I Try To Write The Second Novel

I Try To Write The Second Novel
BAB 20. " Festival ? "



(Hari ke-2 perjalanan menuju Ibu kota)


Kami sampai di kota Acorn setelah satu hari penuh menaiki kereta kuda, dan bukan hnaya itu sempat ada sedikit gangguan kecil yang membuat kami sedikit terlambat dari waktu yang di jadwalkan, tentu saja kami sampai dengan Selatan dan itu adalah yang paling penting.


Jika aku menghitung ulang sekarang sudah sepulang hari


~Serena, hari ke-10 di dalam novel


TOK...TOK..TOK...


"apa masih belum selesai, jangan salahkan aku jika nanti tokonya tutup" pintu kamarku terketuk dan terdengar suara Kazuo dari balik pintu. "Jangan khawatir tokonya tidak akan lari kemanapun meskipun tutup" teriak ku, ku simpan kembali buku dan pena ku ke dalam lagi meja dan bercermin untuk memastikan penampilanku tidak terlihat aneh.


Sejak aku terdampar disini setiap kejadian yang aku alami selalu ku tuliskan di dalam buku harian, karena bisa saja aku akan merindukan tempat jika aku bisa kembali lagi ke dunia asal ku. Baru saja aku selesai menuliskan mengenai kejadian kemarin, hari yang menyenangkan dan melelahkan di saat yang bersamaan.


"Memang ya!, yang namanya perempuan itu pasti lama ketika berdandan"


"Siapa yang bilang aku berdandan, aku sibuk menulis catatan"


Begitu ku bukakan pintu, Kazuo melihatku seakan mengamati dari ujung kepalaku sampai ujung kaki.


"Apa?" Tanya ku singkat


"Tidak, bukan apa-apa!, omong- omong siapa yang mengepang rambut mu?"


"Apa kakak melihat ada orang lain di dalam, begini-begini aku sudah menata rambut adikku kurang lebih selama sepuluh tahun!"


"Apa pun itu ayo kita turun sekarang, ini sudah terlalu siang!"


Kazuo berjalan lebih dulu dan aku mengikuti dari belakang, tidak jauh berbeda dengan saat kami datang lantai dasar dipenuhi dengan orang yang sedang menikmati makan siang. Bahkan suasanya terasa lebih ramai dari saat kami datang kemarin malam.


"Apa ada sesuatu yang terjadi?"


Pelayanan yang saat itu sedang berjaga, langsung menjawab pertanyaan Kazuo.


"Kami sedang mempersiapkan festival ombak bunga teratai, puncak acaranya akan di gelar besok tepat saat tengah malam, sementara nanti akan ada digelar pesta besar di pusat kota. Para penduduk setempat akan menari dan menyanyi dibawah api unggun sampai menjelang fajar"


Aku kembali teringat dengan ucapan pelayanan semalam, dia memang mengatakan kalau kota ini akan menggelar festival, aku tidak tau harus menanggapinya seperti apa. Tapi kurasa akan menyenangkan melihat festival ala abad pertengahan.


Mungkin karena aku memasuki novel yang masih belum diketahui bagaimana alur ceritanya berjalan, terkadang membuatku merasa takut. Jika seandainya aku membuat kesalahan, entah dampak seperti apa yang akan terjadi. Sayangnya hal ini tidak berlaku untuk satu orang, Kazuo terlihat begitu tenang seakan sudah terbiasa dengan suasana sibuk seperti ini.


"Sebenarnya Festival ombak bunga ini apa?" Kazuo hanya terdiam dan manarik ku keluar.


Saat mataku mulai beradaptasi dengar terik sinar matahari, ku lihat jalanan kota yang begitu ramai, banyak gerobak dan kereta kuda yang bolak - balik dengan muatan penuh, panas matahari tidak menjadi hambatan bagi mereka untuk bekerja. Tidak ada satupun wajah yang terlihat murung dan suram, sebuah kota damai yang harmonis bisa ku bilang.


