
Niko menepuk punggung Aryo lembut, menyuruh untuk Aryo agar tabah dan kuat, dia tahu bagaimana lelahnya mengerjakan tugas Fisika yang full hitungan bahkan rumusnya ada angka romawi lagi.
"Yok ke kantin Yo," ajak Desi
Aryo hanya menggeleng kuat dan berjalan menuju luar kelas, dia Akan pergi ke ruang BK meminta buku hitam dan menulis sesuai yang diminta sang guru tersebut. dengan berat hati, Aryo pun menulisnya skor dan alasan sedetail mungkin, dan terakhir menaruh kembali pada lemari.
Aryo berlari pelan ke arah belakang sekolah, dia menarik nafas panjang dan melepaskan dengan lembut, menyandarkan kepalanya ke dinding putih polos itu, dan terakhir memejamkan matanya.
Ingin rasanya membuat kunci di tas, atau mengunci tas besarnya itu, dan tentunya ketakutan nya akan semakin membesar.
Menenangkan pikirannya agak sulit, kenangan pahit itu terlintas lagi, mulai dari MOS yang sudah jadi bahan tertawaan, hingga sekarang juga dia masih menjadi bahan tertawaan.
----
"Hai, kamu Aryo kan, anak X ipa 2?" Tanya seorang siswi yang langsung duduk tepat di depan Aryo.
Aryo yang masih menyuap mie gorengnya lantas berhenti dan melirik siswi itu.
"Iya. kalau kamu?" Aryo melihat name tag siswi tersebut _Grace D_
"Panggil aja Grace dari X ipa 4,"
"Oh oke Grace,"
"Boleh aku minta kontak kamu?"
"Buat apa?" Tanya Desi tiba-tiba
"Temenan kok,"
"Yakin temenan?" Timpal Niko lagi
"Iya kak"
Tanpa menjawab sesuatu pun, Aryo mengambil ponselnya dan menunjukkan ke wajah Grace nomor kontaknya.
Grace dengan cekatàn menyalin nomor tersebut, tidak butuh lama. sekali baca Grace sudah bisa menghapal nomor kecuali rumus.
"Makasih, lanjutin gih, aku balik dulu. Bye-bye" Grace berdiri dari kursi dan melambai tangan sambil berlari pelan menuju kelasnya.
Senyum itu membuat Desi sedikit curiga, takut sahabatnya menjadi bahan bullyan lagi. Sementara Niko hanya berpura-pura, sebenarnya dia lebih khawatir jika Aryo dibuat mangsa lagi.
"Hati-hati yo" bisik Desi
Hmm Aryo sambil mengangguk pelan.
Niko ingin berbuat sesuatu untuk aryo. Apa daya? Dia masih jatuh dalam Lingkaran pertemanan. seperti yang dia bilang, dia ikit gebk tersebut buat cari aman saja. Tidak mengusik saja, cukup hanya gabung dan melihat saja.
•
Pukul 18 ini hari, semua kegiatan rumah Aryo sudah beres kecuali tugas sekolah, dia sedang rebahan sambil mengobrak-abrik aplikasi yang ada di ponselnya.
"Malam yo, ini grace yang tadi di kantin,"
Pesan dari Grace tertampil tepat di layar ponsel Aryo.
Sesaat Aryo masih berpikir apa yang akan dilakukan Grace, dan balasan apa yang harus Aryo kirim?.
Aryo menghela nafas panjangnya, melirik jendela kamar yang di tutupi gorden.
"Malam Grace,"
Hanya itu balasan dari Aryo, dia benar-benar tidak tahu harus mengirim apa, "kudu hati-hati untuk siapapun" begitulah dalam batin Aryo.
"Yo, bantu ajarin gue tugas kimia,"
("Sebuah gambar")
Tidak butuh lama Aryo mendapat balasan juga dari Grace, dia melihat dalam-dalam, sedalam samudra, mengelus dada pelan, dan menghela nafas juga.
"Makasih bukan untuk nakutin gue" batin Aryo.
Aryo takut kejadian yang dulu terulang lagi, berawal dari ajakan manis di obrolan dan berakhir air mata yang harus jatuh di belakang sekolah.
"Kapan deadline?"
"Besok sih, kalau gak bisa semua gapapa juga Yo"
"Gue usahain ya, tunggu dah bentar. Mungkin jam sepuluan gue kirim"
"Oke yooo"
Aryo tidak membalas apapun, minat untuk mengerjakan tugas sendiri menjadi hilang, tergantikan oleh tugas seseorang yang baru dia kenal siang tadi di kantin.
