I Try To Write The Second Novel

I Try To Write The Second Novel
BAB1. "Tertarik"



"Kunci Yggdrasil" judul dari novel best seller yang sedang ramai dibicarakan beberapa tahun terakhir, ditambah lagi novel ini jadi semakin ramai dibicarakan sejak pengumuman sekuel kedua dari buku ini akan segera terbit,bersamaan dengan adaptasi film untuk buku pertama.


Berita itu disambut dengan baik oleh para penggemarnya, dan itulah yang sedang aku dengarkan sekarang.


Entah berapa lama, tapi mulut temanku Nayla tidak bisa berhenti membicarakan tentang novel itu, bahkan sekalipun aku memasang wajah tidak tertarik sama sekali tidak mengurungkan niatnya untuk diam.


"Jadi saat nenek Arina muncul itu adalah bagian terbaiknya" dia terus saja mengoceh seperti itu, memberitahu ku tentang potongan-potongan adegan yang dia baca


Sampai akhirnya pesanan yang kami pesan sampai, pelayan yang membawa nampan dengan dua gelas dalgona dan makanan ringan kami waktu itu, terlihat seperti seorang pahlawan dimataku, karenanya Nayla yang dari tadi mengoceh akhirnya terdiam.


" Udah Nay!" Ucapku dengan memasang wajah lelah, berharap dia sadar bahwa aku tidak peduli.


" Kenapa?" Tanya nya


" nggak bosen apa ngomongin novel terus?"


" kenapa harus bosan!!" Jawbanya dengan begitu mudah


" justru aku sedang senang senangnya, berita tentang sekuel kedua dan adaptasi film, membuatku cukup bersemangat".


Kuteguk minuman ku dan memperhatikan sahabatku ini diantara celah cangkir yang ku munum, setiap kali dia menyebutkan novel itu matanya akan melebar dan bersinar, benar- benar terlihat seperti penggemar sejati kurasa .


" gimana kalau kita nonton bareng, maksudku nonton adaptasi filmnya nanti ?" Tanya Nayla dengan meminum segelas dalgona yang ia pesan.


" nggak kamu ajak juga aku pasti akan nonton, adikku juga penggemar berat novel itu"


"Se-seruis??" Ucapnya tidak percaya, matanya terbelalak seakan baru saja mendengar berita besar.


" padahal adikmu seleranya bagus, kenapa kamu enggak?"


Aku mengerutkan dahi " terserah !" Ku abaikan dia dan fokus pada minumanku, lagi pula tidak semua orang suka membaca novel, ditambah sekarang aku sedang fokus untuk mencari pekerjaan, karena aku baru saja menyelesaikan study ku 3 bulan yang lalu.


KLING...KLING....


Suara dari bel pintu kedai terdengar dari bangku yang kami dudukki, tanda adanya pelanggan yang datang. Seorang pria dengan tubuh tinggi dan kacamata, dengan rambut yang sedikit acak acakan berjalan menghampiri meja kami


" Sorry!, aku nggak terlambat kan?" Pria ini tidak lain adalah Tora, temanku saat di Universitas dan pacar dari sahabatku Nayla.


"Nggak kok" jawab Nayla


" lebih tepatnya, kau membuat es di minumanku mencair!" Jawabku spontan


Tora kemudian duduk dan memanggil pelayan


" Jadi En apa aku membuat kesalahan, sambutan mu barusan cukup menusuk untuk orang yang terjebak macet?!"


Berbeda dengan Nayla yang selalu mengabaikan reaksi orang lain, Tora selalu mengartikan apa yang di ucapakan orang lain. Mungkin baginya kalimat barusan terdengar seperti ini


" kau membuat kami menunggu lama payah"


"Bukan kesalahan, hanya saja aku ingin kau menutup mulut bocah ini!" Tanpa ku katanya pun dia akan mengetik maksudku


"memangnya apa yang Nayla katakan, saat aku masuk tadi aku melihat kalin hanya minum dengan tenang"


" hah?" Aku sangat tau dia mengerti maksudku, tapi hal inilah yang tidak aku suka darinya.


Bahkan saat Nayla mengenalkannya sebagai pacar dulu, aku memiliki firasat buruk, karena kami satu jurusan hanya saja beda angkatan. Aku bahkan pernah mendengar rumoh kalau dia bersaing nilai dengan anak yang berbeda jurusan. Terkadang aku dan Nayla seperti melihat pertandingan anak sekolah dasar yang memperebutkan peringkat pertama.


" sebaiknya kau jangan membuat Serena marah dulu Tora, karena akh sudah menjahilinya cukup lama sebelum kau sampai:^"


" itu baru pacarku"


Dan hal ini yang membuat kekhawatiran ku hilang, karena mereka bukan hanya saling melengkapi tapi juga satu frekuensi. Mereka sering menjahiliku dan melakukan tos kemenangan di hadapanku langsung, seakan mereka baru saja selesai mendaki puncak gunung kebahagiaan atau lebih tepatnya puncak kemarahanku dan tertawa dengan senangnya.