"Kalau begini ceritanya, aku tidak yakin akan ada toko souvenir yang buka" ujar Kazuo sembari merentangkan tangannya.


"Hey!, jawab dulu pertanyaan ku, festival ombak bunga itu apa?" Tanya ku dengan nada kesal


"Bagaimana aku bisa tau, kita baru saja sampai disini ingat!, kau ingin aku mengetahui apa?" Jawabnya santai.


Kazuo mengatakan jika dia memang pernah membayangkan tempat bernama Acorn, tapi dia tidak pernah menduga jika dia akan melihatnya dengan meta telanjang bulan seperti ini.


Perkiraan ku ini adalah tempat yang akan muncul di buku ke-2 Novel Kunci Yggdrasil. Mengenai festival yang akan diselenggarakan tempat ini, dia sama sekali tidak mengingatnya. Sepertinya Arina hanya mengunci ingatan yang akan menguntungkan kami, dia dewi yang cukup perhitungan.


"Entah kenapa rasanya aku sekarang sedang mendapatkan spoiler dalam bentuk nyata, apa aku masih perlu membeli buku ke-2 nya setelah kembali nanti haha??" Ucapku dalam hati.


Kami terus menelusuri jalanan kota, dan dalam beberapa menit kami sampai di pusat Kota Acorn yang akan menjadi tempat pesta pembukaan festival nanti malam. Seluruh taman dipenuhi dengan berbagai macam dekorasi seperti pita dan bendera bendera kecil. Tidak lupa pula berbagai macam stan dibangun mengelilingi taman, Lalu ditengah taman juga dibangun sebuah menara kayu yang cukup tinggi.


Berbeda dengan kota tempat kami tinggal sebelumnya yang berpusatkan air mancur yang besar, Acorn berpusat di taman alun-alun.


"Skalanya cukup besar untuk sebuah festival biasa, pasti ada sesuatu yang spesial dibalik cerita festival ini" ucapku berkomentar sembari melihat pemandangan sekitar.


"Ini masih belum ada apa apanya dengan festival ibu kota, ingat adegan Clive dan pemeran utama lainnya harus berbaur di tengah keramaian pesta perayaan ulang tahun putra mahkota?"


"Cukup...cukup..tidak perlu sampai seperti itu juga, tapi iya bagian itu" Kazuo memotong ucapan ku dan menyuruhku berhenti.


Seperti yang dia bilang, adegan yang kami sebutkan adalah salah satu adegan festival yang pernah di bahas pada buku pertama. Mengingat itu adalah acara yang digelar untuk putra mahkota, jelas jika skala pesta-nya jauh lebih besar. Itu semua di lakukan untuk meninggikan derajat anggota keluarga kaisar dan memperkuat eksistensi baik Putra Mahkota baik dimata para bangsawan ataupun rakyat biasa.


Bahkan Kaisar sampai memberikan sebuah pulau pribadi dengan dengan pemandangan laut yang indah, sementara sang Ratu membangun sebuah villa mewah di atas pulau tersebut.


Sekilas memang tampak seperti keluarga yang harmonis, tapi itu hanyalah topeng yang dipasang untuk menutupi semua kegelapan yang mereka lakukan dibalik dinding emas.


"Kurasa memang keputusan yang tepat untuk tinggal disini lebih lama" Ucap Kazuo


"Waktu pelayan itu bertanya sampai kapan kita akan menetap, aku cukup terkejut saat kakak bilang kita akan menetapa selama tiga hari, mengingat kita sedang buru-buru"


"Kurasa tidak ada salahnya mempelajari dunia yang aku buat sendiri, ditambah lagi jika sesuatu itu adalah sesuatu yang tidak aku ketahui" suaranya terdengar bertumpang tindih dengan angin. Jika aku aku Kazuo aku pasti akan merasakan perasaan aneh saat melihat dunia yang aku ciptakan dengan tinta dan kertas, menjadi sesuatu yang dapat dirasakan secara langsung.


