
Sesuai prediksi, kami sampai bersamaan dengan berubahnya langit biru cerah menjadi jingga yang menawan. Kami berpisah dengan kusir yang masih kebingungan sepanjang perjalanan di depan gerbang utama kota ini. Jika suatu tempat itu hanya sebuah desa pinggiran atau sebuah kota terpencil maka siapapun akan diperbolehkan keluar dan masuk sesuka hati, tapi dengan tanda kutip semua orang diwajibkan untuk memiliki Kartu Kependudukan Kekaisaran Qallegia atau 3KQ, sebagai penjamin identitas.
Lalu melihat seberapa besar dan tinggi tembok yang mengitari seluruh kota ini, sudah pasti akan ada pengecekan dan beberapa prosedur yang harus dilakukan sebelum masuk ke dalam kota. Cukup sulit untuk memalsukan kartu ini karena kartu ini memiliki segel khusus dan juga cap dari kelembagaan penyihir Kekaisaran secara resmi.
Pertama dimulai dengan mengisi data diri yang disertakan dengan foto, lalu saat menyerahkannya pada pihak yang bersangkutan Identitas kita akan dipastikan dan diproses.
Uniknya adalah semua lembar identitas yang diisi harus diberikan cap Ibu jari dengan menggunakan darah. Jika sesuai dengan novel isi nevelnya cap dengan darah itu akan diberikan sihir lalu diaplikasikan dalam sebuah kartu, karena itu cukup sulit untuk meniru apa lagi memalsukan kartu ini. Tentu saja aku dan Kazuo yang bukan bagian dari dunia ini tidak memiliki kartu itu, biasanya anak yang sudah berumur sepuluh sampai dua belas tahun sudah harus memiliki 3KQ. Belum lagi akan ada rekaman foto yang harus dikirim setiap tahun sebagai pembaharuan, akan sangat mencurigakan Jika kami membuatnya sekarang, untuk itulah peran Arina sangat dapat diandalkan.
Para penyihir Kekaisaran mungkin sangat sulit untuk ditiru jika hanya orang biasa yang melakukannya, sayangnya hal itu tidak berlaku untuk seorang Dewi. "Tolong 3KQ kalian" penjaga dengan seragam lengkap menghentikan kami yang akan masuk kedalam kota. Dia menyodorkan tangannya dan meminta tanda pengenal kami, Arina sudah memberikan milik ku bersamaan dengan saat dia memberikan Gift.
Kurogoh saku ku lalu memberikannya pada penjaga, bentuknya tidak jauh berbeda dengan kartu Atm hanya saja disini lebih mirip dengan lempeng besi yang diberi tulisan menggunakan cat. "Tolong letakkan salah satu tanaman kalian di atas alat ini, satu per satu" aku tidak terlalu ingat apa nama dari benda yang disebutkannya hanya saja saat pertama kali melihatnya aku langsung mengira kalu itu adalah penyangga buku berdiri yang ada di perpustakaan ataupun toko buku.
Begitu tangan ku menempel pada papan kayu-nya yang datar, telapak tangan ku seakan merasakan sensasi hangat yang aneh. Kazuo juga melakukan hal yang sama setalah aku selesai, "Kazu Oleander dan Selen Oleander " penjaga itu menatap kami bergantian, "identitas kalian sudah diidentifikasi, saya ucapakan selamat datang di kota Acorn" penjaga itu mempersiapkan kami masuk.
Tidak jauh berbeda dari kota sebelumnya, selain susunan bangunan yang berbeda. Aku dapat mengatkan bahwa ke dua kota ini terlihat sama saja. Dengan sedikit rasa kekecewaan yang ada di hati ku, aku menatap Kazuo dengan sorot mata yang paling tajam. "Kamu kelilipan?" Kazuo yang merasa aneh dengan cara melihat ku, bertanya dengan santainya.
