I Try To Write The Second Novel

I Try To Write The Second Novel
BAB 14. "Surat Izin"



Aku jika mendengar suara Vider dari atas dengan begitu jelas, saat ku coba untuk memeriksa keadaan dibawah, Kazuo sudah dalam kondisi tidak berdaya dengan semua ocehan yang dikeluarkan Vider kuputusan untuk turun dan memastikannya.


"Apa apaan dengan surat yang ada di meja kantor ku ini, kau tau betapa kagetnya aku saat membacanya. Izin untuk cuti selama beberapa waktu yang tidak bisa diketahui, kalau kau ingin aku menderita darah tinggi bukan seperti ini caranya!!!" Tanpa menyadari keberadaan ku, Vider terus memarahi Kazuo dengan begitu keras bahkan tanpa memberinya kesempatan untuk berbicara.


"Cepat jawab pertanyaan ku, Kazuoooo!!" Reflek tangan menutup telinga, suara yang dikeluarkan Vider lebih keras dan tinggi dari pada yang tadi, aku tidak akan kaget jika akan ada tetangga yang datang dan menyuruh kami untuk diam.


"Bagaimana aku bisa menjawab, kalau kau terus mengoceh sendiri, kita bisa duduk dan berbicara dengan tenang bukan!?" Setelah kalimat Kazuo selesai, Vider melepaskan cengkraman tangannya dari kerah baju Kazuo dan langsung duduk di bangku yang ada di depan ku. Sementara Kazuo merapikan kembali pakaiannya dan berjalan ke arah dapur.


"begini lebih baik, kita akan bicara setelah aku membuat minuman, En kau mau camilan?" Pandangan Vider beralih kepada ku, sepertinya dia sedikit kaget melihat aku yang sudah duduk didepan nya.


"Tentu !, aku mau biskuit yang tadi pagi" aku mencoba untuk mengubah suasana dengan sedikit memberikan senyuman lebar. "Serena!, sejak kapan kau -?"


"Kurasa sejak, apa apaan dengan surat yang ada di meja kantorku" ku coba untuk menirukan gaya bicara Vider saat memarahi Kazuo tadi. "Dari tadi rupanya, maaf aku tidak melihat mu tadi" Vider menundukan kepalanya dan meminta maaf lalu disusul dengan helaaan nafas panjang yang disertai dengan wajahnya yang masam, Aku hanya bisa tertawa kecil melihat sikap lucunya itu.


Mendengar dari apa yang dikatakan Vider kepada Kazuo, hal yang mereka bicarakan adalah masalah keberangkatan kami menuju Ibu kota yang sangat mendadak ini. "Apa dia mengatakan hal yang aneh lagi?, wajah mu tidak terlihat baik?" Tanya ku memastikan jika memang benar, sepertinya akan butuh waktu lagi sampai akhirnya kami bisa berangkat.


"Bukan!, hanya saja, anak itu dengan tiba tibanya mengatakan jika dia akan cuti dan pergi ke ibu kota, di tambah cuti untuk waktu yang tidak diketahui, dia memang selalu seenaknya sendiri." Dari perkataan yang diucapkan Vider, sudah jelas siapa yang salah disini. Kazuo ingin mengambil cuti panjang dan meninggalkan tanggung jawabnya sebagi penulis. Dia yang bertugas sebagai penanggung jawab dari Kazuo jelas merasa marah.


"Lalu dimana letak masalahnya?, aku juga manusia yang memerlukan istirahat dari bekerja, aku tidak hanya akan berlibur saja tapi untuk mencari bahan segar untuk ceritaku selanjutnya". Kazuo muncul dari pintu dapur, dengan membawa sepiring camilan dan juga cangkir beserta tekonya.


"Kebiasaan mu yang satu ini memang tidak bisa berubah ya, jika sesuka itu membuat minuman kenapa tidak membuka Tea House atau sejenisnya saja !"


