I Try To Write The Second Novel

I Try To Write The Second Novel
BAB 10. " Perasaan "



Kami memutuskan untuk melanjutkan pembicaraan kami yang sempat terpotong di toko roti yang kami lewati tadi. Saat duduk kedua mataku hanya tertuju pada buku yang ada di atas meja, buku novel Kunci Yggdrasil yang dia tunjukkan di toko barang antik tadi.


"Jadi sekarang kita berada di salah satu daerah kekuasaan Qallegia" dia mengangguk


"Maksudnya Qallegia yang ada di novel ini"


"Benar sekali!" Jawabnya dengan begitu tenang sambil menganggukan kepalanya beberapa kali.


"Bagaimana kau bisa yakin?" Tanyaku memastikan.


"Kau lupa aku siapa aku, meskipun seorang penulis terkenal jahat karena sering menyiksa anaknya sendiri mana mungkin aku tidak mengenali tempat yang aku ciptakan" jawabnya sambil mencinir.


"Jawaban mu sama sekali tidak membantu"


"Bukankah sudah ku katakan, kau akan kesulitan mendapat pacar jika bersikap sedingin itu, kemana perginya si Nona rakus yang menghabiskan lima potong kue tart sekaligus" wajah ku secara otomatis memasang raut wajah datar.


"Lagi lagi kebiasaan buruk mu saat berbicara, aku bertanya serius" ucapaku dengan nada tegas.


"Begitu juga dengan ku, yang barusan aku katakan memang banar adanya, suasana tempat, letak, dan nama kota, semua informasi yang sudah ku cari selalu tertuju pada karya ku yang satu ini"


Aku hanya bisa terdiam, terjebak keheningan yang cukup panjang diantara kami dan membuat suasana menjadi sedikit kaku. "Ekhh aku tidak suka hawa tegang seperti ini, itu hanya membuatku sakit perut, ayo kita pesan camilan ringan" dia bangkit dari tempat duduk dan pergi untuk membeli beberapa cookie, begitu dia pergi aku memegangi kapaluku, aku merasa pusing bisa juga tidak.


Aku tidak tau cara mendeskripsikan keadaan ku saat ini, apakah aku harus senang karena tidak sendirian di tempat asing atau justru merasa takut memikirkan bagaimana caranya agar aku bisa kembali ke tempat yang seharusnya. Pria itu kembali lagi setalah beberapa saat, "Maaf ya kuenya habis tadi diborong sama nenek nenek!", "lucu!aku bahkan tidak melihatmu memesan sesuatu, apa uang mu sudah habis?"


Dia tampak terkejut dengan perkataanku, meskipun kepalaku tertunduk murung, aku tau dia hanya pergi untuk memberikan ku waktu sendirian, sepertinya sudah menjadi kebiasaan untuk tidak bersikap lengah dalam kondisi apapun. "Sepertinya sudah tidak ada lagi yang bisa aku sembunyikan" dia kembali duduk di kursi yanga da di depanku, masih saja hening, untuk sesaat ujung jariku terasa dingin, matahari mulai menunjukan dirinya lebih tinggi, tapi tangan ku masih tetap merasa kedinginan.


Kali ini aku memutuskan untuk memulai berbicara terlebih dulu "hey bagaimana perasaanmu setelah tau kalau ini tempat yang kau buat?, tempat yang hanya kau deskripsi kan melalui tulisan di novel itu" pertanyaan itu spontan saja terlintas dalam pikiran ku dan terucap begitu saja, dia terlihat berfikir begitu keras dia melipat tangannya dan menyipitkan mata.


"Emmmmm gimana ya, sangat keren kurasa, aku tidak berhenti ternganga untuk beberapa jam saat itu" Ucapnya dengan mata yang berbinar, aku seakan melihat bintang yang menyilaukan di dalam matanya, lalu dia menunjukan bagaimana ekspresi yang dia buat saat itu. Ku akui sikapnya yang seperti ini benar benar lucu, aku sudah tidak tahan untuk menahan tawa, masa bodoh dengan rasa waspada aku hanya tertawa melihat ekspresi yang dia buat.


