I Try To Write The Second Novel

I Try To Write The Second Novel
BAB 16. " Keberangkatan "



Sejak jam tiga dini hari, aku dan Kazuo sudah disibukkan dengan berbagai macam pekerjaan, setelah menunggu selama satu minggu akhirnya tiba saatnya kami melakukan perjalanan yang sudah dinanti nantikan. Bahkan ini belum genap satu hari sejak Vider datang dan memberikan surat perizinan kepada Kazuo. Aku tidak tau kapan yang pasti dia sudah menyewa sebuah kereta kuda untuk kami tumpangi dan gerobak yang akan mengangkut barang barang.


Dia bilang, sudah jauh jauh hari dia meminta kenalannya untuk mencarikan tempat yang akan kami tinggali di ibu kota nanti, saat itu aku sangat bingung kenapa dia tidak memilih sebuah penginapan saja, tapi dia malah menolak keras saran itu. Saat sampai nanti kami tidak tau berapa lama akan tinggal disana karena itu dari pada membuang uang akan lebih baik jika langsung menyerang sumber masalahnya. Tidak sampai disitu saja, ada satu hal lagi yang membuatku terkejut bukan main yaitu saat aku melihat anggap nol yang ada pada harga rumah yang dibelinya jika dihitung dengan sistem uang yang ada disini nominalnya setara dengan penghasilan rakyat biasa selama tiga tahun itu pun belum termasuk isinya.


Aroma pengancamanan dan diskusi yang kolot begitu terasa sampai membuat bulu kuduk ku berdiri. Jika sesuai dengan rencana kami akan berangkat begitu matahari terbit. Jadi Kazuo ingin mengecek kembali semua barang-barangnya sampai harus membangunkan ku jam satu pagi. Aku tidak terlalu memiliki banyak barang karena emmm..... bisa dibilang aku baru saja pindah kesini, yang aku perlukan hanyalah sebuah tas besar yang mampu menampung semua pakaian ku. Justru Kazuo lah yang barang bawaannya paling banyak, dia hampir membawa semua parabot yang ada dirumah ini.


"Karena hari ini kita hanya akan menaiki kereta kuda, kurasa pakaian aku akan memakai yang ini".


Sebuah pakaian kasual yang cocok untuk perjalanan jauh, rok yang tidak terlalu tinggi ataupun pendek, lengan panjang tanpa renda lalu atasan biasa dengan sedikit corak dan lagi warna peachnya sangat sesuai dengan rambut ku yang putih. Jujur saja aku sangat menyukai desain pakaian yang ada ditempat ini terlebih aku yang tidak terlalu suka memakai rok bisa menyukainya seperti sekarang. Meski sedikit susah saat memakainya kurasa nilai dari ku adalah 8/10.


Aku mencoba bercermin dan mengamati pantulan diriku di dalamnya dari sudut atas sampai bawah bahkan juga berputar. Berbicara soal rambut aku tidak akan mengeluh atau mempertanyakan-nya lagi pada Kazuo dan Arina, aku menganggap jika sekarang aku sedang menggunakan aksesori penuh dengan begitu aku tidak akan memiliki masalah lagi dengan rambut ku. Setelah puas bercermin aku mengambil tas ku dan bersiap turun ke bawah.


"berapa lama lagi aku harus menunggu, ini ambillah!" Kazuo melemparkan sebuah kain jubah kepada ku, tepat setelah insiden di toko barang antik hari itu, dia sudah menyiapkan jubah yang akan kami pakai untuk hari ini. Kucoba untuk memakai-nya untuk melihat apa otubakan cocok atau tidak. Kurasa meskipun orang-orang tidak akan peduli dengan warna rambut kami yang sedikit berbeda, tidak akan ada baiknya terlihat menonjol saat melakukan sebuah perjalanan jauh.


"Sudah ku duga, kau akan terlihat cocok memakainya, pilihan ku memang tidak pernah salah" Ucap Kazuo dengan penuh percaya diri, dia menganggukan kepalanya berulang kali dan penuh rasa bangga.


"Ku akui bakat kakak yang satu ini, sangat jarang ada laki-laki yang mengerti selera perempuan!" ku lepaskan jubah itu lalu melipatnya kembali.


