I Try To Write The Second Novel

I Try To Write The Second Novel
BAB 4. "Clive dan Ash"



Taxi yang kami tumpangi berhenti tepat di halaman depan bakery. Salah satu pelayan yang memebersihkan meja depan, melihat kami berdua datang dan langsung masuk ke dalam toko. Setelah membayar, aku meminta tolong kepada supirnya untuk membukakan bagasi mobil. Ku ambil kantung plastic besar yang berisikan nasi kotak lalu membawanya masuk ke dalam toko.


Kling.....Kling....


Sepertinya pelayan tadi memberi tahu mama kalau aku dan Nayla sudah sampai, mama menyambut kami di pintu masuk senyumannya yang hangat.


"Siang tante:)" sapa Nayla "wah...wah...ada Nayla juga, udah lama ya kamu nggak mampir kesini" jawabnya dengan nada ramah "makanannya juga udah dateng" kuangkat satu kantung plastik besar yang berisikan beberapa kotak nasi itu dan memberikannya kepada mama. "Akhirnya sampai juga, sini nasi kotaknya" Setelah mengambilnya dari tanganku, mama memberikan kantong itu kepada pelayan untuk dibagikan.


Karena merasa kenyang, aku hanya membeli jatah untuk mama dan para karyawan. Aku dan Nayla duduk di salah satu bangku yang ada di dalam toko, tidak lama setelahnya seorang pelayan menyajikan sepotong kue untuk kami masing-masing, betapa terkejut nya aku dengan apa yang sijikannya.


Milikku adalah sepotong kue tiramisu, kue yang lembut, rasa manis dan gurih dari campuran kopi dan keju, tak lupa dengan tambahan bubuk kakao di atasnya, ini adalah kue favorit ku. Sementara milik Nayla adalah cheesecake dengan tambahan buah bery dan crime sebagai topping, rasanya yang manis asam segar akan langsung menyelimuti mulut hanya dengan satu suapnya.


Tidak ku sangka para pelayan disini masih mengingat kue favorit kami, meskipun sering mengantarkan makanan, sudah lama aku tidak merasakan rasa dari kue favorit ku, Terakhir kali aku duduk dan memakan kue di bakery adalah satu tahun sejak kepergian ayah pergi, tepatnya dua tahun yang lalu. Nayla juga sering mengunjungi bakery jikalau dia merasa stres dengan tugas dan memerlukan asupan gula. Sering kali dia mengajak Tora, terkadang hanya untuk bertemu sapa dengan mama ataupun membeli kue dan roti.


Mama ikut duduk dan mengobrol dengan kami setelah setelah memastikan semua orang mendapatkan jatah makan siang nya. Tetapi setelah mama duduk mulut Nayla yang sedari tadi sudah gatal, membanjiri mama dengan ceritanya, tentang ini dan itu, seperti sahabat lama yang bertemu kembali, siapapun yang melihat mereka berdua pasti berfikir sedang ada yang bernostalgia ataupun reuni. sering kali aku berfikir, apa yang akan mereka bicarakan jika tidak bersamaku?


Sampailah saat dia menceritakan tentang kejadian saat di gang sempit tadi, ia bercerita mulai dari saat kami pergi dari angkringan dan berakhir dengan kaburnya si pencopet. Ku lihat mama melirik ku sesekali, seakan meminta penjelasan dariku, tapi semua yang ingin didengarkannya sudah tersampaikan lewat temanku yang tidak bisa berhenti bicara ini.


"Tapi kalian nggak kenapa napa kan?" Sorotan matanya jelas menandakan rasa khawatir "aman tante, kan ada Serena, Copet nya langsung kabur setelah dapet tendangan super double mega kick ultra powernya Serana!!" Nayla tertawa terbahak bahak dengan ucapan nya sendiri, rasa khawatir mama seakan hilang terbawa suara tawa kami berdua, aku juga ikut tertawa saat melihat Nayla yang mencoba menirukan gerakan bela diri yang ku lakukan. Bukan berarti aku senang di copet atau apa, karena aku juga merasa kesal dengan pencopet itu


" Iya sih aman, tapi ponselku jadi rusak" aku mengeluarkan ponsel ku dari saku dan meletakkannya diatas meja, ada abeberapa gorengan besar pada layarnya, bukan hanya itu bagian pinggirnya juga terlihat memiliki beberapa retakan.


"Itu kan bisa diperbaiki, lagian salah kamu juga nggak hati-hati, lain kali jangan sembarangan ngeluarin HP pas lagi dijalan, terutama di gang sepi kek gitu!!" Meski tidak marah mama masih tetap menasihati ku cukup lama.


Satu jam berlalu, aku dan Nayla memutuskan untuk kembali, kami keluar dari toko setelah berpamitan dengan mama. "Aku pulang duluan ya" Nayla pergi ke arah yang berlawanan dengan ku, setelah saling melambaikan tangan aku menunggu tukang ojek yang sudah aku pesan. Aku duduk di kursi yang ada di depan toko sembari menunggu tukang ojek itu sampai, butuh waktu 15 menit duduk dengan kebosanan, sampai aku bisa pulang ke rumah.