Ku ambil garbu dari piring camilan dan menunjukannya ke arah mereka berdua " sepertinya kalian sudah bosan melihat matahari terbit "


" wow...wow tenang En, kami cuma bercanda Tora cepat minta maaf"


" Sorry kalau kami keterlaluan, tapi kami hanya bercanda serius"


Saat itu pelayanan yang dipanggil Tora datang untuk menanyakan pesanan, kuletakkan kembali garbu itu di atas piring. Aku kembali duduk dan meminum minumanku lagi.


"Memangnya, kamu membiarkan apa sampai Serena bisa seperti itu?"


" tidak banyak, aku hanya memberitahu tentang *Kunci Yggdrasil * "


" tentu saja tidak banyak , karena kau tidak membiarkanku berbicara dan terus bercerita" bantah ku, karena itu memang benar.


" Kunci Yggdrasil yang itu?" Ia mengulangi perkataan Nayla memastikan


" jangan bilang kau baca novel itu juga Tora?" tanyaku bingung.maksudku seorang Tora membaca novel, jika itu beneran sekalipun hanya ada satu alasan


" tentu saja, sama sepertinya Nayla juga sering membicarakan Novel itu saat besamaku"


Dan alasannya sudah pasti Nayla


" haaaah... aku mengerti perasaan itu!"


" hay kenapa kalian hanya akrab disaat seperti ini"


" meski begitu novelnya memang bagus 8/10 kurasa"


Jika boleh jujur, selama ini aku yang mendengarkan dia bercerita tentang novel ini mulai membuatku tertarik. Saat dia bercerita dengan semangatnya, membuatku berfikir, apakah memang se seru itu??.


Dulu aku mungkin menolak jika di rekomendasikan buku novel atau sejenisnya, karena aku saat itu sedang sangat disibukkan dengan tugas dan juga skripsi.


Kurasa tidak da salahnya jika sekarang aku meluangkan waktu untuk bersantai.


" ada yang inginkan tanyakan, sejauh yang aku dengar bukankah isi cerita novel itu,emmmm.... kau tau cukup klasik?, tapi kenapa bisa seterkenal itu"


" hooooo ada yang mulai tertarik hehe" Nayla menjawabku dengan memasang wajah jahil nya


" kau tau kan hal penting apa yang diperlukan novel romansa"


"Dan kau tau aku sangat jarang membaca novel"


" jawabannya pastilah tokoh utama pria dan wanita yang menjalani ceritanya"


" di buku *Kunci Yggdrasil*, gambaran tentang tokoh utama wanita masih belum ada, atau bahkan tidak akan pernah ada"


Tora pun ikut menjawab pertanyaan ku , kurasa dia benar benar ikut membaca buku itu


" ku kira itu buku dengan genre Action?" Karena selama ini Nayla hanya menceritakan tentang petualangan dan penyerangan.


" mungkin lebih ke arah fantasi kurasa" jawab nayla


" dan lagi siapa yang tidak penasaran dari cerita yang memiliki akhir menggantung" ucapan Tora memang masuk akal.


Bahkan kurasa penulis dari *Kunci Yggdrasil* adalah sarjana jurusan bisnis, dia tau apa yang diinginkan pembaca dan mengambil kesempatan darinya. Mengingat ending yang menggantung adalah alasan seseorang ingin melihat lanjutan ceritanya.


Kok...kok.....kok....kok....


Bel pada jam kedai berbunyi, reflek aku menoleh dan melihatnya, sekarang jarum pada jam itu menunjukkan pukul 16.00 . Dan saat aku melihat keluar dari jendela, cahaya matahari yang tadinya bersinar kini mulai tenggelam.


Kumasukkan ponsel ku ke dalam tas beranjak pergi.


" ku rasa aku harus pulang sekarang, jam segini Lyra pasti sudah pulang"


" hati hati di jalan" Nayla pun melambangkan tangan tapi sebelum itu


" omong omong, Bill milik ku semuanya 65.K, terima kasih atas traktiranya Tora"


" tunggu apa?" Selesai mengatakannya aku langsung buru buru pergi keluar dan pulang kerumah.


Waktu berjalan dan matahari pun terbenam, pada jam terlihat jarum yang menunjuk ke arah angka delapan. Setelah makan malam, aku beristirahat di ruang tengah sambil menonton televisi dari atas sofa. Adikku Lyra mengerjakan pekerjaan rumahnya sambil menonton televisi juga bersamaku.Usia kami berjarak sekitar 6 tahun, dan tahun ini di duduk di bangku kelas 10 Sekolah Menengah Atas.


Tidak ada siapapun dirumah selain kami berdua, terutama saat malam hari. Ayah kami telah meninggal sekitar tiga tahun yang lalu karena penyakit yang ia derita, sejak saat itu mama lah yang bekerja untuk kehidupan keluarga.


Setiap hari dia disibukkan dengan pekerjaan di bakery, biasanya mama akan pulang sekitar jam sembilan malam. Meskipun demikian mama sering meluangkan waktunya untuk pulang dan menyiapkan makan malam, tentu saja tidak hanya memasak, mama lebih suka makan bersama kami di rumah.


Karenanya meskipun kami jarang berkumpul makan malam akan selalu membuat kami menjadi seperti sebuah keluarga pada umumnya.