
Begitu aku masuk pandangan keduanya langsung tertuju pada ku, "Selamat datang kembali, sudah selesai berbelanja?" Kazuo beranjak dari kursi dan menghampiri ku, "aku dapat semuanya, tapi mereka kehabisan daun bawang" dia mengambil keranjang balanjaan yang ku bawa, "tidak masalah ini sudah cukup" Begitu belanja itu ada ditangannya dia pergi ke dapur untuk menyimpannya.
"Hai Vider !" Dia menjawab sapaan ku dengan lambaian kecil dan senyuman ramah, "keluar untuk berbelanja?"
"Iya!, jika bukan aku yang pergi maka aku yang harus memasak" candaan yang ku lontarkan membuat Vider memundurkan langkah kaki "Kurasa akan lebih aman jika itu tidak terjadi" gumam Vider. kami duduk di kursi yang ada di ruang tengah sembari menunggu Kazuo selesai meletakkan belanjaan ku tadi.
"Jahatnya, setidaknya aku tidak menghanguskan panci atau membakar dapur"
"Omong-omong aku sempat mendengar pembicaraan kalian, apa surat perizinannya sudah keluar?" Tanya ku memastikan, "kau akan terkejut En!!, kita akan berangkat besok!" Tiba tiba saja Kazuo berteriak di belakang ku dan membuatku terkejut, sesaat aku merasa diriku akan jatuh tapi dapat ku cegah karena memegangi meja dengan kuat.
"Aku yang terkejut disini dasar kakak payah!" Ku arahkan kepalan tangan ku meluncur ke wajahnya dan membuatnya tersungkur di lantai. BRUUUK...!!
"Fuh, itu belum seluruh kemampuan ku" Vider yang melihat hanya bisa terdiam dan membantu Kazuo untuk berdiri, di saat yang bersamaan darah mengalir dari hidung Kazuo, sepertinya pembuluh darah di hidungnya pecah saat terkena pukulan tangan ku.
"K-kau memisahkan!," Vider berteriak
" Apa ini?,Se-sepertinya aku me-melihat cahaya dari langit!" Suara Kazuo terdengar begitu pelan dan bergetar, membuat Vider menjadi semakin panik.
"Jangan mebuat orang lain khawatir bodoh" kutarik kursi agar lebih mudah untuk membuatnya duduk.
"Ingatlah, aku tidak akan sebaik ini lain kali" begitu Kazuo terduduk di kursi, kubersihkan darah di hidungnya dengan sapu tangan milik ku.
"Apa itu artinya aku dimaafkan?" Kazuo kembali dalam keadaan normalnya dan memberikan ku tatapan jahil yang menyebalkan. "Tidak!, sama sekali justru ini adalah sebuah peringatan" ku injak kakinya dan kembali duduk di kursi ku tadi. "Entah aku harus mengatakan kalian akur atau tidak, aku sudah kehabisan kata kata" Vider yang sedari tadi hanya menyimak, hanya bisa melihat kami berdua dengan wajah terheran heran.
"Sampai dimana kita tadi?" pembicaraan pun kembali berlanjut, "kita akan berangkat besok pagi pagi sekali" Kazuo yang menjawab pertanyaan ku "berterima kasih lah, kau taukan seberapa kolot kepala penerbit di kantor kita" Kazuo menyodorkan sepucuk surat dan memasang wajah bangga.
"Akan lebih baik, jika kau berbicara seperti itu tepat didepan wajahnya yang seperti tikus itu" Ucap kazuo
"Ya!ya!ya!, akan aku lakukan itu saat aku pensiun nanti" jawab Vider. Aku mungkin tidak tau bagaimana cara kerja dari pekerjaan merek berdua tapi, satu hal yang pasti jika kalimat yang di ucapkan Vider adalah serius, kalian akan langsung tau begitu melihat sorot matanya yang dipersempit.
"Lihat waktunya, aku harus pergi sekarang!"
"Eh !, mau pulang sekarang, ini bahkan belum jam makan siang" aku menawarkan Vider untuk menunggu sebentar dan ikut makan siang bersama kami, sayangnya dia tetap menolak dan bersikeras untuk pergi. "Berbeda dengan kakak mu aku ini orang yang sangat sibuk"
"Hey!, apa maksudnya itu?!"
"Nikmati liburan kalian!, jangan lupa udah tangan untuk ku saat kalian kembali nanti" Setelah itu Vider berjalan menuju pintu keluar, saat dia membuka pintu langkah kakinya berhenti untuk beberapa saat, ternyata ada seseorang yang berdiri di luar pintu rumah. Dia adalah seorang nenek tua dengan sebuah tongkat kayu di tangannya, "...!!, nenek Irene!" Dari reaksi Vider, sepertinya mereka saling mengenal, dia membukakan jalan untuk nenek itu dan langsung pergi setalah menyapanya "silahkan!"
Pintu tertutup, hanya tersisa aku, Kazuo, dan orang yang Vkder panggil dengan sebutan nenek Irene itu, aku mencoba menatap Kazuo untuk meminta jawaban darinya. Aku tidak pernah melihat sosok nenek irene saat sedang berbelanja di pasar, atau mendengar namanya saat membaca novel, aku sama sekali tidak tau siapa dia. "....., ne-nek Irene!" Aku mencoba untuk memanggilnya untuk memastikan.
"En, dia itu Arina" kalimat yang di ucapkan Kazuo, bagaikan petir yang menyambar di tengah hari.
"Lama tidak berjumpa, Tuan K.K" nenek itu membungkukkan badan dengan hormat ke arah Kazuo, nada bicara yang tidak asing dan caranya memanggil Kazuo dengan sebutan K.K membuatku yakin jika di adalah Arina yang aku kenal.
