
"Kamu lihat rekaman video pemula yang melawan Red Slime itu?"
"Dia mempunyai potensi yang besar untuk menjadi pemain profesional."
"Cih, apanya yang hebat? Dia dibantu temannya. Bukankah lebih hebat temannya yang Mage itu? Dia bisa membuat meluncur seperti itu dengan sihir Wind: Vortex!"
"Tetap saja, dia dapat bertahan melawan Red Slime cukup lama. Aku akan menyelidikinya!"
"Hei, kamu jangan merebut milik kami!!"
"Milik kalian? Hahaha, selama pemain itu belum masuk Faction manapun, berarti semua orang berhak untuk memperebutkannya!"
Zia memasang wajah heran, sekaligus merinding. Dia tidak jadi ikut menimbrung dalam chat, karena takut dirinya ketahuan dan diteror.
"Tapi, Faction... Apa itu?"
Dia mengetik 'Faction' di kolom pencarian lalu muncul sebuah gambar lambang pedang menyilang dan tameng, di bawahnya ada tulisan 'Tentang'—dia mengkliknya, lalu sebuah tulisan panjang muncul.
Tulisan tersebut menjelaskan tentang 'Faction'—sebuah kelompok besar yang berisikan pemain atau NPC. Mirip seperti Guild atau Club.
Pemain yang bergabung dalam Faction akan mendapatkan keuntungan—seperti tambahan exp yang di dapat, buff dari Faction, dan lainnya. Tapi yang terpenting ketika bergabung Faction adalah Poin Faction—pemain yang berkontribusi dalam Faction akan mendapatkan Poin Faction setiap harinya sesuai dengan kontribusinya.
Poin Faction nantinya dapat ditukar dengan equipment, rune gem, white key, dan skill coin.
"Oh, skill coin? Kalau tidak salah itu item untuk memutar Gacha Skill."
Selain keuntungan yang disebutkan di atas, sebenarnya masih banyak lagi keuntungannya.
Zia melihat jam lalu mematikan laptopnya, dia bangkit berdiri, melakukan peregangan. Keluar dari kamarnya membawa handuk dan turun ke lantai bawah menuju kamar mandi.
Setelah selesai mandi di pagi hari, dia merasa segar. Mengganti pakaiannya dengan seragam olahraga favoritnya—jaket dan kaos hitam, celana training hitam bergaris putih, dan sepatu sneaker putih.
Pada jam 5 dini hari, Zia jogging ke taman yang jaraknya sekitar 2 kilo dari rumahnya.
Sebelumnya, dia belum pernah jogging, tapi semenjak dia bermain Ignisia Fantasy dia memutuskan untuk melakukannya—jogging.
Untuk apa? Tentu saja untuk melatih tubuh, tapi Zia hanya melakukan jogging saja untuk menambah staminanya. Dalam Ignisia Fantasy, tidak ada yang namanya status bar Stamina. Hanya ada Hp, Mana, dan Ep.
Agar pemain dapat bermain lebih lama di dunia virtual Ignisia Fantasy, tentunya membutuhkan stamina yang kuat. Nah, di Ignisia Fantasy ini, stamina karakter itu didapat dari stamina tubuh asli pemain.
Gampangnya, jika tubuh asli pemain memiliki stamina yang kuat, itu akan mempengaruhi stamina karakternya.
Setelah jogging sekitar 30 menit, Zia beristirahat di bangku taman. Melihat matahari mulai terbit, dia menyipitkan matanya.
Tenggorokannya kering, dan dia lupa tidak membawa minum ataupun uang untuk membeli minuman. Dia hanya bisa duduk merenung di bangku.
"Nih."
Seseorang menawarinya sebuah cola kaleng dari mesin yang ada di taman, ketika Zia mengangkat kepalanya dan melihat orang tersebut—itu adalah kakaknya.
Zia menerima cola dengan kedua tangannya. Kakaknya duduk di sampingnya sambil meneguk habis cola miliknya.
Melihat adiknya hanya menatapi kaleng cola-nya, dia menaikin alisnya—kebingungan.
"Kenapa hanya dilihatin saja?"
"Aku nggak suka cola, kakak."
