
****
Setelah kepergian Desi untuk pulang ke rumah, Aryo segera berlari pelan masuk ke toko, "Ma, Aryo udah sampai,"
"Makasih kak, bantu mama dulu ya,"
Aryo berkeliling, melihat stok barang yang sudah berkurang untuk dicatat dan diberitahu kepada Ibunya sekaligus memeriksa tanggal kadaluwarsa.
"Ada yang bisa dibantu Bu?" Tanya Aryo pada seorang Ibu yang kebingungan.
"Boleh ambil yang di atas Mas. itu," tunjuk pelanggan itu pada sebuah rak yang memang terlalu tinggi.
Aryo mengambil kursi, dan tentu membantu untuk mengambil barang tersebut, kemudian menyerahkan kepada Ibu tersebut.
"Terimakasih Mas,"
Aryo mengangguk pelan sebagai balasan
Sesekali Aryo berbicara dengan sang Pelanggan lain, sesekali mengarahkan sang Pelanggan ke barang yang diinginkan karena tidak tahu letaknya dimana, semua itu dia jalani dengan ikhlas dan tentunya demi keamanan dirinya.
---
Istirahat ketiga telah berbunyi, sebagian siswa X ipa 2 pergi menuju kantin, ke perpustakaan, ke toilet dan ada yang masih menginap di kelas, diantaranya ada aryo dan Desi masih di kelas dan mereka ada semeja,
"Yo, ayok ke kantin!" Ajak Desi lalu memasukkan bukunya ke dalam laci meja
"Ayok" Aryo menerima ajakan Desi dan melakukan hal yang sama, memasukkan bukunya ke laci.
Keduanya berjalan santai, namun penuh was-was, untuk jalan menuju kantin yang lumayan jauh itu terbilang mulus meski masih ada keraguan dalam diri aryo bahwa saat ini akan mulus, Desi selalu membuat diri Aryo terasa harus mampu menghadapi hingga tak terasa mereka ada didepan ibu kantin, Desi dan aryo memesan mie goreng secara bersamaan dan 2 bungkus kerupuk, kemudian berjalan menuju kursi kosong di dekat pintu.
Dari ujung sana, Niko memperhatikan kedua makhluk tersebut kadang-kadang, dia tidak ingin dicurigai apalagi dituduh yang gak baik-baik. tatapannya datar, sedatar lantai kantin. Niko akhirnya berdiri dari kursinya dan menuju meja Aryo dan Desi,
"Boleh duduk?" Izin Niko setelah berdiri tepat di depan Aryo
Aryo hanya menatap datar lalu dengan sekilas melihat desi, minta persetujuan? Desi yang masih berekspresi datar pun membuat Aryo mengedikkan bahunya, lalu memakan mie gorengnya, tanpa meminta persetujuan untuk kedua kali, Niko langsung duduk tepat di depan Aryo, dan tidak dihiraukan oleh Aryo, "hmm, sedih banget dicuekin 2 makhluk yang romantis ini," batin Niko sembari menyuap baksonya.
"Kamu ngapain duduk bareng sama si bajingan itu beb?" Tanya Aurelia yang sudah duduk dan memeluk lengan Niko dan dibalas dengan tatapan sinis oleh Niko.
Aryo menghentikan posisi memakan mie gorengnya yang masih tersisa banyak, dan membuat keringatnya mulai menetes. Desi yang melihat sikap Aryo membuat dia mengelus punggung Aryo sesaat lalu menatap Aurelia, Aryo hanya bisa menunduk dan meremas jari tangannya.
"Gue pengen gabung aja," balas Niko singkat.
"Coba lu bilang lagi!" Perintah Desi dengan lembut dan tenang sambil menatap Aurelia.
"Kenapa? Lu marah ya?" Tanya Aurelia balik,
"Emang suara gue meninggi? Gak kan! Itu buktinya gue gak marah, tapi sekarang gue MARAH!! emang pantas sih lu digelari SI BABIII," suara Desi meninggi sesaat di akhir kalimatnya membuat Aurelia menatap tajam ke Desi.