"Kenapa kota ini tidak sesuai dengan bayangan ku" aku ingin sekali berteriak saat itu, tapi melihat ada banyak orang yang berlalu lalang di sekitar kami, membuat volume suara ku otomatis menjadi nol. Meski begitu dia tetap mengerti maksudku lewat gerakan bibir dan ekspresi wajah.
"Apa yang bisa diharapkan dari tempat yang bahkan belum pernah keluar dalam buku, aku tidak mungkin menuliskan setiap kota yang ada dengan detail" saat itu juga aku teringat akan sesuatu atau lebih tepatnya sebuah kenyataan bahwa dunia ini hanyalah sebuah deskripsi dalam kertas.
"Ku tarik kalimat ku barusan!" Untuk beberapa alasan perasaan ku tiba tiba menjadi buruk.
"Oy!" Tanpa kusadari kaki ku berhenti melangkah, dan Kazuo sudah jauh berada di depan ku.
"Jangan hanya berhenti disana, kita harus mencari penginapan sebelum hari mulai gelap"
Dengan sisa tenaga yang ada aku bergerak mengikuti Kazuo dari belakang dengan perlahan, satu hal yang harus kalian tau, jika kalian berfikir menaiki kereta kuda akan lebih cepat dan menghemat energi maka itu adalah pemikiran paling salah yang pernah ada. Duduk diam selama ber jam jam hanya akan membuat tubuh terasa sakit dan kaku. Setidaknya dulu tubuhku selalu bergerak meskipun hanya berada dalam rumah.
Kami bertanya pada penduduk setempat dan berhasil menemukan sebuah penginapan yang berada di pusat kota, lokasinya juga tidak terlalu jauh dari gerbang keluar bagian selatan. Dalam perjalanan kesana, aku melihat pemandangan orang orang yang mulai menyalakan lilin dan juga lentera serta obor untuk meneragi jalanan kota.
"Aku memikirkan sesuatu, apa di dunia ini tidak ada lampu?" Kazuo melirik sebentar ke arah belakang dan merespon pertanyaan ku.
"Sistem di dunia ini maju karena adanya sihir, tapi aku tidak memasukkan unsur barang barang seperti lampu, televisi dan juga ponsel" jawab Kazuo menjelaskan
"Lalu bagaimana dengan, TeleCard dan Calmera itu semua barang elektronik bukan?"
"Dasarnya memang dari ponsel dan juga kamera, bedanya hanya dari sumber energinya saja dan juga wujudnya. Lalu alat alat yang kau sebutkan tadi belum beredar secara luas dan hanya bisa dimiliki oleh orang-orang tertentu"
TeleCard dan Calmera dari namanya saja kita bisa tau kalau itu adalah ponsel dan juga kamera, sama seperti yang kita semua tau. Mari kita mulai dari TeleCard terlebih dulu.
TeleCard, sesuai namanya benda ini berbentuk menyerupai sebuah lembaran kertas berwarna hitam panjangnya sekitar 15cm dengan lebar 7cm atau sama dengan lembaran kertas yang ada dibuku tulis dan dilipat menjadi dua. Tebalnya juga sama dengan kertas pada umumnya, tapi yang membuatnya menarik adalah ia dapat digunakan sebagai alat komunikasi layaknya ponsel.
Yang harus dilakukan hanyalah mengalirkan Alteric pada kartu itu lalu menuliskan nama dari orang yang ingin dituju. Maka sebuah pancaran gambar layaknya hologram akan muncul pada TeleCard penerima dan menampilkan keadaan dari pemanggil pada penerima, kesannya seperti Video Call tapi dalam bentuk 3D.
Alat ini biasanya digunakan untuk mengirim informasi bisnis atau laporan, karena itulah kartu ini hanya bisa dimiliki oleh bangsawan kelas atas.
Batas penggunanya alat ini hanya sampai Alteric yang dialirkan sudah habis, ditandai dengan warna hitamnya yang memudar hingga menjadi kertas putih biasa.
