
Perasaanku tercampur tidak karuan, entah itu sedih, kecewa, atau marah, aku tidak bisa mendeskripsikan apa yang kurasakan dengan jelas. Semuanya perasaan itu memiliki perbedaan yang sangat tipis.
Dari semua lamaran yang aku ajukan, pesan tadi adalah yang terakhir, semua energi ku seakan menghilang bersamaan dengan masa depanku.
"Haaaaaaaah...!" Helaan nafas yang panjang, aku mengusap wajahku untuk meyakinkan diri sendiri, jika sekali lagi aku gagal dalam wawancara pekerjaan.
"Apa aku harus menerima tawaran mama?" Pandangan ku tertuju ke arah langit langit rumah dan menepuk pipi ku dengan kedua tangan.
"Nggak..nggak jangan bergantung dengan orang lain Serena"
Waktu itu satu bulan setelah kelulusan, mama sepertinya sedikit khawatir dengan ku yang mondar- mandir menunggu hasil wawancara. "Gimana kalau ikut bantu mama di bakery" Ucap mama "nggak dulu deh ma, tapi kalau mama butuh bantuan, aku mau kok ikut ke sana" mungkin aku yang saat itu sedikit terlalu percaya diri dan menolak tawaran itu. Tapi aku sama sekali tidak ada niatan untuk menarik ucapanku sendiri.
"Mama bakal bilang apa kalau tau aku gagal lagi" kepalaku mulai membayangkan adegan-adegan yang mungkin menjadi reaksi mama saat tau jika aku gagal.
"Nggak usah dipikir, kamu masih punya kesempatan, mama pasti selalu dukung kamu kok" bersikap tenang dan memberi dukungan.
"Mama kecewa sekali, rasanya seperti uang mama hanya kamu permainan, ingat biaya kuliah mu itu nggak murah" merasa kecewa.
"kamu seharusnya memberikan contoh yang baik untuk adikmu, apa jangan jangan sikap Lyra yang nakal akhir akhir ini karena meniru sikap mu?" Aku paling tidak suka jika Lyra disangkut pautkan.
"Sekarang kamu pergi dari rumah ini, dasar anak tidak berguna!!" Dan tentu saja ini adalah kemungkinan terburuk nya.
"Dalam kondisi seperti ini, aku harus pergi keluar dan menyegarkan pikiran" ku ambil ponselku yang terjatuh dan melihat ke arah jam, kedua jarum pada jam itu menunjukkan pukul 11.30 dan sebentar lagi adalah waktu makan siang, Aku bangkit dari sofa dan naik ke atas untuk bersiap untuk pergi keluar. Rencananya aku ingin mengajak Nayla tapi aku yakin jika sekarang dia pasti sedang sibuk bekerja, jadi kuputusan ini akan menjadi me time untuk menghilangkan stres.
Aku memesan ojek online terlebih dahulu, tujuan pertama ku adalah mencari tempat yang menjual makanan pendingin saat musim panas, walaupun aku tidak yakin, apa tidak masalah memakan manisan dingin sebelum makan siang. Untungnya perutku sudah diisi dengan nasi pagi tadi.
Ojek online yang ku pesan datang setelah 10 menit menunggu, ku kunci pintu rumah, dan bergegas untuk pergi ke pusat perbelanjaan kota. Jalan dipenuhi hiruk pikuk kendaraan yang datang dari segala penjuru, beruntung meski begitu aku tidak terjebak macet, tapi udara yang panas tetap mengikuti ku sepanjang perjalanan.
Tidak jauh berbeda dari kota-kota yang lain, terdapat bangunan yang bertepatan di sebelah kiri dan kanan jalan, bangunan yang tinggi sudah terlihat meski dari kejauhan. Bayangan orang-orang yang ku lewati sudah tidak terhitung jumlahnua.
"Apa aku akan terdengar jahat jika berharap ada seseorang yang bernasib sama sepertiku" aku menertawakan pemikiran ku itu dalam hati.
Aku sampai di tujuan setelah 15 belas menit perjalanan, dan saat sampai aku baru menyadari sesuatu, apakah akan terlihat aneh jika seseorang pergi ke pusat perbelanjaan seoarang diri, karena aku tidak memikirkan itu sebelum sampai disini.
"Masa bodoh dengan itu, waktunya memanjakan diri sendiri" Begitu masuk sesuai rencana aku pergi ke bagian makanan untuk membeli ice cream.
Mungkin karena sudah hampir waktunya makan siang, bagian makanan menjadi sangat ramai pengunjung.
Terdapat barisan panjang yang memiliki tujuan yang sama dengan ku, aku juga ikut mengantre sambil melihat papan menu yang ada di depan meja kasir. Saat giriliran ku tiba aku tidak perlu kebingungan lagi
"Selamat datang, mau pesan apa?" Tanya seorang pelayan "satu cup medium ice cream vanila dengan saus strawberry" aku dan Lyra sering pergi ke sini dulu setiap akhir pekan dengan ayah, kami berdua menyukai rasa ice cream yang sama, sementara mama pergi berbelanja kami selalu kabur ke bagian makanan dan membeli ice cream diam-diam.
"Mohon ditunggu sebentar!" Terdengar suara mesin yang mempeoses pesananku "silahkan, totalnya 30 ribu"
Setelah membayar aku pergi keluar dari blok makanan dan pergi melihat lihat.
