
Besok adalah hari pertamanya di universitas. Karenanya, Zia log out dari game dan langsung pergi tidur saat jam menunjuk angka 9 di malam hari.
Esok harinya, pada jam 5 pagi, Zia terbangun dari lelap tidurnya oleh suara alarm yang bising. Dia mengusap matanya dan melihat jam lalu pergi mandi.
Setelah selesai mandi, dia balik ke kamarnya dan melihat ponselnya. Ada 3 panggilan tidak terjawab dari temannya—Angel.
Zia mengambil ponselnya dan duduk di atas kursi sambil mengeringkan rambutnya. Dia hanya memakai sebuah handuk yang menutupi tubuhnya dari atas dada hingga lutut saja sekarang. Bahunya kecil dan mulus, begitu juga dengan lengan dan kakinya.
"Halo?"
"Ah Zia, akhirnya...."
"Kenapa, ada apa Angel?"
"Ah tidak, aku hanya ingin bilang, tunggu aku di rumahmu. Aku akan menjemputmu!"
"Eh-ah, itu tidak perlu, aku bisa naik bis...."
"Sudahlah, aku sudah dalam perjalanan ke rumahmu sekarang, jadi tetap duduk manis disana hingga aku datang, oke?!"
"Baiklah...."
"Bagus! Oke, sampai ketemu 10 menit lagi!"
Angel menutup teleponnya. Zia menghela nafas, dan menyimpan ponselnya di atas meja belajarnya.
"Huftt... Ini akan menjadi hari pertama yang melelahkan...."
Zia segera berpakaian dan berdandan secukupnya, karena dia tidak mau mencolok, dia memasang make-up wajah apapun. Dengan style kasualnya—Jaket hitam model kelinci, rok hitam garis putih hingga lutut dengan pantyhose hitam, dan sepatu sneaker putih dan biru.
Dia menunggu di bawah bersama kakaknya menonton acara televisi seputar Ignisia Fantasy sambil makan roti dengan selai stroberi.
10 menit kemudian, seseorang membunyikan bel rumahnya. Zia beranjak dari sofa empuknya dan berlari ke arah pintu masuk, membuka pintunya....
Seseorang dengan rambut merah panjang dan berpakaian kasual sepertinya berdiri di balik pintu itu.
"Angel?!"
Zia terkejut ketika melihat temannya itu—Angel—yang biasanya memakai pakaian yang sering menarik perhatian, kini berpakaian sepertinya. Jaket kelinci merah, celana jeans hitam ketat dan sneaker hitam-putih.
"Yo!"
Angel tersenyum lebar menyapa temannya yang membukakan pintu.
"Oh, aku sudah tahu kamu pasti akan memakai pakaian seperti itu, makanya kemarin aku belanja beberapa pakaian yang terlihat sama sepertimu dengan warna yang berbeda, hehe."
'Jadi urusan mendadak kemarin itu adalah belanja pakaian?'
"Nah, ayo kita berangkat!"
Zia berteriak ke kakaknya, "Kak, aku berangkat dulu!" dan kakaknya membalasnya dengan, "Iya."
Di depan rumahnya, sebuah mobil hitam mirip lamborghini parkir disana, dan dapat terlihat ada seseorang di kursi depan—supir. Zia sudah tidak terkejut melihat mobil seperti ini parkir di depan rumahnya, karena sudah terbiasa dengan kunjungan Angel ke rumahnya yang membawa mobil yang sama.
Pintu mobil itu bergeser ke atas, Angel dan Zia duduk di kursi belakang.
"Lian, kita berangkat. 5 menit! Aku akan memberimu bonus!! Bagaimana?!"
"Baiklah nona, janji ya?"
"Tentu."
Angel memasang sabuk pengamannya dan terlihat akan mencengkram kursinya dengan kuat.
"Bersiaplah, Zia. Kita akan sampai dalam 5 menit dengan turbo."
"Ehh?!"
Zia tergesa-gesa untuk memasang sabuk pengaman, lalu tepat setelah bunyi klik dari sabuk pengaman yang terpasang, mobil itu melaju mendadak.
Perlahan semakin cepat dan liar, jiwa Zia menjerit sangat keras, karena kecepatannya, mereka terus bersandar ke belakang sambil mencengkram kursi dengan kuat.
