Ignisia Fantasy

Ignisia Fantasy
Zyste vs Red Slime



"O-oi, itu kan Red Slime, mob Uncommon!!"


Para pemula yang kebetulan disana dibuat terkejut dengan kehadiran Red Slime yang besarnya dua kali lipat dari manusia.


————


Red Slime


Level: 7


Induk dari para slime, mempunyai pertahanan yang bagus dan serangan yang cepat.


————


'Level 7?!!'


Mata Zyste terbelalak. Dia mengambil beberapa langkah ke belakang dengan waspada.


Saat itu pun Red Slime mulai melakukan pergerakan kembali pada tubuh kenyalnya, secara beruntun bagian tubuhnya yang menjadi seperti tentakel menyerang Zyste dengan cepat.


Karena kecepatan serang Red Slime itu menandingi kecepatannya, Zyste hanya bisa menghindari 3 dari 6 serangan yang masuk.


HP—bisa dikatakan Health Point, sebuah indikator bar yang kerjanya seperti nyawa, jika pemain atau NPC kehabisan HP maka mereka akan mati—


HP Zyste berkurang sebanyak 36% akibat serangan itu. Matanya bergerak ke sudut paling kanan, melihat temannya hanya berdiri menonton pertarungannya.


Saat pandangannya teralihkan, Red Slime kembali menyerang bertubi-tubi, secara tak sadar Zyste melompat dan berputar di udara dengan anggun dan berhasil menghindari semua serangannya.


Berhasil menghindarinya, dia sempat berpikir tentang gerakan menghindarnya tadi—tapi Red Slime tidak membiarkannya beristirahat.


Serangan demi serangan datang padanya, dia terkena serangannya beberapa kali dan HP-nya tersisa 24% tanpa memberikan damage kepada lawannya.


Tidak terima dirinya dipojokkan, Zyste yang sedang menghindar mundur langsung menendang tanah dan meluncur dengan cepat ke depan.


Bersiap untuk serangan tusukan ketika sedang meluncur ke Red Slime itu, dia menyadari tentakel slime mencoba menyergapnya di kedua sisi.


'Tch! Lebih cepat! Jangan biarkan mereka menangkapmu!'


Dengan memotivasi dirinya sendiri, dia mencondongkan bagian atas tubuhnya ke depan.


"Hyaaaa!!!!"


Dia menusuk tubuh kenyal Red Slime, namun itu adalah usaha yang sia-sia. Karena slime tidak bisa terbunuh hanya dengan serangan seperti itu, apalagi Red Slime.


Serangannya gagal—menembus tubuh Red Slime, begitu juga dengan dirinya, yang kemudian terjatuh ke tanah.


Karena sempat menembus tubuh slime, seluruh tubuhnya basah dan beberapa jelly slime menempel.


"Ieekk, ini jelly?"


Zyste mengendus jelly yang menempel di pedangnya, lalu mencicipi rasanya.


"Mhhmm, enak."


Red Slime tidak lagi menyerang secara agresif, mereka kembali ke awal, saling memperhatikan lawannya.


Zyste bangkit berdiri dan memasang kuda-kuda.


"Ronde dua?"


"Ronde dua palamu oi! Ambil ini!"


Enxi melempar sebuah botol berisi cairan merah, Zyste menangkapnya lalu memeriksanya.


————


HP Potion I


Memulihkan HP yang hilang sebesar 100 poin.


————


Zyste melambaikan tangannya ke Enxi dan berterima kasih.


"Terima kasih, Enxi!"


"Sama-sama! Aku akan memasukkan itu ke tagihanmu!!"


Zyste membuka tutup botolnya dan langsung meneguk habis Potion itu. Indikator bar merah di pojok kiri atas kembali penuh.


Melempar botol tersebut dan pecah, Zyste menatap lawannya—Red Slime—kembali memasang kuda-kuda.


"Terima kasih sudah menunggu!"


Mereka menunggu momentum yang tepat untuk menyerang—Red Slime adalah mob yang memiliki kecerdasan, tidak seperti Blue Slime.


Red Slime dapat bertindak dan berpikir dalam pertarungan seperti manusia atau mob tingkat tinggi lainnya.


Setelah melihat kesempatan—mereka akan mulai menyerang dengan agresif. Zyste membuka pertahanannya, Red Slime menyadarinya dan langsung menyerang agresif.


Meskipun Red Slime memiliki kecerdasan, tapi mereka tetap menggunakan pola serangan yang sama. Zyste sudah memahami pola serangan Red Slime itu.


Tentakel slime datang dari depan dan belakang, dia terus berlari dan saat kedua tentakel sudah dekat, dia berbelok dengan cepat menuju tubuh Red Slime—kedua tentakelnya bertubrukan dan bergabung menjadi satu yang lebih besar.


