I Try To Write The Second Novel

I Try To Write The Second Novel
BAB11. " Tokoh Figuran "



Setelah kami berbincang untuk beberapa saat, Vider meninggalkan kami setalah puas menjahili Kazuo sampai dia pingsan dan mengeluarkan busa dari mulutnya. "Hey aku tidak pernah ingat ada tokoh bernama Vider dalam novel" Kazuo langsung memahami maksud dari pertanyaan ku "itu karena di bukan termasuk dalam pemeran utama ataupun pameran pembantu, dia itu figuran diantara figuran".samar aku merasakan jika dia sedikit enggan untuk membicarakan ini.


Mungkin bagi ku ataupun Kazuo dunia yang kami tempati sekarang hanyalah sebuah cerita kompleks yang dibukukan menjadi novel, tidak lebih dan tidak kurang.


Tapi bagi semua penduduk disini dunia mereka adalah suatu hal paling nyata yang mereka percaya. Bisa saja di antara mereka ada yang menganggap dunia asal ku adalah alam yang tidak pernah ada. Yang menjadi pembedahan di antara keduanya adalah dunia ini memiliki beberapa orang spesial yang sering kali kita sebut sebagai tokoh utama cerita.


Dalam kisah Kunci Yggdrasil buku pertama setidaknya ada lima orang yang dipastikan menjadi pemeran utamanya. Selain itu juga ada beberapa tokoh pendukung lainnya yang membantu mereka dari balik layar, tidak lupa juga para Villaine yang akan memberi mereka rintangan baik secara langsung ataupun dengan bersembunyi di balik topeng. Karena mereka yang menjalankan roda kehidupan di negeri ini, maka sisanya hanyalah pemanis agar cerita itu tampak lebih hidup. Jabatan pemeran sampingan itu tidak akan pernah lepas seumur hidup mereka.


"Entah kenapa rasanya menyediakan!" Pemikiran ku barusan terucap begitu saja di mulut, tapi memang diriku sendiri juga merasa demikian.


"Menurut mu begitu!" Jawab Kazuo


"Aku justru bersyukur jika orang yang ku kenal seperti Vider adalah pemeran figuran, aku jadi tidak harus menyiksanya dengan urusan alur cerita. Karena jika seorang memiliki peran penting dalam suatu cerita maka semua tindakannya sudah ditentukan oleh si penulis. Bahkan jika ada hal yang seharusnya bisa ditangani dengan mudah, saat tangan penulis berkata lain maka hal terburuk sekalipun akan terjadi."


Untuk beberapa saat aku menatapnya dengan mata penuh dengan rasa yang aneh yang tidak bisa ku jelaskan. "Kau tau perkataan mu barusan seakan mengatakan kau adalah tuhan"


"Memang benar!" Dia mengatakan itu dengan sangat percaya diri.


"Setidakanya di tempat ini, apa aku salah?" Aku mengangguk faham, pada dasarnya memang dia yang menulis dasar dari dunia ini itu sama hal nya dengan campur tangan sang Pencipta sendiri. "Eh?" Sesaat aku merasa familiar dengan perkataan ku sendiri. "Kalau tidak salah sebelum aku terbangun dari pingsan aku pernah mendengar pembahasan seperti ini"


Kazuo yang mendengar gumaman ku menelengkan kepala dengan bingung "kau mengatakan sesuatu?"


"Iya, sesuatu yang berhubungan dengan kata Pencipta" aku berusaha untuk mengingat kembali hal yang kulupakan itu. "Wahai atma sang Pengembara" tanpa sadar aku menggumamkan sebuah kalimat tidak asing "Hah?" Kazuo terlihat kebingungan.


"Saat sebelum aku sadar dari pingsan aku seperti terjebak di tempat yang sangat aneh, tempat itu sangat gelap dan tidak memiliki adanya tanda kehidupan. Saat itu tiba tiba saja aku mendengar suara seseorang yang mengatakan beberapa kalimat". Aku menjelaskan kepadanya tentang situasi ku saat itu.


"Suara?, perempuan atau laki-laki?, kau ingat apa yang dikatakannya?" Aku mengerti jika dia bertanya seperti apa kalian yang aku dengar tapi, perempuan atau laki-laki untuk apa dia ingin tau tentang hal seperti itu.


"Jika ku ingat lagi sepertinya suara perempuan"


"Ck, pasti ulah nenek tua itu" samar aku mendengarkan dia bergumam, aku merasa dia tau siapa sosok dari Suara misterius itu. "Kau ingat apa yang dia katakan?"


"Kalau tidak salah seperti ini"


Wahai, Atma sang Pengembara.....!


