I Try To Write The Second Novel

I Try To Write The Second Novel
BAB 8. "Perubahan"



Pagi hari ku disambut oleh kicauan burung dari arah luar, sudah cukup lama sejak terakhir kali aku terbangun dengan sendirinya tanpa ada bunyi alarm ponsel yang berbunyi. Tanganku meraba bagian kanan dan kiri bantal, mencari posisi ponsel ku berada. "Kok ponsel ku nggak bunyi?"  Sayup ku lihat sekeliling untuk mencarinya tapi, "Benar juga ini bahkan bukan kamar ku" aku kembali dihadapkan pada kenyataan jika sekarang aku sedang berada di dunia lain, sama seperti cerita transmigrasi yang ada di buku novel, hal itulah yang kualami saat ini.


Ditambah orang yang mengizinkan ku tinggal di tempatnya sangat lah mencurigakan, dia bahkan tidak mempertanyakan cerita yang aku sampaikan kepadanya kemarin. Meski begitu tidak bisa dipungkiri bahwa dia sudah menolong ku saat tidak sadarkan diri, jika dia memang orang jahat aku mungkin sudah dijual atau yang lebih parahnya aku sudah pergi menghadap tuhan. Aku bahkan tidak terlihat seperti orang yang memiliki banyak uang, tidak ada untungnya bagi seseorang untuk merampok ku.


Tok.....tok.......tok......


Suara pintu yang terketuk, dari luar terasa adanya hawa keberadaan seseorang "panjang umur sekali baru juga di omongin" ucapku dalam hati.


"Nona kau sudah bangun kan, apa aku boleh masuk?" tanya pria itu dengan sopan. Dia mungkin sedikit menyebalkan saat bicara tapi dia tidak pernah melewati batas. Setiap tindakannya tidak menunjukan jika dia adalah orang jahat, kurasa aku akan mengawasi ya sedikit lagi sebelum memutuskan apakah aku bisa mempercayainya atau tidak.


"Jangan!, aku yang akan keluar" teriak ku, "baiklah terserah kau saja, aku hanya ingin bilang turunlah kebawah!, ada makanan untuk mu sarapan" terdengar suara langkah kaki yang menjauh setelah dia mengatakan itu. "Dia turun ke bawah?" Ku hela nafas panjang, dan kembali menjatuhkan tubuhku di ke kasur. Aku tidak langsung turun ke bawah, meski mataku terbuka, niat hati untuk bangun masih belum terkumpul. Kuarahakan tangan ku ke atas dan memikirkan rencana hari ini. "Karena informasi yang kumiliki belum cukup, agenda hari ini adalah jalan-jalan keluar rumah".


Setelah lima menit berdiam diri sambil mengedipkan mata, aku beranjak dari tempat tidur dan turun ke bawah, seperti yang dia katakan ada beberapa roti terhidang di meja sebagai sarapan. "Aku tidak melihatnya, apa dia sedang keluar?" Aku duduk di salah satu kursi dan memandangi roti-roti itu.


Kruuuuyuuuk, perutku berbunyi cukup keras reflek tangan memegangi perut agar dia tidak berbunyi lagi.


Setelah sampai disini aku sama sekali belum memakan apapun, bahkan teh yang disajikan orang itu kemarin tidak ku sentuh satu ujung jari pun.


"Apa aku bisa memakan ini?" Roti di hadapanku terlihat sangat menggiurkan, sesaat aku mengingat masa dimana aku selalu mengambil roti secara diam-diam di bakery. Aku sangat ingin memakan roti itu tapi tidak ada jaminan jika itu aman di konsumsi.


Pintu rumah terbuka tiba-tiba, seperti dugaan ku dia pergi keluar rumah, ditangannya terdapat sebuah kantung belanja besar yang berisikan buah buahan dan beberapa roti. Aku bahkan sampai tidak bisa melihat wajahnya.


"Hey Nona bisa tolong aku sebentar!" Tidak tau kenapa tapi kaki ku bergerak menghampirinya tanpa sadar dan mengambil kantung yang dibawanya. Dia langsung meluruskan badan dan meregangkan tangan, "padahal kantung ini tidak terlalu berat" ucapku dalam hati.