"Woi murahan, gak Ada sopan lu sama kakak kelas ya," Aurelia berdiri dengan masih tatapannya tajam
"Yang gak ada sopan itu siapa? YANG MULAI NGATAIN ORANG DENGAN YANG GAK BAIK ITU SIAPA? HAH?" suara Desi yang makin meninggi membuat seisi kantin menoleh ke arah Desi dengan muka marah dan tangan yang mengepal di atas meja, tangan Aurelia juga sedang mengepal.
"Lu mau dibully?" Aurelia tidak berhenti melontari pertanyaan dan mengabaikan pertanyaan Desi.
"Beb liat tuh si bajingan, sok keras ya, malah gue dikatain si babi," rengek Aurelia
"Matamuuu bajingan, lu kalau mau di hargai, hargai orang yang menjadi sasaran ucapan lu bangsat, udah kayak babi, kayak murahan lagiii, MENJIJIKKAN! TAU GAK?" Tutur Desi dan membuat seisi kantin heran,
"Tumben ada yang berani lawan Aurelia" batin yang satu,
"Awas lu dibully sama genk Niko Des" batin yang lain,
"Siap-siap deh dapat resiko dari Aurelia Yo-Des," batin Yang lain juga, dan semua memandangi Desi dengan heran.
"Lu ngatain gue babi? Hati-hati lu sama genk beb Niko, lu juga bangsat," tatap Aurelia pada Aryo dan Aryo membalas tatapan Aurelia.
"Siapkan mental lu, hehehe" Aurelia menyeringai lebar, serasa berhasil membuat keduanya takut.
"Lu ngadu sama si Niko? Hahaha, mau lu ngadu sama genk lu juga gue gak takut, tapi ada baiknya kalau aku menghabisi nyawa lu sendiri lebih dulu ya," 2 jari Desi menuju ke arah mata Aurelia.
"Kalau lu berani ganggu Aryo karna alasan ini, jangan harap dunia lu aman, dan selesaikan ini dulu dengan niko dan genk bangsatnya sebelum lu dan genk Niko bangsat mu itu ngeganggu Gue dan Aryo!" Perintah Desi dan dibalas senyum tipis oleh Niko, sementara Aurelia? Hanya heran dan terkejut dengan sikap Desi.
Desi pun menarik tangan Aryo, Desi juga memegang pundak Aryo yang masih menunduk, "cie, suaminya lemah ya?! Tanya salah satu siswa pada teman genk lainnya, Desi berhenti sebentar menatap wajah siswa tersebut, menyipitkan matanya melihat nametag tersebut lalu menatap marah pada Aurelia yang masih bingung.
"Apa lu tatap gua? Lu suka sama gua ya?" Tanya sang siswa yang bernama candra.
"Gue suka liat babi, kalau gue suka lu berarti lu juga BABI SIH" balas Desi santai.
Candra hanya memasang wajah marah, ya tentu saja malah dia kena prank!.
"Apa lu tatap gue? Lu benci gue ya?? Tanpa lu jawab pun gue dah tahu," tutur Desi lagi.
kemudian melanjutkan langkahnya dengan masih memeluk pundak Aryo, heran dan terkejut baru kali ini emosi Desi muncul, yang berhasil membuat seisi yang melihat tersebut heran dan takut.
Niko pun memberi senyum puas mengingat perlakuan Desi, serasa sesuatu hadiah yang sangat berharga sekali, membuat Niko sedikit mengabaikan Aurelia yang masih menahan amarah.
[Gue suka gaya lu Des]
Niko mengirim pesan singkat ke Desi.
^^^[Maaf gue kasar tadi, habisnya si itu membuat Aryo kek gak ada harga diri] ^^^
[Gak usah minta maaf, ntar pulang gue anter lui]
^^^[Asal si Aurelia gak marah sma gue]^^^
Niko menyimpan ponselnya ke saku celana, menatap Aurelia yang masih berdiri, seolah-olah habis dihukum oleh guru, padahal sudah lebih 5 menitan berdiri, "Aurelia masih betah berdiri mungkin" batin Niko lalu menyuap baksonya yang masih tersisa.
Mendengar suara dentingan sendok pada mangkok Niko, Aurelia menoleh ke Niko yang asyik memakan baksonya tanpa memperhatikan dirinya, Aurelia pun kembali duduk setelah menenangkan pikirannya yang kacau.