"Jika aku melakukannya, tidak akan ada yang memberimu pekerjaan" meski tergolong negeri yang harmonis masih ada perbedaan antara perempuan dan laki-laki di dunia ini, jarang ada laki-laki yang menyajikan teh seperti yang Kazuo langsung, berbeda cerita jika di adalah seorang butler atau seorang bartender karena itu memang tugas mereka.


Piring terhidang di atas meja, Kazuo juga ikut duduk dan bergabung dengan kami. " Sekarang kau bisa bicara dengan sedikit lebih tenang!" Ucap Kazuo,


"Apa maksud dari kejutan yang aku temukan di atas meja kantorku pagi hari ini?" dengan memegang sepuluh surat, Vider menunjukannya dan meminta penjelasan kepada Kazuo. "Bukankah sudah ku tulisan dengan jelas di dalam sana tertulis, jika aku akan pergi ke Ibu Kota kau bisa lihat kami sedang bersiap bukan" Vider melihat sekeliling, banyak satu persatu parabot dari dalam rumah telah dikelas dan tersusun rapi dalam peti, ada juga beberapa karung besar yang sudah terikat.


"Ini adalah perjalanan penting, aku sendiri tidak tau kapan aku bisa kembali, karena itu aku juga berniat untuk menitipkan rumah kesayangan ku ini pada mu!"


"Aku bisa saja memberi mu izin, tapi tugasku hanyalah sebagai penanggung jawab, aku tidak yakin jika kepala penerbit akan setuju dengan permintaan mu yang satu ini" saat mereka sedang berbicara serius, aku hanya bisa mengamati pembicaraan mereka dengan diam, Kazuo tetap meyakinkan Vider untuk mengizinkannya melakukan perjalanan ini dan menghiraukan semua peringatan yang diberikan Vider.


"Bagamana kalau begini, kirimkan saja pekerjaan kakak sesuai dengan jadwal yang sudah ditentukan, dengan begitu kau tetap bisa pergi dan pekerjaan mu juga selesai!" Untuk beberapa alasan aku merasa penasaran dan ikut masuk ke dalam pembicaraan mereka.


"Memangnya berapa lama sampai tenggang waktunya berakhir" tanya ku, "buku pertamanya sudah laku keras sejak diterbitkan tiga bulan yang lalu, masih ada banyak waktu sampai kami memutuskan untuk menerbitkan buku selanjutnya, tapi setiap penulis di kantor kami harus mengirimkan sample sebagai bahan pertimbangan, setidaknya dua kali dalam sebulan"


Setelah selesai menjawab pertanyaan ku tatapan tajam Vider mengarah kepada Kazuo.


"Jadi, apa sample itu selesai?"


"Aku tidak akan percaya dengan omong kosong seperti itu" mereka kembali bertepatan untuk beberapa lama, sampai akhirnya aku harus menjadi penengah.


"Jangan terlalu khawatir dengannya, aku yang akan mengawasi kakak ku selama perjalanan, akan kepastian dia mengirimkan samplenya satu minggu sebelum tenggang waktunya tiba" ucapku dengan nada yang penuh dengan kepercayaan diri.


"Kau juga mengajak adik mu?" Tanya Vider


"Tentu saja dia ikut, mana mungkin aku meninggalkannya sendirian disini, apa lagi kami baru saja bertemu setalah sekian lama"


Vider mengerutkan dahinya dan berfikir keras.


"Kurasa itu bisa membujuk kepala penerbit, kalian bisa pergi setelah surat perizinan resmi keluar"


Kazuo yang merasa lega tidak bisa menyembunyikan ekspresinya yang senang.


"Untunglah aku tidak mengajukan pergantian penanggung jawab, aku akan sangat kerepotan jika menggantikan mu dengan orang lain"


"Tunggu!,apa?" Begitulah perdebatan mereka selesai, dengan kemenangan Kazuo untuk sementara, kami masih harus menunggu surat perizinan yang dimaksudkan Vider, dan sampai saat itu tiba akan memerlukan waktu yang cukup sedikit lama.


...****************...


