I To Be W

I To Be W
Ruang Pameran



"Nah kan Yo, gue ngajak lu juga karena gue udah capek ngomong Ama Desi hari ini, gue mau menggosip Ama lu sih, gosipin politik seru kali Yo,"


"Gatau ah politik, gue mah buta politik, gue cuma taunya nama presiden sekarang yaitu Jokowi Dodo, lagian gue MIPA,"


"Gue bisa buat lu melek politik Yo, barangkali habis lu melek politik ada niat untuk gabung politik gitu, gak cuma anak IPS yang harus paham politik Yo,"


"Iya, iya, biarin dulu aku fokus baca ya, dikit lagi ini satu chapter selesai sebelum nyampe di sekolah,"


"Grace butuh gih, ntar kita ketauan kalau lagi cabut ini hari, mana anak culun pula yang ngajak hahaha,"


"Culun-culun begini berbahaya loh," timpal Grace


"Desi sih iya, bisa lah nanti kau buat Genk Des, Mayan buat balas dendam Ama mereka,


"Gue kalau mau balas dendam, orang pertama lu mau tau siapa? Itu adalah lu sendiri," tunjuk Desi pada Niko yang spontan membuat Niko berubah ekspresi.


"Lah kok gue? Salah gue apa? Gue gak pernah bully kalian Des, anjir dah,"


"Iya, lu gak pernah ngebully, tapi lu ikut nonton malah, ibaratnya ada orang yang berjudi dan lu ikut menonton pasti lu ikut juga bagian orang berjudi, udah tau salah tapi malah ikut nonton, kalau bisa berbuat sesuatu setidaknya jangan lihat, sakit hati banget anjir gue, paham?"


"Noh udah sampai ini di gerbang sekolah," Grace menyela pembicaraan mereka agar tidak terlalu jauh.


Desi langsung keluar dari mobil Grace tanpa mengatakan sepatah kata pun, dan berlari ke halte milik sekolah.


"Yo, tungguin gue ya, lu jangan pergi juga," pada akhirnya Niko pergi juga mengambil motor dari parkiran.


Beruntung tidak ada satpam penjaga, karena jam terakhir biasanya gerbang sudah buka secara umum, bebas mau pulang juga.


**


Desi melambaikan tangannya untuk menghentikan bus yang mendekatinya, "Aryo, gue duluan ya, tungguin Niko," ujarnya sebelum kaki kanannya melangkah masuk angkot


"Hati-hati Des,"


Grace membunyikan klakson mobilnya, "Bye Yo," Grace yang melihat angkot yang ditumpangi Desi sudah melaju ikut melakukan mobilnya juga.


**


Niko berlari pelan menuju motornya terpaut, menggeser motor lain yang menghalangi motornya bergerak, dan dengan sabar yang setebal buku ensiklopedia berhasil dia geser itu motor. Dan memilih untuk mendorong motornya tanpa keraguan, bukan karena takut ketahuan, tetapi karena dia hanya sendiri saja.


Niko memutar kepalanya melihat Desi dan Grace, "Mereka udah pada kemana?"


"Udah pulang duluan,"


Melihat Aryo tidak bergerak sam sekali,"Naik! atau masih pengen berdiri di situ sampai gosong?"


"Gak perlu buru-buru kan?" Aryo sambil menaiki motor Niko, "Sudah, maju yok,"


"Pegangan,"


"Kenapa harus pegangan? Kan bisa bawa motornya pelan,*


"Lu gak pegangan berarti gue bawa motornya dengan kencang, lu pegangan gue bawa motor pelan-pelan,"


Niko menarik kasar tangan Aryo yang ada di atas paha Aryo, menariknya ke depan dan mengaitkan satu sama lain, dengan terpaksa posisi duduk Aryo lebih dekat dan menempel di punggung Niko.


"Nah gitu dong, lu lepasin itu tangan maka gue ngebut," ancamnya melihat wajah Aryo dari spion


Aryo pun akhirnya mengalah, membiarkan tangannya terus melingkar di perut Niko, dan dia bisa merasakan perut Niko yang bergerak karena pola pernafasan Niko yang lumayan berat.


