I Try To Write The Second Novel

I Try To Write The Second Novel
BAB9. " Jalan-Jalan"



Hari yang cerah untuk berjalan jalan dan mendapatkan informasi tambahan, itulah yang aku katakan, ya! Seharusnya begitu tapi.......


Sekarang aku sedang berada di alam pembatas buatan seseorang yang sangat tidak terduga.


"Baiklah hanya ini yang bisa kusampaikan untuk sekarang, sisanya aku serahkan kepada kalian" orang itu mengeluarkan sebuah bola cahaya dari tangannya lalu diarahkan bola itu ke arah ku. Sianarnya yang begitu silau membuatku menutup mata, pandanganku berubah dan kaki ku kembali menginjak tanah.


Begitu penglihatan ku kembali normal, Kazuo sudah ada di depan ku dan menyambut dengan senyumanya yang misterius. "Selamat datang kembali" Ucapnya, aku menatap tajam ke arahnya, meski sudah tidak memiliki rasa curiga aku merasa sedikit kesal karena tidak diberi tau sejak awal mengenai masalah ini, rasanya seperti dipermainkan. "Jangan memasang wajah seperti itu, siapa pun yang melihat pasti berfikir kau akan segera membunuh ku En" kuluncurkan pulukulan sekuat tenaga ke arah perutnya, dia yang tidak sempat mengelak langsung terdorong dan jatuh.


"Balasan karena tidak memberitahukan ku lebih awal K.K" ucapku "ayolah aku lebih suka saat kau memanggil ku Kazuo dan bukan dengan nama itu" dia melipat tangannya seakan memohon dengan sepenuh hati, "sebagai hukuman aku tidak akan masak makan malam hari ini k-a-k-a-k"


"Aku tidak yakin kau bisa memasak a-d-i-k-ku"


Kembali ke awal permasalahan, sekitar beberapa jam yang lalu setelah aku dan Kazuo keluar dari rumah semuanya berjalan normal tanpa adanya hambatan.


Meskipun bukan ibu kota, tapi tempat ini cukup ramai dipenuhi orang-orang, banyak kios yang dibuka di sepanjang jalan, aroma roti yang baru dipanggang keluar melewati lubang cerobong asap.


Kebanyakan bangunan yang terlihat memakai desain arsitektur Barat pada masa abad pertengahan, desain nya yang minimalais menjadi sebuah ciri khas perpaduan antara komponen kayu dan batu serta parabot interior yang masih terbilang sederhana. "Semakin dilihat ,aku merasa kembali ke zaman lama" aku begitu kagum dengan setiap pemandangan baru yang ku lihat.


"Hallo Nona manis!, kau mau mencicipi sample dari produk baru kami" seorang pelayan dari salah satu kios menawarkan ku sebuah tart dengan biasanya krim yang menyerupai bunga.


Tapi aku hanya bisa menggeleng kan kepala menolaknya, "aku pasti harus membelinya jika mencoba sampe nya" hatiku berusaha sekuat tenaga untuk tidak tergoda dengan aroma tart yang harum, lagi pula aku tidak memiliki mata uang dunia ini. "Wah tart ini sangat enak, aku beli 5 potong", "baik, segera kami siapkan" karena terlalu fokus mengamati keadaan sekitar, aku sampai lupa jika pria ini juga pergi bersama ku dari awal. Hawa keberadaannya seakan tertutup oleh keramaian yang ada di jalanan, "Benar juga dia selalu berada di belakang ku selama ini" ku lirik dia yang berdiri menunggu pelayan untuk memberikan pesanannya.


Beberapa saat kemudian dia pelayan itu datang dan memberikan sebuah kantung kecil yang berisikan tart yang dia pesan. Setelah menerimanya tiba tiba saja dia memegang tangan ku dan menariknya, kami kembali berjalanpun di tengah kerumunan. "Hey apa yang kau lakukan, kita mau kemana?" Dia sama sekali tidak menjawab dan terus saja berjalan lurus, setelah berjalan cukup lama kami sampai di ujung gang maksudku kami sampai di pusat kota. Terdapat sebuah air mancur besar yang dibangun di tengah kota, banyak anak kecil yang berlari kesana dan kemari, di pinggir jalan terlihat ada sekelompok orang yang melakukan pertunjukan jalanan. Bahkan badut yang melakukan performa menggunakan gelumbung sabun, membuat seluruh tempat dipenuhi dengan gelumbungnya.


Kami berjalan sampai di depan air mancur itu, dia memberikan tanda untuk ikut duduk di tepiannya. "Ambil ini!" Dia menyerahkan kantung kue tart nya padaku, "apa maksudnya ini?" alis ku terangkat "tidak perlu curiga begitu, aku tau kau tidak menyentuh roti ya ada di atas meja. Bahkan kemarin dengan kasarnya kau tidak meminum teh yang ku buat hiks". Aku sama asekali tidak mengerti maksud dari tindakannya, apa dia ingin aku menurunkan kewaspadaan. Seakan bisa membaca pikiran ku dia mengerutkan dahi dan berkata, "Jangan memikirkan hal yang aneh, seperti yang kau lihat kue ini baru dibeli aku tidak akan memiliki kesempatan untuk memasukkan racun atau sejenisnya dan tidak ada niatan juga" meskipun ragu aku mengambil kantung yang disodorkan kepadaku, setalah beberapa saat terdiam aku mengeluarkan satu potong tart.


