
"En!, Hey!, En..!" Lirih aku mendengar suara Kazuo memanggil nama ku. "Hah...?" Kepalaku terasa sakit akibat benturan keras pada kereta kuda yang tiba tiba saja berhenti secara mendadak. Situasi saat aku bangun terasa tidak begitu baik.
"Hey pak!, kalau kau ingin lewat serahkan semua uangmu dulu!" Dari arah luar terdengar suara keributan dari orang asing, dia berbicara dengan keras dan nada yang kasar, firasat ku sudah sangat tidak enak sejak kereta ini berhenti tiba-tiba. Ditambah ada satu hal lagi yang membuatku semakin yakin, orang yang berteriak itu menerapkan kalimat paling klise yang bisa diucapkan oleh seorang bandit jalanan.
"Perampok!" Ucap Kazuo
Hiiiihiii....HiiikHiiii..........
suara ringkikan kuda terdengar begitu keras, "setidaknya ada sekitar 15 orang, bantu aku setelah mengamankan kusirnya!"
Setelah dia mengatakan itu dia menendang pintu kereta kuda dan melompat keluar, dia melesat dengan cepat sampai mataku sendiri tidak bisa mengikutinya. Begitu perhatian perampok itu teralihkan ke arahnya, aku pun juga ikut keluar untuk membantu, seperti yang di instruksikan Kazuo pada ku, pertama aku harus membuat kusir yang itu pingsan terlebih dulu, aku melihatnya hanya mematung akibat terkejut. Dengan menyerang bagian tepi leher dapat membuat seseorang merasa terkejut dan kesakitan karena aliran darah yang terganggu, tentu saja aku sudah menguasai teknik ini dengan baik jadi tidak akan membahayakan nyawanya.
Hal yang paling tidak aku sangka adalah aku kami menggunakan Gift pemberian Arina lebih cepat dari yang aku perkirakan. Entah aku harus merasa panik karena sedang berhadapan dengan perampok atau senang karena dapat menggunakan Gift ini. Ku keluarkan sarung tangan renda berwarna putih pemberian Arian.
"Hey En..!, ini sangat menyenangkan kau juga harus mencoba milik mu"
"D-ia, dia penyihir!" Para perampok itu berteriak. Aku berusaha mencari dari mana asal suara Kazuo itu berasal, sampai aku sadar kalau ada sebuah bayangan tak bertuan di atas tanah, begitu aku melihat ke arah atas dia sedang melayang di udara. Disekitaranya seperti ada sebuah angin yang membuatnya terbang, rambut yang tadi menutupi matanya kini sedikit tersisihkan.
"Jangan takut kita juga punya membawa beberapa orang" dari balik para perampok itu muncul 3 orang dengan jubah dan sebuah tongkat kayu, dilihat dari penampilannya sudah jelas kalau mereka juga seorang penyihir.
"Hoho..! lawan satu profesi!, mari kita coba yang ini Speed Elis:Wizy " Kazuo menuliskan sesuatu pada buku yang sedang dia pengang lalu memunculkan sebuah sebatang angin yang membuat beberapa perampok itu tumbang.
"Aaaaarggggghhhh..." Para perampok itu berteriak kesakitan, mereka yang masih berdiri mengacungkan pedangnya bersiap menyerang balik. "Terima kasih sudah menyisakan untuk ku" begitu selesai memindahkan kusir dan kereta kuda ke tempat yang lebih aman, aku kembali ke tempat Kazuo yang sedang melawan para perampok.
"Lawan kita hanya seorang perempuan, serang...!" Ku pasang kuda kuda dan menutup mata ku untuk berkonsentrasi.
"Pertama tarik nafas dan fokuskan pikiran, pusatkan Alteric pada permata pertama, rasakan sensasi nya di telapak tangan mu, lalu lepaskan, teknik Kumade" saat jarak antara aku dan perampok itu semakin dekat, kulancarkan serangan ku pada tulang rusak dan juga dada mereka.