Posisi matahari sekarang tepat berada di atas kepala ku, udara hari ini terasa lebih panas dari oalah kemarin angin sepoi sepoi yang lewat membuat ku merasa nyaman dan segar. Hari ini sudah lewat satu minggu sejak Vider mengunjungi kami dan memarahi Kazuo dengan tanpa ampun. Masih belum ada kabar lebih lanjut darinya mengenai pengizinan Kazuo pergi ke ibu kota, kami sudah selesai berkemas sejak beberapa hari yang lalu, tinggal menunggu hasil dan kami bisa langsung berangkat. Aku harap semuanya sepadan dengan semua kesulitan ku saat ingin mengambil barang yang sudah tersimpan rapi dalam kotak dan karung, Kazuo tidak ingin membongkarnya lagi karena dia ingin semuanya suap saat surat itu sampai, aku juga pernah membujuknya untuk membongkar semuanya tapi dia malah berkata,


"Tenang saja aku yakin, Vider bisa mengatasi kepala penerbit yang kolot itu, lagi pula aku juga tidak akan bisa dipecat hanya karena permintaan kecil ini, karena baginya aku adalah sebuah tambang emas" dia mengatakan itu dengan tanpa beban di lidahnya.


"Baiklah dua ekor ikan patin siap di bungkus" seorang penjual memberikan ku ikan yang dibungkuskan dengan kertas. "Terima kasih!" setelah membayar, aku memasukkannya kedalam keranjang dan bergegas pergi ke kios selanjutnya. Kali ini aku mendapatkan tugas untuk berbelanja bahan masakan makan malam, aku dapat beradaptasi lebih cepat dari yang aku perkirakan. Bahkan sekarang para penjual pasar mulai mengenal ku dan berbicara dengan lebih santai.


"Oh dik Serena!", sapa seorang pedagang, "hari ini mau beli apa?" Kios yang aku datangi kali adalah tempat yang menjual sayur sayuran "tolong bungkus seperti biasanya ya!"


"Siap laksanakan!" Tangan penjual itu menyiapkan pesananku dengan begitu cekatan "seperti biasa harganya 15 ranee" Kurang lebih seperti ini gambaran interaksi ku dengan orang orang sekitar.


Setalah semua bahan yang aku inginkan sudah ku dapatkan, sekarang waktunya aku pulang dan menyerahkan keranjang ini kepada juru masak bintang lima yang sedang menunggu di rumah. Meski aku yang membeli bahan masakan, orang yang mengurus pisau dapur adalah Kazuo, dia tidak pernah sekalipun mengizinkan ku untuk mendekati dapur.


Pernah suatu hari aku ingin membuat makan siang sendiri karena saat itu aku sedang sendirian sementara Kazuo sedang keluar dengan Vider. Saat aku melihat apa ada sesuatu yang dapat ku masak, ternyata bahan yang ada saat itu tidak terlalu banyak. Aku memutuskan untuk membuat sup jamur, aku pernah melihat mama memasaknya saat Lyra sedang sakit, dan kami sekeluarga harus memakan sup yang sama sampai Lyra sembuh.


Langkah demi langkah yang ku ingat, ku campur semua bahan yang diperlukan untuk membuat sup jamur. Baik warna dan bentuknya hasilnya sama dengan yang dimasak oleh mama, jadi tanpa fikir panjang aku mengambil sendok dan memakan sup yang ku buat. Detik selanjutnya aku tertidur di meja makan secara tiba tiba, dan saat aku terbangun matahari sudah hampir tenggelam dan Kazuo sudah berada di rumah dengan Vider. Aku rasa sejak saat itu Kazuo mulai melarangku untuk memasuki dapur.


Begitu sampai di depan pintu rumah, samar aku mendengar suara Kazuo yang sedang mengobrol dengan seseorang. "Ingatlah untuk mengirimkan sample nya satu minggu lebih awal "Baiklah tuan penanggung jawab" aku yakin sekali jika itu adalah suara Vider, sepertinya surat izin yang kami tunggu sudah tiba, dengan segera ku buka pintu dan masuk kedalam rumah "aku pulang!"