"Wahai adikku, jangan lupa siapa yang menciptakan semua tren fashion yang ada di dunia ini"


" Siapa lagi, tentu saja kakak ku sang penulis enam bulan"


" apa itu sebuah ejekan?" Aku hanya menjawabnya dengan mengangkat bahu, kami sering melatih acting kami dengan menyisipkan beberapa dialog pada percakapan sehari hari. Tentu saja ini juga dapat meningkatkan daya reflek dan pemahaman situasi jikalau kami mendapati situasi tidak terduga.


Itu semua karena meskipun kami mengatakan pada semua orang hubungan ku dan Kazuo adalah hubungan kakak beradik, satu dari sepuluh orang yang kami temui pasti memiliki rasa curiga. Dan rasa curiga itu bisa saja memengaruhi orang lain yang sudah percaya.


"Apa tidak ada lagi yang ingin dibawa ?" tanya Kazuo, "aku tidak memiliki banyak barang, ini sudah semuanya!"


"Aku sudah meminta tolong Vider untuk mengurus pengiriman parabot rumah, kita akan berangkat lebih awal dengan kereta kuda, mungkin 20 menit dari sekarang"


Sembari menunggu Kazuo menyempatkan diri untuk membuat sarapan, selama satu minggu ini aku hanya memakan makanan tanpa adanya nasi, bohong jika lidah ku tidak merindukan sensasi dari nasi putih yang hangat. Sarapan paling simple disini adalah roti panggang dengan selai buah, setidaknya roti itu akan menahan rasa lapar sampai seperempat perjalanan.


Sarapan kali ini aku lakukan saat jarum jam masih berada di angka 5 tepat, kurasa sekarang masih terlalu pagi untuk menyebutnya sebagai sarapan, atau mungkin tidak?.


Aku pergi ke meja makan dan mengolesi roti yang sudah disiapkan Kazuo dengan selain, sementara Kazuo lebih memilih untuk menyirami rotinya dengan susu lalu memakannya dalam keadaan basah tentu saja aku juga sempat terkejut dengan selera makanya yang sedikit unik itu, kalau sekarang aku sudah cukup terbiasa dengannya.


"Direndam lagi?" tanya ku singkat


"Disiram dari pada dioleskan, ya aku tau itu!" Ku abaikan saja dia dan lebih fokus pada roti milikku sendiri.


Lima belas menit berlalu masih belum ada tanda tanda dari kereta kuda yang kami sewa. Ku putuskan untuk menunggu di luar rumah, "aku akan menunggu di luar, jangan lupa bereskan piring dan gelas yang kau gunakan ini"


Keadaan diluar masih terasa sepi dan juga dingin, angin yang berhembus menusuk kedalam tulang kering ku. Tidak lupa aku memakai jubah yang tadi diberikan oleh Kazuo setidaknya jubah ini membuat ku merasa sedikit lebih hangat.


"Hachhim..., apa biasanya memang sedingin ini?" tak lama setelahnya, dari kejauhan aku melihat sebuah kereta kuda datang menuju ke arah ku lalu berhenti tepat di depan rumah. kereta itu ditari oleh satu ekor kuda, eksterior keretanya memnag terbilang biasa, karena ini lah standar dari kalangan rakyat biasa seperti kami. Begitu selesai membersihkan piring Kazuo yang mendengar bunyi dari kereta kuda segera bergegas keluar dengan membawa sebuah tas besar yang berisikan barang barangnya. Dari yang dia ceritakan Kusir yang akan mengantarkan kami adalah salah satu penduduk dari kota ini karena itu dia dapat memesan meskipun sangat mendadak.


