I Try To Write The Second Novel

I Try To Write The Second Novel
BAB 12. " Arina "



"Tempat ini terlihat lebih gelap dari saat terakhir kita datang tadi"akhirnya kami sampai di depan toko barang antik, "Tunggu sebentar akan aku nyalakan obor" Kazuo mengeluarkan sebuah pematik api dari sakunya lalu menyalakan sebuah obor yang ada di depan toko itu. Penglihatan ku jauh terasa lebih baik setelah api dari obor itu menerangi gelapnya malam.


Kazuo membuka kunci pintunya dan dan masuk ke dalam toko. "Ini nyalakan lentera yang ada di atas meja itu!" Dia melemparkan pemilik apanya padaku dan menunjuk ke arah meja yang berada di dekat pintu. Selagi aku menyalakan lentera di mulai menyingkirkan barang barang antik yang memenuhi ruangan itu ke pinggir, sampai menyisakan tempat kosong untuk berdiri dengan lebih leluasa. Ku ambil lentera yang sudah kunyalakan dan membawanya ke tengah ruangan.


"Sebenarnya kenapa kita kembali ke tempat ini?" tanyaku, Kazuo tidak menjawab pertanyaan yang kulontarkan justru dia yang menanyakan hal lain kepadaku. "En, kau juga salah satu pembaca buku ku bukan!?" Aku mengangguk kecil "meski begitu aku masih pembaca baru, aku mulai membaca setelah kabar bahwa kau menghilang beredar di internet" menghitung berapa lama K.K dikabarkan menghilang dan berapa lama yang waktu yang dihabiskan Kazuo di tempat ini, membuktikan bahwa kedua te dunia ini memiliki lintas waktu yang berbeda. Satu Hari di dunia asli ku sama dengan satu bulan di dunia ini, lalu K.K sudah dikabarkan hilang setidaknya sudah lebih dari satu minggu, yang artinya Kazuo sudah tinggal di sini selama lebih dari setengah tahu. Berbeda dengan ku yang baru saja tinggal selama dua hari, artinya sudah 18 jam terlewat di dunia asal ku.


"Kalau begitu aku akan bertanya satu hal, jika kita berada di dalam Novel Kunci Yggdrasil, menurut mu siapa yang paling mencurigakan sebagai dalang kita terjebak di tempat ini" pertanyaan Kazuo membuatku berfikir keras, aku tidak pernah berfikir jika terjebaknya aku disini adalah karena perbuatan dari seseorang. Jika di lihat dari sudut pandang novel maka hanya satu orang yang menjadi dalang di balik semuanya, sosok yang di sebut sebut sebagai batu loncatan para pemeran utama, sosok yang yang di puja puja sebagi utusan dewa negeri ini, penjaga dari akhir cerita Kunci Yggdrasil.


"Arina Ravian Ernalyne Nyx Giliel Aletthea Khavarton!, maksud mu dia!?"


"Binggo !"


Dalam sekejap angin berhembus dengan kencangnya , dan masuk kedalam toko. Api yang kami nyalakan padam begitu saja membuat kami kehilangan pencahayaan. Perlahan muncul kabut halus yang semakin lama semakin tebal , kabut itu terlihat seperti berwarna ungu dan cahaya jingga matahari terbenam. Kini kaki ku tidak lagi menginjak tanah, "Hey..!, apa yang sebenarnya terjadi?" Aku tidak bisa menemukan Kazuo kemanapun mataku memandang.


Hal ini terjadi lagi, aku berada ditempat aneh seperti ini. Waktu itu hanya jiwa ku saja yang terombang ambing di dalam ruang hampa, tapi kali ini tubuhku juga ikut tanpa ada yang kurang ataupun tergores. Aku melihat cahaya muncul dari kejauhan, jika ini sebuah terowongan maka cahaya itu adalah jalan keluar, ku coba untuk berjalan ke arah cahaya itu berasal. Meskipun tidak ada tanah aku merasa seperti berjalan di atas awan, seakan terdapat kaca transparan yang ku gunakan sebagai pijakan kaki.


Beberapa saat kemudian, mulai muncul tanaman menjalar dari arah atas, aku bahkan tidak yakin apakah itu tanaman asli atau bukan, bentuknya mirip seperti akar gantung pada pohon beringin, disela sela rongga yang ada di akar itu seakan tersangkakut puluhan kunang kunang kecil diantaranya membuatnya terlihat seperti lampu tambler yang sering kami pasang di hari kemerdekaan. Lalu sampailah aku dimana tanaman menjalar itu tersusun dan tertata dengan rapi bagai tirai alami. Ku buka tirai tanaman menjalar itu, dibaliknya terdapat pemandangan air terjun kecil dan sebuah danau kecil sebagi muaranya, detengah tengah danau itu terlihat jelas sebuah patung besar berdiri.