Pukul 2 siang, keadaan rumah sedang kosong tanpa penghuni. Lyra baru akan pulang dari sekolah sekitar setengah jam lagi dari sekarang, ku kuputar kunci pada lubang pintu dan masuk ke dalam rumah. Dengan sendirinya kaki ku langsung beranjak menuju kamar, entah kenapa meskipun tidak melakukan banyak kegiatan,rasa lelah seakan membebani seluruh tubuhku. Aku berlari menaiki anak tangga dan melemparkan diri ke kasur, sembari merenggangkan tangan, aku memejamkan mata sebentar untuk menghilangkan rasa lelah. Samar pembuluh darah ku terasa mengalir dengan cepat.


Mungkin karena sudah terbiasa dengan tumpukan tugas, aku jadi mudah bosan setelah lulus. Di saat itu aku teringat dengan buku yang belum selesai ku baca, aku turun dari tempat tidur lalu berjalan menuju meja yang ada di sudut ruangan. Ku ambil buku itu dan turun ke bawah, duduk di atas sofa,ku cari posisi paling nyaman dengan menumpuk bantal kecil di ujung sofa sebagai senderan , dan tak lupa untuk membuka toples camilan yang ada di atas meja sebagai teman membaca.


Ku buka buku itu pada halaman yang sudah lipat sebagai tanda.dari bab.6 kita sudah bisa merasakan perubahan dari sang tokoh utama, bukan hanya itu, tokoh tokoh penting lainnya juga mulai menampakkan diri satu persatu. Clive yang memulai perjalanannya, bertemu dengan beragam macam orang, lalu dari sekian banyaknya jenis manusia yang dia temui, salah satunya adalah orang yang akan menjadi rekan, partner, dan sahabat dekat.


Sebagai gantinya mereka harus memberi tau semua hal yang mereka temukan pada guild, bukan hanya itu sang owner bahkan memberikan identitas berupa prajurit bayaran yang bekerja padanya kepada mereka berdua. "Kalian akan memerlukan identitas ini jika ingin menemukan jawabannya, nama Phantom Noir akan sangat berguna dari balik layar!" Kalimat sang owner memang memiliki bobot untuk dipertimbangkan, sempat ragu dengan tawaran itu mereka berdua tetap setuju dengan syarat tugas yang mereka ambil di guild adalah bayaran dari informasi mereka.


"Aku ingat Nayla pernah bilang sesuatu tentang identitas Auster emmm........ entahlah, nanti juga ingat."aku terus membaca novel itu sampai benar benar terhanyut dalam alur ceritanya, sisi yang tebal dari buku mulai berganti sisi. "Oyyyyy...!!!!" Teriakan itu membuat konsentrasi ku hilang, merasa familiar dengan suaranya aku bertanya tanya, sejak kapan Lyra sudah pulang dari sekolah, dengan tas yang masih tergantung do punggung dia berdiri di depanku dengan tangan menyilang.


"Kakak kenapa sih?, dipanggil dari tadi juga" ujarnya dengan nada kesal.


"Maaf, maaf kakak nggak dengar kamu masuk" Lyra menatap ku tajam matanya kini melirik buku yang ada di tanganku. Seketika wajahnya menampakkan senyuman jahilnya yang khas, "nah loh, kakak kena karma nggak bisa lepas dari novel itu"


"Apa sih?!, udah sana mandi keburu sore!" Ucapan ku sama sekali tidak membuatnya berkutip bahkan semakin enggan untuk pergi.


"Omong omong udah baca sampai mana?" meski aku malas untu menjawab sayangnya, Aku sama sekali tidak diberikan opsi lain olehnya,


"Baru masuk bab 11"jawabku singkat "Cepet banget, aku aja perlu waktu 3 jam buat sampai situ, kakak bacanya di skip ya?"


"Emang kamunya aja yang lelet, kakak kan punya skill baca cepat" ku anggukkkan kepalaku dengan bangga. Padahal aku sendiri tidak akan sampai di bab ini jika tidak ada spoiler dari Nayla, yang awalnya kepikiran hanya sebuah novel biasa dengan cerita klasik, buku ini lebih sering membuatku berfikir dari apa yang ku kira.


"Entah kenapa aku rasa kakak bohong"


"Udah!, mandi sana badanmu bau keringat" ku jepit hidungku dengan jari, untuk meyakinkannya agar segera mandi "iya bawel!" Lyra langsung pergi ke kamarnya. Ku masukkan beberapa camilan ke mulutku dan kembali membaca, di bab kali ini lebih sering bercerita tentang ke kompakan Clive dan Ash. Belum genap 2 bulan mereka sudah mendapatkan jurusan sebagai "Bayangan Cermin".


Seperti cermin yang merefleksikan bayangan, mereka saling mencerminkan diri satu sama lain, Clive yang ramah, tidak akan segan mengotori kedua tangannya jika diperlukan. Auster yang dingin dan keras nyatanya hanyalah seseorang yang menginginkan kebebasan.


Kisah mereka berdua jelas berbeda, bagaikan 2 sisi bayangan dalam cermin , tapi takdir mereka tertuang pada garis yang sama.


..."Takdir Yggdrasil, adakah jawaban dari perjalanan ini...?"...


...************...