang haus kekuatan dan hal itu bisa menghambatnya naik level."


Kaen mematikan ponselnya, mengambil kartu yang ditawarkan pria tadi lalu pergi meninggalkan kafe tanpa membayar—karena semua sudah dibayar oleh pria tadi.


'Sehebat apakah Special-Class Piercer ini, yang hanya bisa didapatkan oleh satu pemain dan di satu server saja....'


Kaen membuat wajah yang menyeramkan, memperlihatkan kesenangan yang memuncak pada dirinya—karena kenyataannya, memang beginilah sifat asli sang kakak yang baik hati itu.