I Try To Write The Second Novel

I Try To Write The Second Novel
BAB7. "Dunia Lain ?"



"Loh bukunya kemana?, aku mendekat ke arah televisi untuk memastikan, "aku yakin sekali melemparnya ke arah sini" televisi itu bahkan tidak bergeser sedikitpun dari tempatnya. Derasnya hujan masih terdengar, aku sangat terkejut terdiam bagai patung batu, membuat keheningan untuk beberapa saat.


Aku tidak dapat mengendalikan suara sesuai keinginan ku, seperti ada yang mengganjal di tenggorokan dan membuatku tidak bisa berteriak. Meski begitu otakku masih dapat mendengar teriakan batin dalam hati dengan begitu jelas. Kejadian aneh memang selalu berlangsung singkat dan tanpa tanda ataupun peringatan, karena itulah sulit bagi manusia untuk langsung mempercayai hal-hal mistis yang mereka alami. Memang ada saja orang-orang yang mudah percaya dengan bualan nenek moyang, karena manusia cenderung lebih percaya dengan apa yang mereka lihat dari pada apa yang sebenarnya terjadi.


Untuk ku yang berlaku adalah pemikiran yang pertama, maksudku siapa yang akan percaya, jika aku mengatakan "aku melihat buku ku mengeluarkan cahaya dan menghilang tiba tiba!" Yang ada bukanya percaya justru mereka akan memanggilkan ambulans rumah sakit jiwa untuk ku.


"Tidak mungkin TV ini memakan buku itu kan?" Perkataan ku barusan membuatku menyadari sesuatu, mungkin saja pemikiran konyol ku ini memang benar, ku tepuk pipiku agar dapat berfikir dengan lebih jernih.


"Sepertinya otak ku sedang kacau, hal seperti itu mana mungkin terjadi." Aku menelan ludah meskipun logika ku berkata tidak tapi, hatiku mengatakan kalau pemikiran aneh ini memang benar adanya. Sebagai pemastian aku mencoba untuk menyentuh layar televisi itu, saat kulit telapak tangan ku bersentuhan dengan layar, aku tidaklah merasakan dinginnya kaca, melainkan sensasi seperti sebuah ruang kosong. Tangan ku hanya bisa merasakan udara, perasaan ini sama seperti saat kalian memasukkan tangan ke dalam lubang.


Tapi hal yang paling mengejutkan adalah apa yang terjadi setelahnya, pergelangan tangan ku menghilang dan hanya menyisakan tangan bagian atas saja.


"Hak..eee..haaaah?"untuk pertama kalinya aku tidak bisa membaca situasi, segera kutarik tanganku keluar, tapi sekeras apapun aku berusaha tanganku masih terjebak. "Kok nggak bisa lepas sih?" Kepalaku mulai diisi dengan rasa panik yang hebat, sekali lagi aku mencoba untuk menarik tanganku, bukanya berhasil keluar, tanganku malah terasa semakin tertarik ke dalam.


Perlahan lahan aku tidak bisa lagi melihat tubuhku dan aku sepenuhnya tersedot ke dalam televisi. Kesadaran ku hilang, kepala ku terasa berputar putar sperti gasing, aku tidak menginjak apapun, ataupun menyentuh sesuatu. Aku merasa jika sekarang jiwa ku sedang tidak bersama dengan wadahnya, dua komponen yang menjadikan ku manusia tidak lagi bersama, entitas yang sering kali disebut jiwa merupakan unsur utama kehidupan setiap mahkluk. Dan sekarang apa jiwaku sedang melayang di dalam ruang hampa.


"gelap!, aku tidak bisa melihat apapun!, gelap siapapun!"


...Wahai Atma sang Pengembara.....!...


"Suara!, suara siapa itu?"


...Wahai, Atma sang Pengembara.....!...


...Engkau Perwakilan Alam Semesta sang Pencipta...


...Yggdrasil Telah menyerukan Namamu......


...Hamba sang Penjaga Akan Menjadi Pemandu Kalian...


...Sang Pemegang Kunci Takdir...


...Wahai, Atma sang Pengembara....!...


...Selalu ada Cahaya di Dalam Kegelapan...


...Selimuti Ragamu Dengan Cahaya Kegelapan yang Akan...


...Menuntun mu ke Arah Jalan Pulang....


