
Hari ini adalah malam bulan purnama, cahaya bulan yang begitu terang terlihat jelas tanpa tertutup oleh awan, bintang bintang yang bertebaran seakan menyambut kedatangannya. Lonceng dari menara jam kota mulai berbunyi dengan nyaring sebanyak enam kali, tanda jika sudah tengah malam. Setelah bertemu dengan ne- maksudku Arina, Kazuo mengatakan jika kami harus bergerak ke ibu kota, Latar panggung para pemeran utama dari novel Kunci Yggdrasil.
Pertemuan pertama Clive dan Ash terjadi di ibu kota atau lebih tepatnya di guild informasi yang berpusat di ibu kota, dari sana mereka menjadi prajurit bayaran dan menerima misi dari sang owner langsung. Mereka berdua langsung menjadi akrab karena memiliki satu kesamaan yang sangat menarik, yaitu sebuah garis masa depan yang sama dan sebagai tanda fisik yang mereka punya adalah sebuah kunci berkarat yang diberikan oleh Arina. Begitu pula dengan tokoh utama yang lain, di saat merek mencapai rasa putus asa disanalah kemunculan sang utusan Arina muncul di hadapan para pemeran utama untuk pertama kalinya, dengan berbagai cara dia meninggalkan sebuah kunci berkarat dengan permata berkilau pada pegangannya, tapi dikarenakan keseluruhan kunci yang berkarat membuat permata yang menempel pada kunci jadi tidak terlihat berharga dimata orang lain, selain pemilik dan orang yang juga memiliki kunci yang sama maka permata itu akan terlihat begitu berkilauan.
"Nah ini dia kunci milik ku!" Kami kembali ke rumah tepat saat bel ke enam berbunyi, dia bilang dia ingin menunjukkan kunci miliknya yang juga diberikan oleh Arina. " Sedikit sulit mengambilnya karena aku sembunyikan di tempat yang tidak akan kau duga, jangan bertanya tempatnya dimana!" Ucap Kazuo sambil membersihkan pakaiannya yang ditempel oleh sarang laba-laba dan debu.
"Cepat buka kotaknya!" Ucap ku antusias, dia meletakkan kotak itu di atas meja dan membukanya, tidak jauh berbeda dari milikku kunci Kazuo memiliki permata berwarna biru, sementara kunci ku adalah permata berwarna hijau. Hanya kebetulan atau keduanya adalah warna yang sama dengan warna mata kami.
"Untuk sementara simpanlah kunci mu di kotak ini, kita harus bersiap pergi ke ibu kota secepat mungkin" Ucap Kazuo menjelaskan, setalah kunci ku berada di dalam kotak, aku bertanya kepada Kazuo mengenai rencana dadakan yang baru saja dia buat.
" Sebenarnya kenapa kita harus pergi ke ibu kota?" karena sedari tadi aku hanya mendengarkannya mengoceh, tapi aku sama sekali belum mendengar apa alasan yang lebih rinci. "tentu saja karena aku ingin segera bertemu anak-anak ku yang lain"
Mata lu terbelalak karena terkejut, bagaimana dia bisa berkata begitu dengan begitu mudahnya. "K-kau punya anak disini, bagaimana bisa?" Aku berteriak cukup kencang, Melihat reaksiku yang panik dia hanya menepuk dahinya dan menggeleng kan kepala.
"Bukan itu yang aku maksud, anak-anak yang aku maksud itu tokoh tokoh penting yang ada di dalam novel" Jawab Kazuo menjelaskan, aku hanya bisa tertawa dengan pemikiran ku sendiri. karena selain berperan sebagi orang yang menciptakan dunia ini, bisa dibilang jika semua tokoh baik utama maupun figuran adalah anak anaknya, aku sering mendengar jika seorang penulis selalu menganggap karakter yang mereka buat seperti itu, sepertinya itu juga berlaku untuk Kazuo.
"Omong omong apa kau ingat seperti apa ciri ciri dari para tokoh utama?" Aku menggeleng, selain nama mereka aku tidak terlalu ingat dengan ciri fisik mereka, aku saja hanya membaca buku itu satu kali, ditambah lagi buku itu sangat tebal bagaimana bisa aku mengingat semua yang tertulis. Bersyukur saja aku terdampar disini bersama buku karya aslinya, bahkan dengan penulisnya sendiri.
"Baca bukunya lagi dan ingat baik baik, cepat atau lambat kita pasti akan bertemu dengan mereka!" Ocehnya. "apa itu artinya kita benar benar akan akan menjadi salah satu karakter utama?" pertanyaan itu selalu saja terbesit dalam pikiran ku. Aku selalu saja merasa aneh setiap membahas topik pemeran utama atau soal aku yang ditugaskan menulis lanjutan dari novel Kunci Yggdrasil, meski begitu jika hanya berdiam diri aku tidak akan pernah menemukan jawabannya. perasaan dan pemikiran ku selalu saja terasa begitu berat, seakan ada sebuah beban besar bertompang di pundak ku.
"Kau bisa mengartikannya sesukamu" jawab Kazuo singkat, "tapi jika itu memang benar, maka akan menjelaskan kenapa dia memberikan ku kunci itu beberapa hari yang lalu!" Kali ini aku mendengar dengan jelas apa yang digumamkan oleh Kazuo, perkataannya sedikit membuatku penasaran akan sesuatu.
