I Try To Write The Second Novel

I Try To Write The Second Novel
BAB 2. "Tertunda"



Tanpa kusadari volume suara dari televisi terdengar semakin keras, sekilas ku lirik adikku yang sedang mengerjakan tugas, dan yang ku lihat hanyalah ,dia yang berbaring di atas karpet ditemani dengan setoples camilan dan pensil yang tersangka diantara mulut dan hidungnya. Dia juga tidak bisa menggapai remot televisi dengan jarak itu. Mungkin hanya kebetulan pikirku saat itu.


Setelah menyetel kembali volume suara televisi, aku teringat dengan pembicaraan ku dengan Nayla saat kami di kedai tadi. Kurasa tidak ada salahnya untuk bertanya sekarang.


"Dek kakak boleh nanya nggak" kucolek bahunya agar dia merespon


" apa ? " jawab Lyra singkat


" novel yang judulnya *Kunci Yggdrasil *, masih kamu simpan kan?" Tanyaku


" masih kok buat, emangnya buat apa??"


"Pinjem dong!" Sekejap dahi Lyra langsung mengerutkan dan menjawabku dengan mencibir "hah.... dulu ditawari nggak mau sekarang nanya, udah telat berapa tahun kak".


Saat awal- awal novel itu rilis Lyra sempat menawarkan untuk membacanya juga, tapi aku yang saat itu sedang disibukkan dengan tugas kuliah, langsung menolaknya mentah- mantan. Ku rasa wajar jika adikku yang imut ini sedikit merasa kesal.


" kamu tau kan, waktu itu kakak lagi sibuk-sibuknya"


" tau kok, kakak bahkan sempat ke psikolog gara-gara takut liat tumpukan kertas" saat itu aku yakin bahwa adik imut ku yang satu ini sedang menahan diri untuk tidak tertawa terbahak bahak.


Walaupun begitu yang dikatakannya memang benar, butuh waktu sekitar 3 minggu sampai akhirnya aku bisa kembali menjadi mahasiswa dengan tumpukan tugas."Kalo gitu nanti aku ambilin" Ucapnya dengan mulut penuh camilan


"tapi kakak yakin mau baca, bukunya belum selesai loh, kakak kan nggak suka sesuatu yang menggantung"


"Bukanya buku ke duanya bakal terbit?" Lyra hanya menggeleng "pengerjaannya di tunda, baru aja ada kabar kalau penulisnya menghilang selama 2 hari"


"Terus bukunya?" "seperti kataku di tunda filmnya juga sama".


Saat itu juga ku cek ponselku untuk memastikan sesuatu, dan benar puluhan panggilan tak terjawab dari Nayla sejak 2 jam yang lalu, tidak hanya itu semua pesan teks yang ia kirimkan adalah keluhan tentang tertundanya buku favoritnya, dan juga pesan spam emotikon ekspresi menangis dan juga marah.


Mengingat seberapa semangatnya dia saat bercerita kepadaku saat di kedai tadi, itu artinya dia jua baru tau tentang kabar ini.


Sekarang mungkin dia sedang melampiaskan kemarahannya kepada Tora "semoga kau selamat menghadapi cobaan yang berat itu" ucapku dalam hati


" Jadi masih mau pinjam?"


" mau gimana lagi, kakak udah minum racunnya" mendengar itu Lyra langsung tersenyum lebar sambil mengacungkan kedua ibu jarinya padaku.


Beberapa saat kemudian, mama baru saja pulang dari bakery tepatnya pada pukul 21.30 saat itu Lyra sedang tertidur di ruang tengah saat sedang mengerjakan tugas. Ku bangunkan dia untuk memebereskan bukunya dan pindah ke kamar. Aku sempat mengobrol sebentar dengan mama sambil menonton televisi, tapi tak lama setelahnya aku langsung kembali ke kamar untuk tidur.


Pip..pip..pip..pip..pip.pip..pip..klik


Alarm ponsel ku berbunyi, sinar matahari mulai menampakkan dirinya dan masuk ke dalam kamarku melalui celah jendela. Aku yang baru saja bangun masih mencoba untuk membuka mataku yang berat, ku garuk rambutku meskipun tidak gatal, aku yakin kalau sekarang rambutku terlihat sangat berantakan. Kesampingkan dulu masalah rambut sekarang waktunya merapaikan tempat tidur.


" En kamu sudah bangun kan, sarapannya sudah siap" atau mungkin tidak, teriakan itu adalah tanda bahwa mama masih berada di rumah. Dan sepertinya aku akan mendapatkan tugas hari ini, karena tidak ada alasan lain bagi seorang mama yang super sibuk belum juga berangkat pada jam sembilan.


