
Semalam sebelum keberangkatan menuju Ibu kota, kamu kedatangan tamu tidak terduga, nenek Irene atau lebih tepatnya sang Dewi Arina yang sedang menyamar agar busa bertemu dengan kami secara langsung. Pembicaraan terakhir ku dengannya adalah saat aku berada di dalam alam buatan miliknya pada pertemuan pertama kami.
Ada tiga hal yang dia sampaikan padaku saat itu. Pertama sebuah kunci berkarat yang sampai sekarang masih belum diketahui kegunaannya, sebenarnya pemeran utama dalam novel Kunci Yggdrasil juga memiliki kunci yang sama, hanya saja sampai akhir cerita pada buku pertama kunci ini masih menjadi misteri yang belum memiliki petunjuk. Bahakan saat aku bertanya pada Kazuo, dia hanya menggeleng kan kepala, dia bilang ingatannnya sedikit ditutup oleh Arina sehungga dia tidak akan ingat bagaimana cerita ini bersambung atau berakhir.
Kedua permintaannya pada ku dan Kazuo untuk menjadi salah satu dari pemeran utama dan menuliskan kelanjutan cerits negeri ini, bahkan tanpa penjelasan yang jelas. Sementara yang ketiga belum pernah dia bicarakan sampai detik ini, kalimat terakhir yang dia ucapakan hanyalah dia akan menjelaskan semuanya begitu persiapan kami selesai. Lalu satu hal yang muncul dalam pikiranku adalah selesainya persiapan kami sebelum berangkat besok pagi.
"Banar!, ada satu hal lagi yang belum ku sampaikan pada kalian" dengan matanya yang menyipit, seriangai misterius terpasang dengan jelas di wajahnya.
"Kuharap jangan terlalu mempersulit keadaan dengan memakai kalimat yang sulit dipahami Arina, langsung saja pada inti pembicaraannya.
Dan seperti biasa Kazuo terlihat tidak sopan dihadapkan pada Arina, padahal sosoknya sekarang adalah seorang nenek tua dengan sebuah tongkat. ( Tidak untuk ditiru, selalu bersikap sopan pada orang yang lebih tua)
"Kalau begitu coba jawab pertanyaanku lebih dulu, apa yang biasanya dimiliki oleh seorang pemeran utama?"
"Hmmm..."
Secara spontan otakku langsung memproses pertanyaan yang diajukan Arina maksudku nenek Irene. Sudah ada beberapa jawaban yang terpikirkan dalam kepala ku tapi sebelum aku bosan menjawab apapun, Kazuo sudah terlebih dulu menyela di tengah keheningan.
"Baiklah nenek Irene, tolong kita akhirnya saja sesi kuis ini dan melanjutkan ke permasalahan utama, atau aku akan menghapus nama Arina dari daftar anak kesayangan ku"
"Tunggu!, apa Arina mengabaikan peringatan Kazuo tadi karena Kazuo memanggilnya Arina dan bukan nenek Irene, dan lagi apa kalimat terakhir yang kau ucapakan itu perlu" pikiranku dipenuhi dengan dialog- dialog aneh yang mewakili suara hati ku, dalam hati aku menutup mulutnya sekarang juga. "...kurasa jawabannya wajah, maksudku 99% pemeran utama dimanapun itu memiliki ketampanan dan kecantikan yang sering bibicarakan, bahkan jika diperlukan pemeran figuran juga akan diberikan paras rupawan oleh si pengarang" jujur terkadang aku berfikir kenapa aku yang berpenampilan biasa dan mendekati kata pas pasan serta memiliki sifat abnormal ini bisa masuk ke dalam novel romanasa fantasi.
"Sayangnya jawaban Serena masih kurang tepat!" Aku kembali memutar otak untuk mencari jawaban yang benar
"Senjata!" Kazuo yang tadi seakan tidak peduli dengan pertanyaan Arina melontarkan jawaban dengan sangat singkat. "Apa aku salah?" Nenek Irene hanya terdiam sesaat lalu menepuk tangannya dengan pelan.
"Tidak itu jawaban yang benar, seperti yang bisa diduga dari tuan Kazuo" hal yang terjadi selanjutnya adalah nenek Irene mengetukkan tongkat yang dibawanya kemarin lantai sebanyak tiga kali. Lalu muncul sebuah lingkaran sihir dengan pola yang tidak ku mengerti muncul di atas meja, lingkaran itu bergerak dari atas ke bawah dan mengeluarkan cahaya yang menyilaukan, tiba tiba saja muncul beberapa barang di tempat munculnya lingkaran sihir.