Engkau Perwakilan Alam Semesta sang Pencipta


Yggdrasil Telah menyerukan Namamu...


Hamba sang Penjaga Akan Menjadi Pemandu Kalian


Sang Pemegang Kunci Takdir


Wahai, Atma sang Pengembara....!


Selalu ada Cahaya di Dalam Kegelapan


Selimuti Ragamu Dengan Cahaya yang Gelap Sebagai Penuntun ke Arah Jalan Pulang.


"Kurang lebih sperti itu, apa kau tau arti dari kalimat kalimat itu?"


melihat reaksinya, aku yakin dia mengetahui sesuatu.


"Baris kedua dari kalimat yang kau ucapkan, bukankah itu merujuk ke arah kita berdua" ku amati kembali baris ke dua yang dia maksud.


Engkau Perwakilan Alam Semesta sang Pencipta.


Engkau yang dimaksud disini pasti aku, lalu sang Pencipta yang dia sebutkan, kurasa itu merujuk ke arah Kazuo. Jika memang itu yang di maksud maka kalimat itu bisa diartikan seperti ini, aku adalah orang yang berasal dari dunia yang sama dengan Kazuo.


"Oooh!, benar ternyata, aku tidak tau kau bisa sebegitu pintar seperti ini" ucapku sambil tertawa kecil, wajah sombongnya setelah melihat ucapan kagum ku langsung berbalik 180°, sekarang dia terlihat seperti anak kecil yang marajuk karena tidak mendapat bintang setalah berbuat baik.


"Dari pengalaman pribadi ku, seorang adik selalu saja menganggap kakaknya adalah orang yang sangat bodoh dan tidak peka, aku hanya mendalami peran ku itu" kalimat yang baru saja ku katakan, aku ambil dari sudut pandang adikku Lyra. Padahal dirinya sendiri masih kekanak kanakan, ceroboh , dan juga pemalas.


"pengalaman pribadi, kau punya adik?" Aku mengangguk "satu adik perempuan"


"Aku tidak terlalu tau rasanya memiliki saudara, anggap saja aku sebagi anak tunggal yang memiliki banyak saudara sepupu"


"Serius!, padahal acting mu sangat bagus sampai Vider percaya jika kita adalah saudara" membahas acting, aku masih saja merinding dengan sikapnya saat menghadapi vider tadi.


"Itu karena aku pernah ikut club teater saat masih SMA" tidak seperti tadi reaksinya sangat datar setelah mendapat pujian, apa dia marah?, setidaknya ini sepadan dengan  rada kesal ku selama ini. "Lalu bagaimana dengan acting ku tadi" Tanya ku penasaran.


"Kalau kau, jika hanya menghadapi orang seperti Vider itu masih bagus, tapi jika kita menghadapi orang yang tidak sebidoh dia, hanya dengan kau bernafas maka kita akan ketahuan"


Saat itu aku berfikir, jika aku pernah berkata dia orang baik kutarik kembali kalimatku itu, walau aku tidak ingat pernah mengatakannya.


"Omong-omong masih ada waktu sampai malam tiba, kita harus kembali ke toko barang antik itu lagi nanti. Kau mau pergi ke suatu tempat selagi menunggu?" Aku merasa sedikit terkejut dengan  ajakannya, hanya saja rasa penasaran yang ingin tau lebih banyak tentang kota ini mendorong ku untuk memakan umpan yang lezat itu. "Kalau begitu, aku ingin mengunjungi tempat tempat yang kau sebutkan tadi padaku" api semangat ku seakan di siram dengan minyak tanah dan membutuhkan ku semakin antusias.


"Baiklah ayo berangkat!" Kami meninggal kan toko roti dan kembali menyusuri jalanan kota. Kali ini Kazuo mengajak ku untuk pergi ke daerah warga pinggiran, tempat para penduduk membeli kebutuhan pokok mereka, kami sedang menujun ke arah pasar. Begitu memasuki daerah pasar aku merasa kembali ke zaman  sekolah saat melakukan acara festival, begitu banyak stan penjual yang berisikan makanan dan minuman, lalu aksesori buatan tangan. Lalu terdapat beberapa  tali terpasang dari sudut bangunan sebalah kanan dan kiri jalan.


Pada sepanjang tali terikat bendera dengan ukuran kecil, bendera itu berwarna merah dengan aksen emas, terdapat gambar burung Elang yang melebarkan sayapnya, lalu di dadanya terdapat sebuah rantai kalung dengan liontin berbentuk bunga Aquilegia, bendera itu dapat diartikan sebagi tanda wilayah kekuasaan kekaisaran Qallegia. Selain itu bunga yang dipakai Elang sebagi liontin menjadi bunga nasional kekaisaran, bunga ini sering tumbuh di daerah pegunungan. Di novel di ceritakan jika Ratu memiliki satu istana khusus yang dikelilingi hamparan bunga Aquilegia ini, dan diwariskan turun temurun kepada Ratu berikutnya.