Setelah tempat tidurku rapi, entah sejak kapan ada sebuah buku asing di atas meja kamarku, tertempel sebuah memo pada buku itu, dan tertulis


"Ini bukunya selamat membaca:)" Kunci Yggdrasil, judul buku itu terpampang dengan jelas dan tertulis dengan cetak besar pada sampulnya. Tapi yang membuatku terkejut adalah tebal dari buku ini, pikiranku sekarang sedang menimba seberapa berat buku ini, mungkin setengah kilogram.


" Serenaaa!!" Mama kembali berteriak


"iya maaa!, sebentar" " sepertinya akan butuh waktu lama untuk membacanya" kuletakkan kembali buku itu ke atas meja dan langsung bergegas turun ke bawah, dari tangga terlihat mama yang menyiapkan sepiring pancake di dapur, aroma pancake yang masih hangat mengaktifkan suara dalam perutku.


"Akhirnya turun ju- Astaga!!" Untuk sesaat aku melihat wajah mama yang terkejut, mama mengedipkan matanya beberapa kali seakan meyakinkan penglihatan nya "En , rambut kamu kenapa? Kok bisa keriting begitu"pernyataan mama membuatku sadar kalau sekarang rambutku dalam keadaan benar benar berantakan. Entah keturunan atau apa tapi rambutku selalu terlihat berantakan terutama setelah bangun tidur, pernah suatu hari Lyra yang dimintai tolong untuk membangunkan ku pingsan saat melihat rambut panjang yang menutupi wajahku. Warna hitamnya yang pekat serta panjang membuatku terlihat seperti sosok hantu dalam film. Bukan hanya itu, kebetulan hari itu sedang hujan badai dengan guntur dan kilat yang membuat suasana kamarku menjadi lebih mencekam, siapa pun pasti pingsan jika berada di posisi Lyra.


"Cuci wajahmu dan rapikan dulu rambutmu sana, setelah itu kamu boleh sarapan" tegas mama "eeeee.. tapi pancake nya?" "Cuci muka dulu!" Siapapun tau bahwa seorang ibu adalah pemegang tahta terbuat di dalam rumah, tidak ada perkataannya yang bisa dibantah.


Dengan buru buru aku pergi ke kamar mandi dan langsung membasuh muka, lalu tepat saat aku bercermin, terlihat bayangan rambutku yang terlihat seperti jerami kering "pantesan aja!" Ku ambil sisi dari rak kamar mandi dan mulai merapaikan nya. Meskipun rambut ini sering berubah wujud setelah bangun tapi rambutku cukup mudah di atur, hanya dengan menyisirnya semuanya akan kembali seperti semula.


Tak butuh waktu lama sampai akhirnya aku kembali kedapur, kuambil gelas dan mengisinya dengan air, tentu saja aku tidak melupakan pancake nya dan membawanya ke ruang tengah. Tepat setelah aku meletakkan piring dan gelas di atas meja mama keluar dari kamarnya dan turun kebawah, melihat pakaiannya yang rapi ditambah dengan tas tangan yang tergantung di pundaknya menunjukkan bahwa mama akan segera berangkat bekerja.


"Nah gitu dong kan enak dilihatnya" ujarnya dengan tertawa kecil "mama mau berangkat, tumben banget belum berangkat jam segini?" Tanya ku


" iya, tadi Lyra mau sarapan di rumah, sekalian aja deh mama buatin kamu sarapan juga".


Tring...Tring......


Terdengar suara dering ponsel, mama langsung membuka tasnya dan mengangkat telfon itu. Meskipun tidak terdengar aku tau kalau itu adalah panggilan dari pegawai bakery "En. Mama berangkat sekarang ya!.......oh ya nanti tolong belikan makan siang untuk karyawan dan kirim ke bakery ok" "iya, hati hati di jalan" setelah salam perpisahan itu, kufokuskan diriku untuk menghabiskan sarapan.


Tidak sampai 30 menit, makanan dari atas piring itu langsung berpindah ke dalam perutku. Di saat yang sama poselku berbunyi, kulihat ada pesan teks dari Nayla


" En, keluar yuk!"


"Kemana?"


"Kemana aja, aku mau ngilangin sters:'("


" kau nggak kerja?"


"Hari ini aku cuti, Tora malah lagi sibuk"


"Kalo gitu ku tunggu di tempat biasa ya!"