Kakaknya tersentak, membuat ekspresi bodoh. Untung adiknya yang imut tidak melihat wajahnya saat itu—tapi tidak dengan dua orang stalker yang bersembunyi di balik pohon.
"Si-si-siapa?! Si Kaen sedang bicara ma siapa?!"
"Si-siapa cewek itu?!!"
Mereka saling bergumam, awalnya suara mereka pelan tapi kelamaan semakin membesar, dan membuat mereka ketahuan.
Kaen—kakaknya Zia menatap tajam ke arah pohon mereka bersembunyi. Zia terkejut karenanya.
"Ka-kakak?"
"Keluar kalian curut!"
Zia menutup mulutnya dan matanya membelalak, ucapan kakaknya barusan membuatnya sangat terkejut.
"Aku hitung sampai tiga. Kalau kalian tidak keluar, aku yang kesana. Satu...."
Ketika hitungan kedua, semak-semak dekat pohon di belakang mereka mulai bergerak.
"Ti—"
""KA-KAMI KELUAR!! OKE?!!""
Dua orang pria berambut perak dengan wajah kembar keluar dari tempat persembunyian mereka. Mata Zia sedikit melebar, terkejut dengan saudara kembar tersebut.
"Kemari, mendekat."
Setelah pernyataan itu, mereka saling dorong menentukan siapa yang maju duluan. Kaen tersenyum lebar dengan matanya tertutup.
"Satu...."
Akhirnya mereka berdua pergi bersama menghadap Kaen. Mereka berdiri gemetaran dan keringat tidak kunjung berhenti mencucur.
"Apa yang kalian lakukan disana?"
"Ti-tidak ada...."
Pria yang di kiri langsung menjawab begitu ditanya, pikirannya hampir meledak saat melakukannya. Saudaranya menyiku perutnya dan bergumam kata "Bodoh!".
Mereka benar-benar takut kepada Kaen, sampai mereka berdoa di dalam hati mereka agar mereka selamat dan diberikan kesempatan untuk terus hidup.
Kaen menghela nafas, lalu berdiri dari bangkunya.
""Waaa!!! MAAF!! MAAFKAN KAMI, JANGAN BUNUH KAMI!!!!""
Kaen berjalan ke mesin minuman membeli sekotak susu stroberi, lalu kembali dan memberikannya kepada adiknya.
"Nih, susu rasa stroberi...."
Zia mengambil susu itu dan langsung meminumnya, Kaen tersenyum tipis.
Kedua saudara kembar itu menatapnya dari belakang dengan rasa iri, cemburu, kesal, dan sekaligus benci melihat hubungan adik-kakak satu ini.
'Orang ini memang berbahaya....'
'Kenapa paman malah memintanya untuk mengurus kami, memangnya kami anak kecil yang akan selalu membuat masal—'
"Hei lihat dua orang itu, bukankah mereka Zen dan Zed bersaudara?!"
"Mana, mana!?"
"Kamu benar!!"
Orang yang sedang berjalan-jalan ataupun yang hanya kebetulan melintas, berkerumun setelah melihat mereka berdua—Zen dan Zed bersaudara.
"Sial, Kaen, kurasa kami harus—waa?!!"
Mereka berlari menyelematkan diri dari kerumunan orang yang mengejar-ngejar mereka. "Aku mencintai kalian!", "Zen kamu tampan sekali!", "Zed juga!!", "Kyaaa!!". Teriakan dari kerumunan orang yang mengejar dua saudara kembar tersebut.
Zia dan kakaknya melihat kemana arah kerumunan tersebut mengejar Zen dan Zed bersaudara.
"Zen dan Zed... Aku rasa sudah pernah mendengar nama mereka, tapi dimana...?"
"Mereka berdua seorang idol dan aktor film. Mereka juga pemain profesional Ignisia Fantasy."
"Woooahhh!!"
Kaen melihat adiknya yang terkagum-kagum, dia tersenyum masam, mengelus kepala adiknya.
"Ayo pulang."
"Eh, bagaimana dengan mereka??"
"Mereka akan baik-baik saja."
Zia sekali lagi melihat ke arah mereka pergi, lalu berdiri dan pulang bersama kakaknya. Dia memeluk lengan kakaknya—dilihat oleh orang disana, mereka menganggap mereka kekasih yang serasih—padahal hanya adik dan kakak.