Biasanya teknik ini hanya akan melumpuhkan musuh dan tidak membahayakan nyawa atau paling tidak akan membuat target sedikit terpental dan jatuh, tapi itu saat sebelum aku tidak mendapatkan Gift. Hanya dengan menggunakan teknik dasar saja sudah memberikan efek yang luar biasa, hanya dalam hitungan detik aku dapat melumpuhkan sekitar delapan orang bersenjata tajam, mereka semua terpental cukup jauh sampai menabrak pepohonan. Sudah jelas jika senjata yang mereka bawa hanyalah sebuah gertakan, pertahanan mereka sangat parah dan memiliki terlalu banyak celah.
"Kerja bagus!" Kazuo yang selesai membereskan sisa para perampok,kembali menapakkan kakinya di atas tanah, dia mengangkat tangannya lalu ku sambung dengan sebuah tos kemenangan. Semua perampok itu kini telah tumbang dan yang terpenting tidak ada satupun korban jiwa, mungkin aku sempat melihat perikanan darah yang keluar saat mereka jatuh, tapi kita anggap saja tidak pernah melihat apapun.
"Sekarang!, mereka harus kita apakan?" Tanya ku
"Kita ikat semua dan tinggalkan disini, apa itu cukup?" ku anggukkkan kepalaku dan menambahkan angkatan dua ibu jari ku, atau lebih tepatnya karena kami tidak ingin lebih direpotkan lagi, kami bahkan belum sampai setengah dari perjalanan belum lagi.
(Tidak untuk ditiru selalu laporan tindak kejahatan pada pihak berwajib)
Kazuo mengambil sebuah tali yang ada pada bagian kereta kuda, aku tidak yakin kenapa kusir itu memerlukan seutas tali panjang saat bekerja, tapi yang penting sekarang adalah membereskan para tikus dan kembali bergerak. Tadinya itu yang ingin aku katakan, sayangnya ada satu maslah kecil, aku lupa jika aku sudah membuat kusir perjalanan kami pingsan, aku melakukannya agar dia tidak mengganggu dan tetap pada tempat yang aman. Lalu akan menjadi masalah jika dia melihat pemandangan yang tidak mengenakkan seperti ini saat bangun nanti.
Aku dan Kazuo bahakan tidak terlihat seperti orang yang cukup kuat untuk mengalahkan lima belas orang berbadan besar dengan senjata di tangan mereka (Di habis dengan mudah).
Ataupun orang kaya untuk dirampok (memiliki Dewi sebagai ATM). Dan yang lebih parah lagi kami semua berasal dari kota yang sama, skenario adik kakak ang melakukan liburan normal akan langsung hancur bahkan sebelum dimulai.
"En..!, apa kau pernah belajar menaiki atau mengendalikan kuda?" Tanya Kazuo dengan raut wajah serius,
"Kau serius bertanya seperti itu pada ku?!"
"Ku rasa tidak....., lalu bagaimana cara mu memindahkannya"
"Tidak ada pilihan lain aku yang akan melakukannya" sorot matanya seakan sedang membulatkan tekad dan juga hati,
"lalu apa gunanya dia bertanya pada ku tadi?" dalam hati aku berusaha untuk tidak mengejeknya.
"Naiklah ke bangku kusir lebih dulu" Setelah menyuruhku untuk pergi duluan, dia mengambil sepotong ranting dan menuliskan sesuatu di dekat para perampok yang sudah terikat itu.
"Nah dengan ini siapa pun yang menemukan kalian akan mengurus sisanya, semoga beruntung!"
Saat aku bertanya apa yang dia lakukan, dia menjawab jika tulisan itu yang akan mengarahkan masa depan mereka semua. Kazuo duduk di sebelah ku di kursi kusir, dia memegang tali kekang pengendali kuda itu dengan begitu natural,"Hyaaa..!" Kuda itu mulai melangkah pelan ke depan, sesaat aku merasa kagum dengan sosok Kazuo yang sekarang ini, meski pakaiannya sedikit berantakan akibat inseden tadi, tapi itu tidak mengurangi paras rupawanya itu.
"Kaka apa akau populer dikalangan wanita?"
"Tentu saja, menurutmu kenapa aku tidak pernah mengajak mu ke bar langganan ku"
" Tunggu apa?"
