I Try To Write The Second Novel

I Try To Write The Second Novel
BAB3. "Kesialan"



Sekarang baru pukul 9.30, masih ada waktu sampai jam makan siang tiba, janji bertemu Nayla juga masih tersisa 1 jam lagi. Kurapikan piring dan gelas di atas meja lalu membawanya ke dapur, aku berniat untuk mandi dan bersiap untuk pergi ke luar, namun niat ku itu terurungkan saat melihat buku novel yang ditinggalkan adikku. Aku tak kuasa menahan rasa penasaran dan ingin segera membacanya, pada akhirnya niatan untuk mandi tergantikan dengan niat untuk kembali ke kasur dan mulai membaca.


Sebagai tindak pencegahan agar aku ingat dengan janji ku dengan Nayla, ku pasang timer selama 15 menit agar tidak terbawa suasana dan terus membaca. Seperti yang kita ketahui dimulai dari Identitas karya, nama kantor penerbit, dan nama penulisnya tertulis pada halaman pertamanya sebagai pembuka. Iseng iseng kucari nama penulis dari novel yang terkenal ini, di buku itu hanya tertuliskan "K.K" pikiran ku saat itu hanya menduga kalau itu adalah inisial dari nama sang penulis.


Aku sendiri tidak terlalu peduli dengan namanya, hanya saja setelah berita bahwa K.K menghilang sudah membuat banyak orang merasa sedih, kecewa, marah di saat yang bersamaan. Bahkan temanku sendiri juga termasuk dalam salah satunya.


Halaman selanjutnya adalah awal dari ceritanya, pembukaan yang dimulai dengan adegan berlari di bawah hujan, dan mencari tempat untuk menyembunyikan tokoh utama. Clive Giraly adalah nama dari tokoh utama "Kunci Yggdrasil" digambarkan sebagai, anak di luar nikah seorang bangsawan dan rakyat biasa yang saling jatuh hati. Tapi sepertinya Author tidak ingin membuat karakternya memiliki masa lalu yang indah.


Ayah Clive dikabarkan meninggal saat melakukan pembasmian di perbatasan, sementara ibunya meninggal 1 bulan setelah melahirkan. Dan akhirnya Clive di asuh oleh sepasang lansia yang merupakan tetangga ibunya. Beruntung ayahnya sudah memikirkan nasib Clive di masa depan, setelah mengetahui bahwa wanita yang dicintainya mengandung anaknya, dia langsung menyiapkan banyak hal, salah satunya adalah sebuah rumah yang jauh dari ibu kota. Hal itu bertujuan untuk menjauhkan Clive dari keluarganya, orang tua ayah Clive sangat menentang hubungan anak mereka yang merupakan putra sulung dari seorang Marquise menjalin hubungan dengan wanita kelas rendah yang tidak jelas asal usulnya.


Dari situ tokoh Clive terus mengalami perkembangan, menemuakan takdir hidupnya, bertemu dengan rekan yang menjadi sahabat, sosok yang tidak diduga, semakin banyak teka teki yang saling berhubungan.


Pip..pip..pip..pip..pip..pip..


Tanpa ku sadari 15 menit telah berlalu, timer yang ku pasang di ponselku berbunyi, tanda kalau aku harus berhenti membaca. Ku lipat halaman buku itu sebagai penanda bagain yang sudah ku baca, dalam 15 menit aku hanya membaca sampai Bab.6 dan itu belum sampai pada konfliknya, melihat seberapa tebal buku ini kurasa baru akan selesai setelah dua sampai tiga hari. Aku beranjak dari tempat tidur dan bergegas untuk mandi.


________________


Aku dan Nyala bertemu ditempat yang sering kami kunjungi saat masih kuliah, letaknya tak jauh dari rumah ku hanya saja jalan menuju tempat itu harus melewati gang sepi. Daerah kawasan rumah ku memang termasuk dalam kategori aman, meski begitu tentu saja masih ada rasa was-was dan rasa tidak aman.


Hanya perlu waktu 5 menit dari rumahku dengan jalan kaki dan tempat yang ku maksud adalah angkringan, tempat nongkrong paling seru di sekitar rumah, ditambah angkringan ini dekat dengan kos- kosan para mahasiswa dan anak-anak lainnya, karena itu tempat ini selalu saja ramai, baik malam maupun siang hari. Saat aku sampai di sana, ku lihat Nayla sudah sampai lebih dulu, sepertinya masih belum banyak pengunjung di jam segini, Nayla yang menyadari kedatangan ku langsung melambaikan tangan memanggil ku.


"En..!disini!" Terliahat sudah ada beberapa hidangan di depan Nayla, kurasa dia bosan menunggu dan memesan lebih dulu. "Cepet banget sampenya?" "rasa stres ku udah nggak sanggup nunggu lama- lama, aku langsung ke sini 10 menit setelah mengirimimu pesan" tanapa basa basi lagi aku langsung mengajukan pertanyaan inti "Jadi kau mau curhat apa?" Tanya ku, maksudku apalagi yang akan dilakukannya selain berbicara panjang lebar saat sedang stres dan lagi aku sangat tau apa yang akan dicurhatkannya.