Patung itu menggambarkan sosok seorang perempuan yang berdiri dengan tegap, tatapannya melihat kearah atas lalu terdapat sebuah lentera yang digenggam di tangan kirinya sementara tangan kanannya mengangkat sebuah buku dengan ukiran di atasnya. Setiap lekukannya begitu detail dan terperinci, membuat sosok patung itu terlihat begitu asli dan hidup.


"Waaaah...! Cantiknya!"


"Terima kasih"


Tiba tiba terdengar suara yang begitu familiar, aku menoleh tapi tidak ada seorang pun disini. "Siapa?, siapa yang bicara?, tunjukkan diri mu!"


"Aku tepat didepan mu" dia berkata ada di depan ku tapi tang ada dihadapkan ku hanyalah sebuah sebuah patung yang ada di tengah danau.


Kaki ku melangkah lebih dekat menuju danau, hingga akhirnya ujung jari kaki ku mulai menyentuh air. Guncangan hebat terjadi tepat saat itu juga, meskipun aku tidak menginjak tanah tapi aku masih bisa merasakan getaran yang begitu kencang.


KRAAK....KRAAK.....TAK...


Genangan itu membuat beberapa retakan di patung besar itu, dari retakan kecil di kepala, retakan itu terus berlanjut kebawah menjadi retakan besar. Sinar yang menyilaukan muncul di celah retakan retakan itu, sedikit demi sedikit patung itu mulai terkikis, dan BOM... patung itu meledak dan membuat bagian patung itu menjadi butiran pasir kecil. Ku halangi serpihan yang berterbangan itu dengan tangan ku.


"Wahai atma sang Pengembara" Sekarang aku ingat mengapa suara itu terdengar familiar, karena itu adalah suara yang sama dengan yang aku dengar saat berada di ruangan gelap dulu. Ku coba untuk mengintip dari sela jari ku, dan yang ku lihat adalah patung wanita itu telah berubah menjadi sosok wanita sungguhan.


Rambutnya terurai panjang dan terlihat begitu halus dan lembut bagai sutra, dengan warna emas menyala membuatnya terlihat begitu menawan. Aura yang dipancarkannya seakan berkata jika dia adalah seoarang dewi yang akan melindungi kita, tubuhnya yang tinggi di balut dengan kain seputih mutiara laut dalam, dan menambah kesan misterius diarinya.


"Wahai atma sang Pengembara" aku tidak bisa melihat wajahnya dengan begitu jelas satu hal yang pasti aku merasa jika dia sedang tersenyum ke arah ku.


"Sekarang apa yang harus aku lakukan?, berlutut atau memberi hormat" aku sepanik ikan yang terlempar dari aquarium, "hai Serena!" Dia menyapa ku sambil malambaikan tangannya "eh?" Lagi lagi aku tidak bisa memahami situasi yang aku alami.


"Apa dia Arina?" Aku tidak terlalu ingat dia digambarkan seperti apa di novel, mengingat namanya yang panjang saja memerlukan waktu cukup lama, hanya saja perkataan Kazuo yang menyinggung soal Arina ada kemungkinan jika dia memang Arina yang aku tau.


"Maaf atas ketidak sopanan ku, aku seharusnya bisa menyambut dengan lebih baik jika saja tuan K.K memberitahukan lebih banyak tentang dunia kalian"


Aku hanya bisa membungkuk pelan sebagai jawaban dari sapaannya. "Tidak perlu terlalu sopan seperti itu, aku juga tidak terlalu suka dengan penghormatan yang formal, khusus untuk kalian, bersikap santai saja kepada ku" wanita itu berkata dengan nada yang ramah, aku tidak merasakan adanya nada ancaman darinya.


"Arina benarkan?" Aku bertanya memastikan


"Aku ulangi sekali lagi, Arina Ravian Ernalyne Nyx Giliel Aletthea Khavarton, aku lag petunjuk sekaligus pemandu dari akhir perjalanan kalian" rasa penasaran ku kini terjawab, dia memanglah sosok Arina yang ada di dalam novel.