Suara itu menghilang, aku tidak bisa mendengar apapun lagi,


"Siapa itu?, Hey..!Apa maksud dari ucapan mu?,Hey...!"


Suara ku tidak bisa mencapainya, apakah sebenarnya aku tidak mengeluarkan suara sama sekali?. Sekali lagi aku hanya sendirian di dalam ruang hampa yang gelap ini.


Satu jam, satu hari, satu minggu, sudah berapa lama aku tidak sadarakan diri, sama seperti yang suara aneh itu ucapakan, jiwaku seakan pergi mengembara, tanpa arah dan tujuan hanya terus berjalan dan berjalan. "Apa ini sudah lewat dari satu minggu? Kurasa perbedaan waktu di tempat ini berbeda dari yang aku tau" Tiba tiba kepala ku terasa berputar putar.


"Hah..?apa itu jalan keluar? Akhirnya.....!"


Kesadaran ku mulai pulih, mataku terbuka perhalan lahan, mungkin karena terlalu lama di dalam kegelapan, sinar yang diserap mataku terasa begitu silau. "Di-diamana aku?"


"Sepertinya ini bukan rumah sakit" aku terbangun di lingkungan yang begitu asing, tempat ini sama sekali bukan rumah ku ataupun ruangan putih yang ada di rumah sakit. Sebuah ruangan aneh, banyak dekorasi klasik yang terbuat dari kayu, suasana yang mirip dengan sebuah rumah pohon, aku bahkan lupa kapan terakhir kalinya aku menghirup udara segar seperti ini.


Kriet.......


Decitan yang terdengar bersamaan dengan suara pintu yang terbuka, membuatku menoleh. Dari luar muncul seseorang pria dengan sebuah baskom di tangannya, "oh! Kau sudah Baaaa-nguuun!" Pria itu berusaha menghindari bantal yang aku lempar ke arahnya "siapa kau?" Tanyaku dengan nada yang tinggi. Ku ambil vas bunga yang ada di dekat kasur sebagai alat perlawanan.


"Fyuh.... untung nggak tumpah airnya" pria itu mengusap dahinya dang menatap ku dengan tajam


"Hey, akan repot jika air ini tumpah, aku sedang malas bersih bersih tau!" Aku tidak bisa mengatakan apapun, bagaimana bisa pria ini bersikap begitu tenang?, atau memang dia yang terlalu santai.


"Jawab dulu pertanyaan ku!, Siapa kau?" Tanya ku lagi


"Bukankah seharusnya aku yang bilang begitu, kau yang tiba tiba muncul di ruang tamu ku dalam keadaan pingsan, dan sekarang mengancam ku dengan sebuah vas bunga, bayi pun pasti akan tertawa melihat ini"


"Kau benar aku terlalu gegabah, tapi aku tidak akan mempercayai mu sepenuhnya" ku letakkan kembali vas bunga yang ku bawa ke atas meja, lagi pula jika dia berani macam macam aku bisa memberikannya tendangan derita 100 abad yang menyakitkan.


"Begitu juga tidak masalah, karena akan lebih enak berbincang dengan secangkir teh dari pada vas bunga".


Pria itu memberikan tanda untuk mengikutinya atau lebih tepatnya untuk keluar dari ruangan ini. Setelah menuruni tangga mataku disambut dengan interior rumah yang sangat unik, sejauh yang ku lihat sama sekali tidak ada barang berbau elektronik, lantai dari kayu, tempat pembakaran api dan saluran cerobong asap, seluruh rumah itu memiliki nuansa klasik abad pertengahan disetiap sudut. Pria itu mempersiapkan ku duduk di salah satu kursi yang tersedia "buatlah dirimu nyaman terlebih dulu, aku akan membuatkan mu minuman" walaupun tidak deberi tau, kurasa dia sedang menuju ke arah dapur.


"Sejauh ini dia sama sekali tidak menunjukan celah" pikir ku, sembari menunggu kepala ku mulai mengumpulkan semua jenis informasi yang ada. Ingatan terakhir ku adalah saat aku tersedot ke dalam TV, maksudku apa ini hal yang masuk akal untuk terjadi?. Dari saat buku itu menghilang saja sudah........


Kepalaku seakan terlambat oleh listrik, mungkin ini adalah kunci jawaban yang kucari. Jika tidak salah mengingat aku melemparkan buku itu ke arah televisi tapi buku itu justru menghilang secara misterius, disaat yang sama aku menyentuh layar televisi dan berakhir disini. Jika buku itu memiliki jawaban dari pertanyaan ku, maka aku harus menemukan kembali buku itu.