"Huff.. terima ka-sih..WoW" Tiba tiba saja dia berteriak tanpa peringatan dan memasang wajah yang aneh,


"Sepertinya kau harus ke kamar mandi dulu, aku akan mengambil ini " pria itu tidak mengatakan apapun lagi dan hanya menunjuk ke arah pintu yang ada di dekat dapur "ah, apa mungkin?"


Setelah memahami situasinya, aku langsung tau arti dari wajah aneh yang pasangnya , aku bergegas menuju ke arah pintu yang ditunjuk. Hal pertama yang ku lihat adalah refleksi dari banyanganku pada cermin, seperti yang kalian tau rambutku selalu terlihat berantakan setiap kali bangun dari tidur, sampai aku merasa  terbiasa melihat bentuknya yang aneh. Hanya saja setelah sekian lama aku kembali terkejut melihat kondisi rambutku, bukan hanya sekedar berantakan seakan telah di sambar petir, situasi ini cukup berbeda dari bisanya.


"A-Apa ini......!" Teriakan ku bergema.


"hua teriakannya kencang sekali" "Hey Nona apa kau baik baik saja" pria itu berteriak menanyakan keadaan, aku langsung berlari keluar dan menghampirinya.


"Apa yang kau lakukan pada rambutku?" ku pegang bahunya dan menguncangkan tubuhnya, nada dan volume suara ku secara otomatis menjadi lebih tinggi.


"Apa apaan dengan rambut berwarna putih ini? usiaku bahkan belum mencapai kepala lima, kenapa aku jadi memiliki uban?"


"Asal kau tau saja sebelumnya rambutku berwarna hitam panjang lalu kenapa sekarang jadi seperti ini?!"  Dia hanya menatapku dengan bingung, cukup dengan aku berada di dunia lain saja sudah membuatku pusing dan sekarang rambutku juga.


"Tapi, bukanya dari awal rambutmu memang berwarna perak, kemari juga begitu, kau sama sekali tidak menyadarinya" Mendengar ucapannya membuatku tidak bisa berkata kata apapun lagi, dari kemarin dia bilang itu sulit untuk dipercaya. Rasa hati ingin membentak sekali lagi namun sorot mata dan nada bicaranya tidak terdengar seperti sedang bercanda. Kaki ku terasa lemas, aku terhuyung karena terlalu syok, "Hey...!" Pria itu menangkapku yang hampir terjatuh dan menuntun ku untuk duduk.


"Apa hobi mu itu pingsan di rumah orang asing hah?!"  Seketika wajah ku terasa panas, aku sadar jika tingkah laku ku barusan terlihat sangat memalukan dan kekanak katakan. Itu bukan sepenuhnya salah ku, siapa pun akan terkejut jika melihat rambutnya berubah menjadi putih secara tiba-tiba, aku tidak setua itu untuk mendapatkan uban. "Maaf!" aku duduk tertunduk, pria itu menghela nafas dan hanya tersenyum ke arah ku.


"Baiklah melihat reaksimu yang seperti ini membuatku semakin yakin jika kita berasal dari kampung halaman yang sama" Setelah mengatakan itu dia beralih menuju kantung belanja yang tadi dibawanya. Dia mengeluarkan sesuatu dari kantung itu dan menyerahkan nya padaku.


"bagaimana jika kita pergi keluar, ada hal penting yang ingin ku ceritakan padamu,tapi sebelum itu lebih baik kau mengganti pakaian mu, pakaian yang kau pakai sekarang terlihat terlalu moncolok" belum sempat aku mengartikan perkataannya dia sudah menyerahkan pakaian itu pada ku. Aku tidak memiliki pilihan lain lagi dan langsung pergi ke kamar mandi untuk mengganti baju. "Sebentar jika pakaian ku berbeda dari dunia ini, kenapa dia tidak beraksi apapun?" Ku halau pikiran tidak berguna itu bisa saja dia sudah sangat kerepotan dengan aku yang sedang pingsan dan tidak sempat memikirkannya.