"Perempuan mana yang akan mendekati laki laki yang membawa adik perempuanya pergi ke bar"
"Kurasa itu memang benar, tapi bukan itu maksudku" mengobrol seperti ini mengusir rasa tegang dan membuatnya menjadi lebih baik.
"Omong-omong, apa kau pernah belajar menunggangi kuda, dilihat dari sisi mana pun kau tampak sudah sangat terbiasa"
Terdapat jeda sampai Kazuo menjawab pertanyaan ku, dia seakan menimbang nimbang harus bagaimana harus menjawab pertanyaanku. "Anggap saja aku pernah mendapatkan kursus karena suatu alasan" nada bicaranaya seakan enggan untuk membahasnya, ku coba untuk mengganti topik pembicaraan sebelum semuanya kembali menjadi aneh.
Beberapa saat kemudian kami menemukan sebuah danau dan memutuskan untuk berhenti sebentar, hal pertama yang Kazuo lakukan adalah membersihkan pakaiannya, tentu saja aku juga melakukannya. Lalu kami juga masih harus membangunkan kusir yang masih pingsan di dalam kereta kuda, Kazuo mengeluarkanya dan menyadarkannya di salah satu pohon yang tak jauh dari danau. Dia menciprati kusir itu dengan air dari danau, begitu matanya mulai berkedut aku memastikan jika penampilan ku masih sama dengan saat aku berangkat tadi pagi.
"Pak....pak....pak...kita harus segera berangkat!" Kazuo menepuk nepuk bahu kusir itu sampai matanya terbuka.
".......tu-tuan.....,hah!... dimana perampok yang tadi??, tunggu!, dimana kita sekarang ini?" Seperti yang sudah di duga kusir itu masih mengingat beberapa potong kejadian tadi. "Perampok?, apa yang bapak maksudkan?, kita sedang beristirahat sebentar karena anda bilang kuda anda sedikit merasa lelah, lalu kita berhenti di danau ini" kusir itu mulai melihat persekitarannya, saat pandangannya tertuju pada ku aku berusaha untuk tetap bersikap tenang dengan berdiri di sebelah kuda yang sedang memakan rerumputan.
"Ya ampun!!, sepertinya saya mengalami mimpi buruk!, mari kita lanjutkan perjalanan kita" Kazuo hanya memasang wajah tidak tau apa apa, meskipun ada sedikit rasa bersalah tapi ini demi kebaikan kita semua.
"Saya minta maaf atas hambatan yang saya berikan" saat kusir itu membungkuk untuk meminta maaf aku rasa bersalahku menjadi semakin besar, belum lagi pintu kereta yang tadi sempat di tendang oleh Kazuo mengalami sedikit kerusakan, semoga saja dia tidak cepat menyadari jika kereta kudanya telah di rusak oleh seseorang tanpa tanggung jawab.
"Tolong anggota kepala anda, kami juga tidak sedang dikejar waktu" begitu kalimat ku selesai dia membantu ku untuk kembali naik ke kereta kuda, lalu kembali ke kursi kemudi.
KLAKK....
"Padahal tidak biasanya aku meminta untuk berhenti, kuda kuda ku juga tidak biasanya kelelahan jika hanya sebatas perjalanan antar kota begini??" Kusir itu tidak bisa mengatakan isi pikirannya karena menganggap semua alasan kami adalah benar.
"Hiiyaaa!" akhirnya kami kembali ke tujuan awal, meski terdapat sedikit guncangan akibat jalanan yang sedikit tidak merata, diantara kesempatan itu ku injak kaki Kazuo dengan sekuat tenaga. "AAaaawww!!!, untuk apa itu?"
"Hanya ingin saja" jawabku singkat, aku kembali mengamati pemandangan dari luar jendela dan menikmati perjalanannya. Begitu suasana diantara kami menjadi hening, Kazuo yang merasa bosan memulai pembicaraan lebih dulu, dia mengeluarkan sebuah buku catatan kecil dan sebuah pena bulu dari balik jubahnya.
"En!, bisa keluarkan sarung tangan mu!" Tanpa menjawab, aku langsung mengeluarkan sarung tangan yang dimaksudkannya "apa yang akan kau lakukan pada barang barang itu"
"Tentu saja menelitinya, barang barang berharga yang diberikan Arina untuk kita"