"Senang bertemu dengan dengan mu lagi Arina"
"Mohon maaf tapi tolong panggil saya dengan sebutan, nenek Irene dalam wujud seperti ini" mohon nenek Irene dengan hormat, dia kembali menegakkan badannya dan kembali menatap ku, Kazuo yang langsung memahami kebingungan ku lalu menjelaskan semuanya.
Nenek Irene atau lebih tepatnya Arina adalah salah satu tokoh penting dalam Novel, setelah buku pertama selesai Arina sama sekali belum pernah menemui pemeran utama yang lain secara langsung, itu semua karena dia sedang mengabdikan diri pada tuanya K.K , belum lagi fakta jika Kazuo berasal dari dunia lain membuat rasa ingin tau Arina meluap lebih dari pada biasanya, oleh karena itu khusus untuk nenek Irene adalah wujud yang dipakai Arina agar dapat bertemu dengan Kazuo secara langsung. Kazuo juga pernah pernah mengatakan jika toko barang antik yang pernah ku kunjungi dulu adalah kepunyaan seorang nenek tua, sekarang sudah jelas siapa orang yang dimaksudkannya. Nenek Irene sendiri cukup sering mengunjungi rumah ini, jadi tidak heran jika Vider juga mengenalnya.
pembicaraan kami langsung menuju pada intinya begitu Kazuo selesai menjelaskan keadaannya padaku.
"Aku mendengar kabar jika kalian sudah akan berangkat ke ibu kota" meskipun sosok yang ada di hadapanku adalah Arina, saat dia memakai sosok nenek Irene akan membuatnya bertingkah selayaknya nenek Irene, seakan tidak pernah ada Arina yang bersemangat dengan keinginan tahuan tinggi.
"Sekarang adalah waktu yang tepat bagi kalian untuk menerima peran masing-masing" Ucap Nenek Irene.
"Kali ini aku tidak akan berbicara setengah setengah seperti biasanya, tapi juga tidak akan mengulangi untuk kedua kalinya, kalian berdua dengarkan aku baik baik"
"Entah kenapa aura dewinya lebih terlihat dalam sosok nenek Irene" ku halau pemikiran tidak berguna itu dan kembali fokus pada pembicaraan.
"Lanjutan dari buku kedua Kunci Yggdrasil akan segera di mulai, kalian berdua akan menjadi salah satu dari roda penggerak kehidupan dunia ini" perkataan nenek Irene membuat beberapa pertanyaan ku terjawab, tapi aku masih merasakan ada sesuatu yang mengganjal dan tidak aku mengerti. "Apakah hal ini memang harus aku yang melakukannya, maksudku kenapa harus aku, jika itu adalah Kazuo aku masih bisa memahaminya sedangkan aku, buku novelnya saja baru aku baca satu kali!" Kali ini aku harus mendapatkan jawabannya secara langsung.
"Pandai memasak tidak harus menjadi koki, menjadi seniman tidak harus hanya dengan menggambar, itulah perumpamaan yang bisa aku simpul kan, tidak peduli siapa dan apa, tidak harus ada alasan khusus untuk memilih orang yang spesial, aku yakin jika kau Serena adalah orang yang tepat untuk memenuhi peran ini"
"Bagaimana kau bisa seyakin itu" Tanya ku lagi, "percayalah aku bisa melihatnya dengan jelas, apa aku sudah menjawab pertanyaan mu?" Aku hanya bisa menggeleng kan kepala dengan pelan. Nenek Irene hanya memberikan senyuman hangat dan menjelaskan lagi pada ku.
"Semua manusia memiliki buku kehidupannya sendiri, selama belum mencapai titik buku itu akan terus tertimpa tinta dan tergores pena, yang artinya kehidupan mereka juga akan berlanjut lalu diantara celah koma dan titik itu kau pasti menemukan jawabannya sendiri"
penjelasan Nenek Irene justru membuatku semakin membuatku tidak mengerti, dari sudut pandang ku dia hanya membolak balik kalimat dan membuatnya terlihat masuk akal.
"Singkatnya, kalian dewa dan dewi di dunia ini menentukan sesuatu dengan seenaknya sendiri siapa yang akan mereka jadikan pion dalam papan catur" Kazuo yang sedari tadi hanya terdiam tiba tiba saja mennyerobot dan memotong pembicaraan ku dengan nenek Irene, aku juga merasa jika nenek Irene tidak akan memberi taukan maksud dari kalimatnya barusan, mungkin pertanyaan ku akan terjawab jika aku berada di sini lebih lama.
"Baiklah ku akui, aku akan sudah mulai terbiasa disini sampai sampai aku melupakan rasa nyaman menonton televisi pagi,i nternet, dan juga ponsel. Lagi pula aku masih belum tau bagaimana caranya untuk kembali. Kurasa tidak ada salahnya menghabiskan waktu dengan mencari masalah dengan orang lain" lagi-lagi nenek Irene hanya menanggapi ku dengan senyuman.
"Akan aku lanjutkan, Serena kau ingat ada tiga hal yang aku sampaikan saat kita pertama kali bertemu" begitu kalimat nenek Irene selesai aku mencoba untuk fokus dan mengingat kejadian saat itu.
"Pertama kunci yang kau berikan padaku, lalu permintaan mu pada kami dan..."
"Dan yang terakhir akan aku sampaikan saat persiapkan kalian selesai"
Senyuman hangat nenek Irene berubah menjadi seringai yang misterius. "Benar aku belum menyampaikan satu hal lagi pada kalian, terimalah hadiah kecil dari ku ini!"