"Buku kedua Kunci Yggdrasil ditunda **" Penundaan buku itu benar benar membuatnya terkejut, aku yang baru saja mulai membaca juga cukup merasa terkejut. "Bicara soal novel, aku meminjam buku Lyra dan membacanya" seketika wajah Nayla yang tertekuk langsung berubah 180°, wajahnya seakan berkata "akhirnya temanku terhasut" seperti itu. Sudah lama sejak dia menerorku untuk membaca buku itu, sesekali membahagiakan sahabat sendiri tidak ada salahnyakan.


"Jadi udah baca Sampai mana?" Dia menyodorkan wajahnya dengan mata yang berbinar binar, aku bahkan berhalusinasi melihat bintang di matanya. Kudorong wajahnya itu dan menjawab "baru juga mulai bab 6 kalo nggak salah"


" kalo bab 6 berarti masih belum ketemu Auster dan Sora ya?" Aku mengangguk kecil "bagian awal bukunya emang bikin pusing jadi kadang harus buat teori sendiri sampai pertengahan" "tapi berkat semua spoiler yang ku dengar dari seseorang, aku bisa langsung paham alurnya dengan mudah" Nayla hanya tertawa mendengar ucapan ku, karena itu memang benar, kalau bukan berkat semua ocehannya menurutmu akan sulit untuk bisa membaca sampai bab 6 hanya dengan 15 menit.


Tidak sperti Nayla aku belum mendapatkan pekerjaan sejak lulus beberapa bulan lalu, bukan berarti aku tidak mencari pekerjaan atau apa, karena aku sudah mengirimkan surat lamaran kerja di beberapa tempat, sekarang aku hanya sedang menunggu hasilnya. Aku bahkan sering di panggil mahasiswa salah jurusan yang tekun mengerjakan tugas..


"Jadi kita harus kemana dulu?" Tanya nya


"Seperti kata ku, kita akan membeli beberapa nasi kotak!" "Kenapa nggak pesan online aja?" Dia bertanya lagi.


"Mama, lebih suka aku beli sendiri,biar hemat katanya" nayla tidak langsung menanggapi, sekilas wajah nya terlihat berfikir dan berkata "bukannya itu malah makin buang buang energi ya, plus uang juga?" Aku hanya mengangkat bahu mendengar perkataannya.


Dari angkringan kami langsung berjalan menuju jalan besar dan tentu saja sama halnya saat ingin berangkat, kami harus melewati gang kecil sebelum mencapai jalan besar. Aku mengeluarkan ponselku untuk menghubungi mama,baku belum sempat mengatakan kalau Nayla juga akan ikut dengan ku menuju bakery, dan saat itu juga aku tiba tiba merasakan ada sesuatu yang melewati ku dengan cepat. Meski sempat terdiam tapi aku langsung menyadari kalau tanganku tidak lagi memegang ponsel.


Nayla yang masih mematung sama sekali belum bisa mencerna situasi ini, dengan cepat aku berbalik dan melihat seorang mencurigakan berlari dengan cepat, dan jelas sekali jika tangannya sedang menggenggam ponsel milikku, tanpa pikir panjang aku langsung mengejar poncopet itu, kupacu kaki ku agar berlari lebih cepat sampai akhirnya aku berhasil mendahuluinya. Sesaat kulihat mata pencopet itu seakan tidak percaya dan reflek melangkah mundur.


Dengan sigap ku ambil posisi dan meluncurkan sebuah tendangan tepat mengenai perut pencopet itu. Dengan sekuat tenaga, aku membuatnya tersungkur cukup jauh, tanpa sengaja ponselku juga ikut terlempar bersamanya. Beruntung ponselku tidak sampai masuk ke dalam selokan, yang tepat berada di sebelahnya. Kuhampiri pencopet itu dan menginjak punggung nya agar dia tidak bisa kabur.


"Sepertinya kau mencopet orang yang salah pak!" Nayla yang sedari tadi hanya melihat langsung berlari menghampiri ku.


"Ku kira ilmu dari sabuk hitam sudah berkarat En" seakan mengejek, dia mengatakan itu sambil tertawa kecil.


Saat mendengar kalimat sabuk hitam, pencopet itu langsung berkeringat dingin, dengan sekuat tenaga dia berhasil berdiri dan akhirnya berlari menjauhi kami.


"Langsung kabur dong!" Ucap nayla, sambil mengembalikan ponselku


"Copet sialan!!, layar ponselku jadi retak !" Aku menggerutu dengan sebal "mending retak dari pada hilang kan" "iya sih, uangku juga nggak disentuh sama sekali".


Karena tidak mau berada disana lebih lama, kami langsung pergi menuju tempat penjual nasi kotak. Seakan tidak pernah ada kejadian pencopetan kami sampai di bakery dengan tenang.