Zyste berlari ke tubuh Red Slime, tapi tidak terlihat seperti dia akan menyerangnya—dia hanya berlari ke sana.


"Apa yang dia lakukan, bodoh!"


Enxi yang menonton pertarungan itu mulai merasa kesal dengan cara Zyste bertarung. Tangannya mengepal keras.


Zyste melompat menembus tubuh Red Slime lagi dan terus berlari, tentakel besar yang mengejarnya terserap ke tubuh utama Red Slime setelah bertubrukkan.


"Hahahaha! Lihat orang itu, dia berlari ketakutan. Hahahaha!!"


Plain Outfield dipenuhi oleh tawa pemain disana yang melihat pertarungan Zyste melawan Red Slime.


Setelah jarak Zyste dengan Red Slime cukup jauh, dia berputar arah dan berbalik—berlari dengan kecepatan penuh menyerang Red Slime.


Bersiap untuk menusuk sambil berlari, dua tentakel besar datang ke arahnya. Dia melempar pedangnya ke udara—di atas Red Slime.


"Apa yang dia—sial!!"


Dengan cepat Enxi mengeluarkan tongkat sihirnya dari inventory—sebuah garis biru muncul dan membentuk tongkat di tangannya—dia langsung mengucapkan mantra.


"Earth: Rise!"


Sambil menunjuk menggunakan tongkatnya, tanah di depan Zyste terangkat dan membuat seperti batu loncatan. Dia meloncati tanah-tanah tersebut dan mengambil pedangnya yang dia lempar ke udara.


Mengarahkan tangan kirinya ke depan, dan tangan kanannya yang memegang rapier siap untuk menusuk lawan kapan saja.


"『Anda mendapatkan Skill!』"


"Wind: Vortex!"


Enxi membuat sebuah putaran angin di belakang Zyste, kemudian mendorongnya meluncur ke Red Slime. Zyste berputar dengan mengarahkan rapiernya di depan.


Crack—


Dengan bantuan dari temannya, Zyste menembus dan menusuk inti dari Red Slime. Inti tersebut perlahan retak dan hancur menjadi pixel bersama dengan Red Slime.


Karena dorongan yang juga terlalu cepat, Zyste tidak bisa berhenti dan malah menubruk tanah, kehilangan 10% HP-nya.


"Ouchiee...."


Benturannya terlihat parah, jika hal itu terjadi dunia nyata, beberapa tulangnya mungkin sudah patah.


"『Level Up!』"


"『Level Up!』"


"『Level Up!』"


Zyste naik 3 level dari membunuh Red Slime, sekarang dia sudah level 4. Melihat notifikasi tersebut, hatinya berbunga-bunga.


Knock!


"Awwww!!! Siapa—?!!"


Sesosok figur familiar berdiri di depannya—rambut merah, mata merah, dan wajah yang terlihat seram untuknya—Enxi, melihatnya dengan mata setajam pisau.


Zyste bangkit berdiri, lalu menatap balik Enxi. Mereka bertatapan cukup lama, membuat Enxi merasa canggung, dia menggaruk pipinya.


"Zyste, aku—"


"Terima kasih, Enxi!"


Zyste membuat senyuman kecil yang tulus. Saat itu Enxi tertegun, dia sempat menganggap temannya adalah seorang bidadari saat melihat senyumannya yang menenangkan hati.


Dengan wajah sedikit memerah, Enxi memalingkah wajahnya dan pipinya mengembung.


"H-hmph! A-asalkan kamu membayarnya nanti, a-aku tidak mas-masalah...."


Zyste tertawa kecil lalu memeluk temannya yang tsundere—atau cewek gengsian.


"He-hei! Lepaskan, pakaianmu masih basah, tidaakkk!!!"


Untuk para pemain laki-laki, sekali lagi—mereka dianggap sebagai nyamuk.


***


Zia melempar dirinya ke atas kasur, dia tampak kelelahan. Tanpa memikirkan yang lain, dia terlelap dalam tidurnya.


Besoknya, setelah bangun dia langsung membuka laptopnya dan mengecek Forum Ignisia.


Padahal dia baru bangun tidur dan rambutnya acak-acakan, tapi dia masih terlihat imut—malah lebih imut dibandingkan ketika dia berdandan. Apa itu adalah kekuatan novel?


"Hmm, apa ini?"


Dia menemukan sebuah kolom diskusi yang berjudul "Seorang monster telah lahir!".


Judulnya sedikit membuatnya merasa ingin memukul sesuatu—jangan bantal atau guling, mereka sudah cukup untuk disiksa.