Menatap lama soal itu, Aryo mengambil buku kimia nya, baik catatan dan buku pelajaran, serta sebuah buku coretan yang biasa dia gunakan untuk mengerjakan soal hitungan sebelum dipindahkan ke buku tugas atau ke buku lainnya.
Tersisa 4 soal dari 10 soal yaang tersedia, ketika di soal no 9 Aryo baru ingat kalau mereka sudah mengerjakan tugas ini minggu lalu, dengan segera dia memutar-balikkan catatan Aryo itu, dan benar! Kalau soal yang grace kirimkan sudah mereka bahas dan Aryo benar semua. Aryo pun memyalin dengan cepat.
("4 gambar")
"Itu sudah, untuk nomor 1b kamu bisa tiru no 1c karena tipe soal hampir sama, dan no 5 a kamu bisa cari melalui 5b karena hampir sama tipe soal"
"Jangan lupa dikirim jawaban mu,"
Itulah balasan Aryo sebelum jam 10 malam.
"Gue kerjakan bentar ya"
"Oke"
Aryo meletakkan ponselnya sembarangan, dia merebahkan dirinya juga sambil memejamkan matanya, hanya sepersekian detik.
Aryo mengambil tas sekolah dan memeriksa seluruh Buku yang harus dia bawa, dan tentu tugasnya sudah beres semua.
Notifikasi kembali mengganggu rebahan Aryo.
("Sebuah gambar")
"Ini sudah benar bukan?"
"Yang 5 a udah tapi yang 1 b untuk baris ke 6 - 7 coret aja, biarkan langsung ke jawaban, kalau itu kamu gabungkan juga mesti ada penjelasan yang dalam lagi"
"Baik yo, makasih banyak ya"
"Selamat malam"
Aryo tidak membalas lagi, dia menyalakan mode pesawat dan menarik selimut menutupi seluruh tubuhnya.
•
Grace menatap luar kelas tepatnya ke kantin, kelas grace hampir bersebelahan dengan kantin tapi sayangnya agak memutar.
Disamping nya Aryo dan Desi berjalan bersamaan, dia langsung membuka jendela kelas.
"Yo, tungguin gue disitu Yo," grace mengeluarkan setengah kepalanya dari jendela
Aryo dan Desi hanya mengangguk pelan dan meneruskan jalan mereka.
Grace keluar kelas dan menemui Aryo dan Desi yang belum makan apa-apa.
"Udah pesan belum?" Tanya Grace
"Belum" jawab keduanya barengan
"Ayolah pesan barengan"
Ketiganya beranjak untuk memesan makan sendiri hingga tanpa sadar Niko berdiri tepat dibelakang Aryo dan sedikit menempelkan dirinya ke punggung Aryo. Lantas Aryo menoleh kebelakang dan hampir saja bibir Aryo mengenai bibir Niko untung dengan cepat Aryo memalingkan wajahnya dan keluar dari barisan antrian, akhirnya Aryo menghela nafas lega.
Niko hanya tersenyum melihat Aryo yang salah tingkah atau emang grogi?
"Kenapa?" Tanya Niko
"Sempit, banyak antrian,"
Niko melihat kebelakang, tentu saja banyak antrian.
"Yaudah diri sini aja" tunjuk Niko tepat di depan Niko yang sedang kosong, Niko pun melemparkan senyum garangnya, entah apa yang merasuki pikiran Niko!.
"Gak deh"
Aryo mendekati Desi dan berbisik.
Desi pun mengangguk pelan, sementara Aryo berjalan ke kursi semula.
Niko memandang Desi tidak nyaman, andai pada dirinya Aryo berbisik pasti akan lebih bahagia.
"Nih pesananmu," ujar Desi.
Aryo langsung mendekatkan mangkok itu kedepannya dan langsung melahap tanpa aba-aba.
"Lu gak sarapan tadi pagi?" Tanya Niko.
Barusan Niko sampai di meja Aryo, dan duduk tepat di depan Aryo.
"Gak sempat, eh bukan gak sempat tapi gak selera padahal masakan emak gue enak," balas Aryo.
"Seharusnya lu jangan makan yang pedas dulu yo, kasihan perutmu" timpal Grace
"Kalau gak pedas gak selera soalnya," oceh Aryo sambil terus fokus kepada mie gorengnya.