Aryo memandangi daun telingan Niko, yang tanpa sadar sang pemilik telinga itu bisa melihat dirinya yang memandangi telinga itu, "Nik," suara Aryo begitu pelan hingga nafasnya berembus di ujung telingan Niko.


Niko tak langsung menjawab, dia membiarkan Aryo terus memandangi telinga dan lehernya, "Gue suka Deket Ama lu Yo," batin Niko


Aryo tidak mampu lagi untuk menahan kepalanya akibat helm sedikit berat, dia pasrahkan dirinya dan membiarkan terjatuh di pundak Aryo.


"Lu ngantuk Yo? Ini lagi di motor, jangan ngantuk yaa,"


"Gue gak ngantuk, tapi sedekat ini bikin gue ngantuk, boleh gue lepasin ya ini tangan?"


Niko langsung menahan tangan Aryo, "please jangan dilepasin ya, sekali aja untuk hari ini, lu mau makan apalagi? Gue akan belikan,"


"Gak niat buat makan,tapi kalau disuapin juga gue mau banget,"


Pikiran Niko mulai tidak jernih, mencoba untuk positif tetap saja tidak bisa, meskipun wajah Aryo tidak terlihat untuk bercanda apalagi menggoda "Disuapin Ama siapa?"


"Desi lah,"


"Lu ada rasa Ama dia?


Aryo menegakkan kepalanya, pandangannya menerobos jauh ke depan, dia tidak tahu bagaimana untuk menjelaskan, "Lu gak perlu tau apakah gue ada rasa dengan Desi, yang perlu lu lihat itu gimana pertemanan gue sama Desi, tapi kalau lu suka sama Desi, hmm. Gapapa lah kau ambil asal juga bisa lu jaga dia,"


"Lu gak ikhlas ya kalau gue suka sama Desi, gue tau kok apa yang lu rasakan dengan Desi dan gue juga bisa merasakan gimana pertemanan lu sama Desi, tapi cuma satu aja, gimana kalau bukan Desi yang gue suka? Gimana kalau malah Grace yang gue suka?" Niko memutar kepalanya sedikit ke arah kiri, lantas membuatnya bisa langsung menatap mata Aryo yang tetap fokus ke depan.


Aryo mencerna ucapan itu, bisa jadi kalau Niko mendekati mereka agar bisa menjauh dari Aurelia, "Tetapi siapa orang yang akan Niko sukai?" Aryo mengangkat kepalanya dari pundak Niko, ketika dia ingin melepas pegangan tangannya malah Niko tahan dengan tangan kirinya.


"Telur gue kecepit Nik,"


Niko segera melepaskan tangannya, "Eh maaf Yo maaf, perlu gue cek? Barangkali butuh saya bantu Yo,"


"Gue pegang pundak lu aja ya, atau boleh gue lepas sama sekali?" Aryo menggeser pantatnya ke belakang.


"Kalau emang sudah lega, boleh peluk lagi yok, biar gue bisa mastiin lu aman,"


"Kita emang kemana? Masa se lama ini belum sampai juga? Emang kita mau pergi ke mana? Dan ini juga arah yang pertama kali gue lihat,"


"Udah, lu duduk aja dengan santai. Gue mau bawa lu ke mana aja gapapa, gue gak berencana buat ngapa-ngapain," Niko menaikkan laju motornya sedikit kencang membiarkan Aryo bermain dengan ponselnya.


***


Aryo yang sadar bahwa motor Niko sudah tidak menyala lagi lantas melihat sekeliling area, "Kenapa berhenti di sini? Kan rumahku gak di sini juga?" Dan terakhir menatap Niko yang sudah turun dari motor, membiarkan dirinya masih tetap di atas motor.


"Lu bisa turun? Apa perlu gue gendong? Gausah banyak tanya, lu ikuti aja gue ke mana," balas Niko tepat di samping Aryo


Niko dan Aryo berjalan di sepanjang ruangan, menatap setiap lukisan dan pahatan yang terpampang unik, cantik, elegan dan berharga.