"Padahal bisa menciptakan alat yang lebih hebat dan lebih canggih dari yang ada didunia kita, tapi masih tidak ada lampu, ini antara keajaiban dunia dan keanehan dunia" komentar ku panjang lebar.
"Jangan protes!, aku tidak mungkin menghilangkan kesan Kuno dari abad pertengahan pada latar settingnya, aku bahkan sampai harus berdebat dengan editor ku selama satu minggu hanya karena permasalahan lampu!" Langkah ku kembali terhenti, Kazuo yang menyadarinya menoleh ke belakang dan menatapku dengan heran.
"Kenapa berhenti lagi, penginapannya sudah dekat!?"
Mungkin karena merasa sedikit terkejut, kaki berhenti tanpa sadar, "Kurasa ini pertama kalinya dia bercerita tentang dirinya sendiri saat masih belum terdampar disini" Ucap ku dalam hati.
Jalan yang tadinya sepi saat pergantian siang menuju malam, kembali dipenuhi dengan orang orang yang berlalu lalang.
"Ini dia!, kita sampai di penginapan bunga bulan biru"
Kazuo membuka pintu penginapanya dan kami langsung di sambutan dengan satu ruangan penuh dengan meja dan kursi, sepertinya ciri khas dari penginapan di dunia ini adalah menjadikan lantai dasar sebagai restoran atau bisa di bilang ruangan makan. Ada juga beberapa pengunjung yang menyantap makanan, sepertinya mereka adalah para penyewa penginapan. Karena sebelumnya aku tinggal di rumah milik Kazuo sendiri, aku merasakan suasana hangat yang berbeda. Mengesampingkan semua itu, kami langsung menuju menuju meja resepsionis yang berada di seberang pintu masuk.
"Selamat datang di penginapan bunga bulan biru, ada yang bisa kamu bantu tuan" pelayan disana menyambut kami dengan senyuman yang ramah. " Apa masih ada kamar yang tersisa?, kami ingin menginap!" Kalimat Kazuo selesai, dan tangan pelayanan itu langsung membolak balik halaman buku yang berisikan daftar tamu dengan sangat gesit.
"Kami masih memiliki beberapa kamar yang kosong, apa kalian ingin mengambilnya" Kazuo melirik ke arah ku sebentar meminta persetujuan.
Aku menjawab dengan sebuah anggukan kecil, "baiklah akan kami ambil, kamar terpisah untuk dua orang"
"Tolong 3KQ kalian" Begitu kami menyerahkan kartunya di langsung menuliskan nama kami ke dalam buku.
"Berapa lama kalian akan menginap?" Tanya si pelayanan.
"Kalian mengambil keputusan tepat dengan datang pada waktu seperti ini, dua hari lagi kota ini akan mengadakan sebuah festival, semoga kalian menikmati kunjungan kalian selama berada di Acorn"
Pelayanan itu memberikan kunci kamar kami masing-masing,
Lalu memanggil pelayan lain untuk mengantarkan kami ke lantai atas.
Kamarku berada tepat berada didepan kamar Kazuo. Setelah mengantar kami pelayanan itu kembali lagi menuju lantai bawah. " Akhirnya aku isa beristirahat di kasur yang empuk lagi" Ucap Kazuo dengan nada suara riang, seakan akan penantiannya telah tercapai.
"Ekhm..! Kalau mau nyindir itu diperhalus lagi dong!"
KRATAK....KRATAK....
"Hii..!!, e-enggak kok mulutku cuma asal bicara doang, lihat jamnya mending kita istirahat sekarang, selamat malam!"
Dengan wajah yang penuh dengan keringat dingin,Kazuo langsung masuk ke dalam kamarnya. BRAAAAK...
"Dia kenapa?" Aku hanya bisa menatap pintu kamarnya yang tertutup dengan heran.
"Haaa..? Apa pun itu waktunya istirahat!"
( Hari pertama menuju Ibu Kota Selesai)