"Waaah tempat ini ramai sekali!" Ucap ku kagum "yang namanya pasar sudah pasti ramai bukan, ayo ikut aku!" Kami menghampiri salah satu stan yang menjual sate kelinci. Sepertinya Kazuo kenal dengan penjual di stan ini ," lama tidak bertemu Kazu, dan sekarang kau membawa seorang gadis kesini"


Meskipun penjual itu terlihat lebih tua tapi mereka berdua terlihat begitu akrab. "Apa yang kau bicarakan, dia ini adik adik ku pak tua" reaksi yang ditunjukkan penjual itu sangat mirip dengan reaksi Vider tadi, pandangannya kemudian beralih ke arah ku. "Salam kenal nama saya Serena" "Nona anda terlihat cantik sekali, sampai sampai tidak akan ada yang percaya jika kau adalah adik si bodoh ini" Ucap pedagang itu.


"Aku bisa mendengar itu pak tua!"


"Baiklah sebagai tanda perkenalan silahkan ambil ini, aku beri secara gratis" penjual itu memberikan setusuk sate kelinci yang masih panas kepadaku.aku mengambil sate yang diberikan dan langsung memakannya.


"Apa aku tidak dapat juga?" Tanya Kazuo dengan suara tinggi


"Untuk apa?, kau sudah sering datang kesini sampai aku bosan melihat wajah mu dan lagi kau masih punya hutang padaku!"penjual itu mengacungkan jempolnya dan tersenyum dengan lebar ke arah ku.


"Tidak adil aku juga mau sate kelinci gratis"


"Silahkan membayar terlebih dulu" walaupun perkataannya sering membuat orang lain merasa kesal, justru dengan hal itu Kazuo jadi mudah dalam menjalin hubungan dengan orang lain.


"bohong jika aku bilang tidak merasa takut" aku teringat kembali dengan pembicaraan kami tadi, waktu dia terbangun di dunia ini pertama kali dia tidak memiliki siapapun dan berjuang sendirian selama berbulan bulan, berbeda dengan ku yang langsung merasa lega hanya dalam waktu sehari. Dan lagi dia sampai menjadi penulis di dunia yang dia tulis sendiri itu sedikit diluar pemahaman ku.


"Kalau begitu aku ingin dua tusuk lagi"


"Dua tusuk! Kau masih belum kenyang makan kue tadi, perutmu itu tong atau apa" dengan cepat aku mukul perut Kazuo dengan sangat pelan, hanya sampai membuatnya memelototkan mata saja.


"Kau payah sekali tidak sopan menyakan seberapa banyak seorang gadis bisa menghabiskan makanan" penjual itu seakan menasihati Kazuo, tapi aku memang sedikit kesal dengan perkataannya tadi.


"Eekh beginilah susahnya menjadi kakak laki-laki yang baik" (bukan kakak asli) Ucap Kazuo sambil memegangi perutnya yang terasa sakit.


"Aku tidak tau rasanya memiliki adik, tapi itu tidak akan sebanding dengan mengasuh lima orang anak, kau tau" keluh si penjual


"itu karena kaunya saja yang berlebihan sampai tidak tau kapan harus berhenti" aku hanya terdiam mendengar pembicaraan mereka yang sedikit melenceng ke arah lain.


Setelah berkeliling pasar, Kazuo menunjukan padaku tempat tempat yang lain. Walaupun hanya sepintas melewati halaman depanya saja, tanpa kami sadari hari sudah mulai menjelang malam. Seluruh kota mulai dipenuhi dengan cahaya lentera dan juga obor. Berbeda dengan saat siang hari yang dipenuhi dengan ibu ibu yang pergi berbelanja dan bergosip, malam hari ini di seni lebih....


"Kenapa jadi banyak bapak bapak disini?" tanya ku


"Malam hari, menjadi waktu mereka melepaskan rasa stres karena itu Kau harus lebih-"


"Lebih?", "Lupakan ayo jalan!dia tidak melanjutkan kalimatnya, dan terus berjalan menuju toko barang antik yang kami datangi pagi ini.


"Meskipun dia perempuan, aku yang pernah mempelajari ilmu bela diri tau jika dia cukup kuat untuk seoarang perempuan. Setidaknya dia bisa mengalahkan tiga pria dewasa sendirian" begitulah lanjutan dari kalimat Kazuo yang tidak Akan pernah diketahui oleh Serena.