"pikirkan kembali Serena, makanan ini tidak memiliki salah apapun kepadaku mu" ku masukkan kue itu ke dalam mulut hanya dengan satu suapan, rasanya benar-benar enak kirimnya yang lembut dan manis memenuhi mulutku aroma buah yang terasa di setiap gigitannya. Tanpa sadar aku sudah menghabiskan kelima potong kue tart yang ada di kantung, kurasa ini efek dari rasa lapar.


"Pfft hhahahhahahah...." wajah ku terasa sangat panas,dan berubah menjadi merah saat mendengarnya tertawa dengan kerasnya.


"Ja-jangan tertawa!" Ucapku kesal,


"Maaf, hanya saja jika seperti ini, situasinya seperti aku sedang memberikan adikku hadiah karena sudah berbuat baik, kita jadi seperti saudara sungguhan haha"


Kepalaku tiba tiba terlintas ingatan ingatan tentang Lyra adikku. Rasa nostalgia yang begitu kuat membuatku membayangkan beberapa adegan yang pernah kami alami. "Anak anak kalian bersembunyi dimana" Mama terus menerus memanggil nama kami berdua sambil mencari disetiap sudut bakery untuk mencari aku dan Lyra. "Kak mama udah pergi!" Lyra yang mengintip dari balik lemari memberikan tanda untuk berlari kearahmya.


Hari ini adalah pelaksanaan rencana untuk mengambil tart buah edisi terbatas di tahun baru secara diam-diam.


Belum sempat kami membuka etalase, di bahu kami hinggap sepasang tangan orang dewasa dari arah belakang. "Apa yang kalian lakukan disini?" Entah sejak kapan mama sudah berada di belakang kami berdua dengan memasang wajah tersenyum, akan tetapi senyumanya kali ini terasa sangat menyeramkan. Ku pegang tangan Lyra dan menariknya lari keluar bakery, saat itu adalah masa-masa yang menyenangkan.


"Jadi hal penting apa yang ingin kau sampaikan?"


"Sepertinya energi mu sudah kembali terisi, tapi hal yang ingin aku ceritakan akan lebih baik kita bahas di tempat yang tepat"lagi lagi kebiasaan buruknya dalam berkata-kata muncul, aku merasa dia baru saja meledek ku secara tidak langsung.


Tanpa basa basi aku kembali mengikutinya, selagi dalam perjalanan dia menceritakan semua hal yang dia tau tentang kondisi kota, pasar tempat membeli bahan makanan, butik yang sering dikunjungi para orang orang kaya sampai bangsawan, restoran mewah dan pinggiran, hingga perpustakaan pusat. Sementara tempat yang akan kami tuju adalah toko barang antik tang ada di daerah terpencil dan jarang dilalaui orang, dia bilang toko itu dimiliki oleh seorang nenek tua.


Kling......Kling


suara lonceng pintu terdengar bersamaan dengan saat kami membuka pintu. "Permisi!" Begitu masuk terlihat begitu banyak barang barang kuno yang berserakan, debu yang tebal menutupi sebagian besar toko bahkan banyak sarang laba-laba menempel di atap langit langit."Dimana penjaga toko ini?" Tanya ku "dia tidak akan ada saat pagi ataupun siang hari, dia hanya akan datang saat malam itupun jika dia ingin" dia berbicara sambil mencari sesuatu di tumpukan barang barang antik itu. "Lalu kau dekat dengan nenek itu"


"Bisa dibilang begitu, dia memberikan kunci cadangan tokonya padaku untuk berjaga jaga seperti sekarang.......ketemu!" Dia langsung menghampiri ku setelah menemukan barang yang dicarinya. "Hanya dengan ini kurasa bisa menjawab semua pertanyaan mu" ditangan kanannya terlihat sebuah buku tua yang penuhi debu, sementara di tangan kirinya.


"Ba-bagaimana, bagaimana bisa buku itu ada disini " judul dari buku itu terlihat begitu jelas karena terletak dengan huruf besar "Novel Kunci Yggdrasil!" Sebuah novel yang aku lempar sebelum berakhir di dunia ini, pandanganku beralih ke ukuran satunya lagi, meski sedikit berebut dan terlihat tua buku itu juga memiliki judul yang sama. Otak ku berusaha begitu keras untuk mencerna apa yang aku lihat, semua keanehan pada pria ini satu persatu mulai terungkap.


"Penulisnya dikabarkan hilang dua hari yang lalu"


"K.K apa ini singkatan ?"


"Aku harus menemukan buku itu"


"Namaku Kazuo Kalaster"


"Pakaian mu terlalu mencolok disini"


"Aku semakin yakin kita berasal dari kampung halaman yang sama"


saat ku satukan semua potongan janggal aku menemukan satu kemungkinan.


"Kau, apa kau K.K penulis buku novel Kunci Yggdrasil" Aku bertanya dengan suara yang bergetar.


"Ping Pong itu benar!" Semuanya terlihat terasa begitu jelas sekarang, sang penulis K.K menghilang karena dia terdampar di dunia ini, lalu alasan dia begitu tenang dengan keberadaan ku karena kami berasal dari tempat yang sama.


"Aku benar benar terkejut saat melihatmu pingsan di rumah ku, tapi yang lebih mengejutkan adalah baju modern yang kau pakai saat itu" Kepala ku terasa pusing karena menerima informasi penting secara berturut turut, rasanya seperti mendapat ulangan dadakan di hari senin.


"Ini benar benar hari yang cocok untuk berjalan jalan" aku bergumam