
.......
.......
.......
Flashback On
Mina POV
Hari ini aku dkk sedang berjalan-jalan di taman kota. Jujur sudah lama aku tidak merasakan hidup bebas seperti ini.
Bisa bersantai, bercanda ria tanpa perlu memikirkan bahaya yang bisa saja mengintai dimana-mana. Apalagi ditambah dengan orang suruhan kakakku yang selalu mengikuti kemanapun aku pergi.
Jujur aku cukup muak dengan itu. Walau aku tahu dia melakukan semua itu demi kebaikanku, tapi ayolah 100 orang itu angka yang berlebihan.
Apakah aku terlihat seperti anak presiden yang harus dijaga sebanyak itu ? . Bahkan dulu setelah aku kabur ke Indonesia, kakakku menyiapkan setidaknya 1 pleton pasukan khusus untuk menjagaku.
Masalahnya bukan hanya itu, tapi pasukan mafia kakakku juga menyamar mengunakan pakaian serba hitam dan earphone ditelinganya dengan jarak 500 m dari tempatku berdiri kalian pikir saja betapa malunya aku.
Pernah saat aku kesal aku tidak sengaja mematahkan tangan 50 orang suruhan kakakku. Sejak saat itulah Ia mulai mengurangi penjagaanku dan menyuruh bawahannya untuk menjaga dari jauh.
Sekarang untuk terakhir kalinya aku bisa lepas dari semua itu dan tentunya aku tidak akan menyia-nyiakan kesempatan ini.
Hari ini aku menemani teman-temanku untuk jalan-jalan di taman kota, walaupun sebenarnya hanya mereka yang bersenang-senang, sedangkan aku hanya duduk melihat mereka berlari kesana kemari seperti anak TK.
" Wah akhirnya kita bisa bebas seperti burung tanpa sayap yang bisa terbang kesana kemari " ucap Lina suka pingin ditampol.
" Nih anak ya, mana ada burung tanpa sayap bisa terbang aduhh " saut Tae Ya.
" Ya itukan perumpamaan, hehehe"Lina cengengesan.
" Perumpamaan kok gak masuk akal, cah edan " saut Ya Na
" Santuy bro santuy, selow " jawab Lina.
" Berisik, gue banting tau rasa lo hah ! " saut Tae Ya mulai emosi.
" Hehehe piece " ucap Lina sambil cengengesan.
" Udahlah jangan mengungkit urusan rumah tangga disini, adek gak mau ya lihat KDRT dedek masih polos " saut Jung Na
" BERISIK !!! " teriak Lina dkk bersamaan.
Jung Na yang mendapat respon tersebut hanya mampu diam, serasa dianak tirikan dia. Setelah bicara seperti itu mereka pun masih menyambung kembali pertengkaran mereka.
Sedang aku yang melihat tingkah mereka hanya bisa menggelengkan kepala tak habis pikir. Heran saya tuh dimana aja ribut terus, kayak gak ada habis-habisnya tuh bahan buat ribut aduh.
Saat aku sedang asik melihat pertengkaran mereka tiba-tiba aku melihat ada siluet seseorang yang memata-matai dari jauh.
Aku memicingkan mataku untuk melihat lebih jelas siapa orang itu. Dan betapa terkejutnya aku saat tahu bahwa itu adalah salah satu orang suruhan kakakku.
Awalnya aku ingin mendatangi mereka dan mematahkan tulang-tulang mereka, tapi setelah kuamati lagi ternyata ada cukup banyak orang yang mengintai kami kalau hanya aku yang melawan itu tidak mungkin, karena aku sudah pasti kalah jumlah.
Walau aku pernah mematahkan tangan 50 orang suruhan kakakku tapi itu karena mereka tidak akan berani melawanku.
Namun ini beda cerita, melihat jumlah suruhan kakakku yang sebanyak ini pasti mereka ingin membawa kami paksa, karena aku tahu sifat kakakku, dia tidak akan menyuruh anak buahnya mengintai sebanyak ini sejak hari itu.
Dan jika itu benar berarti mereka di perintahkan untuk menyeret kami kerumah. Itu biasa terjadi saat kami melakukan kesalahan dan berusaha kabur dari rumah.
Tapi apa alasan yang sebenarnya ? Bukankah aku sudah memperingatkan kakakku untuk tidak mengirim anak buahnya, selama masa hukumanku.
Aku mencoba bersikap tenang dan mulai menyalakan hpku untuk melihat tanggal berapa ini. Dan setelah aku membuka kalender betapa terkejutnya aku.
Deg
" Mampus ini kan udah keliwat dua
minggu pantes aja mereka ada disini " gumamku pelan.
" Aku harus segera bertindak " ucapku dan langsung menghubungi teman-temanku liwat chat.
Tak lama kemudian mereka pun membuka chat dariku. Awalnya mereka terkejut tapi aku mencoba membuat mereka yakin kalau semua akan baik-baik saja.