"Nah begitu lebih baik, akan lebih baik tertawa lepas dari pada tertunduk murung seperti tadi" sungguh orang yang aneh "jujur saja saat aku baru pertama kali ada di dunia ini, tempat yang aneh, orang orang asing, bohong jika aku bilang tidak merasa takut kau juga begitu kan saat pertama bertemu kau langsung melempariku dengan bantal" kejadian yang baru terjadi kemari itu kembali terlintas dalam bayangan ku, "mau bagaimana lagi, sebagai perempuan biasa aku harus ekstra waspada bukan" ucapku "kau pembohong yang buruk sekali, saat kau masih pingsan aku melihat kapal di telapak tangan mu, itu bukti kau sering berlatih, apa aku salah?" Seperti yang di harapkan dari seorang novelis, aku sempat dengar ada banyak penulis yang melakukan banyak hal berbahaya dan di luar passion mereka hanya demi memahami karakter tokoh yang mereka buat.


"Padahal aku ingin terus berpura pura lemah saja untuk beberapa lama, sayang sekali ketahuan lebih awal"


"Kau sudah behutang banyak padaku Nona, bersyukur lah kau tidak terbangun di kolong jembatan seperti ku" dia tiba tiba saja mengoceh tentang bagaimana keadaannya begitu terbangun dari pingsan, dia bilang dia terbangun di kolong jembatan yang ada di sekitar sini, dan setalah mengamati beberapa jam dia terpaksa harus mencuri kain untuk menutupi pakaiannya lalu berakhir di toko barang antik yang kami datangi tadi pagi. Dari sana dia diberiakan sedikit uang untuk membeli pakaian murah dan mengganti kain yang telah dicurinya.


Pembicaraan kami kali ini berlangsung sedikit lebih lama dari kemarin, dia memberi tahu ku tentang situasi dari tempatvini sekarang. "Jadi kita ada di masa setelah buku pertama selesai" dia mengangguk "begitu lah dari apa yang aku dengar" jika ini sebuah cerita novel fantasi yang aku tau, pemeran utama biasanya masuk ke dalam buku novel yang dia baca atau game yang dia mainkan, beberapa tahun sebelum cerita dimulai lalu menggunakan pengetahuan dari kehidupan sebelumnya mereka menjalani petualangan dengan tokoh lain dan membuat happy ending. "Tapi kita malah terjebak di cerita yang belum selesai di tulis sama sekali!" Aku menghela nafas panjang.


"Ucapan mu barusan terdengar seperti menyalakan ku"


"Bagus jika kau berfikir sepertinitu"


"Aaaakhh hati ku terluka!"


"Oh benar juga kau kan penulisnya, seharusnya kau tau cara supaya kita bisa kembali" di luar dugaan di justru menggeleng kan kepalanya.


"Jika memang begitu aku pasti sudah pergi dari sini sejak beberapa bulan yang lalu, meski ini ceritavyang aku buat, dunia ini juga asing untuk ku"


"Aku akan membunuh sekarang Kazuo"


Dari arah belakang tiba tiba muncul seseorang dengan hawa yang mengerikan, pandangannya yang seakan mengatakan "mati kau".


"Sejak kapan dia!, apa dia mendengar pembicaraan kami?" Dengan cepat dia beralih ke arah ku, aku sempat terkejut sesaat ditamabah lagi dia tiba tiba saja menggenggam tangan ku lalu berkata.


"Nona jika pria gila ini melakukan hal buruk padamu, aku dengan senang hati akan menghajarnya"


"Eh?" Aku tidak mengerti apa yang dibicarakan orang ini, dia ini lawan atau kawan.


Lalu sebuah tangan hinggap di bahunya lalu menarik kerah orang yang tiba tiba muncul ini dan memukul wajahnya dengan keras. "Apa yang-"


"Ini keterlaluan Kazuo"


"Haraukan saja orang itu, lebih baik kita pindah tempat agar lebih fokus dengan masalah kita"


"Cih, mentang mentang ada adik mu disini kau ......eh....dia!.....adik!......Kazuo!.....adik!....eeeeehhhh!!"