5 menit kemudian, sampailah mereka di universitas. Zia keluar dari mobil dengan wajah gelap, sedangkan Angel tersenyum cerah dan tertawa kecil.
"Puhahaha, tadi itu sangat menyenangkan! Benarkan?"
"Hah? Ka-kamu tanya saja pada jiwaku...!"
"Pfftt!!"
Mereka yang melihat Angel dan Zia, menganggapnya adik-kakak. Karena tinggi badan Angel lebih tinggi dan terlihat lebih dewasa, orang-orang mengganggapnya seorang kakak dari gadis pendek berambut hitam disampingnya.
"Hihi, mereka menganggap kita adik-kakak.."
Angel sedikit merendahkan badannya—berbisik di telinga Zia lalu menahan tawa.
"Kamu terlihat ceria sekali, ada apa sih?"
"Kamu tahu, kan. Z kembar itu ada di universitas ini?"
"Ah, Z kembar, maksudmu yang idol itu?"
"Ya, kamu tahu rupanya. Tapi mereka juga adalah seorang pemain IF profesional, mereka masuk ke dalam top 10 pemain terkuat di Ignis. Dan Faction mereka yang tak lain adalah tim e-sport sekaligus perusahaan industri musik milik pamannya, Zankyou."
"Ohh... Terus?"
"Hari ini kami sudah berjanji akan bertemu, dan aku meminta mereka untuk menjadi pemandu disini hahaha."
"Oh, wow."
Zia memalingkan wajahnya ke bawah, tersenyum masam dengan wajah gelap.
'Kehidupan universitasku yang damai akan hancur... Hiks....'
Sebuah suara mengumumkan agar semua mahasiswa untuk segera pergi ke auditorium untuk penyambutan mahasiswa baru.
Angel dan Zia bergegas ke sana dan kebagian bangku di jajaran tengah—auditorium universitas tersebut sangatlah luas, hampir seperti sebuah stadium. 15 menit setelah pengumuman itu, acara penyambutan pun dimulai dan berlangsung hingga siang hari.
....
.....
"Puahh, aku ngantuk..."
Setelah selesai, Zia dan Angel berjalan bersama berkeliling kampus. Tidaklah cepat untuk mengetahui semua lokasi yang ada di sana karena luasnya halaman universitas tersebut.
Ketika mereka berada di lokasi taman di dalam universitas, mereka beristirahat sejenak untuk memulihkan stamina mereka.
"Haaa... Kenapa kampus ini begitu luas...."
"Ka-kamu benar... Ku-kurasa, aku akan mengambil kelas online terus saja...."
"O-oi, Zia! Sadarlah!"
Angel menggoyangkan bahu Zia, dia terlihat seperti baru saja kehilangan jiwanya.
"Oh oh, bukankah kamu Angel, putri wakil perusahaan Kongooo Inc. cabang Indonesia?"
"Siapa—"
Angel berputar ke belakang dan menemukan dua orang berambut perak memakai kacamata hitam serta masker hitam yang menutupi wajahnya dan jaket tebal.
Salah satu dari mereka melepas kacamatanya dan menarik maskernya, lalu diikuti oleh yang satunya lagi.
"Yo!"
Tampak seorang pemuda berwajah tampan dengan mata berwarna kuning emas dari balik masker dan kacamata hitam tersebut.
"Ah, Z kemba—"
Orang yang paling depan langsung menyumpal mulut Angel dengan tangannya.
"Shttt... Jangan membuat kegaduhan, oke?"
Angel mengangguk pelan, lalu matanya melirik ke samping—melihat Zia. Melihat hal itu, orang yang menyumpal mulutnya juga ikut melihat ke arah tersebut.
"Hmm, sepertinya aku pernah melihatnya...."
Mata laki-laki berambut perak satunya terbuka lebar dan mulutnya menganga sambil menunjuk pada gadis berambut hitam.
Selanjutnya, giliran laki-laki yang sedang menyumpal mulut seseorang yang memberikan reaksi sama seperti kembarannya.
""Adiknya Kaen!""
'Aku benci kehidupan seperti ini... Bisakah aku lepas dari semua ini, tolong....'