"Beberapa hari yang lalu?, dia tidak memberikannya sejak awal" tanya ku penasaran, " tidak, aku mendapatkan kunci itu, sekitar satu minggu sebelum kau datang. Dia bilang masih ada tempat kosong atau semacamnya, tapi jika pemikiran ku benar dengan kita memiliki Kunci yang sama dengan mereka para pemeran utama artinya kesimpulannya tidak jauh berbeda dari apa yang kau pikirkan bukan" aku tidak tau harus menunjukan reaksi seperti apa dengan teori yang bari saja di buat olehnya, pembicaraan kami tidak berlangsung lama, saat Kazuo pergi kembali menyimpan kotak kunci itu, aku pergi ke atas dan pergi beristirahat lebih dulu.
Keesokan harinya Kazuo mulai menyiapkan semua keperluan yang akan di bawa saat perjalanan nanti, aku tidak tau berapa penghasilan seorang novelis tapi Kazuo memberikan ku beberapa pakaian lagi untuk kedepannya, kali ini aku juga ikut untuk memilih karena pakaian yang dibawanya kemarin sedikit terlalu besar.
"Kau yakin memberikan ku semua ini?!,apa tidak terlalu banyak!" Kami selesai berbelanja pakaian dan kembali kerumah untuk mengemasnya, tanpa sadar ternyata aku membeli enam pasang pakaian dalam sehari, Satu untuk acara formal, dua pasang untuk keseharian, satu untuk acara penting atau liburan, lalu satu pasang pakaian yang cocok digunakan dalam perjalanan jauh atau lebih tepatnya celana, terakhir aku tidak ingat memilih yang ini sebuah pakaian serba hitam seperti baju untuk acara pemakaman. Belum lagi dengan satu sepatu tambahan dan beberapa aksesori.
"Apa perlu sampai seperti ini?" Aku menatap semua pakaian yang menumpuk di atas meja begitu menumpuk, "mana mungkin aku membiarkan adikku satu satunya memakai pakaian yang sama setiap hari. Apapun bisa terjadi di masa depan, akan lebih baik jika bersiap dari sekarang" Kazuo menjawab ku dengan begitu santainya, mulutnya seakan tidak memiliki beban saat mengatakannya. "Ha-ha!, kurasa kau tidak pernah berpikir bagaimana aku merasa terbebani dengan semua ini" guman ku.
"lalu jika kau khawatir dengan uang, kau hanya tinggal merampok dari nenek tua itu" Aku tidak bisa berkata apapun lagi, jika semua orang disini tau jika ada seorang Dewi yang patuh kepada manusia, apa yang akan mereka katakan. Nenek Arian aku harap kau bisa mendapatkan tuan yang lebih baik lagi dari pada orang ini. "Hey, aku jika tau apa yang sedang kau pikirkan, jadi tolong hentikan itu!"
"Omong-omong, bagaimana caranya kita bisa pergi ke ibu kota, tidak mungkin dengan berjalan kaki bukan?!" Tanya ku, "Tidak tapi juga benar".aku mengerutkandahi tanda tidak mengerti. "kita akan menaiki kereta kuda dari sini sampai ke kota berikutnya, lalu kita akan memotong jalan dengan berjalan kaki melewati beberapa desa, dan menaiki kertas kuda lagi sampai di gerbang ibu kota, temanku bilang kita akan memakan waktu sekitar satu minggu dan ini sudah yang paling cepat" perkataan Kazuo membuatku terkejut, bisanya saat aku bepergian ke tempat yang jauh paling lama hanya akan memakan waktu 6 - 10 jam, tapi kali ini bukan hanya sekadar jam melainkan satu minggu penuh.
"Karena itu juga aku menyiapkan tenda untuk berkemah" untuk orang yang menghabiskan seluruh masa remajanya di dalam rumah bersama tumpukan buku, dan laporan, aku tidak yakin apakah kaki ku memiliki kekuatan yang cukup untuk melakukan perjalanan nanti.
Aku sampai teringat saat saat aku mengikuti kegiatan pramuka di sekolah, kami melakukan berbagai macam permainan dan ditutup dengan jelajah medan. Jalanan yang mengajak dan menurun belum lagi jalan yang bersatu, aku sudah pernah merasakan meski hanya sekali, bahkan aku meminta untuk beristirahat sebanyak dua kali hanya dalam waktu 30 menit. Kejadian yang sama juga terjadi saat upacara bendera di hari senin, saat amanat yang disampaikan oleh pembina terlalu lama atau sangat membosankan, belum lagi disertai dengan matahari yang semakin tinggi dan panas, membuatku berakhir dengan latar tirai UKS.
" Hey jangan lupa untuk membawa obat obatan, sebanyak mungkin!!!" Suara ku bergetar saat mengatakan itu, pengalaman pribadi yang pernah aku alami membuatku sedikit was was. "O-ok" Kazuo yang tidak mengerti apa yang terjadi hanya bisa mengiyakan dan menciut ketakutan.
Belum sampai tengah hari kami berkemas, aku mendengar suara langkah kaki yang mendengar suara keras pintu yang didobrak dari arah bawah.
BRAAAAK!!!!!!!
"KAAAAZUUUOOOO!!!, Kita perlu bicara SEKARANG!!!"