"Huaaa...ibuuu....huaaa!!" Dia menangis karena terkejut, suaranya yang keras membuat beberapa orang menatap kami, dibelakang nya seorang wanita paruh baya yang berlari dengan raut wajah khawatir.
"Ibu...!!" Anak itu berlari dan memeluk wanita itu, dalam kondisi seperti ini sudah jelas jika dia ibunya.
Wanita itu berusaha menenangkan anaknya dan menghampiri ku, "terima kasih sudah menolong anak saya" Ucapnya sambil membungkukkan badan,
"nggak usah dipirkir tante, adeknya juga nggak kuka" aku hanya menjawab dengan tersenyum tipis
"Ayo bilang makasih ke kakaknya!" Anak kecil itu mengintip dari belakang tubuh ibunya "t-terima kasih"
Mendengar itu akupun membungkuk dan mengusap kepalanya "sama-sama, lain kali hati hati ya!" Dia hanya mengangguk sambil mengusap air matanya.
"Sebagai permintaan maaf saya akan ganti ice cream milik mu itu" pandanganku langsung mengikuti arah yang ditunjukkan, aku baru sadar saat menanggkap anak itu tadi aku tidak sengaja melepaskan cup ice cream nya
"Nggak perlu tante, saya udah makan banyak tadi, lebih baik tante panggil cleaning services untuk memebersihkan tumpahan ini!" Wanita itu tetap bersikeras ingin mengganti ice cream ku, tapi aku yang tidak ingin urusan ini menjadi lebih panjang terus menolaknya dan akhirnya pergi setelah meyakinkan nya.
Mulai dari saat itu kejadian aneh terus saja terjadi, seorang karyawan lupa memasang tanda lantai basah dan membuatku terpeleset, laku ada yang menumpahkan minumannnya ke pakaian ku, aku yang menghabiskan setengah uang yang aku bawa untuk mengganti pakaian, kehabisan ticket untuk menonton film, terjebak di rombongan orang orang yang mengingat diskon, dan setelah hari yang panjang keputusan untuk pulang ke rumah. Hal yang kusyukuri adalah aku sampai di rumah sebelum hujan turun.
Hujan turun dengan deras, rumah terlihat gelap dan aku hanya tinggal sendirian. Kurasa Lyra akan pulang sidikit terlambat karena menunggu hujan reda, jika beruntung mungkin dia akan menumpang dengan temannya. Ku nyalakan televisi untuk mengusir ketegangan, meski dengan volume tinggi aku masih bisa mendengar suara derasnya hujan.
"Bahkan aku yang terbiasa sendirian masih bisa merasa takut di saat seperti ini" perhatianku teralihakan pada buku yang ada di atas meja, betapa terkejutnya aku setelah membaca judul buku itu
" Kunci Yggdrasi!, bukanya udah ku taro di kamar?" Belum sampai bibirku tertutup kilat menyambar dan disusul dengan suara guntur yang membuatku menutup telinga.
Setelah beberapa saat aku tidak lagi melihat cahaya ataupun mendengar suara dari televisi, kurasa kilat guntur tadi membuat listriknya padam. Hujan terdengar semakin deras, kini ruangan tengah menjadi sangat gelap, hanya mendapat sedikit cahaya dari jendela yang tidak begitu seberapa.
Di tenagah kehenianga itu, tiba tiba mataku terasa sialau, ternya muncul cahaya dari arah lantai, atau lebih tepatnya berasal dari buku yang kujatuhkan saat menutup telinga, meski ragu aku mengambil buku itu untuk memastikan. Entah bagaimana tapi buku itu benar-benar mengeluarkan cahaya, tidak sampai disitu saat kubuka tidak ada satupun tulisan pada setiap halaman buku, seakan ini hanyalah sebuah buku kosong. Cahaya dari buku itu menjadi semakin terang dari halaman yang kubuka memancarkan cahaya yang membentuk suatu garis.
Kilat menyambar lagi sebagai tanda guntur akan datang, mataku terbelalak tidak percaya melihat apa yang tertulis dari garis itu "SERENA"
DUUAARRRR....
Bersamaan dengan gemuruh guntur, namaku tertulis di halaman buku, tanpa sadar aku melempar buku itu. Kupejamkan mata dan meringkuk ketakutan sambil menutup telinga, sekarang yang ada di dalam pikiranku hanya ada rasa takut. Meski begitu aku bukanlah orang yang akan diam saja dengan kejadian sperti ini, rasa penasaran ku jauh lebih kuat dari rasa takut ku. Aku masih belum membuka mata tapi ada satu lagi hal yang aneh, aku sama sekali tidak mendengar suara buku yang terjatuh.
Walaupun terhalang suara hujan, seharusnya aku masih bisa mendengar suara buku yang menabrak sesuatu, karena aku melempar buku itu ke arah televisi. Kuyakinan diriku untuk membuka mata perlahan,
"Ok Serena, buka matamu dan hadapi apapun itu, ingatlah gelar sabuk hitam mu cukup kuat untuk menyerang lima orang pria sekaligus, aku harap itu juga berfungsi untuk sebuah buku aneh" hatiku juga berusaha, meyakinkan diri ini untuk membuka mata. perlahan mataku mulai terbiasa dengan kegelapan, setelah pandanganku kembali, lagi-lagi aku melihat sesuatu di luar nalar.
kedua mata ini sama sekali tidak melihat buku itu dimanapun.
...****************...