Sebuah buku kecil dengan pena bulu di atasnya, lalu sebuah sarung tangan beranda putih dengan tiga permata yang terlihat seperti kaca pada bagian punggung tangan, dan tang terakhir sebuah jam saku dengan ukuran berbentuk naga yang cantik. Nenek Irene berjalan menghampiri meja dn memberikan kepada kami masing-masing, "ini untuk tuan Kazuo, dan ini milik mu Serena!" Sarung tangan itu diberikan padaku sementara buku dan pena bulu diberikan pada Kazuo.
"Ketiga benda ini akan menjadi senjata yang akan kalian gunakan" Ucap Nenek Irene, dilihat dari manapun sarung tangan ini hanyalah sarung tangan biasa, tapi aku tatap suka karena rendahnya yang begitu detail dan cantik, aku juga tidak bisa mengatakan jika sebuah buku dan pena dapat dijadikan sebagai senjata.
"Senjata dengan barang barang seperti ini" ucapku berkomentar.
"senjata tidak hanya sebuah benda tajam Serena, pengetahuan, informasi, bahkan sebuah lagu dapat dijadikan sebagai senjata mematikan jika digunakan dan dipakai oleh orang yang tepat, dalam kasus kalian barang barang itu adalah senjata paling cocok untuk kalian".
melihat raut wajahku yang masih tampak kebingungan, dia langsung beralih ke arah Kazuo, dia mengulurkan tangannya tanda meminta buku yang dipegangnya. "Akan aku berikan sedikit demonstrasi, buku ini dalam salah satu alat perantara sihir, meski jarang digunakan jika tuan Kazuo yang memakainya maka ini dapat dijadikan sebagai senjata ampuh dalam keadaan genting sekalipun"
Dia menuliskan sesuatu dengan pena bulu itu pada salah satu halaman buku, "Ylup" dia menggumamkan sebuah kata dan membuat cangkir yang ada di atas meja melayang beberapa cm dari permukaan meja.
"Yang harus dilakukan hanyalah, menuliskan mantra yang akan digunakan lalu akan diwujudkan seperti itu, tentu saja penggunanya harus memiliki Alteric dengan jumlah tertentu jika ingin menggunakan sihir, karena itu ini adalah senjata paling cocok bagi tuan Kazuo" nenek Irene menjelaskan tata kerja dari buku yang dibawanya tapi masih saja ada beberapa hal yang tidak terlalu tepat menurut ku "Bukankah itu tidak terlalu efektif?, terutama pada pertarungan sebenarnya, tidak ada jaminan Kazuo tidaka kan diserang saat menuliskan mantra?!"
"Masalah itu bisa di atasi jika tuan menggunakan mantra Speed ellis terlebih dulu sebelum bertarung, dengan begitu kecepatan menuliskan akan meningkat 20 kali lipat dari biasanya, mungkin 100 kata dalam 10 detik"
"Bisa aku coba sekarang" Kazuo menunjukan ketertarikan saat nenek Irene mengatakan 100 kata dalam 10 detik, kurasa memang sudah dari karakternya sebagai penulis yang menganggap itu adalah sesuatu yang sangat luar biasa.
Nenek Irene menanggapinya dengan sebuah anggukan kecil lalu mengembalikan buku itu pada Kazuo.
"Woww...!, lihat dua halaman hanya dalam 10 detik" melihat hasil dari yang dilakukan Kazuo membuatku menatap dengan lamat sarung tangan yang sedang ku pegang, yang membuatku tertarik dari tadi adalah tiga permata yang menempel pada bagian punggung tangan, tidak kurasa itu lebih mirip dengan sebuah kaca transparan yang berbentuk seperti permata. "Kau ingin tau cara kerjanya?" Tanya nenek Irene, dengan antusias aku menggangguk dengan cepat.
"Tidak berbeda dari saat kau melakukan gerakan bela diri, tapi ada beberapa tahap yang berbeda, fokuskan dirimu untuk memusatkan Alteric pada salah satu tabung kaca (permata) itu lalu lepaskan sebagai serangan" rasa antusias ku yang tadi muncul berubah menjadi tanda tanya.
"Me-memusatkan, lepaskan, maksudnya?" Kalimat nenek Irene jauh lebih sulit dipahami dari sebelumnya, "Ari, maksudku Nenek Irene seharusnya kau menjelaskan dengan bahasa yang mudah dipahami olehnya, kali ini biar aku yang ambil alih, sebelum itu En apa kau tau maksud dari Alteric?"