Kusir itu mengambil tas kami berdua dan memasukkannya ke dalam peti yang ada di belakang kereta kuda. Begitu pintu kereta terbuka Kazuo tiba tiba saja mengulurkan tangannya pada ku. "Apa, yang sedang kakak lakukan?" Aku menatapnya dengan tatapan terheran heran, "Jangan mencurigaiku yang tidak tidak, aku hanya ingin membantu mu naik agar tidak terjatuh!" Sikap baiknya yang seperti ini kadang memang suka keluar tanpa tanda ataupun aba-aba, aku sering kali merasa aneh dengan tingkah lakunya yang sedikit diluar prediksi. Ku terima uluran tangannya lalu melangkah ke dalam kereta kuda, Kazuo langsung menyusul begitu aku duduk. Kusir itu terlebih dulu menutup pintu lalu kembali menuju bangku depan, "Hyaaa...!!" Suara ringkikan kuda terdengar dengan jelas melalui celah jendela.


Perlahan sinar sang surya mulai menampakkan dirinya, tetesan embun yang terlihat berkalau saat terdapat oleh cahaya matahari pagi, hawa dingin yang kurasakan tadi perlahan menghilang bersamaan dengan terbitnya matahari.


Mata ku tertuju pada pemandangan yang ada di luar jendela, aku ingin mengingat setiap sudut dan inci bangunan yang ada di kota ini,


"Entah kenapa aku merasa sedikit bersemangat!" Ujar ku antusias " simpan baik baik semangatmu itu, jangan lupa kita akan melanjutkan perjalanan ini dengan berjalan kaki setelah sampai di pemberhentian pertama"


"Aku tau itu!!, omong omong apa kau pernah meninggalkan kota?" tanya ku penasaran, Kazuo cukup jarang membicarakan dirinya sendiri, baik tentang saat dia masih di dunia asal kami atau saat setelah dia tinggal disini, meski kami saling terbuka satu sama lain masih ada rahasia dalam diri kami masing-masing. Aku juga tidak memiliki hak untuk menanyakan masalah pribadinya lebih dalam.


"Beberapa kali kurasa?, yang paling jauh saja hanya sampai desa terdekat yang ada di sebelah barat kota ini" jawab Kazuo menjelaskan.


"Bicara soal arah, ibu kota ada disebelah mana?"


"Dari gerbang utama, kita bergerak ke arah selatan lalu kota ini ada di sebelah barat ibu kota dan perjalanan kali ini akan memakan waktu seharian. Dengan 90% dipenuhi dengan hutan, pohon, dan padang rumput. Lebih baik kau istirahat saja, kita bangun lebih awal hari ini kau pasti juga merasa lelah"


"Setidakanya aku ingin melihat sampai seperempat perjalanan!"


Begitu kereta kuda melangkah keluar dari gerbang utama, jantung ku berdetak lebih cepat dari biasanya, aku tidak pernah tau karena terhalang oleh tembok yang tinggi, pemandangan yang ada dibaliknya membuat mataku terkesima karena keindahanya. Padang rumput yang luas dan sebuah jalan setapak yang mengarah ke arah selatan, kuda itu kembali meringkik dan terus maju ke depan, aku menoleh ke arah Kazuo untuk menanyakan sesuatu tapi belum sampai lima menit kami keluar dari gerbang, dia sudah tertidur pulas dengan posisi duduk bersandar pada jendela .


"Padahal dia yang menyuruh ku istirahat duluan"


Melihatnya yang tertidur dalam damai membuat mataku mulai ikut terasa berat, sepertinya memang keputusan buruk untuk bangun jam satu pagi. Apa lagi setalah kunjungan Arina, kami berdua yang terlalu senang dengan Gift yang diberikan alhasil aku baru mulai tidur sekitar jam sebelas malam.


Sebagai tambahan setalah aku tinggal disini sebagi adik Kazuo, dia membiarkan ku untuk menggunakan kamar miliknya, sementara dia tidur menggunakan tikar di lantai bawah. Dia tau tidak akan ada gunanya jika membeli tempat tidur ekstra jika hanya digunakan untuk beberapa hari saja, di rumah baru yang akan kami tinggali nanti barulah dia akan mulai memesan barang barang keperluan pribadi ku.


"Kurasa tidak ada salahnya Hoaamm... untuk memejamkan mata sebentar" Begitu menguap mata ku sudah sepenuhnya tertutup, aku juga ikut bersandar di jendela yang berlawanan arah dengan Kazuo lalu tertidur untuk waktu yang cukup lama. Padahal aku sendiri yang mengatakan akan terjaga sampai seperempat perjalanan.