"Baiklah karena perkenalanya sudah selesai, bagaimana kalau kita mulai mengobrol En-chan" aku sudah terlalu lelah untuk tekejut, "dari mana kamu belajar semua itu?" Tanya ku spontan "Tuan K.K bilang jika saat ingin dekat dengan seseorang harus memanggil dengan harus menyertakan kata chan di belakang nama pendeknya" aku tidak tau apa itu benar atau tidak, satu hal yang aku tau jika Kazuo adalah blesteran antara orang jepang dan orang barat, aku tidak tau pastinya, ditambah lagi karakter Arina adalah orang yang haus pengetahuan akan hal hal baru. Kemungkinan besar alasan penyembuhan ku yang sedikit unik tadi adalah karena pengaruh dari Kazuo.


" jadi nenek-" karena sudah terbiasa, aku tidak sengaja memanggilnya dengan nama yang sering aku gunakan saat membaca novel, sesaat aura cahaya yang ada di tubuh Arina seketika berubah menjadi gelap.


"Sedikit tambahan usiaku tidak setua itu sampai aku menjadi nenek nenek" dia tersenyum tapi nada bicaranya berkata lain, memang dari awal aku memanggilnya nenek karena usianya sudah lebih dari 800 tahun. Itu dihitung sejak dia ditugaskan untuk menjadi penjaga tujuan akhir dalam novel.


Hanya saja fisik tubuhnya tidak mencerminkan seseorang yang sudah berumur 800 tahun. "Maaf!, maksudku Arina ini sebenarnya tempat apa?, tadi aku sedang berada di toko barang antik bersama Kazuo"


Kembali ke permasalahan utama aku bertanya kepada Arina, "ini dalam alam buatan milikku, hanya orang yang mendapat izin ku yang bisa berada disini" jawab Arina singkat. " ada tiga alasan kenapa aku ingin bertemu dengan mu disini, alasan pertama karena aku ingin memberikan sesuatu padamu kamu akan tau setelah kembali dari tempat ini"


"Kedua, kamu pasti sudah mendengar dunia seperti apa yang kami pijak sekarang, singkatanya aku ingin kamu menuliskan lanjutan dari kisah ini, tentu saja bersama dengan tuan K.K para tokoh lainnya. Dan yang terakhir akan aku sampaikan saat persiapkan kalian selesai" otakku berusaha untuk mencerna setiap perkataan Arina


"Tunggu sebentar, aku masih tidak mengerti, apa maksudnya menulis lanjutan?" Tanyaku.


" buku pertama selesai dan akan dilanjutkan ke buku selanjutnya, walaupun belum menuju akhir cerita tapi dunia ini tetap berjalan sebagaimana mestinya. Tapi disetiap awal pasti ada akhir, mereka yang menjadi roda penggerak masih memiliki ruang untuk sebelum menuju akhir cerita"


"Apa pengisi ruang kosong itu aku dan Kazuo?"


"Benar!"


"Bukan kah itu sama saja kami akan menjadi tokoh utama dalam novel"


"Tergantung bagaimana kamu mengartikannya, karena bagi kami dunia ini bukanlah novel seperti yang kalian tau, itu juga berlaku untuk ku tapi ada satu hal yang bisa mematahkan teori itu"


"mematahkan teori, apa maksudnya itu?"


"Baiklah hanya ini yang bisa kusampaikan untuk sekarang, sisanya aku serahkan kepada kalian" Arina mengeluarkan sebuah bola cahaya dari tangannya lalu diarahkan bola itu ke arah ku. Sianarnya yang begitu sialau membuatku menutup mata, pandanganku berubah dan kaki ku kembali menginjak tanah.


(Kembali ke masa sekarang)


"Aaaaaaaa, aku lupa menanyakan soal rambutku!!" Ku kepalkan tangan ku dengan sekuat tenaga, tiba tiba dari sesuatu jatuh dari atas dan menimpa kepala ku, saat aku menunduk ke bawah sebuah kunci berkarat tergeletak di atas lantai. " Akhirnya paketnya sudah sampai, karena sudah sampai ke titik ini sepertinya sudah waktunya kita bergerak En" Kazuo memancarkan aura yang berbeda dari bisanya, sorot matanya terus tertuju pada kunci ku pegang.


"Bergerak?, bergerak kemana..?" Dia tidak langsung menjawabku dan hanya tersenyum misterius seperti biasanya. " kemana lagi, ibu kota Qallegia, DEXALONE!"