"Aku tidak membuatmu menunggu lama bukan?" Pria itu kembali dari dapur dengan membawa nampan berisikan teko dan 2 buah cangkir. Dia menyuguhiku sebuah cangkir dan menuangkan minuman dari teko.


Pergerakannya yang natural bisa saja membuatku menurunkan kewaspadaan, tapi bagaimanapun juga informasi ku masih belum cukup untuk membuatku mempercayai orang asing. Setelah menuangkan minuman untuk ku dia duduk di kursi yang ada di depanku.


"Nah..! Apa kita bisa mulai pembicaraannya?, ku rasa kita harus mengawali ini dengan saling memperkenalkan diri, namaku Kazuo Kalaster, panggil saja aku sesukamu!" Ujar pria itu sambil tersenyum hangat.


"Serena Charsellea, panggil saja Serena atau terserah"


"Dinginnya, kau bisa kesulitan mendapat pacar jika sedingin ini"


Kurasa dia sedang berusaha mencair kan suasana, tapi sayangnya candaanya itu sedikit tidak enak untuk didengar. "Apa harus ku hajar sekarang saja?" Ucapku dalam hati.


Melihat ekspresi ku, pria itu seakan mendapat firasat buruk yang membuatnya merinding.


"A-apa kau tersinggung?ekspresi mu terlihat menyeramkan"


"Lewati saja basa basinya dan jawab pertanyaan ku!"


Kami mengobrol cukup lama, di menceritakan bagaimana saat di menemukan ku pingsang di dalam rumahnya. Dari yang dia ceritakan aku pinsang selama 5 jam dan aku berada di tempat aneh yang belum pernahku dengar, yang jelas ini bukan dunia tempat ku berasal.


Datang giliran dia yang bertanya padaku, tapi aku hanya menjawab dengan jawaban yang mendekati, karena aku sendiri juga bingung harus menjawab apa. Meski begitu wajahnya seakan mengatakan dia sudah tau semuanya.


Waktu berjalan dan hari mulai gelap, cahaya jingga yang pekat mulai masuk melalui kaca jendela.


"Kita sudahi pembicaraannya, aku cukup mengerikan situasi mu, kau bisa tinggal disini jika kah mau!" Ucap pria itu


"Aku benci mengakui ini tapi, aku tidak punya pilihan selain percaya padamu" jawabku sambil menggerutu kesal.


"kau bisa memakai kamarku yang ada di atas, aku akan tidur di ruang tamu"


"Terima kasih!" Sekilas pria itu menunjukan wajah terkejut, tapi wajah itu langsung berganti menjadi sebuah senyuman jahil.


"Ya ampun! Akhirnya kau mempelajari kosan kata baru, aku kira kau tidak akan bisa mengucapkan terima kasih"


kalau dipikir lagi, kurasa itu memang benar. Setelah sadar aku langsung melemparinya dengan bantal, mengancamnya dengan vas bunga, dan sekarang mengizinkan ku tinggal disini. Kalau begini ceritanya aku jadi merasa bersalah.


"Kau berkata begitu membuatku terlihat jahat saja!"


"Karena ini memang sifatku dari lahir" jawab pria itu sambil mengangkat bahu.


"Maksudmu sifat membuat orang lain merasa tersinggung!"


"Aku tidak akan mengatakan apapun"


"terserah kau saja, dan ya! Terima kasih sudah menolong ku saat pingsan tadi"


"Sama-sama" sebuah senyuman tipis terpasang di wajahnya, aku langsung pergi ke lantai atas untuk beristirahat, sesaat ku lirik ke arah belakang dan melihatnya melambaikan tangan.


"Kurasa dia tidak terlalu buruk" gumamku


Malam hari, angin bersembunyi cukup kencang, di sebuah rumah masih ada satu lentera yang menyala. Dengan sumber cahaya yang terbatas, lentera kecil itu menemani seseorang yang sedang membaca buku. "Siapa sangka, aku akan bertemu denganmu lagi secepat ini" terdengar suara halaman buku yang di balik.


"Nenek tua itu!, sebenarnya bagaimana dia bisa melakukannya?, dia benar-benar sesuai dengan yang kepikiran, pemeran utama wanita Kunci Yggdrasil..."