Dan pada akhirnya kami pun menyusun strategi dengan pura-pura pergi ketempat lain untuk membuat mereka tidak curiga.
" Eh gaes...kayaknya taman ini udah gak asik deh, gimana kalo kita cari tempat lain ? " ucap Ji Na agak keras.
" Ok " saut kami serentak.
Kamipun pergi dari taman tersebut dan seperti dugaan kami anak buah kakakku pasti akan mengikuti kami.
Kami pun berjalan seolah tak tau apa-apa. Kami juga bercanda disepanjang jalan agar mereka tak curiga dan entah darimana tiba-tiba satu anak buah kakak datang menghadang kami.
" Maaf mengganggu kesenangan nona, kami diperintahkan kakak nona untuk menjemput nona " ucap orang tersebut.
" Siapa lo nyuruh gue ? " tanya Ji Na.
" Maaf nona kami hanya menjalankan perintah " sautnya lagi.
" Kami akan memaksa nona untuk ikut " jawab orang itu.
" Oo jadi lo berani sini maju lo ! "saut Ji Na.
" Baiklah jika nona memaksa, ayo bawa mereka kehadapan bos " ucap orang itu pada anak buahnya.
Merekapun mulai berbondong mendekatiku dkk, tapi sebelum mereka berhasil menyentuh kami tiba-tiba Ya Na berteriak
" STOP " teriak Ya Na.
Mereka yang mendengar teriakan Ya Na sontak menghentikan langkah mereka.
" Gini ya daripada kita berantem, kan gak baik buat mata hati dan pikiran "
" Gimana kalo kita selesaikan masalah ini dengan damai gimana ? "ucap Ya Na ngawur tapi disetujui oleh anak buah kakakku.
" Memangnya cara damai apa yang nona tawarkan ? " tanya salah satu dari mereka.
" Mau tahu caranya ? "tanya Ya Na
" Iya nona "
" Beneran mau tahu ? kepo ya ? "
" Iya nona "
" Beneran "
" IYA NONA "
" Santuy dong jangan ngegas, kayak sepeda aja ngegas " ucap Ya Na kesal.
Aku yang melihat tingkah Ya Na hanya mampu mendengus kesal.
Bagaimana tidak ? masa dia sendiri yang mau ngasih solusi, malah bilang kalo anak buah kakakku kepo dan lagi mana ada sepeda digas aduh, suka kesel aku tuh pengin nampol.
Karena aku tau ini akan berlangsung lama akhirnya akupun langsung berdesis pada Ya Na dan menatapnya tajam dan hanya dibalas cengiran darinya.
" Yaudah kalo gitu aku kasih tau, caranya adalah dengan--"
" SUIT !! " ucap Ya Na heboh.
Aku menjatuhkan rahangku tak percaya mendengar solusi Ya Na.
Aku kira caranya apa ? lah ini malah suit dia kira mau main lompat tali apa pake suit segala, gak habis pikir aku tuh sama isi kepala si Ya Na itu.
Dan betapa terkejutnya aku lagi saat anak buah dari kakakku menyetujui cara gila dari Ya Na.
" Baiklah kami setuju " ucap salah satu dari mereka.
" Baik kalo begitu mari kita mulai " ucap Ya Na.
Aku yang melihat itu langsung cengo. Nih anak waras gak sih ?
Nih juga suruhan kakak kok mau aja nanggepin kegilaan Ya Na, sebenarnya nemu orang kayak gitu dimana sih kok bisa bodohnya kebangetan.
" Heran gue itu bodoh kok dipupuk, padi dipupuk biar gede la ini bodoh " gumam Tae Ya.
Sedangkan aku hanya tersenyum menanggapi perkataan Tae Ya.
" Ok siap mulai "
" Batu..gunting..kertas" Ya Na mengeluarkan batu dan anak buah kakaknya mengeluarkan gunting secara bersamaan.
" Yeay aku menang jadi kalian harus tunggu disini sampai aku dan yang lain melarikan diri ya " ucap Ya Na kegirangan.
" Baik nona " ucap mereka lesu.
Tunggu bentar deh, nih orang kok nurut banget ya dibohongin ?
Dan benar saja saat kami berlari menjauh mereka hanya diam sambil memandang kami dengan tampang melasnya.
" Wah, mereka itu emang bodoh apa gimana sih masa permainan kayak gitu dipercaya " ucap Ji Na sambil berlari.
" Udah jangan banyak omong, mending kita lari secepat mungkin sebelum mereka sadar "
MI NA POV END
...TBC...
Halo semua author up lagi nih jangan lupa like dan komen.
Btw kalo kalian nyelesain masalah pakai cara damai kayak Ya Na gak ?
Kalo kalian jadi suruhan kakaknya Mi Na kalian bakal ikut cara damai Ya Na juga gak ?
Tulis jawabannya di komen ya. See u next part😊