Jika ingatan ku tidak salah Alteric adalah nama dari sumber energi sihir yang ada di novel Kunci Yggdrasil, tidak hanya itu Alteric juga dapat digunakan untuk menguatkan bagian tubuh tertentu untuk bertarung. Dan lagi jika pengguna Alteric dapat mengendalikannya dalam tahap tertentu maka mereka akan dapat menggunakan Aura.
"Intinya mirip dengan kekuatan spiritual dalam tubuh yang mampu mengeluarkan sihir" jawabku.
"Benar, dalam kasus mu Alteric yang kau simpan dalam tabung kaca atau apalah itu, akan dilepaskan bersamaan dengan serangan yang kau luncurkan dan efeknya akan bertambah menjadi lebih kuat" penjelasan Kazuo membuatku sedikit memahami perkataan nenek Irene.
"Lalu untuk memusatkan Alteric, fokuskan saja dikiran mu dan bayangkan saja seperti sebuah aliran air yang masuk kedalam tabung kaca, semakin banyak jumlah tabung yang diisi akan semakin kuat pula serangan mu, tapi pastikan itu hanya terjadi jika keadaan benar benar genting" lanjut nenek Irene menambahkan penjelasan Kazuo.
"Aku akan mencobanya!" Aku memakai sarung tanag itu lebih dulu, kemudian Kupejamkan mata ku dan mencoba untuk fokus, seperti yang dikatakan Nenek Irene aku membayangkan adanya aliran air yang masuk kedalam tabung kaca pada sarung tangan yang kupakai. Begitu mata ku terbuka, salah satu dari permata itu sudah berubah warna menjadi hijau, seakan mengubahnya menjadi emerald yang indah. "Sepertinya tidak ada yang harus dikhawatirkan"
Karena terlalu senang aku kehilangan fokus, dan tabung kaca itu kembali menjadi transparan. Sepertinya aku tidak boleh sampai kehilangan fokus saat melakukannya. Lagipula tidak ada target yang bisa dipakai untuk melepaskan Alteric yang terkumpul , aku juga tidak mungkin menggunakannya dalam waktu dekat ini.
(Pemikiran sebelum keberangkatan)
"Lalu barang yang ini untuk apa?" Kami sudah mengetahui fungsi dari dua barang yang kami terima tapi....
"Dia bilang barang ini akan otomatis aktif disaat saat tertentu" kembali pada masa kini, kami sedang dalam perjalanan menuju pemberhentian pertama, setidaknya memerlukan waktuvyang sedikit lebih lama dari jadwal .
"Beruntung barang barang ini tidak terlalu moncolok dimata publik, kita juga tidak akan dianggap aneh juka menggunakannya di depan orang lain" Kazuo meletakkan kembali brangkat barang itu di dalam kotak yang sama dengan kotak penyimpanan kunci.
"Apa tidak maslah menyimpan barang sepenting itu hanya dalam sebuah kotak"
"Pencuri mana yang mau mengambil kotak tua ini"
(Berisi permata?, terlihat mahal) aku mengangkat alis ku memastikan kembali kaliamt yang diucapkan Kazuo.
"Baiklah mungkin bisa saja itu terjadi, tapi selam ada di dalam pengawasan tuan Kazuo yang hebat semuanya akan baik baik saja" meskipun ada sedikit keraguan adalah kalimatnya tapi tidak ada pilihan lain selain percaya.
"Lalu berapa lama kita akan singgah saat turun nanti?"
"Setidaknya kita akan sampai saat matahari terbenam, setelah sampai dan mencari penginapan kita akan langsung melanjutkan besok"
"Tidakkah itu terlalu cepat" Aku tidak terlalu setuju dengan rencana Kazuo, memang ada baiknya kami segera sampai di ibu kota tapi tidak ada salah ya juga untuk sedikit bersantai. Melihat ku memasang wajah murung membuat Kazuo menghela nafas panjang.
"Baiklah kita akan melanjutkan perjalanan setelah puas melihat lihat paling lama adalah dua hari dua malam selanjutnya tidak ada protes lagi, bagaimana?"Mendengar itu wajah muram ku berubah menjadi senyuman lebar, " siap laksanakan!" Ucapku sambil memberikannya sebuah hormat.aku tidak sabar menantikan hal apa yang akan menyambut ku nanti, dengan perasaan bahagia aku membayangkan semuanya sembari melihat pemandangan.
"Padahal usia kita hanya beda satu tahun tapi aku jadi merasa seperti memiliki adik sungguhan yang masih berumur 10 tahun lebih muda dari ku. Serena Charsellea, menurutmu apa yang akan terjadi jika kita bertemu lebih awal di dunia asal kita, apa aku akan tetap menerima semua perlakuan buruk itu, atau aku akan menemukan jalur yang berbeda ......?"