Aku selesai setelah 15 menit, aku menyempatkan waktu untuk membasuh diri karena setelah pembicaraan kemarin aku langsung kembali ke kamar dan tidak sempat untuk mandi.  "Sepertinya di dunia manapun rambutku cuma memiliki satu masalah yang sama" meski belum terbiasa dengan warnanya yang unik, sifatnya masih sama dengan rambutku yang dulu. Setelah disisir akan kembali seperti semula, aku keluar dari kamar mandi dengan mengenakan pakaian yang diberikanya. Semakin dilihat aku merasa seperti kembali ke masa abad pertengahan, bahkan sepatunya terbuat dari kulit juga terasa sangat nyaman, walaupun ukuran baju sampai sepatunya sedikit terlalu besar, aku rasa tidak masalah asal bisa dipakai bukan. Aku jadi berfikir berapa uang yang dia keluarkan untuk semua ini.


"kau sudah selesai kalau begitu ayo kita pergi!"


"Tunggu dulu!" Ku tahan pria itu untuk berhenti


"Ada apa?"


"Apa kau tidak punya tudung atau sesuatu yang bisa menutupi rambutku, aku rasa warnanya terlalu menarik perhatian"


Dari yang aku tau hal aneh dan unik seperti ini selalu memiliki akhir yang buruk. Mendengar perkataan ku dia hanya tersenyum dan berkata,


"Apa menurutmu warna rambutku juga tidak begitu, mayoritas warga disini berwarna rambut coklat karamel dan coklat pirang, warna hitam pekat sepertiku sudah pasti terlihat mencolok dimata mereka".


Setelah ku perhatikan warna hitam di rambutnya bahkan lebih hitam dari milikku, dia bahkan memiliki mata biru seperti permata blue sapphire, postur tubuh yang tinggi dengan kulit tidak terlalu putih ataupun coklat, poni di rambutnya yang panjang menutupi sedikit bagian matanya, dalam arti yang singkat dia sangat mencolok (tampan). "Jangan khawatir bukan berarti hanya kita yang memiliki kondisi seperti ini, semua orang tidak akan menghiraukannya sama sekali,....sebentar" dia merogoh sakunya seakan mencari sesuatu lalu mengeluarkan sebuah pita panjang. "Aku tidak punya tudung tapi apa ini cukup" sebuah pita panjang berwarna hijau terang, diujung pitanya terdapat gliter yang membuatnya terlihat berkilauan.


"Pfft, apa kau sengaja membeli ini untuk ku?" Aku tersenyum melihatnya, pita itu terlihat begitu senada dengan warna mata ku. "Mana mungkin aku berani  hanya kebetulan aku membelinya, kebetulan tinggal warna itu yang tersisa dan kebetulan Nona memiliki mata emerald yang cantik" lidanya itu benar benar pandai berbicara.


"Aku anggap itu sebagai pujian" dia hanya mengangkat bahunya "bahkan di kampung halaman kita hanya 2% dari populasi dunia yang bisa memilikinya" lagi lagi dia mengatakan hal yang tidak bisa aku artikan, berfikir tentang apa yang isi dari pikirkan hanya akan membuatku pusing sendiri, aku yakin pasti perkataannya tadi memiliki arti tersendiri.


Ku terima pita yang diberikannya dan mengikatkanya di  rambutku. "Baiklah ayo berangkat!" Mari kita lihat dunia seperti apa yang sedang aku pijak sekarang, aku harap tempat ini seluar biasa seperti yang aku bayangkan agar sepadan dengan perubahan instan yang aku alami. "Oh satu hal lagi, jika ada yang bertanya siapa dirimu, jawab saja kau adalah adikku yang menyusul dari desa, mereka pasti akan percaya dengan cerita itu". Aku mengangguk faham, akan sulit mencari alasan jika tidak disiapkan seperti sekarang, meskipun aku tidak merasa memiliki kemiripan dengan orang ini, lebih baik dari pada tidak ada sama sekali.


Pintu terbuka, cahaya terang terlihat dari seberang pintu, dengan memantapkan hati kaki ku melangkah ke depan dan melewati garis batas antara lantai dan jalanan luar. Sinar silau menerpa mata, samar terdengar suara orang orang yang menjalankan aktivitasnya, ku tarik nafas panjang dan menghembuskan nya perlahan. Tubuh ku diselimuti oleh hangatnya cahaya matahari, perasaan menjadi sedikit lebih tenang, aku merasa ada kehangatan yang menembus ke dalam kulit. Udara yang begitu segar, sungguh hari yang cerah untuk berjalan jalan.