"Kalimat yang kakak ucapkan barusan, jangan sampai ditarik lagi ok!, mari menghabiskan sebagian uang kita selagi masih berada disini!" Dia hanya mengangguk pelan sebagai jawaban.


"Omong-omong ada satu tempat yang ingin aku kunjungi!"


Kami kembali menelusuri jalan yang sama dengan saat kami pergi tadi, sepertinya dia melihat tempat yang dimaksudkannya saat kami berjalan menuju pusat kota tadi.


Dan tempat itu adalah toko, tapi aku tidak tau apa yang dijual di dalamnya, jika dilihat dari papan yang dipasang terdapat gambar perhiasan perak, hawa keberadaannya juga mirip dengan toko barang antik milik nenek Irene.


"Sebuah toko perhiasan?, kaka mau beli perhiasan?"


"Ya jelas enggak lah!, namanya saja toko perhiasan tapi yang dijual hanyalah aksesori biasa yang cukup di kantong rakyat biasa"


Dia bilang hanya kebetulan menemukan tempat ini tapi dia tau dengan benar apa yang mereka jual, entah karena memang karena intuisinya yang tajam atau apa tapi kemampuannya kadang sedikit membuatku takut.


"Lalu?" Aku masih tidak tau apa tujuan Kazuo mengajak ku kemari, dari tadi dia hanya terkekeh setiap melihat papan toko ini.


"Tunggu sebentar aku akan segera kembali dalam beberapa menit !"


Saat dia masuk suara lonceng terdengar bersamaan dengan saat dia membuka pintunya. Karena otakku masih berusaha untuk memproses keadaan, aku hanya terbengong 0saat melihatnya masuk.


kling ......Kling.....(lima menit kemudian)


Suara lonceng itu reflek membuatku menoleh, belum sempat aku bertanya papan dia sudah menarik tanganku dan meletakkan sesuatu di atasnya. " Apa ini?" Tanya ku singkat.


"Jeng .... jeng " Kazuo mengeluarkan kunci yang diberikan Arina padanya, namun aku melihat sesuatu yang sedikit berbeda, terdapat sebuah rantai kalung yang mengkatkanya pada leher Kazuo. Aku langsung hisa menebak apa yang dia berikan pada ku sekarang, sebuah rantai kalung yang serupa dengan yang ia kenakan.


"Dengan begini kunci kita akan tetap aman dari resiko pencurian!" Dia mengatakan itu dengan tanpa keraguan dan penuh dengan kepercayaan diri.


"Kurasa bukan ide yang bagus untuk membawanya seperti ini!?" Komentar ku


"Tapi dengan begini kuncinya akan selalu berada dalam lingkup pengawasan kita, dan kita juga akan lebih cepat sadar jikalau kuncinya hilang"


Mau aku menentang sepeti apa, dia akan tetap bersikeras dengan rencananya ini. Dan lagi sayang jika barang yang sudah dibeli tidak dipakai.


"Aku meninggalkan kunci ku di penginapan, akan ku pakai saat kita kembali nanti"


"Fufufu!" Tiba tiba saja Kazuo tertawa dengan tampang yang menyebalkan.


"Aku tau kau akan mengatakannya, karena itu aku selalu sedangkan didepan mu adik ku!"


Betapa terkejutnya aku saat dia mengeluarkan kunci milikku dari sakunya.


"K-kapan kakak?, kok ?"


Dari raut wajahnya aku semakin tidak ingin mendengarkan penjelasannya, inilah yang terjadi jika orang sepertinya bersikeras akan sesuatu. tidak ada pilihan lagi selain mengambil kuncinya dan mengaitkannya dengan rantai kalung yang ku bawa.


Meskipun ada sedikit ada rasa khawatir, apa yang dikatan Kazuo sedikit masuk akal. Lagipula kunci ini baru akan menunjukan bentuk aslinya saat bertemu dengan mereka nanti.