Ignisia Fantasy

Ignisia Fantasy
Prolog



Dari kejauhan, dapat terlihat asap hitam yang mengebul menutupi langit di atas sebuah desa kecil. Namun, tidak ada seorang pun yang melihat asap itu kecuali seorang gadis kecil berambut hitam pendek yang penuh dengan bekas darah, dan pakaian yang sebagian sudah rusak. Kenapa hanya anak itu? karena anak itu lah satu-satunya yang berhasil melarikan diri dari desa kecil yang sedang di invasi oleh para ogre.


Ogre adalah monster hijau besar, mempunyai gigi taring yang besar, serta mata kuning yang tajam. Mereka berdiri dengan dua kaki layaknya manusia, badan besar dan kekar, serta selalu membawa senjata besar seperti kapak atau broadsword. Mereka adalah evolusi dari goblin, dibandingkan dengan goblin yang kecil dan bodoh, serta melakukan sesuatu sesuai kemauan mereka. Ogre lebih pintar, mereka selalu berkelompok dalam 3 jumlah orang paling sedikit. Dan sekarang, ada sekitar 20 ogre yang menyerang desa kecil yang terpencil.


Gadis itu berbalik, tidak lagi menatap ke arah desa yang hangus. Dengan langkah tegap, dan kepalan tangan yang kuat, gadis itu dipenuhi dengan aura kebencian.


 


"Aku akan memusnahkan para og\- guhak!"


 


Ditengah kallimatnya yang belum beres, gadis itu terpental ke depan dan menabrak sebuah batu besar.


 


"Auu ... Siapa yang menabrak\-?!"


 


Sebuah figur yang besar dan tinggi, berdiri di depannya. Mata berwana kuning, gigi taring besar dan tajam, serta dengan sebuah kapak besi yang ditanggalkan di bahunya. Seekor ogre, namun yang satu ini agak berbeda. Biasanya para ogre tidak memakai apapun selain kalung tengkorak kecil dan kain yang menutupi bagian bawah mereka. Tetapi, ada juga ogre yang memakai jubah yang menutupi tubuhnya, itu adalah jendral ogre. Dan yang ada di hadapan gadis kecil itu adalah seorang jendral ogre.


 


"Hiiii....!!!" gadis itu menjerit dalam hatinya, juga menjerit lewat mulutnya.


 


Suara jeritannya itu, membuat jendral ogre kesal. Sehingga, jendral ogre tersebut jongkok dan membawa wajahnya dekat dengan gadis itu. Tak terbayang besarnya ogre tersebut, hanya dengan kepalanya, itu saja sudah hampir sebesar dengan badan gadis itu.


 


"Kau... berisik... manusia... graaa!"


 


Auman dari jendral ogre itu mengintimidasi gadis tersebut, hingga mengompol. Karena hal itu, jendral ogre semakin marah.


 


"Dasar... manusia... menjijikan! Mati!!" Kata jendral ogre sambil berdiri, lalu mengayunkan kapaknya ke belakang. Dan saat itu pula, gadis itu berdoa kepada dewa, meminta kepada dewa untuk memberikannya kekuatan.


'Oh Dewa, aku memohon... berikan aku sebuah kekuatan... agar aku bisa hidup!!' batin gadis itu.


 


Kemudian, tepat setelah dia meminta kepada dewa. Sebuah petir turun dari langit dan menyambar gadis itu. "Aaaa?!!" gadis itu berteriak sesaat petir itu menyambarnya. Gadis itu seketika kehilangan kesadarannya, dan semuanya berubah menjadi gelap.


....


 


"Eh, pak, hehe..."


"Malah ketawa, berdiri di koridor sampai pelajaran selesai!"


"Baik..."


 


Dengan murung, Zia beranjak dari bangkunya lalu berjalan lesu keluar kelas, dan berdiri di koridor sampai pelajaran selesai.


....


 


"A\-apa ini?!" ucap gadis kecil berambut hitam yang dipenuhi darah.


 


Kepingan-kepingan ingatan yang hilang milik gadis itu, memasuki pikirannya dengan paksa, membuat kepalanya terasa sakit dan pusing, karena ingatan yang saling tindih antara ingatannya yang sekarang dan ingatan masa lalunya. "ARGGH!! Sakit..." gadis itu jatuh terkapar di dalam ruangan yang hitam, gelap gulita.


Seseorang pernah mengatakan padanya, 'ruangan hitam adalah sebuah tempat dalam dirimu yang menjadi fondasi kekuatan yang bernama sihir, jika kamu bisa sampai disana, kelak kamu akan mendapatkan kekuatan yang besar.'


....


Gadis itu membuka matanya lagi. Sambil tengah mengumpulkan kesadarannya kembali, dia bersandar di batu besar sambil melihat sekitar. Jendral ogre yang akan membunuhnya sudah tidak ada, lalu dia melihat ke arah desa di timur, sudah tidak ada asap hitam menggembung di udara. Lalu, di depannya, sebuah jubah lusuh yang tadinya dipakai oleh jendral ogre, tergeletak di atas tanah.


Para ogre di desa telah hilang tanpa jejak, hanya tersisa mayat-mayat manusia dan reruntuhan rumah. Di sisi lain, barang yang ditinggalkan satu-satunya oleh para ogre hanyalah sebuah jubah milik jendral ogre.


 


"Aww!"


 


Gadis itu merasa seperti disetrum listrik di tangan kirinya, saat dia melihat telapak tangan kirinya. Terdapat sebuah simbol crest berbentuk lingkaran dengan tiga cucuk, di atas, kiri, dan kanan. Lalu, sebuah ingatan buram muncul di kepalanya.


Ingatan itu menggambarkan dia sedang berada di sebuah ruangan yang besar, juga terdapat banyak orang disana. Lalu, di samping orang-orang itu terdapat sebuah bunda seperti kapsul. Di dalam kapsul itu ada sebuah kursi sandar, helm dan kabel-kabel. Ingatannya hanya menggambarkan sampai sana saja, setelahnya, ingatan itu menjadi semakin kabur dan menghilang ketika dia ditunjukkan sedang duduk di kursi dalam kapsul.


 


"Ahhh... Tadi itu... Itu adalah saat aku terpilih menjadi pencoba versi BETA dalam projek perusahaan game besar...."


 


gadis itu- Zia, menatap ke langit, dan tangannya di udara menggapai langit. "Jadi ini adalah projek mereka, Ignisia Fantasy...."