Satu hal yang bisa aku pahami, mereka berdua tidak bermusuhan atau sejenisnya justru sebaliknya.


Pertengkaran remeh mereka sampai diabaikan oleh warga sekitar menunjukkan bahwa kejadian seperti ini sering terjadi. Hal yang lebih menakjubkan adalah saat dia marah tadi dan memanggil ku adiknya, acting nya benar benar bagus sampai terlihat begitu nyata. Jika benar dia temanya, itu artinya aku harus mulai beracting dari sini juga. "Emmm dia kenalan mu" "Bukan!" Dia menjawab dengan begitu cepat, tanpa ada jeda dari pertanyaan ku, "jadi Nona, apa kau benar adik dari bajingan sialan ini, atau kau dipaksa"


"Sudah ku bilang menjauh darinya"


"Siapa nama mu?, kau punya pacar?, seperti apa tipe mu?"


Dia bertanya tapi tidak memberikan waktu untuk menjawab aku sangat bingung harus bersikap seperti apa dalam kondisi seperti ini. "Kak teman mu ini kenapa?" tanya ku, "sudah ku bilang dia bukan teman ku"


"Apa kau bilang?!".


Mereka kembali bertengkar, aku memutuskan untuk menepi dan hanya menonton dalam diam, seakan tidak terlihat di mata mereka berdua, aku sendiri juga tidak ada niatan untuk menghentikan pertengkaran anak itu.


Mereka berhenti setelah 10 menit, "Kazuo sialan"


"Vider brengsek" tubuh mereka berdua terdapat di atas tanah, aku tidak menyangka akan melihat kejadian seperti tadi, karena terlalu kelelahan wajah mereka berdua terlihat lebih aneh dari sebelumnya.


"Padahala hanya adu mulut selama 10 menit, aku pernah bertahan setidaknya 1 jam dengan Nayla"


Sekarang aku yakin 90% jika dia bukan orang yang mencurigakan. Dengan senang hati aku akan mengikuti scenario sang penulis dan berperan sebagai adiknya.


Keadaan kembali tenang, orang yang di panggil Vider tadi juga kini ikut duduk bersama kami.


"Kita ulangi perkenalanya, nama ku Vider teman kakak mu" Ucapnya sambil tersenyum lebar


"Serena!"


"Ternyata kau benar adiknya ya,saat aku melihat Kazuo bersama mu tadi, kamu memasang wajah yang sangat serius, jadi ku pikir dia melakukan hal aneh kepada mu"


"Woy..!"


"Lagi pula kanapankau tidak pernah memberi tahuku kalau kau punya seoarang adik"


"Tidak ada gunanya juga aku memberi tau"


"Bicaralah lebih sopan kak!" Ucapku sambil memukul kepalanya


"akct sakit tau!" "Hua di mendalami perannya dengan baik"


Pandangan ku beralih ke arah Vider, bisa saja ada satu dua informasi yang bisa ku korek darinya.


"Jadi bagaimana kalian bisa berteman?"


"Oh, itu!" Vider langsung bercerita tentang bagaimana mereka bertemu setengah tahun yang lalu, dari yang dia ceritakan Kazuo adalah orang dari desa yang mencari peruntungan pekerjaan di kota yang lebih besar. Cerita ini semakin terdengar menarik setelah Vider mengatakan jika dia adalah penanggung jawab pada novel yang ditulis Kazuo disini, sebagai pendatang yang batu saja muncul dia seperti roket dan mencapai top 1 pemasaran dalam waktu singkat.


"Kau menulis novel di dunia novel" aku berbisik kepadanya "tentu saja, aku juga perlu uang disini" jawabnya dengan suara pelan.


"Omong-orang kapan adik mu sampai disini" tanya Vider


"Dia baru sampai kemarin dan akan menetap disini bersama ku" lebih tepatnya itu karena aku tidak tau bagaimana caranya agar bisa pulang kembali ke dunia ku.